Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
29


__ADS_3

Hari yang cerah untuk memulai pekerjaan dan menjalani hidup. Dila bangun lebih pagi dari kebiasaannya. Apa yang dia dengar tentang Rania semalam membuatnya kesal, namun secara alami memacu dirinya untuk bisa melebihi Rania. Dari kebiasaan, cara kerja hingga sifat.


Dila menyeruput minuman sereal sambil menatap mentari yang terbit.


"Indah sekali!" gumamnya.


"Ya, makanya aku dan Yudi memilih tempat ini. Bisa melihat matahari terbit dengan jelas" ucap Arumi


Yang baru bangun dan tiba-tiba ada di belakangnya sambil menggaruk kepalanya.


Dila menoleh dan tersenyum menatapnya. Arumi melihat wajah Dila sangat mirip dengan Rania.


"Aishh....dia benar-benar mirip dengannya" gumam Arumi.


"Apa?" tanya Dila yang tak jelas mendengar ucapannya.


"Tidak...tidak...aku mau mandi dan bersiap!" jawab Arumi.


Dia mengerti Dila tak terlalu suka dengan pembicaraan tentang Rania semalam, jadi dia tak terlalu lugas mengatakan apa yang ada di pikirannya.


"Ouhhh...!" ucap Dila.


Arumi menatapnya lagi sebentar kemudian pergi ke kamar mandi dengan handuk di bahunya.


###


Vero sedang menatap mentari terbit di depan jendela kacanya. Ponsel di tangan kanannya dan secangkir kopi di tangan kirinya.


Yudi terbangun karena bunyi alarm yang dia pasang sendiri. Dia menggaruk kepala dan dadanya. Melihat Vero sudah tidak ada di sana.


Dia berjalan keluar dan melihat Vero sedang meminum kopinya. Yudi mengendus, harum kopi milik Vero membuatnya membuka mata dengan lebar.


"Gayo?" ucap Yudi tiba-tiba.


Vero menoleh menatapnya.


"Hmmm!" jawab Vero mengangguk.


"Wahhh...orang seperti mu bisa membeli Kopi Arabika Gayo? Kau ini pewaris yang sedang menyamar ya?" ucap Yudi heran.


Vero menyeringai menertawakan ucapannya.


"Ayolah..., ini hadiah dari teman lama, masih ada di meja, kamu bisa bikin sendiri" jawab Vero.


Yudi tersenyum merasa senang bisa meminum kopi mahal seperti Kopi Arabika Gayo. Dia berjalan menuju kamar mandi.


Vero kembali menatap mentari, pikirannya melayang menuju Rania yang dia dengar dari Pak Nurdin sedang ada di Melbourne, Australia.


Nomor yang diberikan tak menjawab hari kemarin. Dia akan mencobanya lagi hari ini.


"Apa jam segini terlalu pagi?" tanya Vero pada dirinya sendiri.


Vero menekan layar ponselnya. Terdengar nada sambung.


Tutt...tut.....


##


Pagi di kediaman Atmajaya.


Masih dengan sarapan bersama, Anita, Beni, Dina dan Rania duduk menyantap makanan yang disediakan Hedi.


Beberapa pengurus rumah hilir mudik membersihkan rumah besar itu.


Bondan berjalan menuju meja makan, ponselnya berdering. Dahinya mengerut dan berpikir.

__ADS_1


"Nomor ini? Sore kemarin juga menelpon tapi aku tak sempat angkat" gumamnya.


Langkahnya terhenti, Dina melihatnya khawatir.


"Kenapa dia berhenti?" gumam Dina.


Rania sibuk dengan makanannya. Hari ini dia punya jadwal menemani Beni ke super market untuk membeli keperluannya, dia tak memperhatikan Bondan.


Beni menatap Bondan, kemudian menatap Dila yang terlihat tak peduli. Dia kembali menyantap makanannya.


Anita sibuk dengan ponsel dan pesan yang masuk.


Bondan berjalan kembali, menjauh dari meja makan yang tadi jadi tujuannya. Dia mengangkat telpon dan berdiri dekat pintu keluar belakang.


"Ya hallo?" ucap Bondan.


Mata Vero membulat mendengar suara yang terdengar akrab di telinganya.


~Bondan Atmajaya? Apa yang dilakukan Rania di tempat Bondan? Apa yang harus aku tanyakan? Aku harus mencari cara yang lain agar tahu lebih tentang pekerjaan Rania.~ ucap hati Vero.


Mereka pernah bertemu beberapa kali untuk membicarakan sebuah rencana membuka sebuah restoran yang manajemennya akan dikelola Vero sendiri. Namun semua itu tak terjadi karena yang Vero tahu ada sebuah kecelakaan terjadi pada keluarganya. Yang menyebabkan mereka pindah ke Australia.


"Hai...Bondan!" jawab Vero tak ragu.


Bondan berpikir.


"Ya, ini siapa ya?" jawab Bondan.


~Benar, dia Bondan Atmajaya~ ucap hati Vero.


"Aku Vero Wardana, masih ingat?" jawab Vero.


Bondan masih berpikir dan mengingat nama nya.


"Vero....restoran di Jakarta" ucap Vero mengingatkan.


Bondan mengingatnya namun juga terheran.


"Maaf, aku dapat nomor mu dari teman. Aku mau kembali mengajukan kesepakatan membuka sebuah restoran" ucap Vero mencari alasan.


"Ouh...maaf, aku masih tinggal dan kurasa akan menetap di Melbourne, aku sedang fokus pada Atmajaya Group di sini" ucap Bondan.


Vero kebingungan harus bicara apalagi agar dia punya kesempatan untuk bisa bertemu.


"Kita bisa bertemu dulu mungkin Pak!" ucap Vero.


Bondan tersenyum.


"Aku di Merlbourne, memangnya kau ada dimana?" tanya Bondan.


"Tentu saja di Jakarta, anda tahu strategi jemput bola kan Pak? Aku akan melakukan apapun untuk bisnis" ucap Vero berpura-pura semangat.


Bondan tersenyum dan menyukai semangat yang Vero tunjukkan.


"Baiklah, datanglah. Temui aku di gedung M. Aku akan mengkhususkan pertemuan kita" ucap Bondan.


Vero menghela nafas dengan lega.


"Terimakasih Pak, saya akan sangat memanfaatkan kesempatan dan waktu yang anda berikan" ucap Vero meyakinkannya.


"Ya, sama-sama" jawab Bondan.


Mereka menutup panggilan dengan wajah tersenyum mereka yang masing-masing memiliki arti yang berbeda.


Bondan berbalik hendak kembali ke meja makan, namun Dina sudah ada dibelakangnya menyerahkan gelas berisi susu kesukaannya.

__ADS_1


Bondan terkejut, namun dia tersenyum setelah melihat Dina yang ada di hadapannya.


"Wah...kau tak sabar aku datang ke meja makan" ucap Bondan.


"Biasanya, jika mendapat telpon yang tiba-tiba saat pagi hari, kamu pasti langsung pergi tanpa sarapan. Setidaknya susu akan menjaga lambung mu sampai menemukan makanan lain" ucap Dina.


Bondan meminum susunya, dia tersenyum setelahnya. Merasa Dina tak pernah berubah, selalu memperhatikan orang di sekitarnya. Terutama dirinya, selalu mendukung keputusam yang diambil olehnya sejak SMA hingga saat ini.


Dina mengembalikan gelas ke meja. Rania menatapnya yang tersenyum senang.


~Aku suka melihat senyum itu tersungging di bibirnya~ ucap hati Rania.


Dina kembali ke Bondan dan mereka pergi bersama.


Rania membantu Hedi merapikan meja dan membereskan makanan yang masih tersisa.


"Sudah Nona, biar saya saja!" ucap Hedi.


Rania menatapnya lagi. Dia menatap ke arah tangga dan ruang tamu, juga kamar Beni. Saat dia yakin tak ada siapapun di sana, dia mendekati Hedi.


"Di, kamu tahu jadwalnya bu Anita?" tanya Rania.


"Hari ini Nyonya bilang akan menghadiri meeting dengan makan siang di restoran di dekat kantor. Sepertinya hari ini dia sibuk" ucap Hedi.


Rania terdiam mendengarkan.


"Memang kenapa Non?" tanya Hedi.


"Tidak, aku kan mau pergi sama Beni, jadi ya biar bareng gitu. Tapi kayaknya arahnya lain" jelas Rania mencoba memberikan alasan lain.


Hedi mengangguk dan tersenyum.


"Oh ya, jangan bilang aku nanya gini ya, takutnya dia keganggu, ntar mikir macem-macem" pinta Rania.


"Oke siap!" ucap Hedi dengan membuat bulatan dengan jari jempol dan telunjuknya.


Rania tersenyum. Dia pergi dan mendatangi kamar Beni untuk bertanya apakah dia sudah siap atau belum.


Rania hendak meraih gagang pintu, namun Beni sudah membukanya dan menarik tangannya hingga dia pun masuk dengan cepat ke kamar.


"Bagaimana? Aku tampan?" tanya Beni.


Rania masih terkejut dengan secara tiba-tiba dia menarik tangannya. Namun secara alami terkagum dengan penampilan Beni yang sangat terlihat gagah memakai setelan jas. Dia tersenyum merasa Beni sangat berbeda. Namun teringat dengan foto yang pernah ditunjukkan Dina dan Bondan. Mungkin ini adalah kali pertama bagi Rania melihat Beni memakai jas, tapi tidak dengan Dila.


"Lumayan!" jawab Rania dengan acuh seperti bagaimana halnya Dila selalu berkomentar.


"Tutup mata mu sebentar, kemudian buka perlahan. Lihat dengan perasaan mu yang sekarang. Bagaimana penampilan ku?" pinta Beni.


Rania menghela nafas kemudian melakukan apa yanh diminta. Saat dia memjamkan matanya, yang dia lihat hanya Yudi. Melihat semua kenangan bersama Yudi, senyumannya, tawanya, ketampanannya, sentuhan tangannya. Kemudian Rania merasakan panas di mata dan hidungnya.


Dengan perlahan dia membuka mata dan melihat Beni, sebuah kenyataan yang ada di hadapannya. Mata Rania menelusuri tubuh Beni dari kepala hingga kaki. Dia tersenyum dan hendak mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Ganteng, cepat bersiap. Kita bisa terlambat kalau kamu dandan terus" ucap Rania.


Beni cemberut karena respon kedua pun, Dila tetap biasa saja.


"Ganti pakaiannya, itu pakaian yang harus kau pakai saat hari pertama masuk kantor lagi" ucap Rania sambil berdiri dan hendak berjalan keluar.


Beni menarik tangannya. Rania hilang keseimbangan lalu kembali tertarik ke arah Beni dan jatuh di dadanya.


"Apa, jika aku bukan Beni misalnya aku adalah Bondan, kau masih akan bersikap acuh?" bisik Beni di depan wajah Dila.


Rania menatapnya, dia melihat ke seluruh wajah Beni.


~ya, akan sama. Aku hanyalah aku, aku bahkan tidak boleh memiliki perasaan untuk tidak acuh atau acuh. bagaimana caranya aku mengatakan pada mu. bahwa aku bukan dia. bukan orang yang kau rebut dari kakak mu, bukan orang yang lukis, bukan orang yang kau harap bisa akan terus bersama mu selamanya. bukan dia yang bisa diam saja saat diancam oleh ibumu karena ketakutan. aku Rania Ramadhania putri Heru. aku menghadapi semua penghalang dengan palu besar, seolah seperti tembok penghalang jalanku, aku akan menghancurkannya dengan palu di tanganku~ ucap hari Rania.

__ADS_1


Dalam diam, Beni menatapnya.


__ADS_2