Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
46


__ADS_3

Dila mendapat kosan baru, dia pindah malam ini. Yudi menemaninya dengan membantu membawakan kopernya yang cukup berat. Dila membukakan pintu kosan barunya, Yudi masuk dan duduk di ranjang karena kelelahan membawa koper ke lantai 3 gedung tempat itu.


Dila tersenyum dan membukakan minuman botol yang dia simpan di tasnya untuk Yudi.


"Kenapa harus pindah? tinggal bersama Arumi di rumah, kamu ngga usah ngeluarin kost untuk hal ini itu" ucap Yudi setelah meneguk minumnya.


"Arumi ngga suka sama aku, apalagi pas dia tahu kamu sama aku pacaran" ucap Dila datar sambil merapikan beberapa barang di atas meja.


Yudi menatapnya dan berdiri, dia mendekat pada Dila kemudian memeluknya dari belakang.


"Dia terbawa cerita Nuri tentang Rania. Dia hanya begitu menyukai Rania jadi menganggap dia juga baik untukku. Bersabarlah, suatu hari dia akan bisa dengan senang nerima hubungan kita" ucap Yudi.


Dila berbalik dan memeluk pinggang Yudi. Dia menengadah untuk menatap wajah Yudi yang tinggi. Yudi menunduk untuk menatapnya, kemudian Dila menciumnya, membuat Yudi tersenyum.


"Seberapa jauh hubungan kalian?" tanya Dila.


Yudi mengangkat kedua alisnya bertanya siapa yang dimaksud Dila.


"Kamu sama Rania" lanjut Dila.


Yudi mengalihkan pandangan ke arah lain kemudian melepaskan pelukan Dila.


"Aku cuma nanya, ngga ada maksud lain. Ngga usah dijawab kalo ngga mau" ucap Dila.


Dia jelas melihat sikap Yudi yang menunjukkan bahwa dia belum bisa melupakan Rania.


Yudi duduk di ranjang dan memainkan tangannya. Dila melanjutkan merapikan meja kemudian beralih ke lemari. Dia membuka koper dan mengambil satu persatu pakaiannya.


"Aku bahkan belum pernah memeluknya, apalagi mencium bibirnya"


Dengan tiba-tiba Yudi bicara, ucapannya membuat Dila berhenti dan menatapnya. Dila melihat mata dan senyum Yudi yang sedang mengingat Rania.


~Rania mampu membuat Yudi jatuh cinta tanpa menyentuhnya. Wanita seperti apa yang sedang jadi enemi ku sekarang~ ucap hati Dila.


"Rania hanya mengatakan kalo dia suka aku di depan semua orang pas lagi acara makan bersama. Vero tau itu, dia bahkan melarang Rania melanjutkan perasaannya. Namun Rania tetap menyukai ku meski aku terus marahin dia karena dia bekerja di tempat yang bukan bidangnya"


Dila menunduk dan mengertakkan giginya sedikit kesal mendengar pujian Yudi untuk Rania.


"Semua orang menyukai caranya bertahan hidup. Berbaur tapi tak tercampur, dia jadi dirinya sendiri. Aku, Arumi dan Vero sangat tahu bagaimana dia berjuang untuk ibu dan adiknya. Jadi...."


Yudi melihat Dila yang duduk di kursi dengan meremas salah satu pakaiannya. Dia menyadari Dila tak suka dengan pembicaraannya mengenai Rania.


Yudi mendekat dan duduk di bawah Dila kemudian mengambil pakaian yang diremasnya dan menggenggam tangan Dila yang mengalihkan pandangannya agar tak menatap Yudi.


"Katanya cuma nanya...ko marah!" ucap Yudi menggodanya.


Dila masih diam, Yudi berusaha agar dia tak marah terlalu lama.


"Rania adalah masa lalu, dia atapun aku ngga akan kembali ke masa lalu meski jika suatu hari nanti kami dipertemukan. Mungkin saja dia juga sudah mendapatkan pria yang akhirnya membuatnya bahagia" ucap Yudi sambil mengusap tangannya.


"Kamu kecewa kalo dia dapet laki-laki lain?" tanya Dila.


"Ngga lah, itu bagus kan! Aku jadi ngga ngerasa bersalah karena sudah move on darinya" ucap Yudi meyakinkan.


"Aku ngga tau Rania kayak gimana orangnya, semua orang suka sama dia, bahkan Fajri yang cuma sekedar kenal dengannya, memuji kesan pertamanya. Yang pasti....sekarang, aku yang jadi pacar kamu, jadi kamu harus fokus sama aku. Tentang Rania hanya boleh jadi masa lalu yang harus kamu lupain. Oke" ucap Dila dengan kerlingan matanya.

__ADS_1


Yudi tersenyum, Dila memeluk Yudi dengan erat. Namun Yudi berpikir.


~Bagaimana aku bisa melupakannya? Wajah kalian begitu sama, aku bahkan selalu mengira kamu adalah dia, meskipun aku sangat tahu, kamu bukanlah dia~ ucap hati Yudi.


###


Di rumah Vero, Arumi sedang menyiapkan kopi untuk pacarnya yang sedang membaca koran itu.


"Ini!" ucap Arumi sambil menyodorkan segelas kopi kesukaannya.


"Pagi-pagi sudah kemari, apa aku akan diajak pergi hari ini?" tanya Vero curiga dengan sikap Arumi.


Arumi tersenyum sambil merapikan meja makan yang berantakan.


"Dihh...dia ngerti" ucap Arumi.


Vero tersenyum.


"Kemana?" tanya Vero.


Arumi terdiam dan berpikir.


"Hhmmm....gimana kalo nonton?" ucap Arumi memberi ide.


"Cari yang waktunya bisa pulang sore ini, aku ada perlu sampai malam" ucap Vero sambil membalik korannya.


Arumi terheran dan sedikit kesal.


"Acara apa? Kenapa aku ngga tau?" keluh Arumi.


Masih dengan menatap dan membaca korannya, Vero bersikap tidak sesuai keinginan Arumi. Akhirnya Arumi kesal dan mengambil korannya.


Vero menghela dan menatap Arumi yang menekuk wajahnya.


"Ada apa?" Vero menyerah.


"Dengan siapa? Kau pasti punya wanita lain kan? Sejak kembali dari Melbourne kamu terus gini, ada urusan ini lah, urusan itu lah. Aku udah mulai ngga penting buat kamu" ucap Arumi sambil memalingkan wajahnya.


Vero menertawakan kecemburuan Arumi yang tak berdasar. Dia berdiri dan mendekat, Arumi berbalik dan terkejut menyadari Vero sudah ada di depannya. Arumi membulatkan matanya dan berpikir bahwa Vero akan menciumnya. Dia memejamkan matanya dan bersiap.


Namun Vero tersenyum dan berencana mengerjainya, dia mendekatkan wajah kemudian berbisik.


"Aku cuma milik kamu, ngga ada yang lain"


Dia tak mencium Arumi dan hanya mengambil koran yang direbut Arumi kemudian duduk kembali.


Menyadari dia sudah dikerjai pacarnya, Arumi tersenyum merasa bodoh dan membuka mata kemudian memukul lengan Vero dengan lap yang dipegangnya.


Vero tersenyum dan mengangkat gelas lalu meminum kopinya. Dia menaruh gelas dan teringat dengan Yudi yang selalu dekat dengan Dila.


"Kemarin Dila pindah ke kosan barunya?" tanya Vero.


"Heuu euuh..Yudi yang anter sambil bawa kopernya, kayaknya dia kurang nyaman tinggal sama aku yang ngga setuju sama hubungan mereka"


"Hubungan mereka?" tanya Vero.

__ADS_1


"Iya, Yudi memutuskan untuk menjalin hubungan cinta dengan Dila Aryani Subagja" ucap Arumi meniru cara bicara orang dalam drama.


"Apa?!" Vero berteriak terkejut dengan ucapan Arumi.


Arumi memandang Vero dengan wajah yang terkejut dengan respon Vero.


"Sejak kapan?" tanya Vero kesal.


"Sejak ....minggu kemarin sebelum kamu pulang" ucap Arumi terbata.


Vero menghela nafas kesal dan melipat koran kemudian melemparnya ke meja. Arumi merasa sangat aneh dengan sikap Vero.


Vero kesal dengan keputusan temannya yang dulu sangat merana karena tak sempat membalas cinta adiknya Rania, kini malah menjalin hubungan dengan adiknya yang satu lagi, Dila.


"Ngga bener dia!" keluh Vero.


"Apa?" Arumi tak jelas mendengarnya.


"Dia ngga bener! Dulu kayak yang merana banget ditinggal Rania, sekarang malah jadi pacarnya Dila. Dia mungkin nganggap Dila itu sebagai Rania karena mirip" Vero menyimpulkan sendiri.


Arumi mendekat dan menaruh tangannya di bahu Vero.


"Kadang aku cemburu sama Rania atau Dila, mereka selalu dapet perhatian berbeda dari kamu" ucap Arumi.


Vero menghela, cukup bosan dengan kecemburuan Arumi, karena sangat sulit untuknya menceritakan semuanya sekarang. Vero berdiri menghindar dan pergi ke kamarnya. Arumi hanya melihatnya dan merasa Vero selalu menghindar saat Arumi cemburu.


Arumi duduk dan menaruh lap dari tangannya, dia hendak berdiri dan mengambil tasnya, hendak pergi saja dari sana karena situasinya sedang tidak nyaman. Dia menyalahkan dirinya karena selalu cemburu.


Namun Vero membuka pintu dan merapikan bajunya. Arumi menatapnya dengan heran, Vero memakai jeans dan kaos, terlihat sangat rapi dan bersih.


"Mau kemana?" tanya Arumi.


"Nonton! Katanya mau nonton hari ini!" ucap Vero sambil berjalan mengambil dompet dan memeriksanya.


Arumi tersenyum tersipu karena Vero selalu seperti itu. Melakukan hal manis saat dia cemburu dan menjawab bahwa kecemburuannya sangat tak beralasan.


Arumi mendekat dan mengaitkan tangannya ke lengan Vero.


"Tapi....filmnya baru mulai nanti jam 1 siang" ucap Arumi manja.


"Ya ngga apa-apa, kita bisa jalan-jalan dulu di mall" ucap Vero sambil merapikan rambut Arumi.


"Oke! Ayo!" ajak Arumi.


"Tunggu!" icap Vero menahan langkah Arumi.


"Yudi ngga nginep di kosan Dila kan?" tanya Vero masih penasaran.


"Ya engga lah, tadi dia masih tidur pas aku kesini" jawab Arumi.


Vero tersenyum lega.


"Ada pertanyaan tentang Dila lagi?" tanya Arumi kesal.


"Ngga!" jawab Vero sambil mencubit hidung Arumi.

__ADS_1


Mereka pun pergi.


__ADS_2