Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
134


__ADS_3

"Bawa saja mereka berdua!" ucap suara seorang wanita yang bicara dari sebuah hotel melalui klip on mereka.


Semua pria itu bersiap, saat Rania dan Dila bersamaan berjalan keluar setelah ada yang memberi tahu ada seseorang yang ingin bertemu mereka, saat itulah mereka mendekap mulut mereka dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius terlebih dahulu.


Rania yang pernah mengalami semua ini, merasa sangat ketakutan, dia melambai pada Bondan dan merasa sangat putus asa. Berusaha memberontak meski kepalanya sudah sangat pusing karena menghirup obat. Dia terus memberontak hingga kepalanya membentur mobil dengan keras dan akhirnya dia pingsan.


Sementara Dila masih mencoba menangkis tangan-tangan besar yang mencoba membekap mulutnya. Namun apa daya, Dila seolah lelah dan akhirnya mereka membiusnya.


Mereka dimasukkan ke dalam van yang sudah siap untuk meluncur pergi.


Bondan melihat kejadian itu, dia langsung mengejar mobil van hitam yang membawa mereka. Fajri dan Nuri pun menganga melihat kejadian yang seolah hanya ada dalam film aksi itu.


Segera setelah beberapa orang wanita histeris, Fajri masuk ke ruang rias dan mengatakan pada Vero bahwa kedua adiknya diculik di depan mata mereka. Vero berdiri dan meninggalkan Arumi begitu saja.


"Mana mobil mu?" tanya Vero pada Fajri saat setelah dia melihat mobil Bondan sudah melesat menyusul van itu.


"Mobilnya di sana, ini kuncinya" tunjuk Fajri ke halaman hotel.


Vero berlari dan segera menyusul mobil Bondan yang masih terlihat ke arah mana mereka pergi.


Arumi berlari menyusul suaminya yang tak memperdulikannya. Tatapannya mulai kabur saat dia melihat Vero melesat memakai mobil Fajri. Dia mulai kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Nuri menggapai tubuhnya, namun karena mendadak, dia pun ikut terjatuh di lantai. Semua orang melihatnya dan malah hanya menonton saja.


Dalam suasana ricuh itu, Yudi datang setelah menaruh kopernya di rumah. Dia menatap ke semua orang yang berkumpul mengerubuni sesuatu.


Yudi membelah kerumunan itu, dia melihat Arumi pingsan. Segera dia meraih adiknya dan menggendong dia ke ruangan yang lebih privat.


Yudi memberikan sedikit wewangian ke telapak tangannya, mencoba membuat adiknya siuman. Arumi berhasil sadar, dia membuka matanya dan menatap kakaknya sudah ada di depannya.


Arumi langsung merangkul leher Yudi, memeluknya dengan tangis.


"Yud, Vero nyusul orang yang nyulik Rania sama Dila" ucapnya dalam sela-sela tangisnya.

__ADS_1


Mata Yudi membulat, dia melepas pelukan Arumi dan hendak menyusul juga. Namun Nuri menahannya.


"Ngga ada laki-laki lain lagi. Mereka semua nyusul van hitam itu. Kita butuh kamu di sini" ucap Nuri.


Yudi berhenti dan hanya bisa diam menatap semua dekorasi pernikahan yang sudah sangat indah itu. Dia sudah mempersiapkan semuanya untuk melamar Dila, tapi hal yang mengejutkan justru terjadi.


Nuri merasa lega dengan kedatangan Yudi. Dia mencari Fajri tapi tak ada, yang ternyata ikut menyusul mereka. Tak lama kemudian Fajri datang dengan lesu.


Nuri mendekat dan memborbardir suaminya dengan banyak pertanyaan.


"Gimana? Kesusul? Mereka dimana? Ini cuma main-main kan? ini keisengan Rania sama Dila kan?" tanya Nuri panik dan mencoba membuat dirinya tenang dengan menganggap semua itu hanya lelucon buruk mereka.


Fajri menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak bisa nyusul, mereka udah melesat jauh sebelum kemacetan mengerumuni simpang empat itu" jawabnya lesu.


Yudi memegang tangan Arumi yang masih panik dan takut sesuatu terjadi pada mereka. Kemudian, tak lama polisi datang.


Nuri menceritakan kronologi kejadian. Yudi mendengar dan keluar dari ruangan. Dia langsung mendekat.


Seorang polisi menatapnya.


"Ya, kami sudah menerima laporan. Dua mobil kecil dan dua buah van terlihat di beberapa titik mengebut seolah sedang saling mengejar. Tapi mereka hilang di perbukitan dekat ke dermaga besar" ucapnya.


"Kami sedang berusaha Pak. Setelah Pak Vero menyebutkan ciri-ciri van dan plat nomornya, kami langsung mengeceknya. Sayangnya, mereka menggunakan plat nomor palsu. Jadi kami kerahkan polisi lantas untuk mencari di sekitar wilayah yang mungkin akan mereka lewati" ucap lagi salah satunya.


Yudi mengusap wajahnya, dia menjadi lebih khawatir. Kemudian dia melihat Arumi berdiri mendengarkan semuanya. Arumi mundur dan terduduk lemas.


###


Mobil van itu masih melesat, semakin melesat saat mengetahui ada mobil yang mengikuti mereka dengan kecepatan imbang.


"Minta bantuan yang lain untuk membuat mobil itu berhenti atau jatuh" ucap salah satu pria.

__ADS_1


Pria yang lain membuka ponsel lipat dan menghubungi temannya.


"Hadang, jika melawan. Bunuh" ucapnya.


Kemudian wanita yang tadi bicara, ikut memerintah.


"Jangan, jangan sentuh dia. Biarkan saja dia tak berdaya mengejar wanita-wanita itu" ucapnya.


Kemudian datang sebuah mobil dengan tiba-tiba dari arah kanan mobil Bondan. Karena dia tak siap dan terlambat menginjak rem, akhirnya dia membanting stir dan mobilnya terguling setelah rem nya berdecit.


Mobil Bondan terbalik, dengan lemas dia berusaha merayap keluar. Darah mengucur di dahinya, juga di tangan dan sedikit di lehernya. Dia tak bisa merangkak lagi, dengan lemah menatap langit yang kemudian menjadi gelap.


Vero berhenti untuk menariknya lebih jauh dari mobil takut hal lain terjadi. Pria dalam mobil yang menyelanya pun turut membantu karena perintah wanita itu. Dia harus memastikan pria itu selamat.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit" ucap pria itu.


Tapi mata Vero menatap van hitam yang sudah mulai menghilang dari pandangannya. Wajah Vero merah padam merasakan panas dan rasa kesal di hatinya.


Tak ada suara yang dia dengar selain desir angin yang seolah berkumpul di dalam telinganya. Matanya menatap Bondan yang tergeletak di kakinya. Kemudian beralih ke orang-orang yang mulai mengangkat Bondan ke ambulans.


###


Yudi dan Arumi berlari ke arah unit gawat darurat, mencari Bondan dan Vero yang katanya dibawa ke rumah sakit itu. Nuri dan Fajri menyusul dengan berjalan perlahan, mengingat Nuri juga membawa putri mereka yang masih bayi.


Yudi berhenti di depan ranjang tempat Bondan berbaring dengan selang infus dan selang oksigen yang menempel. Dia menghela dengan keras dan teratur dan mulai melambat.


Sementara Arumi memeluk Vero yang duduk diam di ranjang di dekatnya.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya Arumi yang mengusap seluruh wajah suaminya itu.


Dia juga memeriksa seluruh tangan dan tubuh Vero, memastikan tak ada luka. Vero hanya diam menatap Arumi yang sangat khawatir padanya. Kemudian pikirannya kembali pada kedua adiknya yang tak bisa dia kejar.


Nuri dan Fajri datang dan menutup mulutnya dengan tangan saat melihat keadaan Bondan. Perlahan mereka berjalan mendekat ke Vero.

__ADS_1


"Apa ini berarti semuanya benar-benar serius? Bukan lelucon si kembar?" bisik Nuri pada Fajri yang tak menjawabnya.


Suara alat-alat rumah sakit terdengar seolah menggema di telinga mereka. Hening menyelubung, tangis Arumi sambil memeluk Vero sebagai penambah suasana sedih yang mereka rasakan.


__ADS_2