
Anita turun dari taksi menuju sebuah rumah di daerah terpencil. Kali ini Anita berdandan seperti bukan seorang nyonya besar, dia memakai jeans dan kaos dengan jaket dan kupluk yang menutupi kepalanya. Langkahnya terburu-buru lalu mengetuk pintu rumah itu, kemudian tak berapa lama seseorang membukanya dan diapun masuk.
"Kau lama sekali, aku sudah tidak punya uang untuk cari makan!" seru Ryan mengeluh.
Anita yang baru datang dan bersusah payah untuk tak diikuti, memandangnya dengan kesal.
"Aku menjadi repot karena kebodohan mu, jika saja dulu kamu ngga jatuh cinta sama anak kecil itu, aku ngga akan kehilangan semuanya dalam sekejap" jawab Anita sambil membuka bungkusan yang dia bawa.
Ryan menatap aneh padanya.
"Kehilangan semuanya?" tanya Ryan.
"Ya! Rania mengambil semuanya, semua orang tahu hutang perusahaan semakin besar dan kini dia mengambil semua aset Atmajaya Group" jelas Anita sambil memukul meja karena kesal.
"Bukankah itu bagus? Kamu udah memisahkan semua harta yang kamu kumpulkan, biar saja dia yang menanggung semuanya sendirian" ucap Ryan sambil menyusul makanan dan melahapnya.
Anita terdiam mendengar kata sendirian.
"Tidak! Dia tak sendirian seperti aku dulu" ucap Anita lirih.
Ryan mendelik merasa bahwa Anita mulai melow mengingat masa lalunya.
"Aku menghadapi semuanya sendirian, kau menghamili ku saat masih di bangku SMA, kau belum bisa mencari uang untuk anak kita Beni. Aku yang berjuang sendirian mencari uang untuk bersalin. Saat aku menikahi Ardiana Atmajaya pun aku berjuang sendirian hingga menghadapi orang kaya gila Davin Collins untuk mendapatkan uang membangun kembali Atmajaya Group. Kau datang saat kau butuh makan dan **** padaku, tapi kau hanya berguna untuk melenyapkan semua orang yang menghalangi ku. Sekarang pun karena mu aku jadi begini" oceh Anita.
Ryan makan terus tanpa memperdulikan ucapan Anita. Dia menatap Ryan dengan rasa kecewa yang besar.
"Apa dari semenjak kita bertemu, hingga sekarang ada rasa cinta yang kau miliki untukku?" tanya Anita di sela makannya.
Ryan berhenti makan, dia berpikir sejenak.
"Aku selalu mencintaimu, saat aku kembali, itu hanya karena aku sangat memikirkan dan merindukan mu, tapi kau sudah punya segalanya dan hanya menganggap ku sebagai suruhan mu" ucap Ryan dengan mulut penuh makanan.
Anita mendelik mendengar penjelasannya. Ryan pun sedikit tersenyum karena akhirnya Anita diam mendengar ucapannya. Dia merasa sudah menjawab dengan tepat agar Anita tak mengeluh dan mempertanyakan hal sepele lainnya lagi.
###
Bondan mencari ibunya di kamar, tapi tak menemukannya. Dia berusaha menghubunginya namun ponselnya tak diangkat.
"Momy kemana?" tanya Bondan pada dirinya sendiri.
Dia berpikir bahwa Anita pergi menemui Beni yang memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Ruby. Bondan pun menelponnya.
"Iya Kak!" jawab Beni.
__ADS_1
"Apa Momy kesana?" tanya Bondan.
"Tidak! Kenapa?" jawab Beni sambil balik bertanya.
"Aku tidak menemukannya di kamar, aku kira dia pergi menemui mu" jawab Bondan.
"Tidak, dia tak menghubungi sekalipun setelah pindah" ucap Beni.
"Panggil dia Momy, sopanlah sedikit padanya, jangan terpengaruh dengan ucapan orang lain" ucap Bondan protes.
"Orang lain yang kau maksud adalah Rania? Kak, ibu sudah dewasa, dia juga belum terlalu tua. Dia pergi menemui kekasihnya mungkin" jelas Beni.
"Benk!" seru Bondan kesal mendengar Beni mulai tak sopan pada ibunya.
"Iya..iya. Maaf! Aku akan beritahu jika dia kemari" jawab Beni.
Bondan menutup ponselnya dengan kesal, namun dia mengingat saat pertama kali Anita membawa Ryan pria kepercayaannya. Dia sangat terlihat berbeda, lebih ceria dan selalu berdandan kembali sepeninggal ayahnya. Bondan mulai sedikit ragu pada ibunya.
Tak berapa lama, ponselnya berdering, dia mendapat telpon dari sahabatnya yang akan membantunya memulai kembali kerajaan bisnisnya. Bondan mengangkatnya dengan semangat dan mulai membuat sebuah rencana untuk perusahaan barunya.
###
Rania sedang memeriksa berkas hutang yang dimiliki Atmajaya Group di ruang kerjanya. Dia masih mengutak-atik semua untuk mendapatkan akar dari masalah perusahaan itu. Tak berapa lama, Beni mengetuk pintu dan masuk dengan perlahan membawa makanan di tangannya.
Rania menjatuhkan kepala ke kanan dan ke kiri juga sedikit memijatnya karena pegal.
"Iya, aku masih belum paham, kenapa sebanyak ini. Lalu dari mana ibumu mendapatkan begitu banyak uang untuk membangun semua itu?" ucap Rania.
Beni tersenyum menyeringai sambil menyodorkan makanan pada Rania.
"Aku tahu" ucap Beni.
Rania berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya dan menatap Beni.
"Makan dulu, nanti setelah makan baru aku beritahu" ucap Beni memberi syarat .
Rania merasa heran, namun menurut saja padanya. Dia sangat ingin tahu dan menyelesaikan semuanya hingga bersih.
Beni merapikan semua berkas yang dia singkirkan dan mengambil sebuah berkas dari salah satunya kemudian membukanya juga memberi tanda dengan pulpen. Rania memperhatikan sambil makan, dia merasa bahwa Beni menyembunyikan sesuatu tentang ibunya darinya.
Setelah Rania selesai dengan makannya, dia bersiap dan merapikan meja untuk kembali diskusi dengan Beni.
"Ok, sekarang beritahu darimana semua ini berawal?" tanya Rania.
__ADS_1
Beni menghela, dengan senyum di wajahnya karena melihat semangat Rania, diapun menjelaskan.
"Momy sempat kelimpungan mencari sumber dana baru saat mengetahui ayah tiri meninggalkan hutang yang begitu banyak. Selain semua aset milik keluarga mu, dia juga mengambil aset milik keluarga yang sengaja dia buat celaka dan meninggalkan satu dua anak sebagai pewarisnya. Aku sangat ingat, dulu ada beberapa anak yang dia kirim ke Haenam, Korea. Dia bilang mereka akan belajar dan hidup di sana, namun hingga sekarang, mereka tak diketahui kabarnya" ucap Beni.
Rania sangat terkejut dengan hal baru yang disampaikan Beni.
"Jadi, bukan hanya keluargaku yang dibuatnya begini?" tanya Rania memastikan.
"Kurang lebih begitu!" jawab Beni.
Tiba-tiba Bondan datang dan bicara dengan kesal pada mereka.
"Apa? Anak-anak di kirim ke Haenam?" tanya Bondan tak percaya.
Rania berdiri dan menatap wajah Bondan yang sangat terkejut. Beni juga ikut berdiri karena terkejut dengan kedatangan Bondan.
"Kak!" seru Beni.
"Tidak, tidak ada anak-anak yang datang dan dikirim ke Haenam, Beni!" seru Bondan menyangkal.
Beni menggaruk bahunya, tak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Bondan.
"Kau jangan asal bicara, Rania sudah berpikir bahwa Momy bersalah atas masuknya Nuri ke rumah sakit, sekarang kamu menambah buruk pendapatnya tentang Momy!" kesal Bondan.
Bondan pergi lagi dengan kesal, dia berhenti diambang pintu kemudian ingat dengan tujuannya datang ke sana.
"Aku mau ambil barang ku yang masih ada disini!" ucap Bondan sambil berbalik.
Rania mengambil sebuah kotak besar milik Bondan yang masih dia simpan kemudian meletakkannya di meja. Bondan menghampiri dengan wajah kesalnya. Dia mencari dan akhirnya memutuskan untuk membawa semuanya.
"Kau akan membawa semuanya?" tanya Rania.
Bondan terdiam.
"Sisakan satu untuk membuatku bersemangat mencari kebenaran tentang semuanya" ucap Rania.
Bondan mencari sebuah kotak kecil kemudian memberikannya pada Rania.
"Ini bukan barangku lagi, aku kembalikan padamu!" ucap Bondan sambil pergi.
Rania membuka kotak kecil itu dan melihat foto masa kecilnya dan sebuah cincin. Dia mengusap barang itu kemudian menyimpannya di laci dan menguncinya.
Beni berdecak, merasa telah melihat pemandangan yang membuatnya muak.
__ADS_1