Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
147


__ADS_3

Bu Min mengantarkan makanan ke kamar Arumi yang sedang lemas, dia muntah-muntah sejak pagi. Bu Min khawatir, meski mungkin hanya bawaan bayi, tapi Arumi terlihat sangat murung dan sedih. Keadaannya akan memburuk jika dia terus seperti ini.


"Nyonya, sebaiknya anda ke dokter. Saya khawatir keadaan anda semakin memburuk" ucap Bu Min.


"Nggak usah, nanti juga sehat lagi Bu, aku cuma mabok hamil biasa, aku baca di internet, ini cuma sebentar katanya" jawab Arumi.


Bu Min semakin khawatir, dia keluar dan menutup pintunya, sesuai dengan permintaan Arumi.


Vero pulang dari kantor, dia melihat Bu Min keluar dari kamar Arumi. Tapi dia tak bertanya apapun, dia hanya minta dibuatkan makan malam.


"Bu Min, tolong buatkan makan malam. Sekalian siapkan pakaian, aku mau keluar" ucap Vero.


Bu Min diam saja dan hanya menatap wajah Vero dengan semua kalimat yang ada dibenaknya. Dia berpikir, haruskah dia mengatakan keadaan Arumi atau tidak.


Vero tak mendengar sedikit pun jawaban dari Bu Min, dia berbalik dan menatap wajahnya yang terlihat khawatir.


"Ada apa Bu Min?" tanya Vero sambil menatap pintu kamar Arumi, karena Bu Min baru saja keluar dari sana.


Bu Min masih diam dan ragu.


"Apa dia tidak mau keluar? Biarkan saja, lakukan saja tugas mu" ucap Vero karena tak mendapat jawaban.


Dia pergi ke kamarnya dan membersihkan diri.


Dila yang juga baru pulang, menatap heran pada Bu Min yang berdiri diam menatap pintu kamar Vero.


"Ada apa Bu Min?" tanya Dila.


Bu Min menoleh, dia menatap ragu pada Dila. Apakah Dila akan membantu Arumi atau tidak jika dia memberitahunya.


"Bu Min!" seru Dila karena Bu Min masih diam.


Bu Min memutuskan untuk memberitahunya, dia menarik tangan Dila ke kamar Arumi. Dila terkejut, dengan sikap Bu Min. Namun lebih terkejut saat melihat Arumi tertidur dengan wajah pucat.


"Arumi kenapa Bu Min?" tanya Dila sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Arumi.


"Dia demam" ucap Dila.


"Dia lagi hamil Non, tapi belum ngasih tahu Bapak, hamilnya repot lagi" jawab Bu Min.


"Repot? maksudnya?" Dila tak mengerti.

__ADS_1


"Muntah-muntah terus, udah beberapa hari ini. Ditambah, Bapak nggak pernah nyapa Bu Arumi sama sekali" keluh Bu Min.


Dila menatap kasihan pada Arumi.


"Jadi kakak, masih mempermasalahkan kesalahan Yudi!" gumam Dila.


"Bawa ke dokter aja Non!" pinta Bu Min.


"Mau ke dokter atau dokter nya dipanggil?" tanya Dila pada Arumi.


Arumi menghela dengan berat seolah dadanya tertindih sesuatu.


"Nggak usah Dil, besok juga sembuh" ucap Arumi menolak.


"Oh...jadi kamu mau ikut keras kepala kayak kak Vero? Kasian anak kalian, bukannya kalau treatment selama hamil kurang bagus bisa berdampak pada kesehatan bayi ya Bu Min?" Dila menakuti Arumi dengan mengedipkan sebelah matanya pada Bu Min.


"Iya Bu, kasian jabang bayi nya. Kalo ibu sakit-sakitan, bayinya juga ikut sakit" ucap Bu Min mendukung Dila.


"Ok, kita pergi ke dokter aja. Tapi gimana kalau Vero nanya?" Arumi menyerah namun masih dengan kekhawatirannya.


Dila menghela dan menatap Bu Min.


"Ya, ngomong aja ke dokter. Bukannya di udah nggak peduli sama kalian?" ucap Dila.


"Aku bahkan baru tahu sekarang kalau keponakan bukan hanya akan lahir dari Rania, tapi dari kamu juga" ucap Dila kesal.


"Aku nggak mau bikin suasana semakin ruwet aja" jawab Arumi.


"Mau sok ngalah kayak Rania? Emang bisa kuat kayak Rania? Dia milih hamil tanpa suami loh. Sementara kamu nggak bisa pisah sama Vero sedikit pun walaupun dia udah nggak mau bareng kamu" ucap Dila.


Bu Min menarik lengan Dila, karena Arumi jadi tambah sedih mendengar ucapannya.


"Ya udah...ayo periksa, setidaknya bertahan demi si bayi, masa mau lemah kayak gitu" Dila mulai memberikan semangat lewat sindirannya.


Arumi bangun perlahan dan beranjak dari ranjang. Dila tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya pada Bu Min karena berhasil membuatnya mau memeriksakan diri ke dokter.


Bu Min membalas senyumnya dengan dua acungan jempol untuknya.


Dengan melihat ke arah pintu kamar Vero, mereka pergi. Bu Min mengawasi kepergian mereka, juga bersiap jika sewaktu-waktu Vero muncul dan bertanya. Namun Vero masih mandi, jadi dia tak mendengar apapun dari dalam kamarnya.


Selesai mandi, Vero keluar dari kamar, hendak makan malam, namun melihat Bu Min masih memasak dan belum siap dengan hidangannya. Vero penasaran dengan Arumi yang tak dia lihat sejak pagi. Ingin bertanya pada Bu Min namun merasa malas dengan komen pengurus rumah itu yang akan membuatnya malu.

__ADS_1


Akhirnya Vero masuk ke kamar Arumi dengan perlahan. Namun dia tak melihatnya di dalam. Dengan kesal Vero keluar dan menutup pintu dengan keras. Dia berpikir Arumi sudah berani pergi keluar rumah tanpa izinnya.


~Nggak salah aku ngambil keputusan buat pisah ranjang. Dia juga udah mulai nggak menghargai aku sebagai suami~


Bu Min menatap kaget pada Vero yang terlihat kesal, duduk dan menggenggam ponselnya. Dia hendak bertanya tentang dia yang tiba-tiba kesal. Tapi Vero malah yang bertanya.


"Dila belum pulang?" tanya Vero.


"Sudah Pak, tapi..."


"Dia tak mau turun untuk makan?" Vero menyimpulkan sendiri.


"Iya Pak" jawab Bu Min.


Dia memilih untuk menutupinya terlebih dahulu, karena melihat Vero yang masih kesal tanpa alasan.


Vero melirik ke arah tangga. Kemudian dia teringat pada Rania. Dia menelponnya dan bicara dengannya. Bu Min terheran dengan sikapnya. Jika benar Dila tak mau makan malam, seharusnya dia membujuk adiknya untuk makan. Bukannya menelpon adik yang lainnya.


"Hallo sayang, apa kabar?" tanya Vero saat Rania mengangkat telponnya.


"Baik kak, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Rania.


" Aku sedang makan malam, kau sudah makan. Jangan lupa minum susu mu, katanya itu bagus untuk wanita yang sedang hamil" ucap Vero.


Bu Min mendelik saat mendengar dia begitu perhatian pada adiknya yang tinggal jauh. Dan tak peduli pada istrinya yang juga sedang hamil.


"Bagaimana bisa dia lebih perhatian pada adik yang banyak menjaga dibandingkan dengan istri hamil dan tanpa teman satupun" gumam Bu Min.


Vero mendengar sedikit keluhan Bu Min. Matanya membulat saat dia mendengar istri yang sedang hamil.


"Nanti aku telpon lagi ya" ucap Vero.


Dia berdiri dari kursinya, kemudian mendekat pada Bu Min yang sedang mencuci piring.


"Istri siapa yang hamil?" tanya Vero.


Bu Min terkejut, hampir saja dia menjatuhkan piring yang sedang dia cuci.


"Ibu, Pak eehh...Ibu Pak!" Bu Min latah dan akhirnya mengatakannya.


Mata Vero membulat mendengar ucapan latah Bu Min.

__ADS_1


"Maksud Bu Min, Arumi?" Vero menegaskan apa yang dia dengar.


Bu Min menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang masih penuh dengan busa.


__ADS_2