
Waktu terasa berhenti sejenak, Rania menatap wajah Vero yang selalu jadi pahlawan untuknya sejak dia lulus SMA. Wajah yang selalu tersenyum menyemangatinya.
"Abang!" gumam Rania.
Vero meneteskan airmatanya melihat Rania menjadi mempelai dalam pertunangan ini.
~Dia menjadi Dila Aryani Subagja, adiknya?~ ucap hati Vero.
Vero mengingat wajah Anita, wanita yang selalu datang ke rumahnya bersama seorang pria membawa dua orang anak laki-laki.
"Keluarga Atmajaya" ucap Vero menyadarinya.
Dia merasa seolah langit runtuh bersamaan menyadari bahwa Rania menjadi Dila untuk kepentingan keluarga Atmajaya.
~Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa aku tidak bisa ingat bahwa keluarga Atmajaya menginginkan perjodohan antara mereka yang menyebabkan aku terpisah dari adikku selama bertahun-tahun~ sesal dalam hati Vero berkecamuk.
Rania yang menyadari keberadaan kakaknya mengalihkan perhatian Anita dan Beni untuk melanjutkan acara. Vero melihat wajah Rania yang panik dan seolah tak ingin Anita dan Beni tahu tentang kedatangannya.
Vero melihat kegusaran di wajah Rania, dia berpikir ada hal yang membuatnya terpaksa melakukan semua ini, bukan hanya tentang uang yang diambil ibu angkatnya, tapi ada hal lain.
Bondan yang saat itu masih larut dalam rasa marahnya pada Beni juga ibunya yang memaksakan pertunangan ini, tak melihat Vero yang berusaha untuk mendekat pada Rania.
Saat Anita dan Beni sibuk melanjutkan acara, Rania menatap pada Vero berisyarat agar dia tak mendekat atau menghampirinya.
Bondan melihat gerakan mata dan tangan Rania yang bukan tertuju padanya. Dia melihat kemana arah Rania memberikan isyarat. Tak disangkanya, arah mata Rania tertuju pada Vero.
Bondan masih berpikir apa yang terjadi, apa arti tatapan mereka yang dia tak ketahui.
"Kau mengenalnya?" tanya Bondan.
Vero menatap marah pada Bondan yang bertanya dengan wajah yang penasaran. Dia menarik kerah baju Bondan dan membawanya ke parkiran, jauh dari pandangan semua orang.
Vero melempar tubuh Bondan ke arah mobil dan bersiap hendak memukulnya. Namun sebuah tangan menahannya. Vero melihat tangan itu, tangan yang baru saja mendapat cincin pertunangan.
"Rania!" seru Vero.
Rania menyusul mereka dengan alasan ke kamar mandi pada Beni.
"Jangan Kak!" ucap Rania.
"Semua ini karena dia kan? Kau bisa ada di sini karena dia kan? Apa saja yang mereka lakukan sama kamu?" tanya Vero tanpa berhenti.
Bondan tak terima diperlakukan salah oleh Vero.
"Kau ini siapa? Beraninya nyeret gue ke sini, marah-marah soal Rania. Siapa lu?" ucap Bondan kesal.
"Gue...."
__ADS_1
Tak sampai Vero mengatakan kalau dia kakaknya, Rania menahan dada kakaknya dan memintanya menyudahi perkelahian.
"Dia sahabat saya. Sudah, ok sudah ya!" ucap Rania menatap dan membulatkan matanya pada Bondan dan Vero bergantian.
Vero menggigit giginya sendiri menahan kesal karena Rania menutupinya.
"Maafkan dia ya! Dia cuma ngga suka aku terlihat terpaksa melakukan sesuatu" lanjut Rania pada Bondan yang masih marah.
Mereka berdua mengatur nafas untuk menahan diri demi Rania. Tangan Rania memegang tangan mereka masing-masing.
"Ok...jika aku lepas, kalian tak akan saling pukul?" tanya Rania meyakinkan.
Bondan masih menatap Vero. Rania menatap mereka bergantian untuk memastikan permintaannya.
Bondan berdiri dari sandarannya, kemudian merapikan pakaiannya. Vero berbalik memegang tangan Rania dan menariknya menjauh dari Bondan.
"Apa yang terjadi? Buat apa kamu jadi Dila Aryani Subagja? Apa tujuan mereka? Kenapa kamu juga mau saja melakukannya?" tanya Vero tanpa berhenti.
Rania menghela.
"Aku belum bisa menjawab semuanya sekarang, acara pertunangannya masih berjalan" ucap Rania.
"Lalu kapan kau bisa menjawab semuanya? Besok?" tanya Vero.
Rania tak bisa menjawab, dia tak tahu kapan bisa keluar dari rumah sendiri. Terutama kini Anita selalu mengawasinya. Dia menunduk dengan mata yang seolah mencari jawaban untuk pertanyaan kakaknya itu.
Vero tak yakin dan merasa Rania menyembunyikan sesuatu.
"Apa lagi? Apa lagi yang kau sembunyikan?" tanya Vero.
"Bukan begitu!" Rania tak mampu membuat Vero berhenti bertanya.
Vero memegang bahu Rania dan memeluknya.
"Kita pulang saja hari ini, ya!" bisik Vero.
"Ngga bisa gitu!" ucap Rania melepas pelukannya.
Vero melihat mata Rania yang seolah tak sanggup menatap matanya.
"Lalu apa yang bisa?" lanjut Vero.
"Aku ....aku akan berusaha menghubungi mu nanti, jangan sekarang. Kakak pergi aja sekarang, jangan dulu berhubungan dengan keluarga Atmajaya. Aku janji aku akan berusaha menghubungi" ucap Rania berjanji.
Vero melihat mata Rania yang benar-benar terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Dia mengerti dari ucapan Rania yang mengatakan akan berusaha, itu berarti dia memang sangat sulit untuk keluar atau pun menghubunginya.
"Baiklah, aku pergi. Aku di hotel A, kamar nomor 203. Temui aku di sana saat kau benar-benar siap untuk pergi" ucap Vero.
__ADS_1
Rania baru berani menatap wajah Vero saat dia menaruh percaya padanya.
"Terimakasih!" ucap Rania.
Bondan yang menatap mereka sedari tadi merasa cemburu melihat kedekatan Vero dan Rania.
Vero pergi meninggalkannya dengan berat hati. Namun percaya bahwa Rania bisa menjaga diri.
Bondan menghampiri Rania yang masih menatap kepergian Vero.
"Jadi bisnis yang dia tawarkan itu semua bohong?" ucap Bondan di dekat Rania.
Rania mendelik karena kesal dengan ucapan Bondan.
"Dia benar, semua ini kesalahan mu" ucap Rania.
Bondan terheran dengan ucapan Rania yang menurutnya tidak adil menyalahkannya. Rania pergi meninggalkannya. Bondan masih terdiam kemudian dia sadar dan merasa bersalah.
Rania kembali bergabung dengan Beni yang langsung memeluk pinggangnya. Anita tersenyum tak tahu apa yang terjadi.
Dina yang mencari Bondan menatap dirinya sedang berdiri tertegun di parkiran.
"Kak, kenapa di sini? Kita masuk yuk!" ajak Dina.
Bondan masih diam, namun Dina mengaitkan tangannya ke lengan Bondan kemudian menariknya masuk ke kerumunan para tamu yang berpesta.
Mata Bondan melihat kesal pada tangan Beni yang memeluk pinggang Rania. Dia berusaha menahan diri, maski pun hatinya sangat ingin memukul adiknya itu dan membawa Rania pergi.
Acara selesai pada pukul 11 malam, satu persatu tamu pamit pada Anita dan mengucapkan selamat sekaligus memuji acara hari itu yang menurut mereka sangat luar biasa.
Anita tersenyum puas, entah itu dengan pujian semua tamu ataupun dengan patuhnya Rania padanya. Dia masuk ke ruang kerjanya setelah berganti pakaian dan merapikan kotak yang tadi Rania bongkar.
Kemudian tak berapa lama seseorang mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Anita.
Terlihat Rania masuk dengan pakaian tidurnya. Anita mengangkat kedua alisnya tak menyangka dia akan ke sana.
"Ada apa calon menantu?" tanya Anita.
"Jelaskan? Aku tidak mengerti ucapan mu tadi" ucap Rania tanpa ekspresi.
Anita tersenyum dan menaruh kotak yang dia rapikan di depan Rania.
"Apa yang harus ku cerita kan, terlalu panjang dan akan membuat mu sakit hati" ucap Anita.
Tangannya mengambil sebuah foto. Foto keluarga Subagja yang lengkap.
__ADS_1