Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
36


__ADS_3

Anita mendekat pada Rania dan menaruh tangannya di bahunya.


"Dengar Rania, kisah mu...aku juga baru tahu. Kisah perjodohan ini pun aku juga baru tahu baru-baru ini. Jadi...apa yang bisa aku katakan padamu. Kau harus cari tahu sendiri tentang dirimu" ucap Anita.


"Kisah hidupku hanya ayah, ibu dan Aditya. Jika ada kisah lain hanya yang aku dengar dari mu tadi. Aku hanya ingin kejelasan, apa semua ini tentang harta?" tanya Rania.


Anita menyeringai menertawakan pertanyaan Rania.


"Hmmm...hahaha...." Anita tertawa terbahak.


Rania menghela, dia merasa sedang berhadapan dengan pemeran antagonis dalam drama saat dia sekolah menengah dulu.


"Apa ...kau kemari bukan karena uang?"


Anita kembali ke kursinya dan masih tertawa.


"Kau kemari karena Bondan memberikan uang pada ibu asuh mu. Kau kemari hanya takut kami mengambil kembali uang yang sudah ibu asuh mu bayarkan pada sekolah Aditya dan ganti rugi kesalahannya di pasar. Iya kan?"


Rania masih menatapnya dengan mengerutkan dahinya.


"Ayolah! Kau bertanya seolah aku salah melakukan segala hal hanya demi uang" ucap Anita lagi.


"Bondan menerima mu sebagai ibu tiri kemudian memperlakukan mu sebagai ibu kandung, bukan karena uang. Apalagi Beni, kau tahu sendiri keadaannya" ucap Rania.


"Hei...dengar! Mereka tidak memikirkan hal itu karena aku sudah mengatasinya. Dan sekarang aku mau Atmajaya Group menjadi milikku seutuhnya dengan menyatukan harta keluarga Subagja dengannya. Ayolah...ini upah ku merawat adik mu. Bahkan siapapun takkan mampu melakukannya. Aku sudah cukup baik" ucap Anita.


"Aku mengerti, semuanya tentang uang. Tapi....aku juga mau meralat pemikiran mu tentang alasan aku datang kemari. Bukan karena aku takut uang itu diminta kembali. Aku kemari karena aku sangat menyayangi adikku, ibuku walaupun sekarang aku tahu mereka bukan siapa-siapa, tapi mereka hidup bersama ku melebihi sebuah keluarga. Aku tidak menyesal. Dan jika aku harus tetap di sini karena ancaman mu tentang semua teman ku, aku rela. Karena aku menyayangi mereka. Bukan karena uang"


Rania berdiri sambil menatap Anita yang sangat tak suka mendengar ucapannya. Dia berbalik dan meninggalkan Anita di ruang kerjanya sendiri.


Jelas Anita tak suka dengan semua yang dikatakan Rania. Dia menganggap Rania orang yang paling munafik di dunia ini.


"Bahkan setiap kepedihan yang dialami manusia akan ada ganjarannya. Tidak ada yang mampu melakukan semua dengan hanya kata rela begitu saja" gumam Anita.


Rania turun, di hadapannya berdiri Dina yang menatapnya dengan mata memerah.


"Kau kenapa? Bondan mengatakan sesuatu yang menyakiti mu?" tanya Rania khawatir.


Dina meneteskan airmata, dia hendak bicara namun terasa berat setelah mendengar semua yang dikatakan Anita di ruang kerjanya.


Rania hendak memeluknya, namun dia melihat map yang ada di tangan Dina. Rania paham bahwa Dina hendak menyerahkan map itu pada Anita ke ruang kerjanya. Dia mengurungkan niatnya.


"Kau mendengarnya?" tanya Rania.


"Bagaimana kau bisa melakukan semua itu? Bagaimana hati mu bisa sekuat itu? Kau ini manusia atau bukan?" ucap Dina sambil menangis.


"Kau ini bicara apa? Tidurlah, hari ini melelahkan bukan?" ucap Rania.


Dia berjalan melewati Dina, namun Dina menarik tangannya.


"Apa ancaman tante Anita sama kamu? Siapa yang jadi korban nantinya?" tanya Dina.


Rania hanya diam, entah apa yang harus dia katakan. Dia sendiri masih tak tahu harus menceritakan semua ini pada siapa. Siapa yang akan bisa membantunya tanpa harus membuatnya rapuh.


Rania menurunkan tangan Dila perlahan.


"Aku ngga ngerti maksud kamu. Aku cape, mau istirahat" ucap Rania.


"Aku akan bicara sama tante Anita untuk melepas kamu" ucap Dina.


Dia hendak berlari naik ke atas, namun Rania menarik lengannya dan membawanya ke kamarnya. Rania melihat ke luar memastikan tidak ada yang datang.


"Kau...." Rania hendak bicara.


"Apa? Ceritakan padaku?" ucap Dina.


Rania duduk, dia menghela nafas dan terdiam sejenak.

__ADS_1


"Apa yang harus aku ceritakan? Nyonya Anita pun meminta ku untuk mencari tahu sendiri" ucap Rania kesal.


"Kau bukan anak dari ayah dan ibu mu? Lalu...siapa kau? Kenapa tante Anita tahu semuanya? Apa pentingnya? Lalu...ancaman apa yang membuat mu terpaksa tetap tinggal? Siapa yang kau sebut teman-teman mu? Apa aku masuk dalam daftar ancamannya?"


Dina terus bertanya tanpa henti. Rania memejamkan matanya tak menyangka Dina mendengar begitu banyak.


"Apa yang kalian bicarakan saat sebelum acara di mulai? Apa yang membuat mu menangis begitu?" lanjut Dina bertanya.


Rania bangun dan memegang bahu Dina.


"Dengar, kau mau dengar kan? Duduk lah!" pinta Rania.


Dia menceritakan semuanya pada Dina. Rania pun masih ragu dengan apa yang dia ceritakan. Semua pertanyaan masih ada dalam benaknya. Dia ingin segera menemui Vero untuk menanyakan secara detil tentang mereka.


Beberapa saat sebelumnya, Beni mencari Dila di kamarnya namun tidak ada. Beni mencarinya ke halaman, karena dia biasanya ke sana dan terlihat duduk melamun sendiri di sana. Namun Beni pun tak melihatnya di sana.


Beni kembali masuk, dia melihat Dina bicara dengan Dila. Saat hendak menghampiri, Beni mendengar ucapan Dina tentang ancaman dari ibunya Anita. Beni berhenti dan menyandarkan tubuhnya ke dinding, mendengarkan mereka bicara.


Saat Rania membawa Dina ke kamar, Beni juga mengikutinya. Beni datang ke kamar Dila setelah dia menutup pintunya. Sekarang, Beni mendengarkan semua percakapan Dina dan Dila.


Di dalam, Dina terdiam dan hanya bisa mengerutkan dahinya mendengar semua cerita Rania.


"Jadi...sudah sejak lama tante Anita tahu kamu bukan Dila? Sekarang, dia malah mengancam akan melenyapkan semua orang di dekat mu agar kau mau menikah dengan Beni?" ucap Dina menyimpulkan.


Rania hanya menghela, dia diam menatap langit dari jendela kamarnya.


"Kau sendiri harus mencari tahu apa benar kau dan Dila saudara kembar. Lalu ...pria tadi juga adalah kakak mu?" lanjut Dina.


"Iya...semua yang kau tanyakan dan katakan bisa kau jawab sendiri setelah mendengarnya dari ku. Yang aku sendiri, masih banyak pertanyaan yang harus aku jawab sendiri atau harus aku cari sendiri jawabannya" ucap Rania.


"Tapi Rania, maafkan aku. Aku sudah mengira kau senang dengan semua perjodohan ini. Karena uang. Maafkan aku!"


Dina menyesali ucapannya saat dia meriasnya tadi.


"Ya, aku juga akan berpikir seperti itu jika aku ada di posisi mu" ucap Rania memaklumi.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Kembali ke kamar mu. Jangan sampai orang lain tahu tentang pembicaraan kita. Aku minta kau membantu untuk satu hal ini. Dukung Bondan hingga akhir, jangan pernah melepas tangannya. Jika dia membantuku itu hanya karena dia sangat menghormati dan menyayangi ku, tidak lebih" ucap Rania sambil memegang tangannya.


Dina mengangguk. Dia berjalan menuju pintu, kemudian membukanya. Namun dia terkejut karena Beni ada di sana.


"Ibenk?" ucap Dina.


Mata Rania membelalak mendengar Dina menyebut nama Beni. Dia berpikir Beni mendengar semua pembicaraan mereka.


"Hei...kamu di sini? Ada apa? Dila baik-baik aja kan?" ucap Beni berpura-pura baru datang.


Rania menghela nafas lega mendengar Beni baru datang. Dia menghampiri kemudian tersenyum.


"Aku di sini, kami baru saja bergosip tentang acara tadi. Kau memerlukan sesuatu?" tanya Rania dengan riang.


Beni tersenyum dan menatap Dina.


"Ouh...ya, aku akan pergi ke kamarku" ucap Dina.


Beni melihat Dina keluar dan pergi. Rania hendak ikut Beni ke kamarnya, namun Beni diam dan malah masuk ke kamar dan duduk di ranjang Rania.


Rania terkejut, dia gugup melihat Beni duduk.


~Apa yang akan dilakukannya?~ tanya hati Rania.


Rania berusaha bersikap biasa saja dan mendekat dengan wajah Dila yang selalu riang.


Beni menatapnya.


~Manusia macam apa yang mampu merubah sakit di hatinya menjadi senyuman yang terlihat tak ada masalah?~ ucap hati Beni.


"Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Rania.

__ADS_1


"Aku...mau tidur bersama mu di sini, seperti dulu" ucap Beni.


Dia berbohong soal hal itu yang pernah dilakukan Beni dan Dila. Beni hanya ingin menemaninya saja, untuk setidaknya membuatnya merasa tak sendiri.


Rania terdiam kaku tak bisa menolak. Dia menjadi canggung dan seolah tak bisa melihat mata Beni.


Beni menarik tangan Rania yang hendak berdiri. Rania dipeluknya, wajah Beni menempel di perut Rania.


"Kau tidak pernah menceritakan rasa sedih mu sejak datang kemari" ucap Beni.


Rania kaku, dia benar-benar canggung dengan sikap Beni. Meski sudah terbiasa dengan sentuhan atau pelukannya, namun Rania membatasi dirinya. Perasaan bahwa dia bukan Dila selalu mengingatkan dirinya untuk tetap pada porsinya sebagai pengganti.


"Cerita sedih apa? Kau sudah berubah, sekarang, semakin manis dan lembut. Apalagi yang bisa aku keluhkan?" ucap Rania.


Beni melepas pelukannya.


"Benarkah? Aku berubah menjadi lebih baik?" tanyanya dengan wajah polos.


Rania tersenyum menatapnya, dia mundur dan melangkah ke arah meja rias kemudian duduk.


"Ya, itu berkat aku kan?" ucap Rania bangga.


Beni tersenyum.


~Aku sudah tahu kau bukan Dila, tapi mengapa justru aku tak ingin melepas mu. Aku jauh lebih tenang mendengar kau bukan Dila~ ucap hati Beni.


"Baiklah! Aku akan kembali ke kamar ku" ucap Beni sambil berdiri.


Rania terkejut dan ikut berdiri. Merasa aneh karena baru saja dia bilang akan tidur di sini, namun dia akan pergi kembali ke kamarnya. Namun hatinya lega, tak harus tidur dengan Beni saat dia membutuhkan waktu untuk sendiri.


Beni berhenti di depan pintu, Rania mengira dia teringat akan ucapannya untuk tidur di sini. Beni berbalik dan tersenyum.


"Boleh aku memeluk mu sekali lagi?" tanya Beni.


Rania membuka kedua tangannya, Beni menghampiri dan memeluknya dengan erat.


"Jangan tinggalkan aku ya!" bisiknya di pelukan Rania.


Rania membulatkan matanya mendengar bisikan Beni yang seolah benar-benar bergantung padanya sekarang.


"Kau sedang merasa takut?" tanya Rania.


Dia melepas pelukan dan bertanya dengan khawatir.


"Baiklah, aku akan menemani tidur mu sebentar. Ayo!" ucap Rania menarik tangan Beni keluar.


Beni menghentikannya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Terlalu baik sehingga mudah merasa takut kehilangan mu" ucap Beni sambil menatap Rania.


"Ayo, aku akan menemani mu sampai kau tidur" ucap Rania tetap menariknya.


Beni menurut, mereka masuk ke kamar Beni yang penuh dengan hadiah ucapan selamat juga bunga. Rania menyingkirkannya satu persatu dan merapikan ranjang.


"Pantas saja kau mau tidur di kamarku, ternyata kamarmu penuh ucapan selamat. Hedi pasti lupa bahwa barang-barang ini seharusnya di simpan di ruang melukis mu" ucap Rania.


Beni hanya berdiri menatapnya.


"Sudah siap, tidurlah!"


Beni mendekat dan berbaring di pangkuan Rania yang sedang duduk di ranjang. Rania mengelus kepalanya dengan lembut.


"Aku harap, kau bersama ku selamanya. Meskipun kau hanya seorang Rania" gumam Beni.


Rania tak mendengarnya, dia mengira Beni sedang berdoa sebelum tidur.


"Aamiinnnn!" ucap Rania.

__ADS_1


Beni tersenyum lalu terlelap tidur sambil memeluk tangan Rania.


__ADS_2