Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
137


__ADS_3

Bondan sadar, Rania adalah kata yang pertama dia ucapkan saat dia sadar. Arumi menunduk dengan mata sembabnya, tak mampu menatap kesedihan Bondan yang menanyakan Rania. Juga tak bisa mengatakan apapun tentang Rania.


"Ada kabar?" tanya Bondan dengan suara lemah dan menatap langit-langit ruangannya.


Setelah dia mulai mengumpulkan semua tenaga dan ingatannya tentang kejadian tempo hari. Ya, ini sudah hari ke empat, mereka kehilangan salah satu yang belum dipastikan itu Rania atau Dila.


"Belum, di ruang ICU juga, dia belum sadar. Kita belum bisa mengatakan itu siapa" jawab Arumi.


"Rania punya tanda di dadanya, aku pernah melihatnya tanpa sengaja" ucap Bondan pelan.


"Baiklah, aku akan katakan pada Vero. Aku juga akan menyuruh Fajri untuk menemani mu di sini" ucap Arumi.


Dia keluar sambil menghubungi Fajri yang menunggu di lobi rumah sakit. Fajri bergegas datang dan menemani Bondan. Sementara Arumi ke ruang tunggu di ruang ICU.


Dia melihat suaminya yang masih terlihat sedih dan berusaha menahan kantuknya. Arumi mendekat dan menyentuh bahunya.


"Kau mau istirahat?" tanya Arumi.


Vero menatapnya, kemudian memeluknya yang masih berdiri. Arumi mendekat dan mengusap kepala suaminya yang bersandar di perutnya.


"Begini saja sudah cukup, energi ku akan kembali penuh hanya dengan pelukan mu" ucap Vero.


Arumi terdiam, dia tak lupa dengan ucapan Bondan. Namun dia sangat merindukan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Sangat merindukannya, hingga menunda sebentar apa yang seharusnya dikatakan.


Yudi datang dari bawah, dia bosan karena sendiri menunggu di sana. Kebetulan saat itu adalah jam besuk. Dia datang setelah diizinkan masuk. Dia menatap Arumi yang dipeluk Vero. Pandangannya beralih pada gadis yang dia yakini adalah Dila.


Yudi meraba tubuh gadis itu dengan matanya. Kemudian dia melihat jemarinya bergerak.


"Jarinya bergerak!" seru Yudi.


Perhatian Arumi dan Vero teralihkan oleh perkataan Yudi. Mereka melihat kearah ruang ICU. Arumi berlari keluar untuk memanggil dokter. Dia kembali dengan suster dan dokter yang akan memeriksa.


Mereka masih menunggu di luar saat dokter memeriksa, dengan harapan dia bisa sadar dan mengatakan siapa dirinya.


Dokter keluar dan bicara pada Vero.


"Sebuah keajaiban, dia sadar. Tapi belum sepenuhnya. Keadaannya membaik, semuanya normal. Dia akan dipindahkan ke ruang rawat" ucap Dokter.

__ADS_1


"VVIP saja Dok, aku mau aku dan istriku bisa menemaninya berdua" ucap Vero.


"Baiklah. Saya permisi!" ucap Dokter.


Vero tersenyum pada Arumi dan memeluknya dengan erat.


"Doaku terkabul, dia sembuh dengan cepat" bisik Vero.


Arumi senang mendengar suara Vero yang kembali bersemangat. Sementara Yudi hanya bisa tersenyum, berharap semoga dia adalah Dila, cintanya.


Tak berapa lama, ponsel Vero berdering, Vero hendak mengangkatnya, tapi terdiam sejenak dan menatap Arumi.


"Siapa?" tanya Arumi.


"Sultan Ameer" jawab Vero yang juga heran.


"Angkat saja, sudah berhari-hari perusahaan di handle manager saja, siapa tahu penting" ucap Arumi.


"Ya, hallo!" sapa Vero.


"Maaf untuk apa Sultan?" tanya Vero sambil menatap Arumi.


Vero terduduk, ponselnya terlepas begitu saja dari tangannya setelah mendengarkan penjelasan Sultan Ameer. Arumi menjadi khawatir dan meraih tubuhnya agar tak jatuh.


"Ada apa?" tanya Arumi cemas.


"Sultan Ameer minta maaf atas perbuatan Clara yang merencanakan penculikan dan pemaksaan untuk Rania. Dia baru saja mengatakan bahwa, pesawat pribadi mereka yang ditumpangi Clara saat membawa Rania, jatuh di perairan selat Karimata. Mereka semua tidak selamat" jelas Vero.


Arumi terkejut, dia menutup mulutnya yang menganga tak percaya kemudian menatap ruang ICU.


"Rania....Rania ku, Mi. Dia nggak selamat Mi" ucap Vero sambil menangis tersedu.


Arumi memeluknya dengan erat, Vero menangis tak terbendung dalam pelukan istrinya.


Yudi pun menangis, namun dalam hatinya dia senang karena gadis yang ada di hadapannya sekarang adalah Dila.


Bondan meneteskan air matanya saat mendengar ucapan Fajri yang menerima pesan dari Arumi tentang kabar pesawat Clara.

__ADS_1


"Aku turut berduka, semoga kamu tabah. Aku yakin Rania akan ditempatkan di tempat yang paling baik" ucap Fajri berusaha menguatkan temannya.


Bondan diam saja dengan tangis di matanya yang tak bisa berhenti mengalir. Wajah Rania begitu melekat di matanya. Bondan tak menerima kenyataan ini, hatinya menolak.


"Ini baru empat hari, tubuhnya belum ditemukan. Dia belum meninggal sebelum jasadnya ditemukan" ucap Bondan dengan sedu sedannya.


Vero menangisi kesedihan Bondan. Dia sangat paham, belum lama mereka sudah yakin bahwa takdir yang mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama saat pertama kali mereka bertemu. Kini, dia harus merelakan Rania yang pergi dengan kejadian yang sangat tak diduganya.


Fajri hanya menghela, dia tak bisa menyepelekan perasaan Bondan yang masih menolak kenyataan ini. Siapapun akan merasakannya jika wanita yang dicintainya meninggal dan dalam situasi buruk seperti itu.


Fajri menatap Vero yang berdiri menangis di ambang pintu. Dia mengerti dan keluar, agar Vero bisa bicara dengan Bondan.


Vero mendekat, Bondan melihatnya dan kembali menangis.


"Tidak, kau tidak boleh mengatakan Rania sudah pergi. Kita belum mencarinya Ver, aku akan segera pulih, aku akan mencarinya. Lihat saja, akan ku buktikan Rania belum meninggal Ver, dia belum meninggal" ucap Bondan saat Vero tak bisa membendung tangisnya.


Vero menunduk di depan Bondan, dia tak bisa menenangkan temannya itu. Dia tak bisa mengatakan bahwa dia sudah menerima kenyataan pahit ini.


###


Vera menangis histeris, dia tak bisa menerima kenyataan bahwa Rania sudah tiada. Yuni memeluk tubuhnya dari belakang agar dia tak jatuh.


Aditya menghubungi temannya memastikan kabar kecelakaan pesawat di selat Karimata. Dia mencari tahu dan berharap tim SAR masih mencari korban di sana.


Sementara Nuri duduk sendiri sambil menggendong bayinya, menatap kosong ke arah jalan di depan rumah Vera. Mengingat bagaimana pertemanannya bersama Rania dimulai dan bertahan sampai hari ini.


Matanya tak henti menangis, menangis tanpa suara. Tangan kanannya memeluk bayinya, tangan kirinya sesekali mengusap pipinya yang terus teraliri air matanya.


Nurdin pun hanya bisa diam terduduk. Pencariannya selama beberapa hari ke seluruh Jakarta berakhir karena kabar itu. Dia berhenti mencari setelah mengetahui alasan Clara menculiknya, karena kecemburuannya terhadap Bondan.


Dia tak sangka, Rania akan jadi korban pesawat jatuh. Hatinya tak begitu saja menerima, dia menyuruh beberapa teman yang ada di Kalimantan untuk membantu mencarinya. Berharap dia bertahan, tapi kemudian mengusap wajahnya dengan menangis lagi mengingat dia tak pandai berenang.


"CEPAT BERITAHU AKU KALAU KABAR ITU TIDAK BENAR!" Adit histeris.


Dia kesal dengan temannya yang juga mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah terjadi tiga hari yang lalu. Terjadi malam hari dan pencarian dimulai pagi harinya. Namun tersendat cuaca yang buruk. Semua orang mengatakan bahwa dalam cuaca itu, tak mudah bagi perenang hebat sekalipun untuk bisa selamat. Apalagi pesawat itu jatuh cukup jauh dari pesisir pantai.


Nurdin memegang tubuh Adit yang terduduk lemas, meronta menangisi kemalangan yang terjadi pada Rania kakaknya yang paling dia sayangi.

__ADS_1


__ADS_2