
Vero meminta yang dia panggil Dila dan Yudi datang untuk gladi resik pesta pernikahan mereka yang akan diadakan di rumah Ruby. Mereka berkumpul sambil makan siang. Meskipun sebenarnya Vero lebih sering meminta Dila istirahat duduk di sofa.
Saat semua orang berbincang, tiba-tiba langkah sepatu seseorang membuat mereka berhenti bicara dan menatap ke arah datangnya.
"Rania?" gumam Arumi yang sedang duduk di samping Vero.
Mereka semua berdiri, kecuali Rania yang masih mereka anggap sebagai Dila. Semua orang terkejut dan tak menyangka moment ini akan terjadi.
Seperti dalam mimpi, Vero mendekat dan mengusap wajahnya dan memeluknya. Harapannya terkabul, kedua adiknya ada di hadapannya. Berkumpul lagi bersama di saat salah satu dari mereka akan menikah.
"Kamu masih hidup?" ucap Vero.
Arumi pun mendekat, dia merasa kebahagiaan mereka akan lengkap setelah ini.
Tapi tidak dengan Yudi, dia terduduk dan hanya bisa menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa yang akan dia katakan pada mereka, dia telah bersama dengan mereka berdua. Telah mencintai mereka berdua dalam waktu yang berbeda.
Sementara Rania sendiri hanya bisa diam menatap ke arah Vero, Arumi dan gadis yang wajahnya mirip dengannya.
Dila mendekat pada Rania kemudian melancarkan tamparan yang begitu keras dan menggema di ruangan itu.
Vero dan Arumi terkejut dan menahan tangannya yang hendak memukul lagi.
"Apa ini?" tanya Vero.
Yudi berdiri memegang bahu Rania agar dia tak jatuh karena tamparan Dila.
Dila menatap Yudi yang sangat memperlakukannya dengan lembut.
"Puas kamu Rania! Ini yang kamu mau? Lagi lagi kamu jadi aku untuk ngambil semua kebahagiaan aku"
__ADS_1
Suara Dila pelan tapi sangat menyiratkan amarahnya.
Vero dan Arumi menatap mereka bergantian, mereka kebingungan dengan situasi yang ada di hadapan mereka.
"Iya kak, dia bikin kalian ngira bahwa dia itu aku dan senang dengan rencana pernikahannya dengan Yudi" Dila bersikukuh Rania sengaja melakukannya.
Tanpa mendengar penjelasan Adit saat di perjalanan. Dia bergegas pergi meninggalkan Adit saat mendengar bahwa Yudi akan menikahinya besok lusa. Dengan penuh amarah, apalagi saat melihat persiapan pernikahan sudah mulai dilakukan di taman rumah Ruby, Dila berlari dan menghukum Rania.
"Nggak mungkin dek, dia nggak gitu?" ucap Vero lemah.
"Kenapa kakak nggak percaya sama aku? Oh..kalo aku yang jadi dia, trus dia bilang aku jahat, kalian baru akan percaya gitu?" Dila makin meracau.
Vero sangat yakin dengan cara dia marah, orang yang baru datang adalah Dila, kemudian menatap orang yang Yudi peluk adalah Rania.
Arumi terduduk menutup mulut dengan kedua tangannya. Tak percaya mereka sudah salah mengira. Kemudian dia ingat dengan ucapan Bondan yang memberikan ciri-ciri Rania. Arumi menatap Rania dan Yudi yang sudah tinggal bersama.
Arumi mendekat pada Yudi dan menatapnya. Tapi Yudi yang mengerti adiknya itu sedang bertanya apa dia mengetahui ini atau tidak, menundukkan pandangannya.
Vero yang masih belum percaya bahwa mereka tertukar tempatnya, menatap Dila dan Rania bergantian. Dila yang terus saja bicara pada Rania dengan ucapan kasarnya sementara Rania hanya berkedip menatap Dila dengan tatapan kosong.
Bu Vera, Bu Yuni, Adit menyaksikan semua itu. Mereka juga tak menyangka hal ini bisa terjadi. Mereka datang setelah beberapa menit Dila bicara. Adit meminta ibunya dan Bu Yuni untuk pergi ke rumah Ruby untuk melihat Rania.
Bu Vera yang sudah menduga semuanya, langsung saja pergi tanpa bicara apapun. Bu Yuni juga merasa Vera benar-benar ibu Rania sekarang.
Dila tak tahan dengan ekspresi Rania yang hanya mengedipkan matanya. Dia menamparnya lagi dan menggoyangkan tubuh Rania dengan keras.
Rania semakin merasa pusing, dia sudah sangat berusaha untuk mengingat semua yang terjadi. Pandangannya semakin buyar, buram dan dia pun terjatuh. Rania tak sadarkan diri, semua orang panik.
Yudi menggendongnya ke kamar. Dila melihatnya dengan kesal, hendak menarik tangan Yudi agar menghentikannya melakukan hal yang tidak dia sukai.
__ADS_1
Tapi Vero menahannya, mereka pergi meninggalkan Dila bersama Arumi yang juga menahan Dila untuk menyusul.
Veri menelpon Dokter, dia sangat panik melihat adiknya kembali pingsan. Siapa pun itu, Dila ataukah Rania, dia takkan membiarkannya kembali kritis. Vero menangkis tangan Yudi yang hendak membelai wajahnya.
"Pergilah!" ucap Vero.
Yudi menunduk, dia menurut dan keluar dari kamar meninggalkan mereka. Yudi berjalan menuju ruang keluarga dan melihat Dila yang sedang mendengarkan Arumi. Dia duduk agak jauh, merasa bersalah dan tak tahu harus bagaimana.
"Dengarkan aku, Rania ditemukan sekarat dekat bukit. Kepalanya bocor dan harus dioperasi. Karena dokter sudah mencukur habis rambutnya, kami juga tak tahu siapa yang sedang dioperasi. Dila atau Rania, kalian memakai pakaian yang sama" jelas Arumi.
Dila masih acuh seolah tak mau mendengar.
"Sultan Ameer menelpon dan meminta maaf atas tindakan Clara yang berhasil mendapatkan Rania untuk di bawa ke Malaysia. Tapi tak berhasil dan malah pesawat mereka terjatuh di perairan selat Karimata. Jadi semua orang menyimpulkan bahwa yang meninggal adalah Rania dan yang sedang dioperasi adalah Dila. Karena operasi di kepala, dia kehilangan sebagian besar ingatannya. Sampai sekarang pun dia nggak ngerti siapa dirinya"
"Lalu kalian akan menikahkan orang sakit, gitu? Bukankah syarat pernikahan adalah sehat secara fisik dan psikis?" Dila hanya menolak semua keadaan yang ada.
Arumi menjadi diam, dia merasa percuma menjelaskan apapun pada Dila yang sedang sangat marah.
"Apa kalian nggak bisa ngebedain antara aku sama Rania. Sebodoh itukah kalian? Rania punya luka di tangannya bekas dia terluka di pasar. Aku nggak punya" Dila marah-marah lagi.
"Dia ditemukan sekarat, penuh luka, kepalanya bocor. Kau pikir apa yang ada di pikiran kami saat dia seperti itu?" Bu Yuni berteriak padanya karena kesal.
Dila mengatur nafasnya, dia yang awalnya hendak membalas teriakan Bu Yuni menjadi diam mendengar ucapannya. Dia ingat benar bagaimana Rania tak mau dirinya menjadi Rania agar tak dibawa oleh Clara.
"Kalian bodoh!" gumam Dila.
Yudi dan Arumi membelalakkan matanya mendengar Dila bergumam. Bu Yuni malah kesal dan hendak mendekat dan menjambak rambutnya. Tapi Bu Vera menahannya.
"Kami tidak bodoh nak, aku tahu mata itu mata milik Rania. Tapi tak ada yang percaya karena mengira aku terlalu sedih menerima kenyataan Rania meninggal di pesawat Clara. Yang lain juga pasti merasakannya. Tapi semua terbantah oleh rasa kehilangan mendalam. Kami hanya berusaha fokus, setidaknya orang yang kami anggap Dila, selamat dan masih bisa bersama kami" ucap Bu Vera.
__ADS_1
Adit mengusap punggung ibunya yang menangis. Dia juga ingat dengan ucapan ibunya yang sangat yakin tentang hal itu.