Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
52


__ADS_3

Dila bangun pagi sekali, suara ponselnya yang terus berbunyi membuatnya tak tahan dan segera melihat semua pesan di sosial media yang masuk ke inboxnya. Mata yang masih mengantuk tiba-tiba membulat, menatap foto yang di kirim teman sosial medianya.


Tertulis pesan bahwa dia melihat kejadian itu semalam di bioskop.


[apa itu kamu? pria yang bersama mu bukan pria yang kamu posting sebelumnya, siapa mereka?]


Dila duduk termangu menatap wajah satu persatu orang yang ada di dalam foto itu, salah satunya adalah Vero. Dila buru-buru mandi dan bersiap untuk menemui Vero.


Dila mencoba menghubungi Vero namun sama sekali tak diangkat. Kemudian dia hendak menelpon Yudi namun mengurungkan niatnya. Dia pergi ke rumah Arumi untuk menanyakan langsung padanya yang juga ada dalam foto itu.


Dila sampai di rumah Arumi hendak mengetuk pintu namun takut membuat Yudi tahu tentang itu. Dila berdiri menunggu di luar, menunggu Arumi membaca pesannya dan keluar sendiri.


Arumi baru membaca pesan Dila yang membuatnya menatap ke arah luar. Arumi langsung keluar dan menemuinya.


"Kamu di sini? Ada apa?" tanya Arumi.


Dila memperlihatkan foto dari ponselnya.


"Siapa dia? Kalian saling kenal?" tanya Dila tak sabar.


"Itu Rania, orang yang sering aku bandingkan dengan mu" jawab Arumi polos.


"Apa?"


Dila terdiam mengerutkan dahinya dan berpikir sangat keras.


~Apa yang dia lakukan bareng Ibenk dan kak Bondan? Dina juga ada di sana! Apa ini~ tanya hati Dila.


Arumi melihat Dila berpikir keras, dia sama sekali tak mengerti dengan ekspresi wajah Dila.


"Hei...kenapa? Dapet foto dari mana?" tanya Arumi.


Dila tak menjawab, dia pergi begitu saja dari rumah Arumi. Yudi yang melihatnya dari dalam keluar untuk menemuinya, namun tak sempat bertemu karena Dila sudah berjalan keluar pagar dan naik taksi.


"Dia pulang?" yanya Yudi.


"Hmmm?" Arumi terbangun dari pandangannya yang tertuju pada Dila.

__ADS_1


"Kok ngga masuk? Ngga nanyain aku?" tanya Yudi lagi.


"Ngga, cuma nanyain kejadian semalam!" jawab Arumi.


Arumi berjalan masuk untuk kembali ke dapur melanjutkan masaknya.


"Hei...aku belum selesai bicara" ucap Yudi dengan mengejar adiknya.


Pikiran Dila penuh dengan pertanyaan, tentang apa yang dia lihat. Dia tak bisa memutuskan kemana dia harus memastikan semua itu. Dia masih berpikir akan pergi kemana, pulang ke rumah dan melupakan semuanya atau pergi ke rumah Ruby memastikan semuanya.


Berpikir keras, dengan menimbang semua keraguannya untuk kembali ke rumah itu saat ini. Akhirnya Dila memutuskan untuk pergi menuju rumah Ruby. Dia meminta supir taksi ke jalan yang dia tunjuk.


Di rumah Ruby, Rania dan yang lainnya sedang makan siang. Bondan dan Beni masih bekerja di rumah. Dina pun sibuk menyiapkan pekerjaan Beni dan Bondan, di juga lebih sibuk dan lebih banyak diam di kamarnya sekarang.


Selesai makan, Beni mendapat telpon dari temannya yang tahu dia sudah kembali dari Australia. Dia menerima telpon di ruang depan. Beni berjalan keluar menuju taman di depan rumah. Tak lama kemudian Rania menghampiri untuk memberikan kopi pesanannya.


Dila yang sudah sampai melihat pemandangan itu, setelah dia turun dia berjalan mendekat ke pagar yang dekat rimbunnya tanaman. Dia melihat bagaimana Beni begitu manis memperlakukan Rania.


~Dia tak pernah semanis itu padaku!~ ucap hati Dila.


Meski tanpa ekspresi, Rania memang terlihat nyaman dengan perlakuan Beni. Dila semakin marah melihatnya. Dia membandingkan dengan semua ucapan Yudi dan Arumi tentang Rania sebelumnya. Dia juga membandingkan cara Beni memperlakukannya dengan Rania meski Rania sedang berpura-pura menjadi dirinya.


Selangkah demi selangkah, Dila mundur, dia berpikir ulang untuk membongkar wajah Rania.


~Beni adalah monster Dila, untuk apa? biarkan saja, kamu sudah dapat pria baik dan tampan seperti Yudi. Biarkan Rania yang naif itu mendapat monster seperti Beni~ ucap hati Dila.


"Aku tidak perlu kesana, manisnya sikap Beni takkan bertahan lama. Rania akan merasakan pahitnya hidup dalam istana menyeramkan itu. Dia juga akan berhadapan dengan wanita jahat yang bernama Anita itu. Tapi....apa yang menjadi motifnya menjadi aku di sana? Ouhh...Beni sempat akan bunuh diri. Mungkin itu, lalu...siapa yang menyuruhnya? Bondan kah? Bagaimana dia bisa menemukan wanita yang wajahnya mirip dengan ku?"


Dila bicara sendiri sambil berjalan hingga cukup jauh untuk kembali menemukan taksi. Tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya. Dila melihat dengan seksama siapa yang ada di dalamnya.


"Tante Anita!" gumam Dila.


"Hai Dila!" sapa nya saat membuka kaca mobil sembari tersenyum.


Dila terheran, dia berpikir Anita menyangkanya Dila yang ada di rumahnya.


"Masuklah!" pinta Anita.

__ADS_1


Dila masuk dengan keraguan, namun dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Anita langsung menjalankan mobilnya.


"Apa kabar? lama ngga ketemu, kamu udah di Jakarta aja nih" tanya Anita santai.


Mata Dila membulat mengarah pada Anita yang terlihat biasa saja.


~Dia tahu aku bukan Dila yang ada di rumahnya~ ucap hati Dila.


"Jadi tante yang bawa wanita itu untuk jadi aku? Demi apa tante? Jika demi Beni, ayolah...yang benar saja!" ucap Dila menyimpulkan.


"Hahaha....mana mungkin tante punya waktu untuk mencari dan meminta seorang wanita naif untuk menjadikannya dirimu dan merawat anak stress itu" jawab Anita sambil tertawa puas.


Dila sudah tak terkejut dengan tawa jahatnya, namun kata kasar yang dia lontarkan untuk Beni sudah sangat keterlaluan. Dila merasa bodoh karena sejak kecil sudah dijodohkan dengan Beni yang dianggap oleh ibunya sendiri gila.


"Lalu....siapa yang bawa dia?" tanya Dila.


"Siapa lagi? tentu saja Bondan, pria idaman mu yang bodoh itu. Dia sangat menyayangi ku dan Beni kemudian dengan bodohnya membawa wanita itu ke rumah. Aku juga kesal dengan tindakan yang sok pahlawan itu"


~Kak Bondan!~ ucap hati Dila.


"Dia bahkan jatuh cinta dengan ketulusan Rania dalam meluluhkan hati Beni. Kau tahu? mereka jatuh cinta pada wanita yang sama" ucap Anita.


Dila menelan ludahnya, tiba-tiba kesal mendengar itu.


"Hanya dalam waktu kurang dari satu tahun dia sudah merubah Beni, juga bisa membuat Bondan yang dulu begitu sulit kamu taklukan, mencintainya dan ingin hidup bersamanya meski harus berhubungan secara diam-diam dari Beni"


Anita bicara sambil melirik dan sesekali melihat ekspresi Dila yang sangat kesal mendengarnya.


"Kenapa? kamu marah?"


Dila menggertakkan gerahamnya. Dia tak menjawab, dengan tiba-tiba dia meminta Anita untuk menepi di tengah jalan. Anita menepi.


"Aku bisa antar kamu ke rumah baru kamu" ucap Anita.


"Ngga usah tante. Aku harus ke tempat kerja ku dulu. Terimakasih" jawab Dila sambil keluar dan menutup pintunya.


Anita tersenyum dan pergi. Dia merasa puas karena sudah membuat Dila kesal.

__ADS_1


"Bencilah, bencilah Rania. Jangan pernah sekalipun menyayangi Rania. Kalian semua harus hancur" gumam Anita.


__ADS_2