Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
85


__ADS_3

Bondan berlari di lorong rumah sakit, dia mencari kemana Rania dipindahkan. Arumi melihatnya, dia mendekat dan memberitahu dimana Rania.


Bondan berjalan perlahan setelah jarak kamarnya mulai dekat, dia melihat Vero berdiri terpaku di depan pintu kamar Rania. Vero melihat Bondan datang. Tatapannya seolah putus asa dengan situasinya.


"Dia mau sendiri katanya" ucap Vero.


Bondan menghela, dia harus menahan diri untuk tak langsung bertemu Rania. Kemudian dia mencari yang lainnya.


"Bu Vera dan Ramadhan?" tanya Bondan.


"Ramadhan mengantar Bu vera pulang, dia terlihat kelelahan karena menjaganya juga cemas karena dia tak mau bicara" jelas Vero.


"Kalian juga terlihat lelah, aku akan menjaganya. Pulanglah!" ucap Bondan.


Vero mengangguk, dia mengajak Arumi pulang.


"Ouh ya, Pak Nurdin akan datang menemani mu" ucap Vero.


"Ok" jawab Bondan.


Bondan duduk mengatur nafasnya karena terengah yang dia sembunyikan dari Vero. Dia sangat ingin masuk dan memeluk Rania. Namun ingat dengan kata-kata Vero, Rania ingin sendiri.


Dua jam berlalu, dia melihat jam pemberian Rania di tangannya. Dia mengatur nafas, dia merasa sudah tak bisa mengendalikan diri lagi. Dia memutuskan untuk masuk, dengan perlahan dia membuka pintu.


Rania duduk di ranjangnya menatap jendela kaca yang memperlihatkan langit malam yang bertabur bintang. Dia menengok sedikit mendengar pintu terbuka perlahan.


"Pergi! Aku tidak bisa menemuimu" ucap Rania.


~Dia bicara padaku!~ ucap hati Bondan.


"Kenapa?" tanya Bondan.


"Pergi saja, aku, aku sudah tidak pantas lagi Bondan. Jadi pergilah!" ucap Rania dengan tangisnya.


Bondan nekat mendekat dan memeluknya. Rania berusaha menjauh, dia tak mau dipeluk Bondan karena merasa buruk dan kotor menjadi korban pemerkosaan.


"Tidak, jangan minta aku menjauh darimu. Aku mohon!" ucap Bondan.


Dia terus berusaha agar bisa memeluk Rania. Dan akhirnya dia bisa membuat Rania menyerah dan menangis dalam pelukannya.


"Maafkan aku, karena aku menjauh darimu kemarin. Aku terlalu fokus pada rasa sakitku, sampai mengabaikan rasa sakit mu. Maafkan aku" ucap Bondan berulang kali.


Tangisannya pecah dalam pelukan Bondan. Dengan penuh kelembutan, Bondan membelai rambutnya.


Dila yang baru sampai melihat pemandangan itu di ambang pintu, dia mundur perlahan. Wajahnya terlihat sangat kesal. Dia menggenggam ponselnya dengan keras.

__ADS_1


~Dia sadar dan hanya mau bicara pada Bondan. Aku sangat kesal Rania, kenapa kau tidak depresi saja. Kenapa tidak membiarkan aku sekali saja mendapatkan apa yang aku mau~ ucap hati Dila.


Dia duduk di kursi tunggu. Dia menunggu Bondan keluar dan akan bersikap manis padanya. Namun Bondan tak keluar hingga larut malam. Hingga datang Pak Nurdin yang tersenyum padanya.


"Nak Dila!" sapa Pak Nurdin.


Dila menatap sinis padanya, dia berdiri dan pergi tanpa membalas sapaan Pak Nurdin.


"Mau kemana?" tanya Pak Nurdin.


Dila bergegas pergi, Pak Nurdin terheran.


"Cuma mukanya aja yang sama, sifatnya beda" gumamnya.


"Ada apa Pak?" tanya Bondan.


Dia baru keluar.


"Tadi ada...siapa ya namannya? Duh...kembarannya Rania!" ucap Pak Nurdin berpikir.


"Dila Pak!" jawab Bondan sambil tersenyum.


"Oh iya lupa. Lah dari dalem? Katanya nggak mau ngomong, trus sekarang gimana?" tanya Pak Nurdin cemas.


"Dia tidur Pak. Dia masih nangis, mungkin bayangan kejadian hari itu belum bisa hilang" jelas Bondan.


"Ouh iya, katanya pelakunya udah ketemu, udah di tangkap?" tanya Pak Nurdin.


"Udah Pak!" jawab Bondan.


"Syukurlah, sekarang tinggal ngehibur Rania supaya bisa cepat pulang. Nggak akan nyaman kalo lama-lama tinggal di rumah sakit" ucap Pak Nurdin.


"Iya Pak!" ucap Bondan.


Pak Nurdin memegang tangan Bondan.


"Jaga dia ya, babe percaya, kamu bisa nerima dia apa adanya. Kamu juga bisa bahagiain dia kan?" ucap Pak Nurdin.


Mereka berbincang dengan suara perlahan. Obrolan tentang masa kecil Rania dan kenakalannya dulu. Sifat-sifat baik dan penyayangnya yang tak pernah berubah.


###


Dila pulang ke rumah Ruby, dia melihat seorang pria berdiri di depan pagar dengan menggunakan jaket dan penutup kepala.


"Hei, siapa kamu? Mau nyuri ya?" teriak Dila.

__ADS_1


Orang itu menengok.


"YUDI!" Dila terkejut.


Namun dia lansung tak merasa heran. Dia melenggang mendekat dan melipat tangannya di perut.


"Kenapa? Mencari Rania?" tanya Dila ketus.


Yudi menatapnya dengan mata sayunya, dia tak menjawab.


"Apa kau tidak tahu kalau dia jadi korban penculikan dan pemerkosaan?" ucap Dila.


Yudi membulatkan matanya dan memegang tangan Dila.


"Apa? Pemerkosaan?" ucap Yudi.


"Lepas! Tanganku sakit tahu!" tepis Dila.


"Dimana dia?" tanya Yudi.


"Heuh...kamu bener-bener brengsek, aku udah kasih kamu semuanya. Tapi masih Rania yang ada di pikiran mu. Ingat dia korban perkosaan, jijiklah sedikit" ucap Dila.


Yudi tak memperdulikan ucapan Dila, dia menghempas tangannya kemudian pergi. Dila menatapnya kesal.


"Dasar pria sialan, kau memanfaatkan kebersamaan dengan ku karena membayangkan wajah Rania. Aku benar-benar bodoh karena berharap kau bisa merubah cinta mu. SIALAN!" teriak Dila.


Yudi berjalan terus meninggalkan dan tak memperdulikan teriakannya. Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Arumi.


"Rumah sakit mana?" tanya Yudi langsung.


Arumi yang terbangun dari tidurnya, mendengar suara kakaknya yang menanyakan nama rumah sakit, dia sudah paham pada pertanyaannya.


"Nggak usah kesana, udah banyak yang jagain dia. Pulang aja, tidur sana!" ucap Arumi.


Yudi menghela, dia mengerti bahwa dia memang hanya akan membuat Rania semakin sedih.


"Aku mau pergi ke Amerika besok, setidaknya biarkan aku melihat wajahnya sekali saja" ucap Yudi putus asa.


Arumi terdiam mendengar ucapan kakaknya. Dia pun mengatakan nama rumah sakit itu. Yudi bergegas pergi ke sana.


Sampai disana, dia melihat Pak Nurdin di kursi tunggu, dia paham ruangan Rania pasti di dekatnya. Dia menemukannya, namun berhenti di depan pintu saat melihat Bondan sedang duduk menatap Rania yang sedang tidur.


Yudi merasa tak punya kesempatan lagi agar bisa menemui Rania untuk yang terakhir kalinya. Dia mundur perlahan dan berjalan menjauhi ruangan Rania.


Langkahnya tak bernyawa, seolah tanpa arah dia berjalan mengikuti kesedihannya.

__ADS_1


~Jika saja dulu aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dan membutuhkan mu di sampingku. Hingga kau berpikir kembali untuk menolak pekerjaan itu dan tetap tinggal bersamaku, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi Rania. Hari ini hari terakhirku ku menemui mu dan melihat seorang pria yang mendampingi mu di masa terburuk mu, menjaga tidurmu, dan memastikan kenyamanan mu. Aku tidak lega Rania, aku semakin sakit, merasa semakin sesak, aku tidak pernah bisa mengatakan dengan lugas bahwa aku mencintaimu. Sehingga seseorang masuk dan menjadi cintamu. Aku akan selalu menderita dengan sesal ini Rania~ ucap hati Yudi dalam perjalanannya.


Semua kenangan masa lalu bersama Rania muncul dan membuatnya kembali meratapi penyesalannya.


__ADS_2