Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
67


__ADS_3

Bondan pergi keluar untuk makan siang, dia membawa mobilnya ke jalan yang melewati rumah Rania. Dengan tersenyum dia berhenti sejenak meminggirkan mobilnya, untuk mengingat saat-saat dia selalu membuntuti Rania secara diam-diam.


Dia juga ingat saat Rania begitu kecewa dengan ibunya yang hanya memikirkan adiknya. Namun Bondan merasa bahwa Rania begitu sangat menyayangi ibunya, meskipun dia selalu diperlakukan tidak adil.


Saat hendak menyalakan mobil dan pergi, Bu Vera keluar dari gang bersama Aditya yang memegangi lengannya. Mata Bondan membelalak tak percaya.


"Bukankah Rania bilang mereka lagi di Jawa!" gumam Bondan.


Bondan hendak menelpon Rania, namun dia melihat Bu Vera seperti akan naik angkot. Bondan buru-buru keluar dari mobil untuk mencegahnya.


"Bu... tunggu!" seru Bondan.


Vera dan Aditya menoleh, berhenti dan betapa terkejut melihat Bondan yang sudah hampir setahun baru dia lihat.


"Anda!" ucap Vera.


Aditya tersenyum, dia sudah diberitahu sebelumnya bahwa Bondan yang bawa Rania ke Australia. Dia senang akan bertemu dengan kakak kesayangannya.


"Apa kabar Bu!" tanya Bondan.


"Baik, baik sekali. Bagaimana dengan Bos?" ucap Vera.


"Jangan panggil Bos, panggil aja Bondan Bu!" pinta Bondan.


Vera mengangguk, dia tak menanyakan kabar Rania. Senyum di wajah Bondan membuatnya merasa bahwa Rania baik-baik saja dan akan segera menemuinya.


"Aku baik-baik aja, oh iya makan malamnya kita majuin aja ke malam ini, gimana?" tanya Bondan.


Vera dan Aditya saling menatap.


"Mungkin Bos Bondan mau kita ketemu kak Rania sambil makan malam" bisik Aditya.


Vera mengangguk.


"Ngga usah bisik-bisik, ngomong langsung aja!" ucap Bondan dengan bergurau.


Vera tersenyum dengan senang, dia sangat ingin bertemu dengan Rania dan memeluknya. Dia juga ingin meminta maaf karena sudah menyusahkan nya selama setahun ini.


"Iya Nak Bondan, malam ini aja. Ibu juga kangen sama Rania" ucap Vera.


"Ok, kalo gitu aku harus booking tempatnya dulu. Aku pergi dulu ya Bu!" pamit Bondan.


Bondan mencium tangannya, Vera terkejut dengan sikap Bondan. Aditya pun mengangkat kedua alisnya terheran juga aneh, seorang Bos mencium tangan ibu anak buahnya.


Bondan masuk mobil dan membuka kaca mobil kemudian melambaikan tangannya. Vera dan Aditya juga membalas lambaiannya, meskipun dengan heran.


Bondan sangat senang, dia berencana untuk membuat kejutan pada Rania. Dia akan mengajak Rania malam ini tanpa memberitahu bahwa akan menemui mereka.


"Hallo! Aku pesan ruangan untuk malam ini, dengan makanan spesial ya. Atas nama Rania Ramadhania, ok terimakasih" ucap Bondan.


Dia langsung menelpon pihak restoran melakukan reservasi ruangan khusus untuk makan malam ini.


###


Rania mendapat pesan video CCTV yang sudah ditemukan polisi. Wajah Ryan sangat jelas di kamera rumah sakit malam itu. Rania menyandarkan kepalanya di kursi merasa semua sudah jelas dan tinggal menunggu waktu, dia percaya polisi akan segera mendapatkan Ryan secepatnya.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Masuk!" seru Rania.


Dina membuka pintu dan membawa sebuah map di tangannya.


"Hai Din!" sapa Rania.


"Hai! Aku mau memberikan berkas yang kamu minta. Ini aku dapat setelah mengumpulkan data dari semua mall dan cabang perusahaan di Australia, Kalimantan dan Papua. Aku mau kamu menepati janji mu sekarang!" ucap Dina.


Rania menatap Dina dengan sangat serius.


"Sekarang?" tanya Rania tak percaya.


"Ya sekarang, aku mau mendaftar bulan besok, aku tidak mau terlambat" ucap Dina.


Rania ingat dengan kejadian sebelumnya, saat Bondan memberitahu bahwa mereka yang dijodohkan bukan Beni. Dina begitu murung dan menghindari Rania.


Namun suatu malam, Dina datang dan meminta sesuatu dari Rania. Sesuatu yang tak diduga. Dia juga mengatakan sesuatu yang membuat Rania terkejut tentang perusahaan. Hal yang selalu dia diskusikan dengan Vero.


Dina akan mengumpulkan semua informasi tentang perusahaan itu dalam sebuah berkas, namun Dina meminta untuk Rania menyiapkan tiket, rumah sewa dan biaya pendidikan untuknya belajar di Amerika. Dina memilih untuk pergi dari kehidupan Bondan selamanya.


Rania merasa sangat bersalah saat itu, namun dia juga tak bisa meminta Bondan untuk menimbang rasa untuk Dina. Dia juga tidak bisa meminta Dina untuk tetap bertahan dan menahan perasaan patah hatinya di rumah Ruby.


Rania sempat merasa sudah mengkhianati Bondan, namun Dina membuatnya menerima dan akan melakukannya demi Bondan. Dina meminta agar Rania melepaskan Bondan dari genggaman Anita bagaimanapun caranya. Bondan akan menerima semuanya jika dia paham dengan alasannya.


Rania menyetujuinya, Dina mengumpulkan semua data secara diam-diam. Dia juga menemukan kecurangan Wandy sebagai kuasa hukum perusahaan Atmajaya. Dia meminta Wandy untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Dina juga memberitahu Bondan dengan jalan lain. Namun Bondan sama sekali tak bergeming.


"Kau yakin akan pergi sekarang?" tanya Rania.


Rania menerima berkas yang di berikan, Dina menghela nafas dan merasa sudah melakukan hal yang benar. Mengembalikan semuanya pada yang berhak.


Dina meninggalkan Rania di kamarnya. Rania menghubungi Vero dan meminta untuk bertemu sambil makan siang. Vero langsung menyetujuinya dan menghubungi Wandy. Mereka akan mengerjakan semuanya dengan cepat.


###


Malam tiba, Bondan pulang dan langsung masuk ke kamar Rania yang sedang bersiap untuk keluar makan malam di rumah.


"Kau mengagetkanku!" ucap Rania.


Bondan memeluknya dari belakang. Rania merapikan pakaiannya.


"Ada apa?" tanya Rania.


"Cantik banget! Makan di luar yuk!" ucap Bondan.


Rania menatap Bondan dari kaca.


"Aku sudah masak, makan di rumah aja!" jawab Rania.


"Ah....ngga mau! Harus diluar!" ucap Bondan kekeh.


Tingkahnya manja membuat Rania tersenyum dan menyetujuinya.


"Baiklah! Aku mau bilang sama Hedi untuk membereskan meja makan" ucap Rania.

__ADS_1


"Aku udah bilang sama Hedi tadi. Kita langsung berangkat aja!" ucap Bondan.


Rania menatapnya heran.


"Cepetan!" ucap Bondan.


"Gimana mau pergi kalau dipeluk terus gini!" keluh Rania.


Bondan mencium bahu Rania kemudian melepaskan pelukannya. Mereka pun pergi.


Sampai direstoran, Rania dia ajak masuk ke ruangan. Dia ikut saja dan tak berkomentar. Namun alangkah terkejutnya Rania saat melihat Ibu dan Aditya ada di sana berdiri menyambutnya dengan senyuman.


Wajah Rania berubah, dia memaksakan diri untuk tersenyum kemudian berjalan mendekat.


Ibu Vera mengepalkan tangannya sendiri menahan diri untuk memeluk Rania yang masih belum terlalu dekat. Matanya menatap keseluruhan tubuh Rania yang sangat berubah.


~Cantik! Dia cantik banget! ~ ucap hati Vera.


Namun tak disangka, Aditya langsung berlari memeluk kakaknya dengan erat. Rania hampir jatuh, namun pelukan Aditya membuat tubuhnya terangkat. Rania terkejut, begitupun Bondan, dia melepaskan tangannya dari tangan Rania dan membiarkan momen itu sejenak.


Bondan sedikit terheran dengan sikap Aditya yang seolah baru bertemu, namun dia sendiri mematahkan pemikiran. Dia berpikir bahwa Aditya baru bisa libur dan baru bisa meluapkan rasa rindunya pada Rania.


Rania memeluk tubuh Aditya yang berubah bertambah kekar dan tinggi. Dia menatap wajah adiknya setelah dia melepaskan pelukannya.


Aditya hanya bisa tersenyum, kerinduan yang sangat sulit diungkapkan. Dia menoleh pada ibunya dan mengantar Rania ke hadapannya. Rania menatap mata ibunya dengan rasa bersalah karena tak menemuinya semenjak sampai di Jakarta.


Namun Vera membelai wajah Rania yang bertambah cantik. Dia senang, Rania tak menderita di Australia. Dia juga memeluk Rania dengan perlahan, takut Rania menolaknya. Namun Rania memeluknya dengan erat. Vera tersenyum saat merasakan kedua tangan Rania memeluknya.


Tak ada kata terucap, Bondan pun heran dan merasa ini seperti kali pertama mereka bertemu kembali. Namun dia berpikir, mungkin karena kesibukan Rania mengurus Nuri membuatnya tidak sering bertemu dengan keluarganya lagi seperti yang dia lakukan selama ini.


"Aku lapar!" ucap Bondan.


Rania menoleh, Vera dan Aditya pun duduk. Rania duduk perlahan sambil menatap wajah mereka semua.


~Untung ibu ngga ngomong apa-apa?~ ucap hati Rania.


Mereka semua makan, namun di tengah-tengah Bondan menanyakan kepergian ibu Vera ke Jawa.


"Di Jawa berapa hari Bu?" tanya Bondan.


Vera mengangkat wajahnya, dia menatap Bondan dengan membulatkan matanya.


"Jawa?" tanya Vera tak mengerti.


"Iya....Rania bilang Babe Nurdin ngajak ibu ke Jawa ketemu keluarga di sana. Oleh-olehnya apa Bu?" ucap Bondan sambil makan.


Vera menatap Rania, dia tahu Rania berbohong, namun hatinya bertanya untuk apa dia melakukannya.


"Ibu di rumah aja kak Bondan, kakinya masih selalu sakit jika cuaca dingin. Gimana bisa bepergian? Apalagi ke Jawa, jauh!" jawab Aditya sambil melahap makanannya.


Rania memejamkan matanya sejenak merasa semua sudah tak bisa disembunyikan lagi. Bondan melihat sikap Rania dan menyimpan sendok garpu nya. Dia melap bibirnya dan menatap Rania kembali. Rania tak bisa melihat mata Bondan yang jelas tahu bahwa dia bohong.


Bondan melanjutkan makan malamnya dan berbasa-basi sebentar kemudian menyelesaikan pertemuan mereka.


Rania diam saja, dia merasa bersalah karena Bondan sama sekali tak membicarakan kebohongannya juga perihal lamarannya pada Rania. Atau sekedar memberitahu bahwa sekarang mereka sedang berpacaran.

__ADS_1


Vera dan Aditya diantarkan pulang, Rania mencium kening ibunya dan memeluk Aditya. Pamit tanpa Bondan menemaninya masuk ke gang. Rania pamit dan buru-buru kembali ke mobil.


__ADS_2