
Pagi cerah, rumah Ruby tersorot mentari dan membuatnya terlihat seperti istana. Rania masih diam di kamarnya. Kejadian semalam membuatnya berpikir sangat keras. Dia takut terjadi sesuatu pada Beni. Semalam dia bolak-balik ke kamar Beni untuk memastikan dia baik-baik saja.
Hingga Bondan benar-benar kesal dan memintanya untuk kembali ke kamarnya dan berhenti khawatir. Bondan menarik tangannya dan membuatnya tidur dalam pengawasannya. Rania yang masih kesal membalikkan badannya agar tak melihat wajah Bondan karena masih kesal padanya.
Bondan sedih karena Rania lebih khawatir dengan Beni dibandingkan dengan perasaannya yang sedang ingin bersamanya sekarang. Namun dia sangat paham, Rania takut Beni melakukan bunuh diri lagi. Dengan susah payah dia membawa Beni hingga titik ini. Hal yang tak satupun dari keluarga ini hingga Dila tak bisa lakukan.
Kedatangannya membuat Beni sangat stabil. Kesabarannya, kelembutannya hingga ketelatenannya bukan hanya membuat Beni jatuh cinta, juga membuat Bondan tak mau dia dimiiliki Beni. Bondan menjadi egois karena merasa sudah bertemu Rania terlebih dulu. Dia yang sangat mengenal bagaimana Rania dan keluarganya.
Rania tak tidur, dia hanya memejamkan mata nya. Dia juga tak ingin membuat Bondan khawatir. Bondan pergi setelah menunggu Rania terlihat terlelap. Dengan membelai rambut Rania, dia sebenarnya sangat ingin bersamanya lebih lama. Namun dia harus menyiapkan diri menghadapi Beni, Ibunya juga Anita.
Mata Rania masih menatap jendela tempat mentari terlihat jelas. Suara ketukan pintu terdengar.
"Mba Rania! Hari ini ngga ada yang datang ke meja makan" ucap Hedi.
Bukannya memberitahu Anita tentang hal itu, kini Hedi pun lebih nyaman mengatakannya pada Rania.
Rania datang ke pintu dan membukanya.
"Udah ngasih tau Bu Anita?" tanya Rania sambil keluar ikut bersama Hedi ke ruang makan.
"Bu Anita pergi pagi sekali. Mba Dina juga. Pak Bondan lagi siap-siap berangkat. Pak Beni juga" jelas Hedi.
Langkah Rania terhenti mendengar Beni bersiap.
"Beni mau kemana?" tanya Rania.
"Ke kantor!" jawab Hedi.
Tak lama, Bondan datang sambil tersenyum. Dia mendekat pada Rania dan mencium pipinya.
"Pagi sayang!" ucap Bondan.
Hedi kembali tanpa bicara meski terkejut bos nya dengan mudah merubah kebiasannya.
Rania menjadi canggung di hadapan Hedi dan kemudian menatap kedatangan Beni yang sedang memakai jam di tangannya.
Pakaian Beni rapi, kemeja dengan celana katun yang serasi. Dia juga mengaitkan jas di lengannya. Dengan tersenyum menatap Rania.
"Hai....pagi! Mana yang lain? Momi sama Dina ngga sarapan?" tanya Beni.
Sikapnya sangat berbeda dengan semalam. Sedihnya menghilang, raut wajahnya segar dan memancarkan senyum yang riang. Dia juga menepuk bahu Bondan dengan luwesnya, seolah mereka adalah saudara yang sangat dekat.
"Dina pergi lebih dulu katanya, momi juga bilang ada urusan dan pergi" jawab Bondan.
Beni duduk menyantap roti dengan selai kacang kesukaannya. Dia juga menyeruput susu dan sangat menikmatinya. Sesekali bertanya pada Bondan apa yang akan mereka lakukan hari ini di kantor. Bondan menjawabnya seperti biasanya.
Rania masih terdiam, dia masih tak bisa percaya dengan apa yang dia lihat. Merasa semua ini tak mungkin.
~Bagaimana mereka bisa melupakan kejadian semalam?~ ucap hati Rania.
__ADS_1
Kemudian, Bondan berdiri.
"Aku sudah selesai, kamu ngga makan sayang?" tanya Bondan.
Dia mendekat dan memeluk pinggang Rania. Tentu saja Rania segera melepasnya untuk menjaga perasaan Beni. Namun Beni malah mengambil ponselnya.
"Tetap pada posisi itu!" ucap Beni.
Dia memotret Rania dan Bondan yang memeluk pinggangnya. Rania semakin merasa bingung.
"Kalian baru punya foto bersama sekarang" ucap Beni sambil menunjukkannya pada mereka.
"Kirim padaku!" pinta Bondan.
Beni mengirimkannya. Rania tak tahan, dia menarik tangan Bondan dan mengajaknya ke ruang depan menjauh dari Beni.
"Apa semua ini? Bagaimana bisa kalian...?"
"Aku bicara dengannya semalam....dan dia menerima semua ucapan ku sebagai kakaknya" ucap Bondan menyelak Rania.
"Apa yang kamu bilang sama dia?" tanya Rania masih penasaran.
Bondan tersenyum dan meraih tangan Rania.
"Kamu ngga usah khawatir, Beni sudah stabil sekarang. Dia bisa menerima semua dengan baik. Masalah kolega, aku yang akan urus" ucapnya.
"Bukan, aku tidak peduli dengan kolega. Aku hanya peduli dengan kalian. Aku tidak mau kalian tersenyum padahal hati kalian menyimpan rasa sakit yang dalam"
"Kau juga merasakan hal itu selama ini bukan? Aku dan Beni sudah sepakat. Kami akan membuat mu berhenti memendam kesedihan. Dan aku akan membuat mu bahagia" ucap Bondan.
Rania menatap wajah Bondan yang terlihat sangat yakin. Bondan mencium kening nya dan pamit bekerja.
"Aku berangkat!" ucap Bondan.
Dia berjalan kemudian berhenti dan berbalik.
"Hari minggu ini! Kita akan ke rumah mu" ucap Bondan sambil mengedipkan satu matanya.
Rania menghela, dia berpikir tentang apa yang tidak Bondan ketahui. Hubungan nya dengan Vero dan Dila. Dan yang lainnya. Rania berjalan kembali ke dalam, tiba-tiba ponsel nya berdering. Panggilan dari Vero.
"Iya Bang!" ucap Rania.
"Nuri kecelakaan! Kau harus menemuinya, di rumah sakit Harapan Bunda" ucap Vero langsung ke intinya.
Mata Rania membelalak, tak bertanya lagi, dia langsung mengambil tas nya menuju rumah sakit. Beni melihatnya, dia menawarkan diri untuk mengantar nya.
"Mau kemana?" tanya Beni dari dalam mobil.
"Harapan Bunda!" jawab Rania.
__ADS_1
"Masuklah!"
Rania masuk dan memakai sabuk pengaman.
"Siapa yang sakit?" tanya Beni sambil menginjak pedal gas.
"Nuri! Sahabatku" ucap Rania.
Beberapa hari lalu Rania menemuinya dan melihatnya sedang bersama pria. Hand manner mereka terlihat sangat menunjukkan hubungan mereka sudah sangat dekat. Rania mengajak Nuri makan siang. Dia terlihat sangat senang bertemu dengan Rania. Mereka saling melepas rindu.
Nuri juga menceritakan kisahnya bertemu dengan pria itu. Ryan namanya, dia membuat Nuri merasa sangat dimanjakan.
"Kalian sudah berhubungan itu?" tanya Rania.
Nuri tersenyum dan mengangguk.
"Aku tidak mau munafik Rania, hal itu sudah lumrah dalam berpacaran. Tapi dia sendiri yang bilang akan menikahi ku"
Rania melihat raut wajah yang sangat bahagia itu. Namun tak bisa membiarkannya berlarut-larut.
"Kalo aku minta kamu putus sama dia, kamu bakalan mikirin hal itu ngga?" ucap Rania.
Nuri menatap dengan mata yang heran.
"Kenapa? Apa cuma kamu yang berhak dicintai dan mencintai?" nada bicara Nuri terdengar kesal.
"Bukan gitu!" Rania coba menjelaskan.
"Aku kira kamu bener-bener sahabat aku, tapi ngga, kamu iri denger aku punya hubungan dengan pria tampan. Kamu sendiri ngga bisa kembali sama Yudi karena dia lebih memilih orang yang mirip kamu tapi lebih berpenampilan menarik, iya kan?"
"Kamu paham banget gimana aku, sejak awal aku pergi, aku sudah lepas semuanya. Tapi aku ngga akan biarin kamu tersakiti Nuri"
"Oke...oke...dengan penampilan baru kamu datang dan bilang aku harus putus dengan Ryan. Hebat kamu ya! Sebenernya aku ngga perlu nanya ini karena bener-bener ngga penting. Tapi...aku mau tau alasannya, katakan!"
"Dia bukan orang baik!" jawab Rania singkat.
Nuri menyeringai menertawakan ucapan Rania.
"Fine, lalu siapa yang baik? Ayah mu? Hanya ayah mu kan?"
"Nurr.....!"
"Cukup Rania, aku akan maafin kamu karena permintaan mu tidak beralasan. Tapi aku akan menjaga jarak kita. Bye"
Nuri pergi meninggalkan Rania sendiri.
Rania menangis mengingat hal itu. Beni melihatnya dan semakin khawatir.
"Ada apa?"
__ADS_1
Rania menangis tak menjawab, Beni berusaha mengerti. Dia mempercepat laju mobil.