Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
108


__ADS_3

"Baguslah, aku juga tak berharap. Kau sangat merepotkan. Sifat mu sama dengan Arumi. Berpikir berlebihan terhadap pasangan. Bukannya mengerti dan berusaha membantu. Kamu malah ngomel" Yudi mengomentari kepribadian Dila.


Mata Dila membulat, dia marah mendengar keluhan Yudi tentang sifatnya. Namun perasaannya harus dia kendalikan. Dia berlagak seperti seorang wanita yang sudah berubah.


Dila mengambil piringnya yang sudah bersih dan membawanya ke dapur.


"Aku sudah selesai, bukannya kamu mau pulang?" ucap Dila.


Yudi tersenyum mendengar ucapan Dila. Dia berdiri dan merapikan pakaiannya. Dia menghampiri Dila di dapur. Dila gugup, mengira dia akan memeluknya. Tapi Yudi hanya mengambil apronnya yang dia gantung di dekat Dila berdiri.


Yudi tersenyum melihat Dila memejamkan matanya karena mengira dia akan memeluk.


"Aku pergi!" ucap Yudi setelah mengambil apronnya.


Dila membuka matanya dan menelan, dia melirik pada tangan Yudi yang mengambil apronnya. Dila melanjutkan mencuci piringnya.


"Hmmm, terima kasih sudah mengantar ku pulang!" jawab Dila.


"Bukan masalah, kita kan teman" ucap Yudi sambil memakai sepatunya dan sedikit tersenyum.


Dila kesal, tapi dia harus mengendalikannya. Dia berjalan menghampiri pintu keluar untuk sekedar mengantar Yudi. Dia menutup pintu setelah Yudi keluar. Yudi terkejut dengan suara pintu yang dia tutup. Kemudian dia menerima telpon dari kepala chef.


"Iya Chef?" jawab Yudi.


Dia berjalan buru-buru menuju lift, dia menatap Marvin yang baru pulang. Marvin juga menatapnya. Dia ingat Yudi, dia yang membawa Dila pergi tadi. Dia sangat tahu bahwa Yudi adalah orang yang istimewa bagi Dila.


Marvin kesal, dia hendak memukul Yudi dengan tinjunya. Namun Yudi menghindarinya, dia terjatuh dan sempoyongan karena mabuk. Yudi mundur, masuk ke dalam lift. Dia hanya menatap Marvin yang berusaha berdiri. Pintu lift tertutup, kemudian dia menelpon Dila.


"Kunci pintunya, jangan dibuka untuk siapapun!" ucap Yudi setelah Dila mengangkatnya.


"Memangnya ada apa?" Dila malah bertanya.


"Lakukan saja, jika sempat, aku akan datang nanti setelah urusan ku selesai" ucap Yudi.


Dila heran, Yudi tak marah karena Dila berbalik bertanya bukannya menurut. Namun dia buru-buru mengunci pintunya.


Sementara Yudi memberitahu Michael untuk melihat Marvin yang terlihat mabuk berat.


"Ada masalah antara Dila dan Marvin. Aku takut Marvin berusaha untuk menerobos masuk ke apartemennya" ucap Yudi.


"Ok, tapi kau mau kemana? bukannya menungguinya dulu semalam" ucap Michael.


"Ada urusan pekerjaan, aku harus pergi. Nanti aku kembali jika sempat. Maafkan aku merepotkan mu!" jelas Yudi.


"Baiklah, tidak apa-apa" jawab Michael.

__ADS_1


Yudi pergi, dia kembali ke restoran, karena ayah Marvin protes dan menginginkan semua staf untuk berkumpul.


Michael naik ke apartemen dan melihat Marvin sedang bersiap menggedor pintu apartemen Dila. Untung saja dia langsung mencegahnya, Michael menarik tubuh Marvin dan mengajaknya masuk ke rumahnya.


"Tekan passcode nya tuan, kau harus masuk. Kau mabuk berat" ucap Michael.


"Tidak, aku tidak mabuk. Aku mau bertemu dengan Dila" ucap Marvin.


"Pak, saya rasa Dila akan ketakutan jika anda bersikap seperti ini" Michael berusaha membujuknya dengan memberi saran.


Marvin berpikir, kemudian dia menekan pasacodenya. Saat Michael membawanya masuk, dia merengek.


"Aku mau bicara dengannya, aku ingin dia mengerti aku" ucap Marvin.


Michael diam saja dan membantunya berbaring dan melepas sepatu juga jaketnya. Marvin terlihat sudah mulai tenang, Michael keluar dari apartemennya dan melihat ke arah pintu apartemen Dila.


Dia lega apa yang ditakutkan Yudi tak terjadi. Namun dia harus waspada, dia juga harus naik lagi nanti untuk memeriksa.


"Huhhff...Anak jaman sekarang, putusnya nggak bisa kalem" gumam Michael sambil naik lift turun.


Sementara itu, Yudi yang baru sampai di restoran, ikut berbaris di ujung barisan. Dia menerima tamparan setelah Pak Jonas menatapnya dan mencocokkan wajahnya dengan video yang dia lihat di ponselnya.


Semua orang terkejut, terlebih Yudi. Pak Jonas, ayah Marvin mengetahui Yudi membawa Dila keluar dari pesta. Pak Jonas yang tahu bahwa hari itu Marvin akan melamar Dila merasa bahwa Yudi menggagalkan acaranya dan membuat Marvin hilang kendali.


"Kenapa kau membawa Dila pergi dari sana?" tanya Pak Jonas.


"Saya berusaha melerai Pak" jawab Yudi.


"Apa yang terjadi sampai harus dilerai?" tanya Pak Jonas.


Yudi berpikir, ternyata ayah Marvin tak tahu dengan apa yang terjadi. Sekarang dia tahu alurnya seperti apa. Ini hanya akal-akalan Chloe untuk membuat Marvin ketakutan akan kemungkinan keluarganya mengetahuinya.


"Anakku akan melamar Dila malam ini, dia akan menyematkan cincin di jarinya malam ini sebagai pertunangannya. Kenapa kau membawanya pergi? Apa kau kekasihnya?" Pak Jonas sangat ingin penjelasan dari Yudi.


"Bukan, aku kakak dari calon kakak iparnya" ucap Yudi.


Pak Jonas terlihat berpikir dengan silsilah yang Yudi berikan. Semua orang pun ikut tertawa. Namun mata Pak Jonas membulat dan menatap mereka yang menertawakan. Mereka pun diam.


"Ah...terserah! Jelaskan apa yang terjadi?" tanya Pak Jonas.


Seorang pegawai hendak menjelaskan, dia maju dan berkata.


"Aku tahu, dia...."


"Hanya salah paham Pak, aku akan membantu mereka menyelesaikannya" jawab Yudi menyela.

__ADS_1


Pak Jonas menatapnya.


"Apa kau bisa dipercaya?" tanya Pak Jonas.


"Tidak Pak!" jawab Yudi.


Teman-temannya juga kepala Chefnya tertawa mendengar jawaban Yudi.


"Tapi saya akan berusaha membantu mereka. Soal akhir hubungan mereka seperti apa, mereka yang menentukan" lanjut Yudi.


Pak Jonas puas dengan jawaban Yudi. Amarahnya mereda, dia kembali berjalan di depan semua staff.


"Baiklah, aku akan ganti semua kerugian. Mungkin ini semua memang kesalahan anakku Marvin. Aku minta maaf!" ucap Pak Jonas sambil pergi meninggalkan mereka.


Kepala Chef tercengang dengan ucapan Pak Jonas.


"Dia tak pernah minta maaf sebelumnya!"ucapnya.


Dia menatap Yudi dan terheran dengan aura yang dipancarkan Yudi.


"Kau punya aura tersendiri" ucap Kepala Chef memujinya.


"Aura kasih?" gumam Yudi.


Beberapa teman yang sama berasal dari Indonesia tersenyum mendengar Yudi menggumam.


"Ok, rapikan semua, kita harus bersiap dengan pesta besok. Banyak yang harus kita lakukan" ucap Kepala Chef.


Yudi menghampirinya dan izin untuk pergi lagi. Kepala Chef ingat dengan ucapan Yudi yang berjanji akan membantu Marvin menyelesaikan kesalahpahaman.


"Baiklah, kau bisa datang setelah kau benar-benar siap" ucap kepala Chef.


Yudi pergi kembali ke apartemen Dila, namun dia tak naik. Dia hanya bertanya pada Michael tentang yang dia takutkan.


"Tidak, Marvin langsung ku bawa ke apartemennya. Dia juga bukan tipe orang yang suka mencari ribut" jelas Michael.


Yudi mengerti, dia meminta Michael tetap waspada.


"Kau tidak naik, untuk melihatnya?" tanya Michael.


Yudi melihat jam di tangannya.


"Tidak, sepertinya dia sudah tidur!" jawab Yudi sambil mengetuk jam tangannya.


Michael menatap jam dinding di dalam posnya. Dia mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah!" ucapnya.


Yudi pamit, dia pulang untuk mengumpulkan tenaganya.


__ADS_2