Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Manusia aneh yang membuat tersenyum


__ADS_3

Sedangkan Prayoga masih syok dengan apa yang didengarnya, harus menggagalkan pernikahan anaknya? bukankah itu terlalu menyakitkan? dirinya memang tidak setuju, tapi bukan berarti harus mempertaruhkan kebahagiaan anaknya.


Prayoga menghubungi ponsel Micho dan tidak mendapatkan jawaban. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, waktu pertunangan Micho sudah tinggal beberapa jam lagi. Prayoga menggelengkan kepalanya pelan, rasanya tidak sanggup untuk berbuat apapun. Jarak untuk datang ke kota X membutuhkan waktu beberapa jam, mau tidak mau Prayoga menancap gas mobilnya menuju ke kota X.


😊😊😊


Nada dan Rafa hanya diam, menikmati malam hari yang begitu dingin. Rafa melirik kearah Nada yang tampak mengantuk.


"Tidurlah, Nad. Pasti kamu lelah, aku akan membangunkanmu nanti." ucap Rafa. Nada hanya diam, suara dering ponsel Nada berbunyi. Nada melirik ponselnya dan tampak nama Dinda disana.


"Dinda?" gumam Nada.


"Halo, Din. Bagaimana? ada kabar? " tanya Nada.


"Aku dan teman-teman berada di kota X. tapi kami belum menemukan Rara. Dari beberapa CCTV dan beberapa pantauan menunjukkan jika Rara ada di kota ini," ucap Dinda. Nada memijit pelipisnya pelan.


"Ya sudah, kalian istirahat saja dulu. Aku masih diperjalanan, mungkin pagi hari aku sudah sampai. Nanti aku kabari kita harus bertemu dimana," ucap Nada kemudian menutup ponselnya.


"Siapa? "tanya Rafa.


"Dinda, Kak. Tadi aku memintanya untuk mencari Rara di kota, tapi mereka menemukan Jejak Rara di kota X." ucap Nada. Rafa menatap wanita cantik yang kini ada disampingnya.


"Terimakasih, Nada. Kamu benar-benar sahabat yang baik,"


"Sudah seharusnya ini dilakukan untuk seorang sahabat, Kak. Rara sudah seperti saudara bagiku," ucap Nada. Rafa tersenyum dan menepuk pundak Nada dengan tangan kirinya.


"Ya sudah, istirahatlah." ucap Rafa. Nada mengangguk dan mulai memejamkan matanya.


😊😊😊


Amara menatap langit yang begitu indah. Akan tetapi keindahan langit malam ini berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan hatinya. Air matanya mengalir deras, meratapi hidup yang tak seindah ekspetasi. Seusai sholat isya, Amara memilih untuk keluar dari kamar hotelnya, menikmati dini hari yang begitu dingin.


2 jam lalu Amara tiba di kota X dan mengistirahatkan dirinya. Akan tetapi, matanya tak mampu terpejam karna meratapi kenyataan yang dia hadapi.


"Nona, jangan menangis." suara itu membuat Amara terkejut. Amara segera mengusap air matanya dan melihat kebawah. Amara menyunggingkan sedikit senyuman saat melihat manusia aneh yang bertemu dengannya beberapa jam yang lalu.


"Radit?" ucapnya tak percaya. Lelaki itu menyunggingkan senyuman.


"Kenapa kamu disini? kau mengikuti ku? " tanya Amara.


"Kamu percaya jodoh? mungkin takdir menjodohkan kita sehingga kita bisa bertemu lagi, Nona." ucap Radit. Amara tertawa, dan memandang Radit dari aras balkon.

__ADS_1


"Tunggulah, aku akan kesitu." dengan langkah lebar Amara mendekati Radit yang berada dibawah.


"Ngapain disini? " tanya Amara lagi saat sudah berada didepan Radit.


"Sebaiknya kita ngobrol disana, aku sudah memesankan coklat hangat untukmu," Radit menggenggam lengan Amara dan melangkahkan kakinya. Kini mereka duduk berdua dan saling berhadapan.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku,"


"Pertanyaan yang mana? "


"Bagaimana bisa kamu kesini? "


Amara memandang Radit dengan sorot mata tajamnya.


"Jangan GR. Aku memang berencana kesini karna ada suatu hal," jawab Radit sambil mengaduk coklat hangat yang baru saja di antarkan penjualnya. Amara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak bilang mau ke kota ini? Bukankah kita bisa berangkat bersama? " Amara mencoba meyakinkan dirinya. Mana tau manusia aneh itu mengikutinya.


"Bukankah kamu mengabaikan ajakanku untuk mengantarmu? " ucap Radit. Amara mengangguk dan mulai meneguk coklat hangat.


"Bagaimana bisa mengetahui aku disini? dan memesankan coklat hangat untukku? " tanya Amara lagi.


"Apa aku sedang diinterogasi? Hai Nona cantik, aku bukan perampok." ucap Radit.


"Kau benar sekali. Aku suka dengan wanita yang pintar seperti mu, Nona."


"Jangan mencoba merayuku, Tuan Radit."


"Aku tidak merayu, jangan panggil aku tuan. Kau tau, aku baru saja lulus kuliah kemarin." ucap Radit. Amara mengernyitkan dahinya.


"Berarti kita seangkatan? senang bertemu denganmu." ucap Amara sambil meletakkan coklat hangat yang tadi di genggamnya.


"Benarkah? "


"Ya, jadi bagaimana kamu tau aku ada disini? " tanya Amara lagi.


"Aku tadi memesan coklat hangat disini untuk kakakku, dan aku melihatmu diatas." ucap Radit kemudian berdiri sambil menepuk pelan kepalanya.


"Kenapa Dit? "


"Maaf Ra. Aku harus pergi, pasti kakakku menunggu coklat hangat ini, ini kartu namaku nanti hubungi aku. Aku akan mengantarmu kemanapun kamu pergi," ucap Radit sambil mengambil 2 cup coklat hangat di meja dan melenggang pergi.

__ADS_1


Amara menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Kehadiran Radit selalu memberikan senyuman dibibirnya. Amara menatap nomer ponsel Radit dan tersenyum.


"Okey, aku akan memintamu mengantarku mencari alamat yang aku mau nanti." ucap Amara pelan.


😊😊😊😊


Waktu menunjukan pukul 08.30. Micho dan Damar mempersiapkan diri untuk segera berangkat di rumah Sabrina. Pukul 09.00 acara akan segera dimulai. Banyak sekali seserahan yang mereka pesan untuk di bawa kesana.


"Sudah saatnya kita berangkat, Tuan." ucap Damar. Micho menyodorkan kepalan tangan di depan wajah Damar.


"Jangan memanggilku seperti itu, atau 1 bogem mentah akan mendarat di wajahmu." ucap Micho. Damar tertawa dan menepis tangan Micho.


"Mana tadi si playboy? Apa sudah selesai dia mempersiapkan segala sesuatunya? " tanya Micho.


"Sudah, kau tenang saja. Meskipun dikepalanya hanya cewek. Tapi untuk bekerja tidak usah diragukan lagi, dia sangat mumpuni untuk melakukan segala pekerjaan." ucap Damar. Micho tersenyum.


"Itu harus, jadi tidak sia-sia aku mendidik dan memberikan kesempatan untuknya belajar." ucap Micho.


"Pasti membicarakan ku? " Radit datang dengan membawa jas dan menyerahkan pada Micho.


"Telingamu tajam sekali, sebaiknya kita cepat kesana. Kau segera bersiap Dit."


"Aku sudah siap, tapi aku tidak bisa barengan denganmu, Kak."


"Kenapa? "tanya Damar yang tampak antusias.


"Aku ada sedikit urusan dengan seseorang, " ucap Radit sambil tersenyum.


"Cewek? " tanya Micho.


"Ya, dia cantik sekali Kak. Kurasa semua mantanku tidak ada yang sepertinya." ucap Radit. Micho memukul pelan pundak Radit.


"Jangan mainin anak orang, kau tau hukum karma itu berlaku. Jangan sampai suatu saat kau mencintai orang yang ternyata mencintai orang lain. Kau pasti akan menangis saat itu juga," ucap Micho.


"Aku tidak akan melepasnya begitu saja, jika aku menemukan wanita yang mampu mendebarkan hatiku, maka aku akan melawan siapapun lelaki yang dicintai wanita itu." ucap Radit. Micho hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Damar hanya menghela napas panjang mendengar ucapan Radit.


"Ya sudah, sebaiknya kita berangkat. Jangan sampai telat." ucap Micho pada Radit.


"Siap Kak. "


Mereka berjalan menuju kearah pintu utama hotel. Micho dan Damar segera pergi sedangkan Radit tampak menunggu Amara yang tadi memintanya untuk mengantar ke suatu tempat.

__ADS_1


😊😊😊😊


__ADS_2