Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
41


__ADS_3

"Aku ingin kembali ke Jakarta"


Ucap Beni dalam hening pagi di meja makan keluarga Atmajaya. Semua orang menatapnya, terutama Anita yang sangat merasa rencananya takkan berhasil.


"Apa?" tanya Anita.


"Aku ingin menikah di Jakarta, kita juga harus mengunjungi makam ayah juga orang tua Dila" lanjut Beni.


Rania tak menyangka Beni akan meminta hal seperti itu. Dia bertanya dalam pikirnya sendiri, apa yang hendak Beni rencanakan.


Bondan menghela dan menaruh sendoknya. Dina menatapnya dan ikut menaruh sendok, bersiap sewaktu-waktu Bondan berdiri dan langsung pergi.


"Baiklah! Aku akan urus kepulangan kita" ucap Bondan.


Anita tersenyum dalam kesalnya.


"Apa-apaan kalian ini? Apa pendapat ku sekarang sudah tidak berlaku lagi?"


Nada suara Anita meninggi karena marahnya. Bondan merasa bersalah sudah membuatnya marah. Lain halnya dengan Beni yang menyeringai dan melanjutkan makannya.


"Momy maaf kalo aku langsung menyetujuinya, aku baru saja menerima tawaran sebuah proyek besar di sana. Aku minta maaf karena belum mengatakan alasan aku setuju dengan permintaan Beni" jelas Bondan membujuk ibunya agar tak marah.


Dina mengerutkan dahinya. Dia merasa tak pernah mendapat berita tentang proyek besar yang dibicarakan Bondan.


Anita berdiri dan pergi dengan kesal. Dia langsung menuju ke ruang kerjanya. Rania menatap kepergiannya.


~Jelas dia tak mau ke Jakarta, Dila ada di sana~ ucap hati Rania.


Rania melanjutkan makannya bersama Beni. Dua orang ini ditatap oleh Bondan dan Dina. Seperti orang yang sudah tak punya rasa lagi, melanjutkan makan di tengah pembicaraan dengan satu orang marah juga meninggalkan meja makan.


Bondan mengikuti Anita untuk membujuk ibunya agar tak marah. Dina menghela, tangannya turun dan mencubit paha Rania yang masih makan. Dia penasaran dengan rencana Rania yang dari tadi diam saja. Namun Rania tak bergeming, Dina kesal dan menyusul Bondan.


Bondan mengetuk pintu ruang kerja ibunya.


"Pergilah, aku sedang tidak mau diganggu" ucap Anita.


Dia sedang berusaha menghubungi Ryan, pria kepercayaan sekaligus kekasihnya.


"Ok momi, nanti aku kembali" ucap Bondan.


Anita melanjutkan menghubungi Ryan dan bicara.

__ADS_1


"Sulit sekali menguhubungi mu!" ucap Anita marah.


"Aku sedang sibuk!" jawab Ryan.


"Sibuk apanya? Kau hanya sedang bersama gadis bodoh itu kan?" ucap Anita.


"Hei...jangan cemburu, ini hanya sebagian dari penyamaran ku" ucap Ryan berdalih.


"Sudahlah, sekarang buat rencana. Beni minta untuk kembali ke Jakarta. Aku butuh rencana cadangan dari rencana sebelumnya" pinta Anita.


"Apa? Kembali ke Jakarta!"


"Hu uh!"


"Apa kau tidak bisa menolak atau gimana gitu?"


"Ngga, ngga bisa. Aku marah pun Beni tak peduli. Anak haram itu sama sekali tak peduli"


"Baiklah, aku akan mencari rencana lain. Aku tutup dulu telponnya. Dah sayang!"


Anita mendelik dan tak menjawab salam penutup dari Ryan.


Sementara Ryan dengan tubuh yang tanpa pakaian, sedang menutupi Nuri yang tidur di sampingnya dengan selimut. Dia juga membelai rambut Nuri dengan lembut kemudian mencium keningnya.


Sementara di luar ruang kerja Anita , Beni sedang berdiri tepat dibalik pintu dengan telinga menempel di daun pintu, mendengar ucapan Anita yang membuat matanya menangis.


Beni berjalan perlahan menuruni tangga. Rania yang sedang hendak pergi ke kamar, melihatnya.


~Kenapa dia?~ tanya hati Rania.


Rania mengikutinya dengan penasaran juga karena takut sesuatu terjadi padanya. Namun Beni menyadari keberadaannya di belakang. Dia berhenti di depan pintu kamar yang sudah dia buka. Rania ikut berhenti dan menatapnya dengan heran.


Beni berbalik dan menarik Rania secara tiba-tiba. Rania tertarik dan masuk ke kamar dengannya. Beni menatapnya, Rania melihat mata Beni merah dan berair.


"Kenapa? Kenapa kau menangis?" tanya Rania khawatir.


Beni diam tak bergeming, Rania mendekat dan memeluknya. Beni terdiam dan menerima pelukannya.


"Kenapa? Ada apa? Apa yang membuat mu menangis?" tanya Rania dalam pelukannya


Beni kembali menangis, lebih berderai dan bercampur isak. Rania semakin bingung, dulu dia tak bisa membiarkan Beni merasa sedih sedikit pun karena memang sedang berpura-pura menjadi Dila. Namun sekarang dia menjadi terbiasa dan tak bisa membiarkan Beni sedih bahkan meski hanya terlihat sedih sekalipun.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tidak usah menceritakannya pada ku, aku tidak akan memaksa, tapi setidaknya berhentilah menangis, aku benar-benar khawatir" ucap Rania.


Rania melepas pelukannya dan menghapus air matanya.


"Sudah ya!" ucap Rania sambil tersenyum mencoba membuatnya tenang.


Beni menatap seluruh wajah Rania dengan merasa sangat bersyukur bisa menjadi tunangannya. Betapa dia sangat beruntung karena bisa mendapatkan wanita dengan hati yang tulus seperti dia.


Duduk di sofa selama beberapa menit bersama Beni yang membaringkan kepalanya di pangkuan Rania. Beni sudah tak menangis, dia sama sekali tak mengatakan apa yang telah terjadi. Rania hanya mengusap kepalanya dan membiarkan tangan yang satunya lagi untuk Beni peluk.


Tiba-tiba Beni menghela nafas.


"Ku dengar kau selalu mendapatkan perlakuan tak baik dari ibu asuh mu" ucap Beni.


Mata Rania membulat tak menyangka dengan apa yang ditanyakannya. Dia bahkan berpikir darimana Beni bisa tahu tentang ibu asuhnya.


"Bagaimana caranya kau bisa bertahan?" tanya Beni lagi.


Rania masih diam tak paham.


"Aku selalu merasa sangat sendiri dan serasa dunia tak berpihak padaku lagi. Bagaimana caranya agar bisa bertahan dengan perasaan bahwa dia adalah ibumu?" lanjut Beni.


"Ya...karena dia adalah seorang ibu. Seburuk apapun perlakuannya padaku dialah yang mau menerimaku ditengah kesulitan yang dia alami. Tidak membuang atau memberikan aku pada orang lain dengan alasan apapun" jawab Rania.


Beni tersenyum dan semakin erat memeluk tangan Rania.


"Aku beruntung bisa bertemu dan menjadi kesayangan mu saat ini" ucap Beni.


Rania tersenyum, dia juga merasa sudah terbiasa dengan semua tingkah Beni yang masih labil. Namun melihat alasan mengapa dia sampai bisa seperti ini ternyata bukan karena Dila. Dia mengalami ini karena selalu mendapatkan perlakuan kasar yang berlebihan dari ibunya.


Mengetahui semua itu, Rania merasa masih sangat lebih beruntung darinya. Vera ibu asuhnya memang selalu memperlakukannya berbeda dengan adiknya, namun Vera selalu memeluknya atau hanya sekedar mengusap kepalanya saat dia tidur.


~Apa yang terjadi padamu? Tadi dia kembali dari atas, dari ruang lukis atau....jangan-jangan dia dari ruang kerja ibu nya! Apa yang terjadi, kenapa dia jadi begini?~


"Jangan berpikir! Jangan memikirkan alasan aku begini. Aku baik-baik saja. Jauh lebih baik saat kau selalu bersama ku" ucap Beni.


Rania menghela.


"Baiklah! Aku rasa kau harus cepat bersiap karena ini sudah siang. Kau harus ke kantor kan?" ucap Rania.


Beni bangun dan menatap Rania kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih! Aku sangat-sangat merasa lebih baik sekarang" ucap Beni.


Dia pergi bersiap dan Rania pun pergi ke luar.


__ADS_2