
Arumi, Vero, Dila dan Fajri melakukan pemotretan saat Yudi masak dengan ponsel mereka masing-masing.
Dila mengambil gambar Yudi yang terlihat tampan saat memasak. Dila perlahan memotret cara chef Yudi.
"Sempurna!" ucap Dila.
Setelah mengambil semua foto dan video yang dilakukan semua kru juga chef Yudi yang memasak dengan telaten.
Dila sumringah dan segera membawa hasilnya lalu mengeditnya di laptop. Bekerja dengan riang. Pekerjaan yang sangat dia sukai.
Dila menatap pekerjaannya, merasa semua berjalan dengan sempurna.
~Itu karena aku sangat beruntung!~ ucap hatinya.
Vero ikut tersenyum melihat Dila begitu senang mengerjakan pekerjaannya. Arumi dan Yudi melihat ekspresi wajah Vero yang menurut mereka menunjukkan perasaan senang mengingat wajah Rania yang mirip dengan Dila.
Vero berbalik dan melihat Arumi dan Yudi yang berdiri menatapnya. Arumi dan Yudi panik dan ikut berbalik. Namun mereka berbalik dengan arah yang berlawanan hingga saling bertabrakan.
Vero mengerutkan dahinya sambil tersenyum, melihat tingkah adik kakak yang seperti anak kecil itu. Dia kembali ke ruangannya dan kembali melihat ponsel dan menghubungi seseorang.
Kali ini tersambung, wajah Vero berubah lebih senang. Dia merasa mendapatkan sebuah harapan.
"Ya hallo!" jawab seorang pria di ujung telpon.
Vero menghela lega, dia tersenyum dan menjawab.
"Ya hallo pak Nurdin! Ini Vero!" jawabnya.
"Ya den, apa kabar? Maaf hape Bapak rusak, jadi harus diperbaiki. Gimana kabarnya den?" ucap Pak Nurdin.
"Baik Pak, Vero mau bicara sama Bapak soal pesan Bapak waktu itu. Bapak kapan bisa?" tanya Vero.
"Hari ini bisa Den, Aden dimana? Bapak lagi nganggur sekarang, jadi ada terus di rumah" jawab Pak Nurdin.
"Ok, kita ketemu. Nanti Vero jemput di pul bus dekat pasar ya Pak!" pinta Vero.
"Siap Den!" jawab Pak Nurdin.
"Makasih Pak!" ucap Veri sambil menutup telponnya.
Vero merapikan mejanya dan bergegas keluar dari ruangannya mencari Fajri.
"Rum! Mana Fajri?" tanya Vero pada Arumi yang sedang membantu merapikan meja.
"Di dapur sama Yudi!" jawab Arumi.
Dia terheran karena Vero begitu terburu-buru pergi.
"Ada apa?" tanya Arumi.
"Nggak ada apa-apa!" jawab Vero.
Dia berjalan menuju dapur. Dilihatnya Fajri sedang menulis sesuatu dan Yudi mengarahkannya. Fajri dan Yudi menoleh pada Vero.
"Faj, bisa bicara sebentar?" pinta Vero.
"Ok!" jawab Fajri, menaruh pulpen diatas kertas dan meninggalkannya.
Mereka bicara di pojok dengan berbisik. Fajri terlihat mengangguk-angguk saja, sedangkan Vero terus bicara dengan gerakan tangannya pelengkap perintah untuk Fajri.
Yudi memperhatikan, dia curiga dengan sikap Vero sejak tadi.
Arumi masuk dapur, Vero melihatnya dan menghentikan pembicaraannya dan menutup dengan perintah.
"Ok, beritahu semuanya. Kamu andal dalam hal ini" ucap Vero.
__ADS_1
Vero berjalan menuju pintu dekat Arumi.
"Kamu mau kemana?" tanya Arumi.
"Aku pergi sebentar, ada urusan penting. Fajri yang bakal breefing, see you at dinner. Bye!" ucap Vero.
Arumi hendak curiga, namun saat Vero memegang tangannya juga mencium pipinya dia menjadi sangat merasa diperlakukan sebagai pacarnya kali ini. Dia tersenyum.
"Ok, hati-hati!" jawab Arumi.
Yudi menertawakan sikap Arumi, dia mendekat sambil menatap Vero yang sudah hampir sampai di pintu keluar karena jalannya yang cepat.
"Dasar perempuan! Tadi bilang kesal, giliran diperlakukan manis sedikit langsung melted" ucap Yudi.
"Ya benar, itulah perempuan. Hanya ingin dihargai dan diperlakukan sesuai dengan perasaan dan statusnya dimata laki-laki" jawab Arumi.
Dila yang tak melihat Vero pergi, datang menghampiri dan bertanya.
"Mana Bos Vero?" tanyanya.
Yudi terpaku menatapnya, meski telah setengah hari tahu bahwa wajah itu bukan milik Rania, namun tetap merasa itu adalah Rania.
Arumi memegang bahunya dan menggerakkan ke arah kompor. Yudi berjalan perlahan dan mulai kembali memasak.
"Pergi! Ada urusan. Ada apa?" tanya Arumi.
"Hasilnya sudah selesai, mau lihat?" tanya Dila.
"Ok, yuk!" jawab Arumi sambil mengaitkan tangannya di bahu Dila.
Yudi meliriknya lalu menghela nafas. Rindu pada Rania muncul kembali, stress lagi. Dia merasa ingin pergi dan minum lagi. Namun Fajri menghentikannya dan melakukan breefing pada kru dapur.
Beberapa saat kemudian, Nuri datang ke restoran. Dia penasaran dengan apa yang dikatakan Yudi.
Perlahan dia masuk ke restoran dan melihat sekeliling.
"Selamat siang! Silahkan nona!" sapa Fajri.
Nuri tersenyum dan duduk dengan mata yang mencari-cari. Fajri memperhatikannya dan bertanya.
"Pesan apa Nona?" tanya Fajri.
"Yudi ada?"
Nuri malah balik bertanya dan membuat Fajri membulatkan matanya.
~ooh...kenalan Yudi!~ ucap hati Fajri.
"Oh...chef Yudi? Ada. Sedang bekerja di dapur" jawab Fajri.
Nuri menghela lalu melihat menu kemudian memilih.
"Carbonara saja, minumnya air putih!" pinta Nuri.
Dila yang duduk dibelakang Nuri mendengar dan berdiri.
"Warm green tea lebih nikmat di minum setelah Carbonara!" ucap Dila ikut menawarkan.
Fajri mengangkat kedua alisnya, dia mundur sedikit memberikan ruang pada Dila untuk menawarkan.
Dila tersenyum dan menatap Nuri. Namun Nuri segera berdiri dan terkejut melihatnya.
"RANIA!" teriak Nuri
Dia senang melihat sahabatnya dihadapannya. Teriakkannya membuat beberapa tamu menatapnya, juga membuat Fajri semakin terkejut.
__ADS_1
Nuri memeluk Dila dan senang hingga melompat-lompat.
Yudi mendengar suara Nuri yang nyaring, dia keluar dan melihatnya. Yudi segera menarik tangan Nuri dan membawanya ke dapur.
Dila yang masih terkejut, terdiam menatap mereka ke dapur.
"Rania! Siapa dia?" tanya Dila pada Fajri.
Fajri mengangkat bahunya isyarat bahwa dia juga tidak tahu. Dila melihat tangan Yudi yang menarik tangan tamu itu. Dia mengira bahwa tamu itu adalah pacarnya.
Yudi menghela setelah berjalan cepat menarik Nuri.
"Kenapa?" tanya Nuri.
Dia memegang pergelangan tangannya karena cukup merasa sakit saat ditarik Yudi.
"Dia bukan Rania!" ucap Yudi.
Nuri tersenyum mengejeknya.
"Kau ini benar-benar. Walaupun dia ubah potongan rambutnya, aku tahu itu Rania" Nuri kekeh.
"Kau benar-benar mabuk? haah?" Nuri kesal.
Dia hendak pergi lagi keluar. Namun Yudi menariknya lagi. Nuri kesal dan menamparnya.
"Sakit tau!" teriaknya pada Yudi.
Yudi terdiam merasakan panas di pipinya. Nuri tersadar telah menamparnya dengan keras. Dia mengigit bibirnya karena takut Yudi jadi marah.
Arumi masuk dan melihat Yudi ditampar. Matanya membelalak, karena belum pernah ada yang menamparnya.
"Ada apa?" tanya Arumi canggung dengan keadaan yang ada di hadapannya.
Yudi memejamkan mata dan menghela nafas.
"Dia memeluk Dila karena mirip dengan Rania!" ucap Yudi sambil mengusap pipinya sendiri.
Nuri bengong dengan ucapan Yudi.
"Apa? Mirip?" tanya Nuri memastikan.
"Ya, mirip! Kalau ke sini itu bilang dulu! Kan tadi pagi aku bilang untuk sms" keluh Yudi.
Nuri memasang wajah lugu dan tak bersalah.
"Mana ku tahu kalau cewek itu cuma mirip" ucap Nuri membela diri.
"Kau ini!" kesal Yudi.
Nuri mengintip dari pintu melihat wajah Dila kembali.
"Siapa namanya?" tanya Nuri.
"Dila Aryani Subagja!" jawab Arumi.
"Wah...luar biasa, mereka benar-benar mirip! Rania punya suara yang semangat seperti itu saat hendak mencari pekerjaan untuk pertama kalinya. Tapi selalu lemah setelah mendapatkan banyak kekecewaan. Dan sekarang bertambah lagi orang yang mengecewakannya" ucap Nuri sambil melirik Yudi.
Yudi menatap sinis pada Nuri karena sindirannya.
"Ya, aku tahu. Kakak ku ini memang bodoh! Seharusnya dia ngga salah langkah" ucap Arumi ikut mengeluh.
Yudi semakin merasa dipojokkan.
"Ya ya ya...! Aku memang salah. Kalian puas?" ucap Yudi kesal.
__ADS_1