Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
153


__ADS_3

Bondan mengajak Rania jalan-jalan. Mereka berfoto bersama dan mengirimkannya pada Vero yang saat itu bertanya tentang apa kegiatan Rania hari itu.


Vero menatap foto Rania yang begitu bahagia pergi bersama Bondan. Dia senang, akhirnya menemukan jawaban untuk kesembuhan Rania. Dia harus mempertahankan kebahagiaan Rania apapun caranya.


Dia meminta manager di Australia untuk mengalihkan lagi pekerjaan pada yang lain, karena Bondan akan ditempatkan lagi di Jakarta agar bisa terus tinggal bersama Rania.


Sementara itu Rania yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Bondan, menatap wajah Bondan yang sedang kesulitan mengirim gambar mereka pada Vero hanya dengan satu tangan.


Bondan melirik,


"Ada apa? Ada sesuatu di wajahku?" tanya Bondan.


Rania menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa menatap wajahku seperti itu?" tanya Bondan lagi, setelah memasukkan ponselnya ke saku dan menghadapkan tubuhnya pada Rania.


Rania tersenyum manis, kemudian dia bersandar di bahu Bondan.


"Terimakasih!" ucap Rania pelan.


Bondan bisa mendendengarnya, dia tak menanyakan alasan yang membuat Rania mengucapkan itu. Dia mengusap rambut Rania dan tetap memegang tangannya.


Mereka duduk di taman menatap orang lain yang juga sedang menikmati hari mereka di sana. Beberapa anak berlarian dan dikejar oleh ayah atau ibu mereka. Mentari pagi yang bersinar menambah ceria suasana di taman itu.


Bondan membayangkan orang-orang yang berlari itu adalah dirinya dan Rania juga dengan anak mereka. Mereka bisa berlibur bersama, makan makanan yang disiapkan Rania sebelum mereka berangkat, kemudian menyantapnya sambil melihat anaknya berlarian.


~Membayangkannya saja aku merasa senang, apalagi jika semua itu terjadi. Ya Tuhan, izinkan aku memiliki banyak waktu untuk membahagiakan Rania. Hanya itu yang aku inginkan~ harap Bondan.


Tak lama kemudian, Rania menguap dan menggeliat seperti anak kecil.


"Ngantuk?" tanya Bondan sambil tersenyum.


Rania mengangguk, Bondan berdiri dan meminta tangan Rania untuk dia pegang kembali. Dengan senyum, Rania memberikan tangannya. Mereka pergi dari taman menuju rumahnya.


Pemandangan itu dilihat Yudi yang tak sengaja berhenti di dekat taman. Dia menunduk dan menghela, merasa bahwa memang Bondan orang yang sangat diharapkan Rania untuk berada di sisinya.

__ADS_1


Meski Rania terlihat bersikap seperti anak kecil, tapi dia begitu nyaman bersamanya. Bersandar, memegang tangan dan berjalan bersamanya.


~Arumi benar, aku tidak usah mengganggu Rania lagi. Aku juga tak seharusnya khawatir dengan anakku. Semua orang yang berada di sisi Rania bahkan tak memperdulikan anak siapa yang dikandungnya. Mereka terlalu mencintai Rania hingga melupakan hal yang tak penting seperti itu. Doakan saja Yud, kau bisa menjaga mereka dari kejauhan~


Hati Yudi berusaha untuk kuat menerima semua yang dia lihat. Dia berusaha untuk tak memaksakan kehendaknya lagi. Dia menyalakan motornya kemudian pergi ke restoran untuk kembali bekerja.


###


Rania tertidur di mobil, Bondan menggendongnya ke kamar. Adit membukakan pintu dan memberikan Bondan waktu untuk sebentar duduk menatap Rania yang sedang tidur.


Bondan membelai wajah Rania yang manis. Sama seperti saat pertama kali Bondan melihatnya dulu.


"I love you!" gumam Bondan sambil mencium tangan Rania.


Bondan meletakkan tangan Rania dengan perlahan kemudian merapikan selimutnya.


Setelah itu, dia keluar dari kamarnya, Bondan diajak untuk makan.


"Maaf Bu, tapi kami sudah makan tadi. Bahkan Rania makan banyak sekali, makanya mungkin dia mengantuk karena kekenyangan" jawab Bondan.


Bu Vera tersenyum mendengar cerita Bondan tentang Rania.


Bondan tersenyum, sudah lama dia tak ngopi dan bicara dengan Adit. Kesibukan mereka membuat kebersamaan mereka menjadi terganggu. Meski bisa saling bertukar pikiran lewat pesan, tenyata hal itu tak bisa mengobati rasa rindu mereka untuk duduk bersama dan mengobrol.


"Baiklah, kita ngopi" jawab Bondan menyetujui.


Bu Vera membuat dua cangkir kopi. Kemudian menyuguhkannya di meja tepat di hadapan Adit dan Bondan yang mulai membicarakan kesibukan Adit di penerbangan.


###


Dila selesai dengan pekerjaannya, seorang teman memintanya untuk bergabung dengan mereka yang sedang makan di restoran Yudi. Dila ragu, dia tak ingin sering-sering bertemu dengan Yudi, meskipun itu hanya kebetulan.


Dila menatap ponselnya, kemudian ingat dengan box milik Yudi yang Arumi titipkan padanya untuk Vero. Dila menolak permintaan temannya. Dia pergi ke kantor kakaknya dengan membawa box itu.


Sampai di kantor Vero, Dila melihat kakaknya sedang bicara dengan perwakilan buruh. Wajahnya sangat serius dan terlihat khawatir. Dila berpikir, dia khawatir sesuatu terjadi dengan pabrik.

__ADS_1


Dila masuk setelah mengetuk, Vero menatapnya terkejut seperti telah ketahuan menyembunyikan sesuatu. Dila menaruh box itu di meja, kemudian mengangkat kedua alisnya seolah bertanya apa yang sudah dia sembunyikan.


"Baik Pak, saya permisi" ucap pria yang duduk di depannya itu.


Dia mengerti setelah Vero tak bicara lagi saat menatap Dila.


"Iya Pak, silahkan!" jawab Vero.


Vero mengusap wajahnya, kemudian membuka box, yang dia juga tahu itu box yang dibawa Yudi tadi pagi.


"Itu masakan Yudi" ucap Dila.


Vero menatapnya.


"Lalu?" Vero berhenti membuka.


"Takutnya kakak masih nggak mau nyentuh apa-apa yang berhubungan dengan Yudi" ucap Dila dengan mengangkat kedua bahunya.


"Cckk, aku laper, nggak akan sempet makan siang" ucap Vero.


"Ya sudahlah, makan saja!" ucap Dila.


Vero membuka dan melahapnya sambil menatap laptopnya. Sementara Dila tetap duduk melipat tangannya di dada, sambil memperhatikan wajah kakaknya yang terlihat lelah.


Vero tahu sedang diperhatikan, namun dia mengacuhkan adiknya. Dia tak bertanya atau menyuruhnya untuk kembali ke mall atau pulang jika pekerjaannya sudah selesai.


Namun bukan Dila jika bisa bertahan untuk diam di situasi canggung itu. Dia memulai pembicaraan dengan mengeluh tentang kesulitannya di mall, berharap kakaknya ikut mengeluh dan mereka saling bicara.


"Lumayan cape ya ngurus mall walau cuma dua biji" ucap Dila.


Dia membuka sebuah berkas yang kebetulan adalah laporan perkembangan mallnya. Tak ada kelemahan dari laporannya. Dia juga mengatakan itu hanya karena ingin melihat reaksi kakaknya.


Namun apa yang direncanakan tak selalu berakhir seperti yang dinginkan. Vero malah menjawab hal yang membuat Dila benar-benar menelan salivanya.


"Kamu harus banyak makan, sini bantu habiskan. Si Yudi bikin makanan buat orang sakit ini mah, sama sekali nggak ada rasa pedes sedikitpun"

__ADS_1


Vero mengeluh tentang makanan yang dibuat Yudi. Dila membuat wajah jelek yang ditujukan pada Vero yang malah tak melihatnya.


Dila ikut makan, menuruti alur yang diinginkan kakaknya. Dia takkan bertanya tentang apa yang tak ingin Vero bagi dengannya. Dila berpikir mungkin Vero masih belum sepenuhnya percaya padanya dibandingkan pada Rania. Tapi kali ini dia akan selalu bersabar dengan semuanya. Berharap akan ada momen baik yang dihadapkan pada mereka untuk kembali saling bicara seperti adik kakak seperti biasanya.


__ADS_2