Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
107


__ADS_3

"Kamu nggak makan seharian ini?" tanya Yudi.


Dila masih diam.


"Ada bahan masakan apa di kulkas? biar aku masakin" ucap Yudi.


"Nggak usah, aku bisa sendiri. Bentar lagi juga lemesnya ilang" ucap Dila.


Yudi menatapnya, dia merasa bahwa Dila ingin memperlakukan dirinya seperti saat Yudi sakit dulu. Membuat jarak antara mereka lagi. Dia menyadarinya dan menuruti keinginannya.


"Okey, aku pulang" ucap Yudi.


Dila menyesal mengatakan bisa masak sendiri. Dia menelan ludahnya mendengar Yudi pamit pergi. Dia kebingungan dan mencari alasan agar Yudi tinggal untuk beberapa waktu.


Namun sayang, Yudi sudah keluar. Dila sudah kehilangan kesempatan dan pergi. Kini dia tak tahu kapan dia akan kembali bertemu dengannya lagi.


Dila menutupi kepalanya dengan selimut. Merengek dalam selimut karena menyesal. Yudi yang tak jadi pulang melihatnya di ambang pintu, dia tersenyum melihat tingkah Dila.


"Aku masakkan ya!" seru Yudi.


Dila mendengarnya, dia terkejut tapi juga merasa senang Yudi kembali. Dia membuka selimutnya melihat Yudi yang berlalu menuju dapur. Kemudian Dila menyadari sesuatu.


"Berarti tadi dia lihat aku merengek?" gumam Dila.


Dila menggigit selimut dan merengut. Banyak tingkahnya sendiri yang dia sesali. Sementara itu, Yudi memasak dengan senyum di wajahnya. Dia menertawakan tingkah Dila yang sama sekali tak berubah.


~Aku pikir, menyebarnya foto itu akan membuatnya bimbang dan merasa sedih. Tapi dia adalah Dila, orang yang selalu riang dan punya hati yang kuat. Kalaupun dia merasa tak nyaman, dia akan memaksakan keinginannya agar bisa nyaman~ ucap hati Yudi.


Yudi jadi ingat saat menelpon Rania, dia tak terkejut dengan berita yang disampaikan Yudi. Rania malah terdengar sedikit tertawa dan mengucapkan terima kasih. Yudi juga ingat saat Rania berkata bahwa dia harus menjaga Dila. Hanya Yudi yang bisa mengendalikan sifat kekanakan Dila. Hanya Yudi yang diinginkannya berada di sisinya selamanya.


Yudi selesai masak, dia menyajikannya di meja di depan tv.


"Makanan sudah siap, keluarlah!" seru Yudi.


Dia mengambil piring dan sendok untuk Dila. Sedangkan Dila keluar dengan memakai sweaternya. Memandang Yudi yang berjalan ke arah dapur. Dila duduk di sofa dan menatap masakannya.


Yudi datang dan duduk di sampingnya. Dila menjaga jarak, Yudi melihatnya namun melanjutkan mengambilkan makanan untuknya.


"Ini, makanlah!" ucap Yudi.


Dia memberikan pada Dila yang masih menatapnya dengan sungkan. Dila mengambilnya perlahan, Yudi menunggunya makan.


Suara ponsel Yudi terdengar, dia mengangkatnya.


"Ya!" sapa Yudi.


"Apa yang terjadi? kenapa kamu nggak kembali?" tanya kepala Chef.

__ADS_1


"Maaf chef, keluarga ku dalam masalah tadi, jadi aku mengantarnya pulang terlebih dahulu" ucap Yudi.


Dila mendengarnya dan sedih karena dianggap keluarga. Dia memasukkan makanannya perlahan dengan lesu.


"Baiklah, disini sudah hampir selesai. Acara pertunangan bos klinik itu dibatalkan. Dia melempar barang-barang. Aku sedang mengkalkulasikan kerugiannya" ucap Chef.


"Ok!" jawab Yudi singkat.


Dia menutup telponnya sesaat setelah Chef memintanya datang besok lebih pagi. Namun Dila mengira Yudi harus kembali secepatnya.


"Kau harus pergi?" tanya Dila.


Yudi tersenyum melihat Dila yang bertanya tanpa menatapnya. Dia berencana mengerjainya lagi.


"Iya, makannya dipercepat, aku akan pergi setelah kau selesai makan" ucap Yudi.


Dia pergi ke dapur yang tak jauh dan terlihat dari sana.


"Pergi saja, aku sudah tidak apa-apa" ucap Dila.


Dia memasukkan makanan dengan suapan yang besar. Yudi menertawakannya lagi.


"Aku sudah bisa melupakan mu dengan kehadiran Marvin, sekarang aku hanya tinggal terbiasa sendiri saja. Tak ada Marvin tak ada kamu. Aku pasti akan terbiasa" ucap Dila.


Yudi yang sedang membersihkan piring, jadi terdiam mendengar ucapan Dila.


"Iya, meski sekarang ternyata perasaannya hanya hal yang mampu berubah karena hasutan orang lain" lanjut Dila.


"Bagaimana jika dia membatalkan pertunangannya kemudian datang kepadamu dan meminta maaf?" tanya Yudi sambil kembali mencuci piring.


"Tidak, itu takkan terjadi...."


"Aku tanya bagaimana kalau itu terjadi?" Yudi menegaskan pertanyaannya dengan menyela ucapannya.


Dila menatapnya.


"Sepertinya tidak akan terjadi, aku ditakdirkan menjadi wanita yang dibuang oleh pasangannya jadi sebanyak apapun aku memulai, akhirnya hanyalah terbuang!" Dila bicara dengan emosi.


Dia berhenti makan, meletakkan piringnya dan berjalan menuju kamarnya kemudian menutup pintunya. Yudi meletakkan piringnya dan kesal dengan sikap Dila.


Tapi, saat melihat piringnya yang masih belum dia habiskan, Yudi mengendalikan emosinya dan mendekat ke pintu.


"Dila, kau belum menghabiskan makanan mu!" ucap Yudi dengan mengetuk pintu setelah dia mencoba membukanya namun terkunci.


"Aku tidak lapar!" seru Dila.


"Kau harus makan, tadi kau pingsan karena tak makan seharian, masa nggak laper" ucap Yudi mencoba membujuknya.

__ADS_1


"Pergi saja, jangan pedulikan aku!" Dila masih kesal.


"Dengar! Seseorang mengatakan bahwa cuma aku yang bisa ngendaliin sifat kekanakkan kamu. Dan cuma aku yang kamu butuhin sekarang. Kalo kamu masih mau aku tinggal, makan dengan benar" Yudi masih berusaha.


Dila membuka pintunya dan menatap Yudi dengan kesal.


"Siapa yang bilang begitu?" tanyanya sambil marah.


"Aku nggak akan beri tahu kalau kamu nggak makan lagi" Yudi memberi syarat.


Dila menatap piring, berpikir hendak menurut, namun dia kesal mengingat Yudi yang membicarakan Marvin yang seolah akan berubah.


"Aku tidak mau tahu, pergilah, bawa sekalian makanannya, kalau tidak aku akan buang!" ucap Dila.


Yudi berdecak, dia kesal dengan tingkah Dila. Tangannya meraih tangan Dila dengan lembut.


"Dengar, makanlah dulu. Baru nanti setelah makan, aku pergi!" ucap Yudi dengan lembut.


Dila masih diam.


"Gak bagus buang-buang makanan, iya kan?" tambah Yudi.


Dila melangkah, Yudi menyambut dengan merangkul pinggangnya. Mereka duduk dan kembali makan.


Yudi menunggu, dia memainkan ponselnya sambil menunggu. Dila makan sambil menonton.


"Siapa yang bilang seperti itu?" tanya Dila memecah diamnya.


Yudi menirik sebentar kemudian kembali fokus ke ponselnya.


"Rania!" ucap Yudi.


Dila mendengar Yudi mengucapkan nama Rania dengan mudah.


"Kapan kalian bicara?" tanya Dila dengan menghadapkan tubuhnya pada Yudi.


"Tak lama setelah aku ke sini, dia yang memberiku semangat untuk menjadi chef ternama" ucap Yudi.


Dila menghela kemudian mengubah arah duduknya.


"Kenapa kau tidak pernah menghubungiku?" tanya Dila.


Yudi mengangkat dahinya, dia mengerti Dila akan mulai lagi dengan pertanyaan yang akan menjadi alasan untuk dia bersikap aneh lagi. Dia menaruh ponselnya dan merubah posisi duduk dn menghadap Dila.


Tangan Dila diambil dan diletakkan di tangannya yang satunya lagi.


"Rania bilang, kamu sedang belajar menangani mall. Dia bilang kalau aku masuk lagi saat itu, kamu akan hilang konsentrasi dan melepas mall demi aku" ucap Yudi.

__ADS_1


"Rania salah, dia terlalu sok tahu tentang aku. Dengar! aku takkan kembali padamu, aku hanya ingin tahu saja keadaan mu. Itu bukan berarti aku mau kembali kan? Kalian salah menebak keinginanku" ucap Dila sambil melepas pegangan Yudi.


__ADS_2