
Dila datang menjenguk Rania bersama Vero dan Arumi. Hari ini Saga akan datang dan meminta kesaksian Rania.
"Sebenarnya ini terlalu cepat, Rania masih belum mau bicara apapun. Aku khawatir dia drop lagi" ucap Vero.
"Dia sudah mau bicara sama Kak Bondan kemarin!" ucap Dila sambil berjalan lebih dulu.
Vero menatap Arumi yang juga menatapnya dengan heran. Arumi mengangkat kedua bahunya tak mengerti apa yang terjadi.
Sampai depan kamar Rania, Bu Vera sedang menyuapinya. Tak ada Bondan, Pak Nurdin juga sudah pulang.
"Maaf aku datang terlalu siang" ucap Vero.
Dila dan Arumi menyusul dengan membawa keperluan Rania.
Vero memeluk Rania dengan erat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Vero.
"Iya Kak! Terima kasih" ucap Rania.
Bu Vera menyimpan piring di meja dan meninggalkan mereka. Vero duduk di ranjang di dekat Rania.
"Kenapa berterimakasih?" tanya Vero.
"Terima kasih mau membiarkan aku sendiri kemarin" ucap Rania.
Vero mengusap wajah Rania yang masih ada memar.
"Aku sudah sangat bersyukur kamu baik-baik saja" ucap Vero.
"Iya, kami sempat khawatir dengan keadaan mental mu setelah kejadian kemarin" ucap Dila.
Arumi mencubit tangan Dila, Rania melihatnya.
"Iya, itu kemarin. Sekarang nggak, aku lupa kalo adikku yang satu ini sangat kuat. Aku percaya kalo kita bisa lewati ini semua dengan baik. Seperti biasanya" ucap Vero.
Rania menunduk. Arumi menarik tangan Dila untuk keluar. Vero mengangkat wajah Rania yang menunduk.
"Kenapa? Kakak nggak salah minta Bondan jagain kamu semalam, dia bisa bikin kamu mau ngomong sama kami lagi" ucap Vero.
Rania memeluk Vero kemudian menangis.
"Jangan nangis, aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Kamu juga punya Bondan yang mau mendampingi kamu dalam keadaan apapun" ucap Vero sambil membelai rambutnya.
"Maafkan aku, aku nggak sekuat yang kakak kira, aku sempat berpikir untuk bunuh diri semalam" ucap Rania.
Vero memejamkan mata merasa sangat sedih mendengar ucapannya.
"Tapi Bondan bilang kalian akan lebih terluka jika aku melakukannya. Kalian akan sangat bersedih karena aku memilih meninggalkan kalian. Tapi kak, apa aku bisa menjalani semuanya setelah apa yang terjadi?" tanya Rania.
Vero menghela nafas, dia mengusap punggung adiknya.
"Butuh waktu untuk bisa melupakan semuanya, di setiap detik itu ingatlah bahwa aku dan semua orang yang menyayangimu akan selalu ada untuk mu"
Vero melepas pelukannya dan mengusap wajah Rania untuk meyakinkannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, datang Saga dan beberapa penyidik yang akan meminta kesaksian Rania. Namun Vero meminta waktu dan bicara dengan mereka sebentar.
Rania sendirian, Arumi sedang mengurus panggilan telpon dari restoran. Dila masuk ke ruangan Rania dan bicara dengannya.
Dila menatap wajah Rania yang masih ada memar.
"Kau pasti sangat kesakitan saat itu" ucap Dila.
Rania tak memandangnya, dia seolah kehilangan keberanian menatap wajah orang lain lagi.
"Ku dengar pria itu dulu pernah suka sama kamu?" tanya Dila.
Rania masih diam, dia merasa pertanyaan Dila tak perlu dijawabnya.
"Dila, aku mau sendiri" ucap Rania.
"Dia pasti sakit hati sama kamu karena menolak cintanya. Jadi dia nekat merkosa kamu" lanjut Dila.
Rania menelan semua ucapan Dila.
"Dila, aku korbannya. Kenapa ucapan mu terdengar seolah aku pelakunya" ucap Rania.
Dila menyeringai saat Rania menatapnya.
"Setidaknya tunjukkan rasa kemanusiaan mu karena hal ini terjadi padaku yang sesama wanita, walaupun kau tak pernah menganggapku saudara" ucap Rania.
"Heuh, itulah masalahnya. Kau saudaraku, saudara kembarku. Segala sesuatu harus dibandingkan dengan mu. Bisakah kali ini kau jadi orang yang minder saja? Aku ingin menonjol dan juga disayangi oleh semua orang seperti mu. Semua akan mudah jika kau menghilang" ucap Dila.
Rania tak menyangka bahwa Dila belum bisa menerimanya dengan tulus. Dia menangis tanpa suara. Dila meninggalkannya saat dia melihat ada yang hendak masuk.
Vero melihat suster dan kemudian berlari melihat Rania. Dia langsung mendekat dan memegang tangan Rania.
"Ada apa dengan mu? Tadi baik-baik saja" tanya Bondan.
Dokter dan suster datang, mereka memeriksa dan meminta Vero menunggu di luar. Vero mundur sambil menatap Rania.
Arumi memegang lengannya, dia juga terheran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa? Bukankah kalian tadi bicara?" tanya Arumi.
Vero menggelengkan kepalanya. Saga mendekat dan menanyakannya.
"Aku tidak tahu, tadi dia sudah terlihat segar. Iya kan Bu?" tanya Vero pada Bu Vera.
Bu Vera hanya mengangguk, dia juga sangat khawatir.
"Aku rasa dia belum siap memberikan kesaksiannya. Sebaiknya kami pergi Pak" ucap Saga.
"Ya, seperti kataku. Dia belum siap, terimakasih sudah mengerti" ucap Vero.
"Iya Pak, kami permisi" pamit Saga.
Mereka pergi, dokter keluar sementara suster masih memeriksa selang infusnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Vero.
__ADS_1
"Aku sudah bilang, jangan terlalu banyak orang disini. Selain mengganggu, kau tahu kan kalau kasusnya adalah pemerkosaan. Selain fisik, dia juga harus menyembuhkan luka psikisnya. Banyak hal yang dia pikirkan, terlebih kekhawatiran yang sangat membebaninya. Saran saya, biarkan dia ditemani oleh orang yang dia inginkan" ucap Dokter.
Vero hanya teringat pada Bondan. Dia merogoh ponselnya kemudian menelpon Bondan.
"Kau dimana?" tanya Vero.
"Aku sedang menuju kesana. Bukankah hari ini Rania memberikan pernyataannya?" ucap Bondan.
"Ok, cepatlah datang" ucap Vero.
Bondan terheran, tak ada jawaban mengenai pernyataan itu. Dia bergegas menancapkan pedal gasnya menuju rumah sakit.
###
"Sebenarnya pernyataannya hanya pelengkap, semua sudah jelas terlihat dari CCTV, anak buahnya pun sudah mengakui bahwa dia diculik atas perintah Davin Collins" ucap teman Saga.
"Tidak, pernyataannya justru yang paling penting. Jika hanya tuduhan penculikan dia hanya akan mampu membayar uang jaminan. Tapi jika pemerkosaan dan perencanaan pembunuhan dengan cara membuang Rania ke pinggir jalan dalam keadaan seperti itu, aku akan merasa lebih puas karena hukumannya akan lebih berat" jelas Saga.
"Kau serius sekali tentang kasus ini" ucap temannya.
"Sejak awal aku menangani kasus restoran milik kakaknya, aku sudah sangat tahu bagaimana mereka. Setelah bertemu Rania pertama kali di rumah sakit saat Nuri memberikan kesaksian, aku sangat tahu Rania adalah orang yang berbeda. Aku sangat kesal hal ini terjadi padanya. Aku ingin Davin mendapatkan hukuman yang berat. Apapun caranya!" jelas Saga.
Teman-temannya saling bertukar tatapan. Saga menatap jalanan dengan serius.
Sampai di kantor polisi, Saga mengambil berkas dan menyiapkan interogasi kembali atas Davin. Dia menunggu Davin di ruang interogasi.
Seorang penjaga datang mengantar Davin, dia duduk di hadapan Saga yang masih membaca berkas.
"Apalagi? Aku akan ditanya apalagi?" tanya Davin dengan santai.
"Tidak ada, aku hanya ingin kau kesini dan duduk di hadapanku" ucap Saga.
Davin melihat Saga dengan ekspresi yang bosan.
"Disini tertulis kau punya pekerjaan sebagai investor di perusahaan-perusahaan ternama. Banyak juga uang mu!" sindir Saga.
"Ya, kenapa? Kau mau melepaskan ku dengan imbalan uang? Berapa? satu, dua, atau tiga milyar?" tanya Davin dengan menyondongkan tubuhnya kedepan.
Saga menatapnya dengan santai.
"Berapa harga kebebasan mu? Kau pikir semurah itu?" tanya Saga.
"Kau mau lebih?" tanya Davin kembali bersandar.
"Tidak, bukan aku" jawab Saga.
"Lalu? Ouh siapa yang menyuruh mu? Sini aku bayar semuanya" tantang Davin.
"Dirimu sendiri yang butuh uang itu, karena semua itu takkan berguna lagi. Aku akan meminta seorang detektif menyelidiki bisnis mu. Dan matilah kau!" ucap Saga kesal.
Davin kesal pada Saga, dia menggebrak meja.
"PENJAGA! BAWA DIA, aku takut sekali padanya!" ucap Saga meledeknya.
Davin menatap sinis sambil dibawa pergi oleh petugas polisinya.
__ADS_1