Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
114


__ADS_3

Marvin demam dan menggigil, dia sakit dan dehidrasi karena tak ada yang merawatnya sejak kemarin malam. Dila yang panik meminta Michael untuk membantunya mengantar Marvin ke klinik.


Dila tak sempat memberitahu Dina yang masih terlelap tidur. Dia terlalu panik dan hanya memakai pakaian tidur saat masuk ke Emergency Unit.


Beberapa teman Marvin terkejut dengan keadaannya. Dia juga melihat Dila yang pucat pasi.


"Duduklah, dia akan diperiksa" ucap temannya.


Dila duduk perlahan, dia melihat situasi rumah sakit yang hening. Meski ada beberapa orang yang juga masuk Emergency Unit, tapi dia merasakan hening di kepalanya.


Akhirnya Marvin mendapat penanganan. Dia mengalami infeksi di lambungnya karena tak terbiasa mengkonsumsi minuman dalam jumlah banyak. Selain itu dia mengalami mal nutrisi.


"Sepertinya dia tak cukup makan beberapa hari ini" ucap Dokter.


"Ok thanks doc!" ucap Dila.


Beberapa saat kemudian, Dina menelponnya karena terbangun dan melihat Dila tak ada di rumah.


"Dimana? Kok pergi?" tanya Dina.


"Klinik, Marvin sakit. Aku tadi melihatnya dan untungnya aku kesana tadi" jawab Dila.


Dina mengangkat alisnya, Dila bersikap sama seperti pada Beni dahulu. Panik karena Beni sakit dan mulai memperhatikannya setelah kejadian itu.


"Sudah hubungi keluarganya?" tanya Dina.


"Sudah, tapi tak ada yang menjawab. Aku akan menunggunya dulu" ucap Dila.


"Aku terbang pukul sembilan pagi. Jika kau tak pulang aku pergi sendiri" ucap Dina.


"Maafkan aku Din!" ucap Dila.


"It's ok!" jawab Dina.


Dila menatap Marvin dan duduk di sampingnya. Ada perasaan lega karena dia sudah ditangani dokter, namun ada perasaan takut karena dia masih terlihat lemah.


~Kau ini kenapa? Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Apa foto itu membuat mu sangat risau? Kenapa jadi begini?~ hati Dila tak bisa tenang.


Dila tidur di sampingnya dengan tangan melipat di perut dan kepala bersandar ke tembok.


Menjelang pagi, kabar Marvin masuk ke klinik sampai pada Jason. Dia bergegas ke klinik untuk melihat keadaannya. Memeriksa ponsel, beberapa panggilan tak terjawab dari Dila terlihat. Jason merasa bersalah karena tak menjawabnya.


Sampai di klinik, Jason masuk ruang emergency unit dan melihat Marvin terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Dia menatapnya dengan sedih, teringat saat dulu dia berada dalam situasi yang sama karena sedih yang berlarut saat kehilangan ibunya.


Dia tak pernah mau pulang ke rumah setelah merasa mampu hidup sendiri. Tak pernah mau menerima Jessie sebagai ibu tirinya. Tak pernah menerima pernikahan mereka yang terjadi hanya beberapa bulan setelah ibunya meninggal.


Jason sudah salah langkah, tujuannya agar Marvin punya ibu baru dan tak merasa kesepian, malah menjadi senjata yang menjauhkannya dari anaknya seiring berjalannya waktu.


Kini, semakin dia sulit mengetahui isi hati Marvin karena dia menghindari ayahnya. Jason mendekat dan melihat Dila juga tertidur. Dia menyentuh tangan Dila untuk membangunkannya.


Dila bangun, matanya terbuka dan melihat Jason. Mereka keluar dan membicarakan keadaan Jason.


"Dia butuh orang untuk merawatnya" ucap Dila.


"Kalau begitu rawatlah dia Dila, sekarang hanya kamu yang dia butuhkan" ucap Jason.

__ADS_1


"Tapi Jason!" Dila enggan.


"Kenapa? Karena kesalahpahaman kalian?" tanya Jason.


Dila berpikir kabar ini sudah sampai pada Jason dan membuatnya semakin khawatir.


"Please Dila, jadilah pendampingnya. Aku melamar mu untuknya" ucap Jason.


"Tunggu, kau belum tanyakan apa yang dia inginkan. Kesalahpahaman kami membuatnya ragu untuk bersamaku. Jangan mengatakan itu dulu" ucap Dila.


"Baiklah, nanti saat dia bangun, kita tanyakan apa yang dia inginkan" ucap Jason.


Pagi menjelang siang, Dina bangun dan merapikan kopernya. Ponselnya berdering, Yudi memastikan Dina berangkat tepat waktu.


"Kau berangkat dengan Dila?" tanya Yudi.


"Tidak, dia...."


Dina berhenti bicara ragu untuk mengatakan dimana Dila.


"Kenapa dia?" tanya Yudi sambil memakai jaketnya.


"Dia di klinik, Marvin drop, Dila membawanya semalam" ucap Dina tak bisa menyembunyikannya.


"Ok, aku akan mengantar mu kalau begitu" ucap Yudi.


"Aku bisa naik taksi Yud!" jawab Dina.


"Sebentar lagi aku sampai disana!" ucap Yudi tak menerima penolakan Dina.


Dina senang sudah memberikan kesan baik di kampusnya itu. Kini dia harus kembali, karena tujuannya datang kesana hanya untuk membantu Yudi menyelesaikan kesalahpahaman antara Dila dan Marvin.


Tak berapa lama, Yudi datang. Penjaga melambaikan tangan padanya. Dina memperhatikannya dan mengerti bahwa mereka sudah pernah bertemu. Dina naik dan merangkul Yudi. Mereka pergi ke bandara.


Di klinik, Marvin mulai sadar dan membuka matanya perlahan. Dia melihat Dila sedang merapikan selimutnya. Marvin baru saja dipindahkan ke kamar rawat.


Dila belum tahu Marvin sudah membuka matanya. Dia langsung merapikan makanan yang harusnya dimakan Marvin di meja. Dila hendak pergi, namun tangan Marvin menghentikannya.


Dila menoleh, matanya membelalak kemudian tersenyum.


"Kamu sudah bangun?" tanya Dila.


Dila mendekat dan memencet bel untuk memanggil suster. Dia memegang kening Marvin dan memeriksa keringat di lehernya.


"Sudah tidak demam" ucapnya.


"Maafkan aku!" ucap Marvin.


Dila menggenggam tangannya. Kemudian suster datang.


"Ada yang bisa di bantu?" tanya suster karena tahu yang dirawat di kamar itu adalah anak pimpinan.


"Tolong periksa, dia sudah bangun" ucap Dila.


Suster kembali untuk membawa peralatannya bersama dokter. Marvin diperlakukan istimewa. Saat diperiksa, Marvin melihat Dila yang masih memakai piyama tidurnya.

__ADS_1


"Dia sudah membaik. Semuanya baik-baik saja" ucap Dokter.


Dila tersenyum dan mendekat.


"Terimakasih Dok!" ucap Dila.


Suster dan Dokter pergi. Dila duduk di sampingnya.


"Kau mau minum?" tanya Dila.


"Tidak!" jawab Marvin.


Dia menyentuh tangan Dila, kemudian menggenggamnya. Dila menatapnya.


"Maafkan aku! Seharusnya aku percaya padamu" ucap Marvin.


Dila mengira Marvin sudah melihat video Dina yang meyakinkan semua orang bahwa Dila bukan wanita yang ada di foto itu.


"Sudahlah, aku juga tidak apa-apa sekarang" ucap Dila melepas tangan Marvin.


"Kau pasti kesal aku tak percaya padamu dan hanya percaya pada Chloe" ucap Marvin.


"Sudah ku bilang lupakan! Semua sudah selesai, Dina kan sudah mengatakan kalau itu bukan aku" ucap Dila.


"Siapa Dina" tanya Marvin.


"Kau tak lihat grup sosmed?" tanya Dila.


"Aku tak sempat melihat ponsel. Perutku sakit sejak pagi" ucap Marvin.


"Lalu kenapa kamu minta maaf?" tanya Dila.


"Ya minta maaf karena tidak percaya, kalau kau bilang bukan itu berarti bukan. Seharusnya aku tidak ragu setelah setahun bersamamu" jelas Marvin dengan suara parau.


Dila menatap Marvin, dia merasa bahwa Marvin menyesalinya. Tapi, masih ada pertanyaan yang belum terjawab, siapa yang memberitahu Dina tentang kejadian ini.


Dila menatap ponselnya yang memuat pesan suara Dina.


"Aku mau keluar dulu" ucap Dila.


Marvin mengangguk dan kembali berbaring. Dila mendengarkan pesan Dina yang memberitahunya bahwa dia sudah naik pesawat. Dia sudah menyuruh seseorang mengirim pakaian untuknya ke klinik.


Tak berapa lama seseorang datang menyerahkan pakaian untuknya. Dila menatap orang itu yang tidak lain adalah Yudi. Dengan senyum, Yudi memberikan tas yang disediakan Dina sebelum dia keluar dari apartemen.


"Dina bilang dia hanya mengambil yang sekiranya kamu butuhkan. Kalau ada yang mau diambil katakan saja pada ku" ucap Yudi.


Dila menatap Yudi dengan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Dia menebak Yudi yang membantunya, tapi dia tak begitu mengetahui tentang Dina. Jikalau pun tahu pasti dari Rania atau Vero.


Saat dia ingat Yudi menerima perlakuan manis Jolie, Dila mengalihkan pandangannya dan mengambil tas yang diberikan Yudi.


"Tidak usah, aku bisa nyuruh sepupu Marvin untuk memgambilnya. Terimakasih!" ucap Dila.


"Ok, aku pamit, bye!" ucap Yudi.


Dia berjalan keluar, Dila kembali menatapnya saat hendak masuk ke kamar Marvin. Yudi berjalan lurus sambil memegang ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2