Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
64


__ADS_3

Nuri diperiksa di ruang dokter bedah, beberapa dokter melakukan video call dengan dokter rekomendasi dari Bondan. Rania dan Bondan menunggu di luar. Tangan Bondan selalu menggenggamnya. Rania terlihat senang sekaligus khawatir Nuri tak cepat menyesuaikan diri.


"Cemas!" ucap Bondan.


Rania menatap Bondan dan mengangguk.


"Dia benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti mu" ucap Bondan lagi.


"Tidak....aku yang beruntung, jika aku bukan sahabatnya mungkin aku tidak akan bertemu dengan mu sekarang" ucap Rania.


"Kenapa?" tanya Bondan penasaran.


"Nuri....teman sekelas ku yang mau menemani ku dalam keadaan apapun. Saat aku hampir saja terbunuh karena bullying yang terjadi di sekolah, dia yang menyelamatkan dan menyemangati ku. Tidak pernah menyerah mengatakan bahwa aku pantas mendapatkan kehidupan lebih baik. Dia juga yang mempertemukan aku dengan Vero dan teman yang lainnya. Dia sangat berarti bagi kami" jelas Rania dengan sedikit tangis di matanya.


"Kami?" tanya Bondan tak mengerti.


Rania tersadar karena terlalu banyak bicara.


"Maksudnya, aku..Vero dan teman yang lainnya. Kami iya kami itu ya...teman di restoran dulu" jawab Rania tergagap.


"Aku kira aku sudah sangat mengenal mu, ternyata banyak hal yang aku tidak ketahui darimu. Apa ini yang kamu bilang waktu itu?"


Rania ingat kejadian pertama kali Bondan mengutarakan kebenaran dan yang sebenarnya hanya dialah yang tidak tahu apa-apa.


"Hmmm..." jawab Rania.


"Aku tidak akan pernah menyesal untuk mencintaimu. Aku takkan terpengaruh dengan hal kecil yang menjadi kerikil" ucap Bondan sambil menggenggam tangan Rania.


Mata Rania meraba wajah Bondan dengan penuh perasaan. Dia terpesona dengan kesungguhan Bondan dalam mencintainya.


"Terkadang kerikil kecil yang justru menyakiti dan menjadi kendala" ucap Rania.


"Hmm...sekarang kamu mulai ngga yakin sama aku?" tanya Bondan.


Nuri keluar dari ruangan dokter dengan dorongan dari perawat Nina. Rania berdiri dan menatap Dokter yang ikut keluar.


"Kalian! Masuklah!" ucap Dokter.


Rania tersenyum pada Nuri dan mengajak Bondan untuk masuk. Dokter menjelaskan semua prosedural surgery yang akan dijalani Nuri.


"Maaf Rania, aku belum yakin kalau Nuri sudah siap. Dia terlihat masih trauma dengan kejadian yang menimpanya. Kau harus memikirkan hal itu terlebih dahulu" ucap Dokter.


Rania menatap kosong pada meja. Bondan melihat kekhawatirannya.

__ADS_1


"Bagaimana cara agar hal itu bisa disembuhkan?" tanya Bondan.


"Kami sudah mencoba dengan berbagai terapi dan konsultasi psikologi beberapa waktu lalu, namun hanya diri Nuri lah yang bisa menentukan semuanya bisa berhasil atau tidak. Ada yang masih dia takutkan" jelas Dokter.


Bondan menatap Rania yang masih terdiam.


"Baik Dok! Kami akan diskusikan ini lagi. Terimakasih!" ucap Bondan.


Tangan Bondan memegang tangan Rania dan menuntunnya untuk keluar bersama. Rania dan Bondan berjalan beriringan menuju ruang rawat Nuri.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bondan tepat di depan pintu ruangan Nuri.


Rania berhenti melangkah dan menunduk.


~Apa yang harus aku katakan? Ini semua karena perbuatan ibumu yang sangat kejam dan tak punya hati~ ucap hati Rania.


"Nuri disakiti oleh pacarnya secara fisik dan mental. Apa bisa dia sembuh dengan cepat, sementara pria itu masih bebas berkeliaran di Jakarta. Dia bisa saja muncul dan melukai Nuri lagi. Nuri pasti sangat ketakutan, orang yang dia cintai, dia percaya dan dia berikan segalanya telah mengkhianatinya" ucap Rania.


Bondan mendengarkan dengan sepenuh hati.


"Kau benar, orang yang kita cintai...jika mereka mengkhianati cinta kita, pasti akan terasa hancur hati kita. Sulit untuk dia memulai kembali atau bahkan sembuh dari rasa sakit itu" timbal Bondan.


~Ya...seperti itu, aku takut kamu merasakan hal seperti itu. Entah itu kecewa karena aku belum mengatakan semua rahasiaku, atau karena ibumu adalah orang jahat~ ucap hati Rania.


"Rania....apa aku benar-benar bisa sembuh?" tangis Nuri di pelukan Rania.


Rania tak menjawab, dia hanya mengusap punggung Nuri dan tetap memeluknya. Bondan memandangi mereka. Persahabatan Rania dan Nuri sangat dalam, mereka begitu terkait. Bondan merasa terharu melihat mereka.


###


Vero terus menelpon Rania, namun dia tak menjawabnya. Ponsel Rania disenyapkan karena tadi sedang menemani Nuri melakukan pemeriksaan.


Vero khawatir, Arumi meragukan perasaan dan sikap Yudi. Dia juga takut Rania menjadi labil dan kembali percaya pada Yudi. Namun dia juga berpikir dia mungkin sudah memberikan hatinya untuk Bondan.


Arumi juga berusaha menghubungi Yudi namun sama tak ada jawaban. Sementara Dila menanyakan lewat pesan apakah Yudi bersama mereka atau tidak. Arumi sangat cemas dan tak tahu harus mencari Yudi kemana. Dia mondar-mandir keluar masuk rumah.


Saat dia kembali untuk keluar, dia melihat Yudi membuka pintu pagar. Arumi menghela nafas dan bergegas menghampirinya.


"Kamu! Dari mana sih?" keluh Arumi.


Vero menghampiri dengan wajah kesalnya.


"Dari mana kamu?" tanya Vero ketus.

__ADS_1


"Cuma nyari rokok" jawab Yudi memperlihatkan sebungkus rokok dan korek di tangannya.


Arumi mengangkat kedua alisnya merasa heran karena merasa Yudi mulai merasa gundah lagi. Dia tak merokok sejak dia punya hubungan dengan Dila. Namun kini dia merokok lagi.


"Astaga kak! Yakin kamu mulai merokok lagi" sindir Arumi pada kakaknya.


Yudi duduk di teras dan membuka rokoknya dan mulai menghisapnya. Vero kesal menatap sikapnya yang seenaknya, dia pergi masuk dan kembali melihat ponselnya.


Sementara Arumi duduk di samping Yudi.


"Kenapa? Rania lagi?" tanya Arumi menebak.


Yudi menghembuskan asap rokok ke udara dan menatap langit.


"Apa aku ini sudah gila? Kenapa aku masih berharap Rania masih menaruh perasaan untukku? Aku sudah memiliki Dila adiknya, kenapa aku masih harus berharap padanya?" ucap Yudi putus asa.


Arumi menghela nafas dan menaruh kedua tangannya ke belakang. Dia melakukan peregangan ke belakang.


"Kak.....aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, tapi...aku cuma memberi saran, lupakan Rania. Jangan bermain api, bukan hanya kamu yang nantinya terbakar, aku juga bisa saja terkena panasnya" ucap Arumi.


Yudi menatap adiknya yang sangat dia sayangi.


"Kamu benar-benar egois, aku sedang galau dan kamu masih mengancam ku untuk tetap bijaksana!" ucap Yudi.


"Lalu aku harus apa, wanita yang kamu pikirkan adalah adik kesayangan pacarku. Aku tidak mau menyinggungnya, hubunganku bisa dalam masalah karena hal itu" bisik Arumi.


"Menyebalkan!" ucap Yudi.


Dia beranjak dari teras dan berjalan keluar kemudian menaiki motornya dan pergi. Arumi masuk dan kembali duduk di dekat Vero.


Vero melihat ke arah pintu, dia tak melihat Yudi.


"Kemana dia?" tanya Vero.


"Pulang atau mungkin ke Bar" jawab Arumi sambil tetap fokus pada ponselnya.


"Dia ....apa dia tidak bisa lebih dewasa menghadapi semua ini?" ucap Vero.


"Oh ya, renovasi ulang restoran akan dilakukan minggu depan setelah penyelidikan selesai. Kamu mau design yang kayak gimana?" tanya Arumi mengalihkan pembicaraan.


Vero menatap Arumi yang bicara namun tetap fokus pada ponselnya. Dia mengerti bahwa Arumi sedang tak mau membahas Yudi, Vero pun menjawab dengan santai.


"Bagaimana kalau temanya vintage?" tanya Vero dengan memberi ide.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdiskusi masalah renovasi restoran Vero.


__ADS_2