
Davin melarikan diri menuju sebuah rumah pribadi miliknya yang lain. Dia terengah sambil mengingat kejadian yang dia alami barusan.
"Gila, Beni menembak ibunya sendiri. Udah dipukul pake batang besi pun dia masih berdiri buat ngejar aku. Sialan, punya banyak penjaga bertubuh besar pun nggak ngejamin. Dia hampir menembakkan pistol di kepala ku" keluhnya sambil membersihkan diri di depan cermin di kamar mandinya.
Selesai membersihkan diri, Davin melihat ponselnya. Dia mengakses seluruh rekaman CCTV rumahnya. Dia mengusap wajahnya setelah melihat bahwa polisi sudah membersihkan TKP.
Kemudian tak berapa lama, dia mendapatkan sebuah pesan video. Dia langsung membukanya, sebuah video tentang rekaman penculikan Rania yang terekam kamera ponsel warga. Tersebar luas di sosial media.
"Jadi Beni mengetahui pelakunya adalah aku dari rekaman ini. Wajah Baron bodoh jelas terlihat di video itu" gumamnya.
Dia menonton video lainnya yang merekam keadaan kamarnya yang penuh darah. Kamar yang menjadi saksi bisu perbuatannya pada beberapa wanita yang dia inginkan.
"Aku harus kabur, ke luar negri. Ya, aku harus pesan tiket pesawat sebelum mereka sadar aku akan pergi jauh" gumamnya lagi.
Dia menghubungi seseorang untuk membantunya memesan tiket pesawat. Dia pun bersiap-siap untuk pergi. Mengganti pakaian dengan sedikit merubah penampilan, memakai topi dan jaket layaknya anak muda.
Namun sayang, dia tidak tahu bahwa teman yang dia hubungi sedang dalam pengawasan polisi. Polisi sengaja membiarkan dia mendapatkan tiket untuk menjebaknya. Polisi jadi lebih mudah menangkapnya di bandara.
###
Bondan mendapat kabar bahwa Davin sudah ditangkap di bandara. Dia sedang bersiap menuju rumah sakit polisi untuk menjemput jenazah Beni dan Anita. Hari ini dia akan melakukan pemakaman bagi mereka.
Sebelum kesana, dia mampir ke rumah sakit tempat Rania dirawat. Dia menatap Rania yang masih berada di ruang ICU. Ditemani Bu vera yang sedang menyeka keringatnya.
Tiba-tiba tangan Nuri memegang bahunya. Bondan menoleh, dia terkejut karena menatap Nuri yang dia tahu masih di Korea menjalani operasi wajah.
"Nuri!" seru Bondan.
Nuri memeluk Bondan dengan penuh rasa kasian.
"Jangan sedih, Rania orang yang kuat. Dia pasti akan cepat sadar" ucap Nuri.
Bondan menunduk dan tersenyum.
"Apa yang kudengar sangat menyeramkan. Aku juga langsung menangis membayangkan dia ketakutan. Seharusnya aku bisa pulang lebih cepat" ucap Nuri
"Tidak, dia malah akan marah jika kamu nggak menyelesaikan operasi dengan baik" ucap Bondan.
"Ya, dia meninggalkan satu operasi lagi. Tapi dokter bilang ini bisa ditunda hingga dia bisa kembali kesana" ucap Fajri.
"Bagus kamu ada di sini, aku dan Vero akan sibuk di kantor. Perusahaan belum begitu stabil, meski perubahan yang Rania bawa sangat besar. Jadi dia akan lebih merasa banyak yang menemani terutama sahabatnya" ucap Bondan.
"Bukankah sebaiknya kamu yang ada di sisinya?" ucap Nuri.
Fajri mencubit tangan Nuri.
"Hei...dia itu seperti aku, selalu berada disini sepanjang malam. Pergi jika yang lainnya sudah benar-benar terjaga dan lebih dari satu orang menunggu" ucap Fajri.
__ADS_1
Bondan menatapnya dengan heran.
"Aku tahu dari suster di depan, suster yang dulu merawat mu" ucap Fajri.
Bondan menggaruk kepalanya merasa malu.
"Terimakasih!" ucap Nuri.
"Untuk apa?" tanya Bondan.
"Untuk kembali mencintai Rania apapun keadaannya" ucap Nuri sambil memegang tangannya.
"Aku selalu mencintainya" jawab Bondan.
Bondan berdiri.
"Ok, karena kalian ada disini. Aku akan pergi, aku harus menyiapkan pemakaman untuk ibu dan adikku. Aku akan kembali jika sudah selesai" ucap Bondan.
Nuri mengangguk dan Fajri memeluknya.
"Ok, hati-hati!" ucap Fajri.
Mereka menatap kepergian Bondan, kemudian mengalihkan pandangan pada Rania.
###
Selalu ada pertengkaran antara mereka. Hal itu menjadi alasan yang cukup membuat jarak antara mereka. Meski begitu, dia tetap selalu sangat menyayanginya.
~Ayah selalu mengatakan agar aku menganggap mu sebagai adikku. Aku melakukannya, aku marah, aku kesal, aku diam karena aku menyayangimu~ ucap hatinya.
Di sisi lain, Dila mengetahui acara pemakaman itu, dia tak melewatkan kesempatan untuk dekat kembali dengan Bondan.
Dila mendekat pada Bondan dan berdiri di sampingnya. Bondan melirik padanya.
"Aku ikut bersedih atas kepergian Beni dan tante Anita" ucap Dila.
"Ya, terima kasih!" jawab Bondan.
Mereka menyelesaikan pemakaman hingga tabur bunga. Tak banyak orang yang datang karena mengetahui bahwa Anita buronan polisi dari kejahatan pembakaran sebuah restoran.
Dila senang Bondan tak menghindarinya kali ini. Dia juga merasa punya kesempatan untuk bicara dengannya hari ini.
"Aku datang pake taksi, boleh aku numpang mobil kak Bondan untuk pulang?" tanya Dila.
Bondan mengangguk, Dila tersenyum. Mereka sudah selesai dan hendak pergi. Namun saat berbalik, Bondan melihat Dina sedang berjalan ke arah mereka.
Bondan menatap mata Dina yang juga menatapnya. Dina tersenyum, dia memakai kacamata hitam menutupi mata sembabnya.
__ADS_1
"Kau datang?" tanya Bondan.
"Aku dari rumah sakit tadi, Arumi bilang pemakamannya hari ini jadi aku datang. Ku kira sudah selesai!" ucap Dina.
Bondan memeluk Dina dengan erat, dia mendapat balasan usapan tangan Dina di punggungnya. Dila melihat itu dan mendelik.
"Hai Dila, lama nggak ketemu" sapa Dina.
"Hai!"
Mereka saling memeluk dan mencium pipi. Dila membuka kaca matanya dan meminta untuk bicara dengan Bondan sejenak.
"Aku harus kembali malam ini, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Dina sambil melirik pada Dila.
"Baiklah!" jawab Bondan tanpa bicara pada Dila.
Dila mendelik dan menjauh dengan kesalnya. Dina melihat sikapnya, dia tersenyum dan menunduk.
"Kenapa?" tanya Bondan.
"Tidak, hanya saja, mereka sangat jauh berbeda. Bagai langit dan bumi. Tapi sayang, nasib Rania benar-benar buruk" ucap Dina.
"Aku akan menjaganya, mulai sekarang aku takkan pernah jauh darinya" ucap Bondan.
"Aku kesal saat mendengar kau menjauh darinya karena membela tante Anita" ucap Dina.
Bondan menunduk.
"Aku bahkan menghubungi mu saat itu. Kenapa kamu masih keras kepala soal itu? Sekarang kamu menyesal?" ucap Dina kesal.
"Aku..." Bondan tak bisa menjawabnya.
"Aku sudah bilang, jangan pernah meragukan ucapan Rania. Sampai detik ini, apa yang dia katakan adalah hal benar. Dan sekarang aku nggak akan pernah tau, bahkan apa dia akan bicara atau tidak" keluh Dina.
Bondan menatap Dila.
"Tadi dia sudah sadar. Kami semua memeluknya bergantian. Tak ada yang bisa membuatnya bicara meskipun Ramadhan atau Bu Vera menghiburnya. Dia diam tak bergeming" ucap Dina.
Bondan mengerti bahwa Rania sudah sadar, tanpa mengatakan sepatah katapun, dia berlari dan menyalakan mesin mobilnya.
"Astaga, dia benar-benar mencintainya. Aku bahkan belum mengatakan apa yang harus aku katakan" gumam Dina.
Dila memanggil Bondan dan mengejarnya. Dia terlihat kesal sekali. Dina menghampirinya, Dila melirik dan bertanya.
"Apa yang kamu katakan padanya sampai dia meninggalkan ku begini?" tanya Dila ketus.
"Berhenti bersikap kenakan, dia berlari seperti itu karena tahu Rania sadar" ucap Dina.
__ADS_1
Dila memasang kacamatanya kembali sambil berjalan pergi meninggalkannya. Dila menatap kesal padanya. Dia juga ikut pergi dengan menggunakan taksi yang dia panggil setelah menunggu.