
Beni mengetuk pintu kamar Rania untuk memastikan bahwa dia sudah siap. Rania membuka pintu dan menatap Beni yang terlihat rapi.
"Kau mau pergi?" tanya Rania.
Beni mengerutkan dahinya, dia mengerti bahwa Rania melupakan ajakannya.
"Aku ngajak kamu nonton tadi siang"
Rania membuka mulutnya.
"Ah....iya, aku lupa. Sebentar aku akan siap-siap"
Beni pergi ke ruang tengah dan duduk menunggu, namun tak berapa lama Rania keluar sudah siap. Beni yang baru hendak akan duduk tersenyum.
"Kenapa?" tanya Rania.
"Tidak! Biasanya kalau perempuan bilang akan siap-siap, itu berarti akan cukup lama kita nunggu. Tapi kamu beda" ucap Beni sambil memeluk pinggangnya.
"Kalo aku bilang sebentar ya sebentar" ucap Rania.
Dia menghindari wajah Beni yang sangat dengan wajahnya. Kemudian terdengar suara Dina batuk disengaja untuk membuat mereka tahu keberadaannya.
"Eheemm!"
Rania melepas pelukan Beni dan berbalik, dia terkejut karena di sana bukan hanya ada Dina tapi juga Bondan yang menatapnya dengan cemburu.
"Kalian juga ikut?" tanya Rania.
"Ya, Bondan berubah pikiran" ucap Dina sambil melihat wajahnya.
Beni menarik tangan Rania kemudian berjalan terlebih dahulu menuju mobil. Dina dan Bondan menyusulnya. Sampai di depan Beni menunggu Bondan dan bertanya.
"Siapa yang akan menyetir?"
"Aku saja!" jawab Bondan.
Beni melempar kuncinya dan mengajak Rania duduk bersamanya di belakang. Dina masuk ke kursi dekat Bondan. Mereka pergi ke mall milik mereka. Di perjalanan, Dina dan Bondan bicara tentang acara kantor untuk hari Senin besok. Beni mengerutkan dahinya, dia tak mau membahas masalah kantor.
"Hei...ayolah! Kita akan pergi double date, apa harus membicarakan masalah kantor?" keluh Beni.
Bondan menatap Beni dari kaca spion kemudian menatap Rania yang sedang melihat keluar jendela dengan mengerutkan keningnya.
"Film apa yang akan kita tonton?" tanya Dina.
"Ada, aku akan menjadikannya kejutan" ucap Beni.
"Oh ya, ini kan double date, aku harap kalian bisa benar-benar menjadi pasangan kekasih" ucap Beni sambil menggosok tangannya.
Dina menyeringai, merasa ucapan dan harapan Beni hanya sebuah lelucon. Sementara Bondan dan Rania tak merespon. Beni dan Dina menatap mereka yang sama sekali tak terlihat senang dengan acara ini.
__ADS_1
"Hei....kamu ngga apa-apa kan?" tanya Beni sambil memegang tangan Rania.
Rania menoleh dan tersenyum, dia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya terhadap kakaknya. Tapi dia juga tak bisa mengacuhkan orang-orang disekitarnya.
"Ngga, cuma nostalgia aja sama jalanan Jakarta" ucap Rania.
"Kamu kangen diskotik?" tanya Beni seolah bertanya pada Dila.
Rania membulatkan matanya dan melirik pada Bondan dan Dina.
"Ngga juga sih!" jawab Rania terbata.
"Kapan-kapan kita ke diskotik aja, biar bisa ngelepas penat, iya kan Bang?" ucap Beni.
Bondan menjawab pertanyaan Beni dengan senyuman. Dia tak nyaman dengan pembicaraan yang seharusnya ditujukan pada Dila bukan Rania.
Dina menatap keluar jendela, merasa bahwa tak seharusnya Beni membahas itu, dia sudah tahu bahwa dia bukan Dila.
~apa maksudnya dia mengatakan itu?~ tanya hati Dina.
Hening sejenak terasa di mobil yang sedang melaju itu, mereka tak tahu apa lagi yang harus dikatakan. Sementara Beni tersenyum menertawakan diamnya mereka.
###
Di rumah, Vero duduk menatap langit malam itu dari jendela kaca kamarnya. Dia membaca pesan dari Rania bahwa dia akan ke mall untuk memenuhi keinginan Beni menonton film.
"Pesan dari siapa? Kamu langsung pergi gitu!" tanya Arumi.
Vero menelan ludahnya sendiri, dia bingung harus mengatakan apa.
"Aku baru saja mau ke tempat mu, ada film bagus, kita nonton!" ucap Vero.
Tak ada ide lain selain mengajak Arumi pergi bersamanya. Arumi menatap heran dan merasa aneh.
"Tapi...tadi siang kita baru saja melihat restoran yang rusak parah, kenapa kamu...?"
Belum selesai Arumi bicara, Vero sudah menyelanya.
"Penat, cukup lelah berpikir begini begitu, kita nonton saja!" pinta Vero.
Arumi tersenyum berusaha memahami apa yang dirasakan oleh Vero.
"Baiklah!" Arumi setuju.
Arumi kembali memakai jaketnya, namun dia berhenti dan membuat Vero ikut berhenti.
"Kita ajak Yudi dan Dila" ucap Arumi sambil langsung menelpon mereka.
Vero panik dan langsung mengambil ponsel Arumi dan membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Aku cuma mau berdua sama kamu" ucap Vero.
Arumi sedikit aneh dengan sikap Vero yang sering melakukan hal yang tak biasanya dia lakukan. Namun tetap saja Arumi ikut dengannya.
Vero mengendarai motor bersama Arumi menuju mall yang sama yang Rania beri tahu.
Sampai di mall, Rania melihat tiket yang dipegang Beni.
~THE GOOD LIAR!~ ucap hati Rania.
Judul film yang Beni beli untuk mereka tonton hari ini. Rania langsung meminta saran dari kakaknya, apa film itu bagus atau tidak. Namun Vero tak membalasnya.
Beni menarik tangan Rania untuk cepat masuk. Bondan dan Dina ikut bersama mereka menyusul dari belakang. Mereka mencari tempat duduk. Rania sudah tak bisa mengirim pesan lagi pada kakaknya, Beni akan melihatnya jelas karena mereka duduk berdampingan.
Bondan terlihat tak suka dengan situasi yang ada, dia duduk jauh dari Rania karena terhalang Dina. Matanya terus melihat ke arah lain karena kesal dengan tingkah Beni yang manja pada Rania.
Sementara film sudah mulai akan di putar, Vero dan Arumi datang dengan terburu-buru, masuk ke bioskop. Dalam gelap, Vero mencari nomor kursi dan duduk bersama Arumi. Matanya juga mencari Rania. Dia sedikit khawatir jika mereka berbeda ruangan.
"Film nya akan segera dimulai!" ucap Arumi.
Vero masih mencari Rania, Arumi jelas melihat bukan menonton film tujuan Vero kemari.
"Kamu ngga niat nonton kan?" duga Arumi.
Vero terdiam.
"Jujur deh sama aku, kamu nyariin siapa?" Arumi mendesak.
Vero tersenyum bodoh, dia harus menjawab pertanyaan Arumi dengan alasan yang tepat.
"Aku.....aku cuma..."
"Sttthhhhh.... film nya udah mulai, jangan berisik"
Seseorang di depan mereka memperingatkan. Vero mengangguk dan meminta maaf, namun berhenti karena melihat orang yang menegurnya adalah Beni.
Arumi menarik lengan Vero untuk kembali tegak duduknya.
"Maaf!" ucap Arumi.
Vero malah tersenyum mencubit pipi Arumi.
"Makanya jangan banyak curiga!"
Arumi merasa diperlakukan manis oleh Vero. Sedangkan Vero menatap kepala Rania yang tak menengoknya dengan perasaan lega. Dia bisa menonton sambil menjaga adiknya.
Semua orang larut dalam alur cerita, Rania mengerutkan keningnya merasa alur film sedikit menyinggungnya. Tertipu oleh pasangan namun mulai saling jatuh cinta. Bondan pun merasa bahwa Beni mau memberitahunya bahwa Rania sekarang mulai jatuh cinta padanya.
Dina malah merasa ngantuk dan merasa bosan karena tak terlalu suka dengan film romantis. Vero tak memperdulikan film, dia hanya siaga memegang tangan Arumi dan menatap adiknya.
__ADS_1