Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
76


__ADS_3

Rania kembali pulang, dia melihat raut wajah Arumi masih belum berubah terhadapnya. Sambil berjalan menuju parkiran dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa aku melakukan hal yang menurutmu salah?" tanya Rania langsung pada intinya.


"Aku suka karakter mu Rania, kamu to the point banget" jawab Arumi sambil berhenti.


Rania terheran dengan ucapannya.


"Aku melihat Dila tempo hari, dia sangat terlihat depresi dengan sikap Yudi yang kini semakin tak karuan. Aku tidak menyalahkan mu, jelas sekali kakak ku yang tak punya pendirian. Tapi," Arumi berhenti bicara saat melihat wajah Rania.


Rania menunggu.


"Wajah kalian benar-benar sangat sama" lanjut Arumi.


Rania menundukkan kepalanya.


"Apa yang membedakan kalian? Mengapa Vero dan Yudi sangat memperlakukan mu dengan berbeda? Padahal selain wajah kalian yang sama, kalian juga adalah wanita biasa, punya perasaan juga kan?"


Pertanyaan Arumi memang tak perlu mendapatkan jawaban. Namun Rania merasa bahwa dia sudah mengambil semua hak Dila sebagai anak dari keluarga Subagja juga.


Beni menghampiri mereka dengan mobilnya, Rania terpaksa harus masuk, dia pamit pada Arumi.


"Ini bukan pilihan ku, aku sedang berusaha menjadi adik yang baik. Aku juga banyak kehilangan sejak mengambil keputusan ini. Tapi aku berjanji aku juga akan menjadi saudara kembar yang baik untuknya. Terimakasih sudah mengkhawatirkan kami, Kak Vero beruntung bisa memiliki mu" ucap Rania sambil memeluk Arumi.


Arumi terdiam mendengar ucapannya. Dia menatap kepergian Rania hingga hilang dari pandangannya. Vero menepuk bahunya untuk mengajaknya menuju mobil yang ada di seberangnya. Arumi terkejut, dia menatap Vero.


"Ada apa?" tanya Vero.


"Tidak, dia benar-benar sangat berbeda. Pantas saja kalian begitu sangat menyayanginya" ucap Arumi.


"Siapa? Rania?" terka Vero.


Arumi mengangguk. Vero mengaitkan tangannya di lengan Arumi, dia mengajak Arumi berjalan dan menjelaskan beberapa hal yang istimewa dari Rania. Arumi mendengarkan dan terkagum-kagum kembali.


###

__ADS_1


Keesokan harinya, Beni mencari Rania untuk sarapan, namun dia tak menemukannya di kamar. Beni berusaha menghubunginya, dia bertanya pada Hedi.


"Mba Rania pergi pagi banget bawa mobilnya, nggak ngomong mau kemana" ucap Hedi sambil menggelengkan kepalanya.


~Kemana dia? Apa dia nemuin Bondan dan ngasih tahu kalo Ryan tertangkap, trus bilang kalo Momy juga akan tertangkap?~ tanya hati Beni.


Sementara itu, Rania berhasil menemukan profil dari orang yang membantu Anita. Rania berdiri di depan gerbang pintu pagarnya. Dia pergi sendiri dan tak memberitahu siapapun termasuk Beni yang selalu ada untuknya.


Rania memencet bel dan menunggu, terdengar suara petugas menghampiri dan membuka pintu.


"Hai, aku...dari Atmajaya Group" ucap Rania.


"Ouh! Sebentar!"


Petugas itu seolah mengerti dengan kedatangan Rania. Dia langsung paham dan pergi, terlihat dia sedang memberitahu lewat telpon tentang kedatangannya. Petugas itu kembali dan menyuruh Rania masuk.


"Masuklah, nona?" Petugas itu bertanya.


"Rania!" jawab Rania.


"Nggak, lagi sibuk aja. Ini juga inisiatif saya buat datang sendiri" jawab Rania.


Petugas yang di dada kirinya tertera bernama Dedi itu berhenti sejenak. Dia menatap Rania dan mengerutkan dahinya.


"Kamu tahu kan, Pak Davin seperti apa?" tanya Dedi.


Pria yang berumur 40an itu mengubah cara bicaranya menjadi tidak formal seolah tahu bahwa Rania masih berumur 20an. Rania hanya mengangkat kedua alisnya dan terlihat polos tak mengerti apa-apa.


Pak Dedi menarik lengannya dan membawanya ke sudut pintu. Dia melihat keadaan dan bicara berbisik.


"Kamu tahu kalo Pak Collins itu cuma nerima hal itu?" ucapnya.


Rania mengangkat kedua alisnya setelah melihat tangan Pak Dedi yang mengisyaratkan ***. Rania tersenyum dan merasa kikuk, dia merasa telah ceroboh dan salah langkah. Dia hendak mundur dan keluar dari rumah itu. Namun Pak Dedi menariknya lagi.


"Nggak bisa! Aku udah bilang kalo perwakilan Atmajaya Group sudah datang dan dia sedang bersiap" ucap Pak Dedi.

__ADS_1


Rania membulatkan matanya dan ingin mengelak, namun tangan Pak Dedi sangat kuat menyeretnya menuju sebuah ruangan yang dia tatap. Tangan Rania merogoh tas hendak menghubungi seseorang untuk minta tolong. Namun Pak Dedi langsung membuka pintu dan melemparkannya ke dalam.


Rania terduduk di lantai, dia memejamkan matanya ketakutan dengan situasi yang ada di dalam. Dengan perlahan matanya dibuka, tak ada seorangpun di sana. Ruangan besar itu sebuah kamar. Ada ranjang rapi dan sofa juga meja dengan laptop tertutup tergeletak. Hanya ada suara air dari pintu yang terdengar seperti kamar mandi.


Rania hendak kabur, dia menempelkan telinga di pintu untuk mendengar keadaan, berharap petugasnya sudah meninggalkan pintu itu. Namun yang terdengar hanya suara pintu kamar mandi yang terbuka.


Mata Rania membelalak, dia ketakutan. Dan sebuah tangan menyentuh bahunya. Rania berteriak histeris dan memukuli tangan itu, pukulannya juga mengenai dada orang itu. Rania memukul dengan memejamkan matanya.


Kemudian kedua tangan pria itu memegang erat kedua tangan Rania yang memberontak. Rania tak tinggal diam, dia hendak menendang pria itu di bagian vitalnya. Namun sayang pria itu berputar dan memeluknya dari belakang. Rania tetap memberontak.


"Cukup! Aku benar-benar sudah lelah" bisik pria itu di telinga Rania.


Rania terdiam, dia merasa tak asing dengan suara itu. Suara itu pernah juga berbisik di telinganya dan membuatnya terkejut. Rania ingat kejadian di My Spaghetti, dia tahu siapa pria itu. Dengan membelalakkan matanya dia berputar dan melepaskan pelukannya, dia menatap pria itu dengan tak menyangka.


"Ouhh...tenaga kamu bener-bener besar" keluh Davin.


Rania masih menganga tak percaya.


"Tutup mulutmu, jelek kelihatannya kamu nganga kayak gitu" ucap Davin.


"Daa..daa.. Davin!" ucap Rania terbata.


Ya, dia Davin manager baru yang dulu pernah bekerja bersama Yudi dan dirinya di My Spaghetti.


Davin hanya tersenyum kemudian berjalan menuju sofa dan duduk. Dia membuka laptopnya. Rania menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Davin yang hanya memakai handuk baju terlihat memang sudah siap dengan hal yang dikatakan oleh Pak Dedi tadi. Rania menelan ludah dan mundur sedikit demi sedikit. Namun dia tersadar dengan tujuannya datang kesana. Rania berjalan maju dan mulai marah.


"Ternyata kamu! Kamu yang mendanai kecurangan Anita Atmajaya untuk membodohi para pemegang saham juga merugikan Atmajaya Group hingga harus menjual semua asetnya!" ucap Rania tanpa jeda.


Davin menatapnya, tapi dia hanya tersenyum menertawakan sikap Rania yang tak berubah selama beberapa tahun ini.


"Kamu nggak berubah ya? Selalu cerewet dengan ketidakadilan. Tapi pendiam jika bicara soal cinta" ucap Davin.


Rania terdiam dan mendelik.


"Apa maksud kamu ngelakuin itu?" tanya Rania tanpa memperdulikan ucapan Davin.

__ADS_1


__ADS_2