Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
96


__ADS_3

Brian memberikan ponsel milik pria yang ditusuk itu. Dila membukanya, matanya membulat, terkejut dengan wallpaper ponsel itu.


"Yudi!" gumam Dila.


Foto Yudi yang sedang merangkul bahu Arumi menjadi wallpapernya.


"Kamu kenal dia?" tanya Brian.


Dila mengangguk, dia mencari nomor Arumi.


"Bantu aku bicara dengannya, please!" ucap Brian sambil pergi mencatat sesuatu dan menghubungi ambulance.


Dila menelan ludah, dia memang tak masalah jika harus bicara dengan Arumi. Tapi, untuk mengabarkan bahwa Yudi kecelakaan, itu membuatnya ragu.


"Hallo!" sapa Arumi.


Dila belum bicara.


"Apa kak? Aku baru saja terlelap" keluh Arumi.


"Hallo!" Arumi semakin keras bicara.


Brian memberi kode pada Dila rumah sakit yang akan dituju.


"Ya nyonya, kami dari Harvard Clinic Square, pemilik telpon sedang dalam perawatan kami, dia menjadi korban penusukkan yang terjadi di dekat restoran tempatnya bekerja" ucap Dila dengan merubah gaya bicaranya.


"Apa? Benarkah? Oh ya terima kasih, aku akan kesana segera " ucap Arumi.


Arumi menutup telponnya, Dila mengangkat dahinya.


"Bagaimana bisa dia langsung kesini?" gumam Dila.


Dila memberikan ponsel pada Brian, namun dia menolaknya.


"Ikut dengan kami ya? kami benar-benar sedang butuh bantuan, kru kami sedang terpencar di beberapa titik" ucap Brian.


"oh ayolah, Brian. Aku harus pulang sekaranf!" keluh Dila.


"Aku mohon sekali ini saja, aku sangat butuh bantuan mu" Brian memohon.


Dila memandang Yudi yang sedang dimasukkan ke mobil ambulance, kemudian beralih pada Brian yang sibuk menghubungi temannya.


"Ok, aku akan ikut dengan mu" jawab Dila setelah berpikir.


Dia masuk ke ambulance dan duduk di sebelah Yudi. Dia tak begitu khawatir karena luka Yudi tak terlalu dalam. Dia hanya pingsan karena kedinginan dan terlihat lelah.


Dila menatap wajahnya yang membeku. Dia membantunya menghangatkan tubuh dengan menggosok telapak tangannya.


"Ini hanya karena kemanusiaan, tidak lebih" ucap Dila bergumam.


Dia menegaskan hatinya bahwa dia menolong Yudi hanya karena rasa kemanusiaan.

__ADS_1


Sementara Arumi sedang menggaruk kepalanya walaupun tak gatal. Dia kebingungan, bagaimana bisa dia ke Amerika dalam satu atau dua jam. Ini akan memakan waktu, belum lagi tak bisa membeli tiket dengan mendadak.


Arumi berdiri dan mondar-mandir kebingungan, dia khawatir tapi lebih banyak panik dibandingkan solusi yang hadir dalam otaknya.


Kemudian dia melihat fotonya bersama Vero di meja ranjang. Dia baru teringat, Vero sedang mengantar Dila ke Amerika.


"Dia pasti sudah sampai, ini sudah siang di sana. Aku akan nelpon dia" ucap Arumi.


"Tapi, apa dia akan mau melihat keadaan Yudi, dia kan cukup kesal padanya" keluh Arumi.


Namum dia mencobanya, lagi pula tak ada jalan lain. Tak berapa lama Vero mengangkat telponnya.


"Ya sayang, kenapa? kau membatalkan permintaan mu? aku senang jika kau menghubungi untuk membatalkannya"


Vero yang baru bangun tidur menjawab tanpa jeda karena senangnya Arumi menghubunginya.


Arumi membulatkan matanya, dia tak menyangka bahwa Vero sangat ingin dia membatalkan permintaannya untuk saling menjauh dulu. Dia mendapat ide untuk membuat Vero mau menemui Yudi di rumah sakit.


"Oh, aku akan membatalkan permintaan ku dengan satu syarat. Apa kau bisa?" tanya Arumi sebelum mengatakan syaratnya.


"Aku bisa, jikapun tidak bisa, aku akan memaksakan diri. Apa itu?" tanya Vero langsung ke kamar mandi membasuh wajahnya.


"Yudi" ucap Arumi.


Vero menghela, dia malas mendengar nama kakak dari pacarnya itu.


"Dia mengalami kecelakaan, seseorang menusuknya, aku tak bisa langsung ke sana. Bisakah kau melihat keadaannya di Harvard Square Clinic?" jelas Arumi terbata.


Dia bergegas berganti pakaian dan bersiap. Dia berpikir seolah ada yang harus dia cari dan temukan.


"Ah ya, Dila" ucapnya saat mengingat bahwa dia harus pamit padanya.


Saat keluar dari kamar, tak terlihat Dila dimanapun. Dia menelpon Dila.


"Dimana?" tanya Vero.


Dila kebingungan, dia masih menunggu Brian di lobi klinik setelah membantu Yudi mendapatkan penanganan.


"Aku, jogging baru sampai depan klinik" jawab Dila.


"Ouh, jangan lama-lama berhenti di klinik, cepat pulang! aku akan pergi sebentar, ya!" ucap Vero.


Dia tak mau Dila bertemu dengan Yudi di klinik.


"Ok!" jawab Dila.


Tanpa menunggu Brian, dia pergi kembali ke apartemen.


Sedangkan Vero membawa mobilnya menuju klinik. Sampai disana dia melihat seorang polisi baru datang.


"Permisi, aku teman dari korban penusukkan yang terjadi pagi ini, bisakah kau beritahu dimana dia sekarang?" tanya Yudi.

__ADS_1


"Oh tentu saja, silahkan sebelah sini" ajak Brian pada Vero.


Brian membawanya ke ruang pemeriksaan dan bicara pada dokter. Setelah bicara dan mendengarkan semua ucapan polisi, Vero keluar dan menghubungi Arumi.


"Sayang, Yudi baik-baik saja. Untungnya lukanya tak terlalu dalam. Polisi sedang menyelidiki siapa yang menusuknya. Tapi polisi menduga Yudi dirampok. Soalnya dompetnya kosong tergelatak di jalan" jelas Yudi setelah Arumi menjawab dan langsung menanyakan kakaknya.


"Astaga, tapi syukurlah dia baik-baik saja" ucap Arumi cemas sekaligus lega.


"Apa aku bawa saja dia pulang sekalian?" Vero memberi ide.


"Kenapa? Apa dia ingin pulang?" tanya Arumi.


"Nggak, dia masih tidur. Hanya saja, tempatnya bekerja ternyata dekat dengan kampus. Aku nggak mau..." Vero tak melanjutkan ucapannya.


"Nggak mau dia dekat sama Dila?" Arumi melanjutkan.


"Maaf, dia temanku sekaligus kakakmu, tapi jika dia beresiko menyakiti Dila lagi, aku harus menjauhkannya" jelas Vero.


"Baiklah, tanyakan saja padanya apa dia mau pulang!" ucap Arumi.


"Kau marah?" tanya Vero.


"Aku sangat menyayanginya Vero, sama besarnya dengan mencintaimu, aku harus memilih kan?" ucap Arumi.


"Terimakasih!" Vero paham dengan ucapannya.


Vero kembali ke ruang pemeriksaan dan melihat Yudi sudah bangun. Dia memaksakan diri untuk duduk dengan menahan rasa sakitnya.


"Jangan bangun dulu!" ucap Vero khawatir.


Vero menatap wajahnya yang pucat. Tak ada yang berubah, tapi dia jauh lebih segar dibandingkan saat suka mabuk-mabukan di Jakarta.


"Aku takkan menghampiri Dila, aku berjanji" lirih Yudi.


Vero terkejut mendengarnya.


"Kamu denger?" tanya Vero.


Yudi mengangguk sambil meringis menahan sakitnya.


"Untunglah kamu sedang di sini. Aku jadi ada yang menemani. Terimakasih sudah mau datang" ucap Yudi.


"Sama-sama, apa harus aku panggilkan suster dan dokter?" tanya Vero.


"Nggak usah, aku baik-baik saja" jawab Yudi.


"Ok, aku akan menunggu mu di luar, aku harus menelpon lagi" ucap Vero.


Yudi hanya mengangguk. Dia menatap tangannya yang tadi digosok Dila. Terngiang ucapannya yang menegaskan hatinya bahwa dia hanya menolong karena rasa kemanusiaan.


~Terimakasih karena masih menganggapku manusia, setelah perlakuan ku yang tak manusiawi padamu~ ucap hati Yudi.

__ADS_1


__ADS_2