Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
131


__ADS_3

Bondan masih diam tak bicara, pikirannya masih berusaha keras mengingat apa yang dimaksudkan dengan malam itu. Clara menatapnya dengan menyeringai.


Ada satu malam, dimana Bondan tak terkendali karena minuman yang menjadi taruhan atas permainannya dengan Clara, yang kemudian Bondan harus meminumnya karena kalah. Mata Bondan mencari-cari kesalahan yang mungkin saja dia lakukan.


"Ya, ingat-ingatlah. Aku akan membiarkan mu mengingat sentuhan demi sentuhannya. Datang ke apartemen ku jika kamu sudah ingat" ucap Clara sambil meraih kunci dari tangan Bondan yang masih diam.


Dia pergi meninggalkan Bondan yang menghela keras. Dia masih mengingat dengan keras apa saja yang terjadi setelah dia mabuk. Semakin keras dia mengingat, semakin hatinya kesal dan marah.


"Tak ada yang terjadi, ya, tak ada yang terjadi. Dia hanya menakuti ku" ucap Bondan menenangkan dirinya.


Bondan memutuskan untuk mengabaikannya, dia melanjutkan pekerjaannya dan berusaha fokus. Tapi tak bisa, dia masih terganggu dengan ucapan Clara yang wajahnya begitu yakin dengan apa yang dia katakan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Bondan menatap kaku nama yang muncul, Rania.


Dia jadi merasa bersalah karena pikirannya yang belum mendapatkan memori apapun. Dia takut telah mengkhianati Rania tanpa sadar. Baru saja dia merasakan bahagia karena telah bertemu dengannya setelah sekian lama. Bondan menghela, dia menjawab telpon kekasihnya itu.


"Ya, sayang!" jawab Bondan lemah.


"Kenapa?" tanya Rania yang heran dengan suara kekasihnya yang lemah seolah tak bersemangat.


"Nggak, sayang. Aku nggak apa-apa. Mau ngajak makan malam ya?" Bondan menarik nafas dalam berusaha merubah moodnya.


"Iya,mau dimana?" tanya Rania.


"Boleh nggak kalo di rumahku? Aku cape banget, mau nunggu kamu aja di rumah sambil istirahat" tanya Bondan.


"Ok, aku akan ke rumah setelah ini" ucap Rania berjanji.


"I love you!" ucap Bondan.


"I love you to!" jawab Rania kemudian menutup telponnya.


Pesan Clara muncul saat Bondan menutup pembicaraannya dengan Rania. Dia kesal dan membukanya, hendak membalas dengan keyakinan bahwa dirinya tak pernah melakukan apapun.


Namun matanya terbelalak saat menatap foto yang dikirimkan Clara padanya. Foto selfi Clara yang tengah tidur dalam dekapannya yang tertidur pulas.


Bondan menganga tak percaya, matanya memejam beberapa kali meyakinkan diri dan mengingat lagi. Dia hampir menangis melihat apa yang dikirim Clara.


"Sialan, apa yang terjadi malam itu!" seru Bondan sangat marah.


Bondan keluar dari ruangan Vero, dengan cepat dia berjalan menuju ruangannya. Namun Siena menahannya dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Bapak masih di sini?" tanya Siena.


"Clara ada di dalam?" Bondan tak memperdulikan pertanyaan Siena dan malah balik bertanya.


"Udah pulang Pak, katanya mau langsung ke apartemen, mungkin dia masih marah....."


Bondan berbalik dan pergi begitu saja. Siena memanjangkan mulutnya, kesal diabaikan oleh Bondan.


Sampai di parkiran, Bondan menelpon Rania untuk menunggunya sebentar dengan alasan ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Rania hanya mengatakan 'ok', Bondan pun tancap gas langsung menuju apartemen Clara untuk meluruskan kesalahpahaman mereka.


~Aku harus menyelesaikannya sekarang, hari ini juga. Jika memang ada yang terjadi malam itu, semua itu hanya kesalahan. Aku berada dalam pengaruh minuman, aku....~


"AAHHHH.....SIALAN!" teriak Bondan karena kekesalannya bertambah saat menatap kemacetan di hadapannya.


###


Arumi dan Vero selesai dengan fitting bajunya. Semua sesuai keinginan Arumi. Vero menuruti semua setelah dicecar omelan Dila dan Rania yang memintanya mengabulkan semua keinginan pengantin wanita.


"Resepsi akan diadakan di hotel dengan semua yang sudah dipesankan. Terima kasih ya Arumi, aku kira kamu lupa sama aku setelah jadi orang kaya" ucap temannya yang butiknya dia pilih untuk pakaian pengantin mereka.


"Hahaha, orang kaya apanya sih, nggak usah berlebihan. Aku cuma seorang pemilik restoran biasa" ucap Arumi merendah.


Bertemu sesaat setelah mereka kehilangan kedua orang tua mereka dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Vero menatap Arumi seperti Rania yang selalu sedih dan sendiri. Rasa ingin selalu melindunginya tak terbendung. Meskipun kadang cerewet dan manja, tapi Vero sudah sangat nyaman bersamanya.


Arumi membeli restoran Vero dengan hasil keringatnya sebagai manager selama bersamanya. Vero yang awalnya hanya ingin menyerahkannya tanpa imbalan, hanya mendapat penolakan dari Arumi yang harga dirinya jauh diatas kepolosannya. Seperti biasa, Arumi tak mau mendapatkan sesuatu tanpa bekerja. Sama seperti kakaknya, Yudi. Dia membeli restoran itu dengan mencicilnya hingga lunas.


Arumi juga membagi dua uang yang mereka keluarkan dari pernikahan ini. Tak tersinggung, sebagai laki-laki yang sangat mencintainya, Vero sangat menghargai permintaannya.


"Ayo!" ajak Arumi.


Dia mengaitkan tangannya ke lengan Vero dengan riang.


"Apa kita akan melakukan tradisi pingitan?" tanya Arumi manja.


"Boleh, katanya orang tua hal itu dimaksudkan demi kelancaran dan kebahagiaan pengantin" ucap Vero.


"Aku senang kamu masih memegang tradisi, tapi jangan terlalu kolot ya, kita dipingit tiga hari saja" ucap Arumi dengan menunjukkan tiga jemari lentiknya.


"Iya ratu ku sayang, aku akan setuju dengan semua permintaan mu asalkan masih dalam batas wajar" ucap Vero sambil mencubit dagunya.

__ADS_1


Arumi tersenyum sambil melangkah dengan riang. Namun perhatiannya teralihkan saat dia melihat Bondan keluar dari mobilnya yang dia parkir di pinggir jalan. Arumi membulatkan matanya saat melihat Bondan begitu terburu-buru menyebrang dan masuk ke lingkungan apartemen yang menjulang tinggi.


"Ini apartemen tempat Clara tinggal kan?" ucap Arumi.


Vero yang hendak membuka pintu mobil untuknya menatap ke gedung tinggi itu dan mengangguk.


"He..eehhmm" jawab Vero.


Dia mempersilahkan Arumi untuk masuk, tapi Arumi menahan tangannya.


"Tunggu, kata kamu Bondan keberatan menjadi buntut Clara lagi, tapi kenapa dia ke sana?" tanya Arumi dengan jari menunjuk ke arah Bondan yang masuk.


Vero melihatnya, dia mengerutkan dahinya berpikir tentang apa yang dilakukan Bondan disana. Tak lama kemudian, dia melihat seorang wanita turun dari taksi mendongak ke arah apartemen, yang tak lain adalah Rania.


"Itu Rania!" seru Arumi.


Dia memanggilnya, namun Rania tak mendengarnya. Dia masuk dengan terburu-buru pula.


Arumi menarik tangan Vero dan mengajaknya ikut masuk. Awalnya Veri hendak menolak, namun dia merasa ada yang salah dan akhirnya menuruti keinginan Arumi.


# Bondan mengetuk pintu apartemen Clara dengan keras setelah memencet bel dan tak ada respon.


Clara membuka pintu dan tersenyum pada Bondan yang mengalihkan pandangannya dari Clara yang memakai pakaian tidur satin tipis.


# Rania masih di dalam lift menuju lantai 15 alamat tempat yang Clara berikan dengan alasan ingin merevisi ulang isi kontraknya dengan catering. Dia sangat buru-buru karena takut Bondan menunggunya. Sesekali dia menatap jam di tangannya, khawatir datang terlambat untuk makan malam.


Pintu lift terbuka, Rania melihat seorang pria berpakaian rapi ditarik oleh rangkulan di lehernya oleh kedua tangan yang mulus. Dia menundukkan pandangannya, merasa malu sendiri melihatnya.


Rania mencari nomor apartemen yang dia tuju, 17, mata Rania membulat saat melihat nomor itu di pintu yang masih ta tertutup rapat, tempat pria itu ditarik tadi. Dia menelan salivanya dan hendak mengetuk.


"Cukup!" suara Bondan terdengar.


"Kamu ini kenapa? malam itu kamu sangat agresif, tapi sekarang kamu malah bersikap jual mahal" ucap Clara.


"Aku sudah mendapatkan kebahagiaan yang sangat aku nantikan, aku mohon jangan bicara seolah semuanya benar-benar terjadi" ucap Bondan memohon.


Rania mendengar dari luar, dia yakin suara yang dia dengar adalah orang yang dia kenal. Dengan perlahan, dia membuka pintu dan melangkah di lorong antara cermin dan kamar mandi itu. Ingin memastikan apa yang dia pikirkan adalah salah.


Namun dia berhenti melangkah saat dia melihat Bondan berdiri di hadapan Clara yang sedang membaringkan dirinya dia ranjang. Seketika kantong kertas berisi makan malam mereka terjatuh dari tangannya. Membuat Bondan sadar akan kehadirannya. Mereka saling menatap, ruangan seolah membeku dalam tatapan mata Rania yang mulai berlinang air mata.

__ADS_1


__ADS_2