Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
122


__ADS_3

Selesai dengan acara wisudanya, Dila mendapatkan ucapan selamat dari semua temannya. Chloe juga menghampiri dan memeluk Dila dengan berbisik ucapan selamat padanya.


"Terimakasih!" jawab Dila.


Chloe pergi setelah melihat Marvin datang bersama Jason dan Jessie. Dila menyambut ibu hamil itu dengan rentangan tangan. Jessie tersenyum dan memeluknya.


"Selamat ya sayang, kau hebat!" puji Jessie.


Tak melewatkan moment Jason juga memeluknya. Kemudian Marvin mendekat dan memberikan buket bunga kecil yang wangi.


"Selamat!" ucap Marvin.


Dia memeluknya, kemudian memegang bahunya dan menatap untuk beberapa saat.


Rania melihat wajah Marvin yang seolah sedang menatap dalam wajah Dila. Teringat wajah Bondan yang menatapnya sedih saat Rania memintanya untuk menjaga jarak terlebih dahulu. Mereka saling dekat tapi sangat jauh untuk menggapai.


Marvin memegang tangan Dila, dia menghela cukup keras membuat Dila terheran.


"Kau baik-baik saja?" tanya Dila.


"Ya, sangat baik. Hanya saja, entah kenapa, aku begitu sangat merindukan mu" ucap Marvin.


Kata-kata itu lagi. Dila sudah sangat sering mendengar kata-kata itu dari Marvin. Mereka selalu bersama tapi Marvin selalu merindukannya.


"Kau kenapa? Bukankah kemarin kita bertemu?" Dila melepas tangannya kemudian mengaitkannya ke lengan Marvin.


Tapi mata Dila mencari seseorang diantara kerumunan orang di hadapannya. Dia mencari Yudi yang dia lihat tadi bicara dengan Rania. Dila merasa sedih saat Yudi tersenyum pada Rania. Dia merasa cemburu meski tahu Rania mungkin hanya bicara biasa dengannya.


Marvin mengelus tangan Dila, mereka berjalan ke parkiran untuk pergi ke restoran untuk merayakan wisuda Dila. Yang lainnya sudah menunggu di mobil dan melambaikan tangan pada mereka.


Dila masih melihat ke arah kerumunan orang di belakangnya. Masih berharap Yudi datang dan meraih tangannya membawanya lari dari sana. Namun semua itu hanya khayalan. Dila masuk setelah Marvin membukakan pintu mobil untuknya.


Sampai di parkiran restoran, Dila sangat paham itu restoran tempat Yudi bekerja. Dia keluar dan berharap lagi. Namun menatap Marvin dengan heran.


"Kenapa di restoran ini?" tanya Dila.


Marvin tersenyum.


"Katanya Yudi pergi malam ini, kita akan merayakan wisuda mu sekaligus merayakan pekerjaan baru Yudi" ucap Marvin sambil mengaitkan tangan Dila ke lengannya.


Semua orang keluar dari mobil dan masuk ke restoran. Tak ada ekspresi dari Vero selain kesal karena harus bertemu lagi dengan Yudi. Dia tak mau Dila kembali ragu dengan hubungannya dengan Marvin.

__ADS_1


Arumi dan Rania juga hanya tersenyum kaku, mereka tak menyangka akan dibawa ke restoran tempat Yudi bekerja.


"Aku tidak suka situasi ini, kaku seperti musim dingin" bisik Arumi pada Rania yang tetap berusaha tersenyum.


Mereka duduk di sebuah ruangan yang disediakan khusus untuk berkumpul perayaan, dengan banyak kursi yang ditata dengan meja cantiknya.


Mereka memesan, Jason menyarankan untuk memesan hidangan Eropa. Namun Jessia menolak, dia ingin hidangan Asia, masakan China. Jason mengalah, namun meminta beberapa masakan Eropa juga disajikan.


Untuk setiap ruangan itu, biasanya Chef ikut menyajikan makanan dan menjelaskan bahan dan rasa yang akan didapat pengunjung. Semua orang menatap Yudi yang tampan dengan pakaian kerjanya.


Marvin tersenyum dan menyapanya dengan lambaian tangan. Yudi menjelaskan dan tersenyum pada semuanya. Vero terlihat tak suka dengan situasi ini. Arumi malah senang melihat kakaknya bicara menjelaskan masakan yang dihidangkan.


Rania dan Jessie terkagum, terutama Jason yang sangat menyukai Yudi sebagai chef. Tapi Dila hanya menatapnya seolah ini adalah perpisahannya.


~Italia, dia hanya sebuah kota, aku juga bisa ke sana kapanpun aku mau. Tapi dia seperti pemutus harapanku untuk kembali bersamamu. Apa aku terlalu serakah Yudi? Apa karena aku tak melepas Marvin sampai kau memutuskan untuk mengambil pekerjaan disana. Kenapa sakit sekali? Dadaku sakit melihat kau tersenyum pada semua orang namun menghindari tatapan ku~ suara hati Dila begitu menjerit dalam ruangan yang hening dan fokus pada Yudi itu.


Dila mengalihkan pandangannya, kemudian beradu tatap dengan Vero yang kemudian mengusap wajahnya. Dila mengendalikan diri, dia harus bisa melakukannya untuk menjaga nama baik Vero di depan Jason.


Semua orang makan setelah Yudi pamit, mereka berterimakasih padanya, dia keluar dan kembali ke dapurnya. Marvin juga mengatakan permisi untuk ke toilet. Dia pergi meninggalkan mereka.


Marvin memanggil Yudi sebelum dia masuk ke dapur.


"Bisakah kita bicara?" tanya Marvin setelah Yudi menoleh.


"Maafkan aku!" ucap Marvin setelah berjuang keras.


"Untuk apa?" tanya Yudi heran.


"Karena aku menahan Dila untuk tetap di sampingku!" lanjut Marvin.


Yudi hanya tersenyum.


"Aku akan melepaskannya" ucap Marvin lagi.


Yudi terkejut dan menatap Marvin dengan membulatkan matanya.


"Tapi kenapa?" Yudi tak mengerti.


"Hari ini hari terakhir aku bersamanya" tambah Marvin.


Yudi merasa tak enak dengan ucapan Marvin, dia mengira Dila ingin dengannya.

__ADS_1


"Dengar, jika Dila melakukan kesalahan, maafkanlah dia. Dia memang agak sedikit cerewet tapi dia baik. Dia akan sedikit manja sesekali. Kau hanya harus terbiasa dengannya. Dia akan sangat manis jika sudah nyaman bersamamu" Yudi tak berhenti bicara.


Marvin tersenyum sambil sedikit menangis mendengar Yudi begitu mengenal Dila. Yudi pun tersadar dirinya terlalu banyak bicara mengenai Dila. Dia tertunduk menyesali ucapannya.


"Kamu yang lebih mengerti dia dan seharusnya kamu yang bersamanya" ucap Marvin.


Yudi menghela nafas.


"Ayolah Marvin! Aku hanya mencoba..." Yudi menjelaskan.


"Aku juga mencoba Yud, tapi ternyata hati Dila bukan untukku. Aku merasakannya meski dia sedang di sampingku" ucap Marvin.


Yudi tak bisa mengatakan apapun lagi.


"Jaga dia, bukan untuk ku atau siapapun. Kau juga tahu kan untuk siapa?" Marvin menepuk bahu Yudi.


Vero yang menyusul Marvin, mendengar pembicaraan mereka di dekat pintu masuk. Dia kembali saat melihat Marvin menepuk bahu Yudi. Dia masuk dan melihat Dila terlihat malas menyantap makanannya. Tak lama kemudian Marvin datang dengan senyuman di wajahnya.


Acara itu berjalan dengan baik meski hati beberapa dari mereka merasakan hal lain. Jason dan Jessie pulang. Arumi, Rania dan Vero kembali ke apartemen. Tapi Marvin mengajak Dila pergi setelah meminta izin pada Vero.


Dila ikut kemana Marvin membawanya. Mereka sampai di sebuah taman dengan pemandangan bunga di sekelilingnya. Terlihat beberapa pengunjung juga menikmati keindahannya.


Dila masih merasakan tak nyaman di hatinya. Dia memegang tangan Marvin tapi tak bisa menghadirkan hatinya sepenuhnya disana.


Marvin menatap Dila dengan tersenyum. Dia mengalihkan pandangan taman dan melepaskan tangan Dila.


"Aku akan melepaskan mu!" ucap Marvin.


Dila menatapnya terkejut.


"Hmmm?"


Dila memastikan apa yang dia dengar.


"Aku sudah bosan padamu!" ucap Marvin sambil menatap Dila yang masih membulatkan matanya dan semakin membulat.


"Apa? Bosan?" ucap Dila benar-benar terkejut dengan ucapan Marvin.


"Ya, aku bosan padamu. Jadi sekarang kita sudah putus ya!"


Marvin memegang kedua lengan Dila, kemudian memeluknya. Dila terdiam dan hanya mengingat ucapan Marvin yang selalu mengatakan sangat merindukannya.

__ADS_1


"Maafkan aku!" lirih suara Dila.


Pelukan Marvin semakin erat.


__ADS_2