Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
39


__ADS_3

Di rumah, Arumi menatap Dila yang baru keluar dari kamar mandi. Dila meliriknya.


"Kakak ku menyukai mu karena kamu mirip Rania, wanita yang membuat hatinya luluh dulu" ucap Arumi sambil meminum kopinya.


Dila berhenti dan berbalik, kemudian tersenyum.


"Aku akan membuatnya melupakan Rania. Dia akan lebih menyukai aku, Dila Aryani Subagja" ucap Dila percaya diri.


Arumi tersenyum.


"Kita lihat saja nanti, saat takdir mempertemukan kalian di hadapan Yudi secara bersamaan. Maka Rania yang dipilihnya, bukan kamu. Jika aku jadi kamu, aku akan lebih baik menghindari rasa sakit itu" ucap Arumi.


Dia pergi meninggalkan Dila di rumah. Dila kesal dan melempar handuk ke ranjangnya.


"Rania...Rania.....Aku jadi penasaran seperti apa dia. Kenapa orang yang pernah mengenalnya begitu menyukainya. Itu membuatku benci. Seharusnya, jika ada aku di sini, maka hanya aku yang jadi pusat perhatian mereka, bukan dia" ucap Dila.


Di restoran.


Fajri sudah datang dan membantu kru pelayanan merapikan meja dan kursi. Arumi datang dengan menghentakkan setiap langkah kakinya.


Fajri melirik padanya, dia melihat ekspresi kesal di wajah Arumi.


"Kenapa? Vero susah dihubungi?" tanya Fajri.


Tangan Fajri tak berhenti melap meja. Arumi menahan tangan Fajri kemudian menatapnya dalam. Fajri salah tingkah dan berusaha melepasnya, namun Arumi bertanya.


"Aku benar kan? Yudi begitu merasa bersalah melepas Rania. Dia takkan mungkin berpaling bukan?" tanya Arumi dengan penuh keyakinan.


Fajri tersenyum menertawakan sekaligus lega karena Arumi hanya bertingkah.


"Mana aku tahu!" ucap Fajri melepas tangannya.


"Kau juga laki-laki, seharusnya kau bisa menebaknya. Yudi begitu stres hingga mabuk setiap malam hanya karena Rania. Masa sekarang dia suka pada Dila. Itu pasti karena Dila mirip Rania. Iya kan?" lanjut Arumi.


"Aku hanya kenal Rania sebentar. Tak begitu akrab. Aku juga tidak begitu mengerti hubungan mereka. Aku tidak bisa berkomentar" jawab Fajri.


Arumi mengerutkan dahinya.


"Tapi Rum, laki-laki itu diciptakan bukan untuk menunggu. Jika cintanya sudah pergi, dia bisa saja mencari cinta yang lain meskipun sulit melupakan masa lalu" lanjut Fajri.


"Ngga, Vero ku ngga kayak gitu. Dia menetapkan hatinya sama aku, meski jauh. Kalian aja yang kayak gitu" ucap Arumi sambil pergi ke ruang kerja nya.


"Dih...dia marah. Dijawab malah kayak gitu" gumam Fajri.


Yudi yang baru masuk melihat Arumi masuk dengan kesal.


"Dia kenapa?" tunjuk Yudi pada Arumi.


"Tau...dateng-dateng langsung marah" jawab Fajri.


Dila menyusul datang dan langsung mengambil laptop. Tanpa menyapa siapapun dia membuka laptop dan mulai bekerja. Fajri dan Yudi saling menatap.

__ADS_1


####


Rania dan Beni pulang dari jalan-jalan mereka. Anita, Bondan dan Dina yang sedang berkumpul di ruang tengah menatap mereka yang saling berpegangan tangan.


Langkah Beni terhenti di dekat Bondan.


"Kami baru saja berjalan-jalan di taman dekat danau. Dila sangat menyukainya" ucapnya membuat Bondan cemburu.


Beni tersenyum melihat Bondan meremas pulpennya. Rania membulatkan matanya tak menyangka Beni akan melakukan itu di hadapan semua orang.


Rania menarik Beni dan membawanya ke kamarnya. Rania mengerutkan dahinya menatap Beni.


"Kenapa? Aku benar, kita baru saja berjalan-jalan di taman dekat danau. Kan!" ucap Beni.


Rania menghela menyerah dengan pemikirannya. Dia kira Beni bisa berubah dari sikap kekanakannya.


"Kau sengaja mengatakannya di dekat Bondan" ucap Rania.


Beni tersenyum dan membelai rambut Rania.


"Aku hanya memastikan padanya bahwa kau dan aku akan tetap bahagia. Jadi dia bisa merasa tenang merelakan kau bersama ku" jelas Beni.


"Kau tahu semuanya, kenapa kau tidak membenciku? Tanyakan padaku mengapa aku menjadi Dila, atau hal lain yang membuat mu merasa telah di tipu oleh ku. Itu akan membuatku merasa lebih baik karena salah. Jangan seperti ini, ini membuatku merasa canggung dan aneh" ucap Rania.


Beni terdiam.


"Jangan merasa canggung lagi padaku, kita kan sudah tunangan. Kau boleh cerita apapun pada ku. Tapi sampai kapan pun aku takkan pernah marah lagi padamu. Aku takkan menanyakan alasan kau bisa hadir menemani ku di sini. Tuhan sudah sangat baik mengirim mu ke sisi ku. Aku hanya akan menjaga mu sebagai syukur ku pada Nya" jelas Beni pada Rania.


"Aku akan istirahat, aku sedikit pusing" ucap Beni.


Beni keluar setelah mencium kening Rania.


"Mau ku bawakan makanan ke kamar mu?" tanya Rania tetap khawatir.


"Tidak usah!" jawab Beni sambil melambaikan tangannya.


Rania merasa lega Beni keluar dari kamarnya. Untuk satu hingga dua jam dia bisa tenang dan mencari cara agar rencana Anita bisa gagal.


Rania keluar dan hendak meminta izin untuk keluar sebentar, namun dia mendengar pembicaraan Anita di ruang tengah.


"Momi rasa kau harus segera pergi ke Kalimantan. Banyak proyek di sana. Akan lebih baik jika kau fokus di sana" ucap Anita.


"Ada Marlin di sana, dia sangat bisa diandalkan dan sangat kompeten. Aku ngga akan kemana-mana mom" jawab Bondan.


Mata Anita menatap tajam pada Bondan yang masih memeriksa berkas di laptopnya. Anita terlihat marah dengan penolakan Bondan.


Rania melihatnya dan merasa bahwa Anita punya niat lain selain mengirim Bondan untuk mengurus proyek ke Kalimantan.


Anita berdiri, Bondan dan Dina menatapnya.


"Momi mau ke ruang kerja" ucap Anita.

__ADS_1


Dia menjelaskan karena tatapan mereka seolah tahu bahwa dirinya kesal. Namun Dina dan Bondan tersenyum dan mengangguk.


Anita berjalan dengan terburu-buru. Di tangannya dilihatnya ponsel, seolah ada yang menghubunginya. Rania melihatnya, rasa penasarannya membawa langkah kakinya mengikuti Anita.


Anita tak menutup pintunya dengan baik, Rania pun menahan dengan cepat agar tak tertutup rapat. Dia mendengarkan apa yang Anita bicarakan di telpon.


"Ya!"


Tak ada suara selama beberapa detik.


"Entahlah, kurasa aku harus menemui Wandy untuk mempercepat proses pemindahan harta Subagja" ucap Anita.


~Wandy! Siapa lagi itu?~ ucap hati Rania.


"Kembalilah kemari, tinggalkan wanita yang bernama Nuri itu. Aku sudah cukup menahan rasa kesal karena cemburu mendengar cara mu mendekatinya" ucap Anita lagi.


Mata Rania membulat, dia terkejut pria yang bernama Ryan itu mendekati Nuri.


~Apa? Jadi itu cara dia mendapatkan info tentang aku! Nuri...apa yang kamu lakukan?~


"Terserah, kau mau melenyapkannya juga aku tak peduli" lanjut Anita.


Rania marah mendengar Anita mengucapkan hal itu. Dia masuk dan menutup pintu dengan keras. Anita terkejut, berbalik dan menatap Rania.


"Sedikit saja kau melukai salah satu teman ku, aku akan membuat mu menyesal telah mencobanya!" ucap Rania menunjuknya.


Anita tersenyum.


"Aku akan telpon lagi!" ucap Anita pada Ryan.


Dengan santai, Anita meletakkan ponselnya di meja kemudian menatap Rania.


"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Anita menantang.


"Aku akan mengatakan semuanya pada Beni dan Bondan, SEMUANYA. Mereka akan membenci mu dan meninggalkan mu" ucap Rania.


Anita tertawa, menertawakan kepolosan Rania saat mengancamnya.


"Rania...Rania....inilah yang aku suka dari kalian. Kalian percaya bahwa kasih sayang itu ada. Itulah yang aku manfaatkan dari Beni dan Bondan juga Dina. Sekeras apapun kau mencoba untuk membuat mereka benci, mereka takkan pernah membenciku. Karena mereka sangat menyayangi ku meski pun aku melukai mereka" ucap Anita percaya diri.


Rania diam menatapnya, yang berjalan mendekat. Rania bersiap diri untuk kemungkinan Anita berbuat kasar.


"Kau lihat Beni? Anak bodoh itu tetap menurut pada ku meski selalu mendapatkan tekanan psikis dari ku" bisik Anita.


Mata Rania membelalak, betapa Anita benar-benar berpura-pura menyayangi mereka selama ini.


"Apalagi Bondan. Dia akan berpikir bahwa kau bukan siapa-siapa hingga mampu membuatnya menentang ibu yang sangat dia sayangi" ucap Anita.


"Kau terlalu percaya diri untuk seorang wanita paruh baya yang sebenarnya lemah. Akan ada cara untuk membuatmu mengerti, rasa sayang tak bisa dipaksakan, diancam ataupun dibeli. Aku akan berusaha mencarinya" ucap Rania.


Dia berjalan keluar meninggalkannya dengan kesal. Anita menatapnya sambil menyeringai.

__ADS_1


"Aku tidak suka sikap mu Rania. Aku akan menyakiti mereka satu persatu tanpa kamu sadari" gumam Anita.


__ADS_2