
Dila menunggu kabar dari Beni, tapi dia tak bisa diam saja. Dia terus menghubungi Vero hingga dia mengangkatnya.
"Kak! Lama banget bangunnya!" keluh Dila.
"Ada apa?" tanya Vero yang masih sulit membuka matanya.
"Rania ngga pulang setelah semalam pergi pakai mobil!" ucap Dila.
Vero terkejut dan menutup telponnya, dia langsung membasuh wajahnya dan memakai jaket. Dia juga menghubungi Arumi.
"Ampunnn! Kemaren Dila, sekarang Rania" keluh Arumi.
Dia bergegas pergi dan menemui Vero. Mereka pergi ke rumah Ruby.
Sementara itu Dila mendapat pesan video dari temannya tentang penculikan semalam, seperti biasa, temannya mengira itu adalah dia. Dila terkejut, dia langsung mengirimkannya pada Beni, dan Vero.
Beni sudah sampai di rumah Bondan saat dia memberitahu kejadian tadi malam. Mereka sedang berpikir tentang kemungkinan orang yang melakukan ini pada Rania.
"Seharusnya Rania tak langsung menjabat sebagai direktur utama, atau seharusnya identitasnya disembunyikan dahulu" ucap Beni.
Bondan memakai jasnya dengan semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.
"Apa yang dia lakukan malam-malam di dekat rumahku?"
Hanya itu yang keluar dari mulutnya setelah Beni banyak berspekulasi. Beni menatapnya dan juga berpikir. Namun dia kemudian menghela nafas menyadari bahwa Rania hendak kembali pada Bondan setelah dia bisa membuktikan bahwa ibunya salah.
"Aku akan mencarinya!" ucap Bondan.
"Kemana?" tanya Beni sambil berdiri.
"Kemana saja, aku harus menemukannya" ucap Bondan sambil memegang ponsel Rania.
Tiba-tiba pesan dari Dila masuk, Beni membukanya. Dia mengangkat kedua alisnya melihat rekaman video itu. Bondan melihatnya, dia merasa penasaran dan mendekat.
Wajah Bondan terlihat terkejut dengan apa yang dia lihat, namun dia tak mengenali semua orang itu.
"Siapa mereka?" tanya Bondan.
"Aku rasa aku pernah melihat pria ini" ucap Beni sambil menunjuk salah satu pria yang membawa Rania.
Bondan menatapnya dengan penuh penasaran.
"Siapa?" Bondan mendesaknya untuk mengingat.
"Dia..., aku melihatnya hari ini di kantor. Ya, dia pengawal investor yang disembunyikan momy" ucap Beni mengingatnya.
"Apa?" Bondan terkejut.
"Iya, aku ingat sekali. Tapi, kenapa mereka menculiknya?" tanya Beni.
__ADS_1
Beni dan Bondan saling menatap, mencoba berpikir maksud dari penculikan ini juga kemana mereka membawa Rania.
Tak berapa lama, Beni memutuskan untuk menelpon Vero.
"Iya Kak, aku yakin kalau dia anak buahnya Davin Collins. Sangat yakin!" ucap Beni.
"Ok, kita ketemu di rumah Ruby, aku akan menghubungi Saga" ucap Vero.
Beni bersiap untuk pergi, namun Bondan masih terdiam.
"Ayo!" ajak Beni.
"Tidak, aku harus mengambil mobilku di kantor polisi. Nanti aku menyusul" ucap Bondan sambil mencari kunci mobilnya.
Beni terdiam.
"Kau menemui Ryan?" tanya Beni memastikan.
Bondan berhenti mencari kemudian dia mengangguk dan melanjutkan mencari.
"Ouh, jadi karena itu dia kemari untuk menemani mu di masa sulit ini" duga Beni.
Bondan menyadari ucapan Beni. Dia menatap kosong ke arah ponsel Rania di meja.
"Sulit Kak, sangat sulit membuatnya berpaling darimu" ucap Beni.
Sampai di kantor polisi, Bondan masuk dan menyalakan mobilnya. Dia menatap ponsel Rania lagi yang dia taruh di dashboard di depannya.
Dengan rasa penasaran, dia membuka ponselnya dan memeriksa semua pesan masuk juga pesan tersimpan. Dia juga memeriksa riwayat perjalannya di smartassistant.
Selain kantor dan rumah, Bondan melihat ada sebuah alamat yang tidak dia kenali.
"Alamat siapa ini?" gumam Bondan.
Kemudian ponselnya berbunyi, Vero menghubunginya.
"Iya!" jawab Bondan.
"Davin manager pengganti ku di tempat bekerjanya dulu, dia juga investor yang disembunyikan Anita dari daftar investor yang ada. Aku curiga ini ada kaitannya dengan Anita" ucap Vero.
"Oh ya, aku akan cari tahu" ucap Bondan pelan.
Vero terdiam menunggu, namun dia menambahkan.
"Davin juga pernah menyatakan perasaannya pada Rania" tambah Vero.
Bondan menghela, dia paham dengan alasan Davin menculik Rania. Bondan menancapkan gasnya dan melaju menuju alamat yang dikunjungi Rania tadi pagi.
Sementara itu, Rania terkulai tidur di ranjang Davin. Dia tak sadarkan diri setelah Davin mencoba memaksanya melakukan semua hasratnya dengan tangan dan kaki terikat juga mulut tersumpal.
__ADS_1
Rania mempertahankan diri, namun sayang Davin terlalu kekar dan kuat. Rania kalah dan akhirnya pingsan.
Davin menyuruh anak buahnya untuk melempar Rania ke pinggir jalan. Mereka mengangkatnya dan membawanya pergi dengan mobil. Rania dibuang di pinggir jalan di semak-semak saat masih tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian seorang pemulung menemukannya. Pemulung itu berteriak-teriak, beberapa mobil berhenti dan menepi untuk melihat. Namun saat mengetahui yang dia temukan adalah mayat banyak dari mereka yang kemudian pergi.
Bondan melihat pemandangan itu, dia tak menepi. Namun dia belajar dari kesalahannya tadi malam yang tak peduli dan menyesal setelahnya. Dia berhenti dan keluar, kemudian berjalan menghampiri.
"Ada apa Pak?" tanya Bondan.
"Saya nemu mayat Pak! Duh, nggak ada yang mau nolongin lagi, buat lihat apa dia masih hidup atau belum!" jelas pemulung itu.
Bondan memberanikan diri dan menghampiri tempat yang dia tunjuk. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat kaki wanita itu.
"RANIA!" teriak Bondan.
Dia berlari tergopoh mendekat dan memeluk Rania yang masih belum sadar. Bondan menangis dan tak bisa mengendalikan dirinya.
"Bangun sayang, ini aku!" tangisnya semakin pecah.
Bondan mengusap wajah Rania yang penuh luka pukul. Dia semakin menyesali karena tak keluar saat ribut-ribut semalam.
"Wah, kasian. Kenalannya!" ucap pemulung itu.
Seseorang yang melihat Bondan menangis memeluknya, memutuskan untuk menghubungi polisi. Tak berapa lama, polisi yang berpatroli dekat disana datang dan membantu Bondan membawa Rania ke rumah sakit.
Bondan tak melepaskan genggaman tangannya. Dia juga memohon pada dokter untuk menemaninya saat diperiksa.
"Lebih baik anda tenangkan diri anda dulu selama kami memeriksanya, ok" pinta Dokter.
Bondan melepaskan tangan Rania dengan berat hati. Dia tidak bisa menahan tangisnya dan meratapi masuknya Rania menuju ruang pemeriksaan.
###
Saga mendapat telpon dari anggota yang lain bahwa Rania telah ditemukan. Matanya membelalak saat mengetahui apa yang terjadi. Dia tak menyangka hal seperti itu bisa terjadi pada wanita yang dia anggap sangat baik.
"Oke, aku akan mengabari keluarganya" ucap Saga kemudian menutup telponnya.
Saga hendak menelpon Vero, namun dia merasa akan lebih baik jika dia langsung menemui mereka di rumah Ruby. Dia pun pergi.
Beni dan Vero hendak pergi mulai mencarinya, namun Saga datang dan memberitahukan bahwa Rania telah ditemukan.
"Pak Bondan membawanya ke rumah sakit dengan bantuan polisi patroli" ucap Saga.
Dila terduduk lemas, dia mengingat terakhir kali melihat Rania berjalan masuk ke mobil. Pelukannya yang kemarin pun masih terasa hangat.
Beni mengepalkan tangannya, dia bertekad untuk mendapatkan pelakunya apapun yang terjadi.
Sementara Vero menangis, terbayang wajah Rania yang baginya selalu manjadi adik kecil yang manis.
__ADS_1