
Ujian selesai, Dila keluar dan mencari beberapa temanya yang tergabung dalam sebuah kelompok main yang cukup banyak anggotanya. Dia berjalan menuju markas mereka untuk menanyakan kenapa namanya dihapus dari jadwal piket di markasnya.
Beberapa teman yang sudah dekat dengan tempat berkumpul, menatapnya dengan tatapan yang menghakimi.
Dila mengangkat kepalanya dengan sinis. Mereka mengalihkan pandangannya. Belum sempat Dila masuk ke ruangan itu, dia mendengar Lisa dan Clhoe bicara.
"Aku sudah mengatakannya padamu, dia cukup mencurigakan. Tapi karena kamu sangat menyukainya, kamu menutup mata dan telinga" ucap Clhoe.
Clhoe adalah teman Marvin dari sekolah dasar. Dia yang selalu memandang sinis pada Dila. Kini semua jelas, Dila paham kenapa foto itu tiba-tiba muncul di grup mereka.
"Dia adalah korban pemerkosaan Marvin, bayangkan jika keluarga mu tahu tentang semua itu. Mereka akan sangat malu" tambah Clhoe.
Marvin masih diam menatap foto dalam laptop Lisa. Dila menutup pelan pintu yang hendak dia buka itu. Dia mundur dan pulang tanpa memberitahu Marvin.
~Dia juga tak menghubungiku untuk bertanya~ ucap hati Dila sambil berjalan cepat.
Sampai di apartemen, Dila langsung masuk ke rumahnya. Dia sangat mengantuk tapi masih tak percaya dengan perlakuan teman-temannya yang terbilang jahat.
Tapi sekarang dia merasa sangat diasingkan. Dia merasa sulit bergerak, bersosialisasi dan malas keluar.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, Rania menghubunginya. Ada rasa kesal di hati Dila saat melihat wajah dan nama Rania di ponselnya. Dia membiarkan ponselnya berdering dan pergi ke kamar mandi.
Suara dering ponselnya berhenti. Selesai mandi, dia keluar dan menatap ponselnya.
~Apa aku telpon balik?~ tanya hatinya.
Dia ragu, dia tak mengambil ponselnya dan berbaring sebentar. Tak lama kemudian, suara ponselnya kembali terdengar. Dila ingin mengabaikannya, namun dia bangun dari tidurnya dan berniat akan menyalahkan Rania atas masalah yang menimpannya kali ini.
"Hallo Dila, apa kabar? Aku sangat merindukanmu" ucap Rania dengan bersemangat.
Dila terdiam saat mendengar suaranya yang begitu bersemangat.
"Hallo, aku baik-baik saja. Ada apa menelpon?" jawab Dila dengan mengusahakan untuk tetap bicara dengan biasa.
__ADS_1
"Tidak, hanya saja, entah kenapa hari ini aku sangat merindukan mu, aku selalu ingat pada mu dari saat tidur, bangun, hingga sekarang saat menelpon mu" ucap Rania polos.
~Apa dia bisa merasakan kekesalan ku?~ tanya hati Dila.
"Kenapa bisa?" Dila menjawab dengan pertanyaan.
"Apa kau baik-baik saja? Semuanya lancarkan di sana? Tak ada yang menyakiti mu kan?" Rania terdengar sangat khawatir.
"Hei Dila, aku sudah bilang kau sudah punya pacar baru yang tampan dan baik. Tapi dia tetap khawatir dan memaksa ingin menelpon mu. Dia bertingkah seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya" suara Vero bicara.
Mereka sedang duduk berdua di Vero's Spaghety. Dila mendengarnya dengan jelas.
"Aku juga sedang mengingat kalian, aku baik-baik saja. Doakan aku, aku akan mengambil kelas tambahan agar bisa lulus lebih cepat" jelas Dila.
"Kenapa?" tanya Rania yang masih khawtir.
"Ingin cepat selesai saja, aku mau cepat pulang ke Jakarta" ucap Dila.
"Aku akan mendoakan kesuksesan mu" ucap Rania.
Rania menatap Vero yang fokus dengan berkas yang dibawanya. Dia merasa memang benar bahwa Dila sedang ada masalah. Tapi melihat Vero yang sangat kerepotan mengurus semuanya dia pun menjauh darinya agar kakaknya itu tak khawatir.
"Jadi aku benar, kau ada masalah. Masalah apa?" tanya Rania.
"Aku tergabung dalam sebuah kelompok bisnis mahasiswa di sini. Tapi, tiba-tiba mereka mengeluarkan ku karena hal yang tak masuk akal. Mereka membicarakan ku di belakang. Aku tersinggung dan aku jadi merasa tak bebas bergerak dan merasa diasingkan. Aku juga jadi malas kemana-mana" Dila akhirnya bicara pada Rania.
"Jangan menghiraukan orang yang menyakiti perasaan mu, kau dan hidup mu terlalu berharga. Kami keluarga mu masih akan selalu bersamamu kan. Kamu nggak sendiri, ada aku dan kak Vero. Tapi karena kamu sedang berjuang sendiri di sana, sebaiknya tanamkan ini di benak mu. Kamu kesana hanya untuk belajar menjadi pembisnis yang handal, perusahaan mu sudah cukup akan menyita waktu mu nanti di sini. Kamu hanya akan bertemu mereka hingga lulus nanti ya kan?" ucap Rania.
"Kau benar, tapi sekarang aku merasa sangat disudutkan" ucap Dila masih mengeluh.
"Hadapi mereka, dengarkan apa perkataan mereka, jika kau salah minta maaf, jika tidak salah abaikan mereka" Rania sangat berusaha membuat Dila merasa tenang.
"Ya, terimakasih Rania. Kau benar, jika aku tidak salah, kenapa aku harus khawatir" ucap Dila.
__ADS_1
"Yup seperti itu!" ucap Rania.
"Kau bicara seolah sangat tahu apa masalah ku" ucap Dila.
"Aku tidak tahu masalah dan semua temanmu, yang aku tahu kau adalah Dila saudari ku" ucap Rania sambil tertawa.
"Ok, aku sangat berterimakasih atas usaha mu menguatkan aku" ucap Dila lagi.
"Ok istirahatlah, i love you!"
"I love you to. Bye!" jawab Dila
"Bye!" pamit Rania.
Dila berpikir lagi, apa yang dikatakan Rania benar.
~Kenapa aku harus sedih, dia saja yang mengalami hal itu tak pernah mengeluh. Kenapa aku jadi lemah seperti ini. Jikalau pun itu benar aku, seharusnya mereka bersimpati dan memberi dukungan padaku, mereka justru mengasingkan ku. Lagipula itu hanya kelompok bisnis antar mahasiswa. Aku menangani mall dan akan juga menangani perusahaan bersama kak Vero. Aku hanya perlu fokus~ ucap hati Dila menjadi semangat setelah mendengarkan ucapan Rania.
Dila mematikan ponselnya dan berbaring. Matanya perlahan tertutup dan diapun tertidur.
Sementara itu, Yudi yang sedang istirahat mendengar seorang mahasiswa membicarakan sesuatu.
"Entahlah, aku merasa bahwa kita seharusnya simpati padanya. Tapi, karena dia masuk kelompok bisnis mereka jadi menganggapnya aib" ucap salah satu wanita.
Yudi melewati mereka, dia melihat foto yang ada di laptop mereka. Langkah Yudi terhenti, dia menatap dengan matanya yang membulat.
~Itu foto Rania saat ditemukan pasca penculikan. Berarti mereka sedang membicarakan Dila~ ucap hati Yudi.
Yudi meminta mereka menunjukkan foto itu sekali lagi padanya. Mahasiswi itu heran namun memberikannya. Yudi membaca captionnya. Dia jadi ingat kejadian saat Dila terlihat sedang bersama Marvin di sebuah pesta yang diadakan orang kaya. Dia yang jadi chefnya.
Yudi melihat beberapa wanita menatap dan membicarakannya. Namun karena Marvin terlihat sedang mengenalkannya pada keluarganya, mereka tak terlalu memperhatikannya.
Yudi merasa ada seseorang yang tak ingin Dila menjadi pasangan Marvin. Yudi juga sudah tahu sejak di klinik bahwa Marvin adalah salah satu putra dari pimpinan klinik itu.
__ADS_1
~Apa mereka sengaja melakukan ini?~ tanya hati Yudi.