Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
77


__ADS_3

"Aku cuma berbisnis, Anita menawarkan banyak hal yang memuaskan. Aku ngga bisa nolak" jawab Davin dengan santai.


"Apa yang dia tawarkan? Kenapa begitu mudah menjerumuskan orang hingga jatuh begitu dalam" Rania semakin kesal.


Davin berdiri dan mendekat pada Rania.


"Dia memberikan bunga pengembalian sebesar 50%, juga memberikan beberapa jam nakalnya" ucap Davin sambil menatap tubuh Rania.


"Besar banget 50%!" ucap Rania sambil mendorong Davin.


Davin terkejut karena di dorong, dia membetulkan handuknya dan menelan ludah dengan sikap Rania.


"Kamu nggak bisa ngelakuin hal ini, kamu harus mikir, bukan tentang perusahaannya, tapi tentang ribuan pegawai perusahaan itu. Gimana kalo perusahaan itu bangkrut. Berapa ribu orang yang akan berhenti bekerja dan berhenti mendapatkan penghasilannya. Mereka juga..."


"Aku nggak peduli, bisnis adalah bisnis, aku nggak mikirin tentang mereka, toh atasannya juga sudah ngasih kebebasan atas nasib mereka sama aku" ucap Davin menyela.


Rania mengerutkan dahinya.


"Kok kamu gitu!" tanya Rania ragu.


"Aku memang gini!" jawab Davin.


"Dulu nggak!" jawab Rania.


Davin menghindari tatapan Rania yang terlihat mulai meragukan sikapnya.


"Aku dari dulu memang gini, jangan sok tahu" ucap Davin.


"Nggak, Davin yang aku kenal nggak gini. Davin manager My Spaghetti yang sangat manis dan selalu perhatian" ucap Rania.


"Keluar!" ucap Davin.


Davin tak tahan dengan ucapan Rania, dia menarik tangan Rania dan menyeretnya keluar, dia membuka pintu dan melempar Rania hingga dia hampir terjatuh. Kemudian menutup pintu dengan keras.


"Hei Davin! Buka pintunya, aku belum selesai! Hei...!" teriak Rania sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.


Pak Dedi terheran dengan kejadian yang dia lihat.

__ADS_1


"Apa ini? Biasanya selesai beberapa jam, trus yang keluar nangis. Kok ini malah dilempar dan gedor-gedor pintu gitu!" gumam Pak Dedi.


Rania kesal, dia menendang pintunya dan meringis kesakitan karena tendangannya terlalu keras. Pak Dedi buru-buru menghampiri untuk menghentikannya.


"Eits, jangan ditendang!" ucap Pak Dedi.


Rania mendelik pada Pak Dedi yang menatapnya heran.


"Apa?" tanya Rania dengan kesal dan suara lantang.


Dia pergi keluar dengan kesal, dia memeriksa ponselnya mendengar ada pesan masuk. Dia bergegas pergi setelah membaca pesan dari Beni yang memintanya untuk cepat datang ke kantor. Rania tancap gas menuju kantor.


Sementara Davin melihatnya dari jendela, dia mengusap wajah dan dagunya. Berpikir tentang apa yang dikatakan Rania padanya.


~Huuhf! Aku jadi menyesal pernah bersikap manis dan menyatakan cinta sama dia. Itu jadi boomerang untukku sekarang~ ucap hati Davin.


"Oh ya, apa yang terjadi sama Atmajaya Group? Kenapa sekarang dia yang datang? Trus kemana wanita tua centil itu?" gumam Davin.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Anita. Menunggu beberapa saat, kemudian Anita menjawab dengan pesan suara. Davin kesal dan melempar ponselnya.


###


Beni menatap mereka dengan gusar, dia dan Vero yang juga baru datang merasa kebingungan untuk menghadapi mereka. Mereka tak mau bicara dengan siapapun kecuali Rania, meskipun Beni juga bagian dari perusahaan yang sangat paham kondisi ini.


Beni hendak menghubungi Bondan yang notabene sudah menjadi direktur selama beberapa tahun kebelakang. Dia berharap Bondan bisa membantunya.


"Ya, aku ke sana sebentar lagi!" jawab Bondan yang sedang bersiap pergi.


Vero mulai lega, Beni pun mulai meminta serikat buruh itu menunggu untuk sementara waktu. Namun seorang pria paruh baya terlihat sangat kecewa dengan sikap mereka dan membuat keributan. Pria itu mengamuk dan tak sengaja memukul wajah Beni.


Beni menutup matanya karena pukulannya mengenai pelipisnya. Dia kesakitan dan mulai terlihat sangat kesal. Vero menatapnya, sikap Beni terlihat berbeda, dia seperti hendak memukul kembali pria tua itu, namun suara Rania dari pintu membuat mereka terdiam.


"Hei....hei! Ada apa ini?" teriak Rania.


Beni menelan ludah dan mengepalkan tangannya. Dia menahan diri untuk tak membuat Rania curiga dengan sikapnya yang masih temperamental.


"Anda direktur disini?" tanya Pak Rudianto.

__ADS_1


"Ya, silahkan, kalian bisa membicarakan semuanya di ruang meeting. Jauh lebih luas" ajak Rania.


"Untuk apa? Aku tidak paham dengan Pak Bondan, kenapa dia memberikan semua wewenang pada anak kecil seperti mu? Wanita lagi" ucap Pak Rudianto.


Rania berhenti berjalan dan berbalik, dia tersenyum dan meminta sekali lagi.


"Masuklah, aku ingin menunjukkan sesuatu" ucap Rania.


Semua orang saling menatap juga menatapnya. Mereka masuk satu persatu setelah Rania duduk di kursi.


Rania menunjukkan sesuatu dalam ponselnya yang diperbesar melalui proyektor. Sebuah kesalahan dalam produksi sebuah produk makanan yang dilakukan para pekerja atas perintah seseorang yang tidak bertanggung jawab.


"Ini semua kesalahan kalian, aku yang seharusnya menuntut kalian atas kebangkrutan pabrik ini" ucap Rania di akhir presentasinya.


Perwakilan serikat buruh itu tercengang, ada hal yang tidak mereka ketahui, tapi salah satu dari mereka juga mengetahuinya.


"Tapi aku tidak akan menuntut kalian" lanjut Rania sambil memindahkan file di ponselnya.


"Entah kalian tahu atau beberapa dari kalian menyembunyikan semuanya, aku tidak akan menuntut kalian secara hukum karena kerugian materi yang sangat besar ini"


Mata Rania menatap satu persatu dari mereka.


"Aku mau kalian bekerja sesuai dengan prosedur ku mulai dari sekarang. Gaji kalian akan keluar seperti biasanya. Tak ada yang berubah" lanjut Rania lagi.


Mereka semua terheran, Rania menunjukkan kesalahan mereka yang sangat fatal. Namun tak menuntut malah meminta mereka bekerja seperti biasanya.


"Masalah uang yang dihadapi Subagja Coorporation sekarang jauh lebih besar dari kebangkrutan pabrik, ini hanya sebagian kecil. Saya mohon bantuan kalian untuk sedikit meringankan. Saya hanya berharap hal itu dari kalian" ucap Rania menutup rapat dengan mereka.


Perwakilan serikat buruh menunduk dan berpikir. Tak ada alasan untuk mereka menolak, Rania hanya meminta untuk bertahan dengan hal yang ada, dengan prosedur yang baru darinya. Mereka takkan kehilangan pekerjaan mereka, bahkan jika mereka bisa bangkit kembali mereka bisa membuka lowongan kerja kembali bagi posisi yang sudah dikikis sebelumnya.


"Baiklah, Nona. Kami akan melakukannya, sebelumnya kami memohon maaf atas kebodohan kami yang mudah diperdaya seseorang yang tidak bertanggungjawab. Kami akan kembali pada pekerjaan kami, kami juga akan melakukan semua yang anda perintahkan" ucap salah satu dari mereka.


Pak Rudianto yang datang bersama mereka, menunduk dengan wajah merah padam. Dia yang tahu tentang apa yang dibicarakan Rania. Temannya pun menjadi tak menaruh hormat lagi padanya.


Rania tersenyum, dia berdiri dan menawarkan jabatan tangan pada mereka. Merekapun menyambutnya.


"Terimakasih, aku sangat berterimakasih" ucap Rania.

__ADS_1


Bondan yang sudah datang sedari tadi hanya diam berdiri di dekat pintu ruang meeting, tersenyum mendengar apa yang Rania sampaikan pada mereka. Hal yang pernah dia beritahu saat sebelum dia pergi, namun Rania mengatakannya sekarang saat dia sudah memiliki prosedur baru yang sesuai dengan harapannya.


~Kamu sudah siap, sudah sangat siap menghadapi mereka. Tanpa aku, di sisimu~ ucap hatinya.


__ADS_2