
"Sabrina, aku mohon beri aku waktu. Aku melakukan semuanya karna ayahku. Aku yakin cintamu padanya hanya sebuah pelarian."ucap Micho sambil menunjuk ke arah Andika.
Andika seakan terbakar api, ia menarik tangan Sabrina, Micho tak mau kalah dan masih saja menahan Sabrina. Membuat Sabrina seperti barang yang seakan sedang diperebutkan.
Dengan gerakan cepat Andika menarik Micho di tempat yang lebih luas. Andika memberi satu pukulan yang membuat Micho terhuyung. Micho membalas, dan terjadi kembali baku hantam.
"Apa kau tidak mendengar, dia mengatakan jika sudah bersuami. Apa kau tidak tau malu, mengungkapkan cinta pada istri orang didepan suaminya?" bentak Andika sambil mengarahkan tendangan di dada Micho.
"Hentikan..." teriakanSabrina membuat Andika dan Micho mematung sesaat kemudian kembali bertarung mengabaikan teriakan itu.
Sabrina merasakan sesak, tidak tau jalan pikiran orang-orang didepannya. Sabrina mengambil langkah menuju ke mobil Andika. Didepan sana 2 pasukan masih saja terlibat baku hantam. Sabrina menancap gas mobilnya. Mau tidak mau mereka menghentikan perkelahian dan menghindar kekiri dan Ke kanan.
Disana Andika dan Micho berhenti, menatap sejenak kearah Sabrina yang menjauh. Mereka berlari kearah medan dimana beberapa bodyguard berada.
"Berhenti!" teriak Micho Ketika beberapa pasukan mereka kembali mengambil gerakan untuk kembali baku hantam.
Micho dan Damar saling menatap kemudian Andika dan temanya juga mendekat kearah Micho. Mereka saling berpandangan.
"Berhenti mengejar istriku, meskipun dulunya dia begitu mencintaimu saat ini cintanya sudah berpaling darimu."ucap Andika penuh penegasan.
Micho tersenyum kecut kemudian melangkah maju. Micho menepuk pelan pundak Andika dan tersenyum sinis, Andika menepis tangan Micho. Micho melangkah pergi dan masuk ke mobilnya. Andika hanya memandang Micho dengan geram.
"Aku hanya ingin membantu Sabrina mengingat masa lalu, dan aku hanya memastikan jika hatiku sudah benar-benar melupakannya. Aku juga hanya memastikan jika Sabrina berada dalam rengkuhan orang yang mencintainya, itu sangat membuatku lega." ucap Micho saat berada dalam mobil, netranya mengawasi Andika yang membawa motor sport milik rekannya untuk mengejar Sabrina.
__ADS_1
"Tapi kau melakukan dengan cara yang salah, seharusnya kau bicara baik-baik. Bayangkan bila Amara mengetahui, pasti dia akan salah paham," sanggah Damar.
"Aku tau." ucap Micho sambil menghela napas panjang.
"Kau tau Damar, ketika aku mengucapkan kata cinta pada Sabrina, hatiku terasa tercabik. Amara selalu membayangi otakku," ucap Micho. Damar menghela napas panjang. Damar tersentak kaget saat netranya mendapati Mobil Amara disebrang sana.
"Bukankah itu mobil Amara?" tanya Damar.
Micho menoleh dengan cepat. Ya Mobil Amara melaju dengan kencang. Dilihatnya juga mobil beberapa bodyguard berikat kepala kuning yang selalu hadir menolongnya mengejar laju mobil Amara.
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa mengejar mobil Amara?" lirih Micho penasaran.
"Kita kejar mereka." Perintah Micho. Damar segera menancap gas mobilnya mengikuti laju mobil di depannya.
Amara tampak mengerjabkan matanya beberapa kali. Mencoba menahan desakan air mata yang kini sudah mulai berkumpul di pelupuk matanya. Rasa perih di dalam hatinya kembali terasa. Melihat suaminya mengucapkan cinta pada wanita lain membuat hatinya tercabik. Amara terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Apa mereka mengejarku? Kenapa tampaknya sedang mengintaiku?" lirih Amara. Amara menghela napas dalam-dalam.
"Okey, aku layani kalian. Lama sekali aku tidak bermain-main," ucap Amara lirih. Amara menambah kecepatan mobilnya dan tersenyum, ini adalah hiburan yang menyenangkan ketika hatinya tampak terasa sesak.
"Wanita itu tampaknya menyadari kita mengikutinya, Bos." ucap salah satu penghuni mobil yang mengamati gerak Amara.
"Ikuti, kita harus melaksanakan perintah bos dan mulai menerornya. Tambah kecepatan, kita hentikan di kawasan sepi pengendara," ucap yang lainnya.
__ADS_1
"Siap, Bos." sahut sopirnya dan memambah kecepatan.
"Damar, kenapa lama sekali. Tampaknya mereka benar-benar mengejar Amara. Apa yang mereka mau darinya?" Micho tampak khawatir dan memejamkan matanya.
Di sepanjang jalan yang sepi, setelah menyalip mobil Amara, mobil yang memuat 3 orang itu tampak memepet mobil Amara dan menghentikan di pinggiran jalan. Amara memejamkan matanya ketika melihat 3 orang berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala kuning persis dengan kejadian 4 tahun lalu.
"Micho, apa lagi yang kamu mau? Menyuruh mereka untuk menakuti aku? Aku akan menghabisi mereka dulu, sebelum aku menghabisi mu," lirih Amara dengan jengkel. Amara masih saja mengira jika mereka yang berikat kepala kuning adalah anak buah Micho, mengingat mereka selalu ada setiap Micho membutuhkan bantuan.
Amara tersadar dari lamunanya saat diantara 3 orang itu menggedor kaca mobil Amara.
"Keluar, atau aku paksa keluar Nona?" tanya mereka. Amara memejamkan matanya, membuka kunci dan keluar dari mobilnya. Amara mengamati ketiga orang didepannya dan menatap dengan antusias.
"Apa yang diperintahkan bosmu? Mau menculik atau membunuhku?" tanya Amara sambil tersenyum. Mereka mengerutkan dahi dan sedikit gerah mendengar ucapan Amara.
"Jangan banyak bicara, ikut kami!" sahut salah satu dari mereka sambil mencoba mendekatkan dan mengurung Amara. Tapi dengan gerak cepat Amara menangkis dan memelintir tangan orang itu. Mereka bertiga tampak terkejut.
"Bilang pada bosmu, aku ladeni kemauanya!" ucap Amara. 3 orang itu tampak tersinggung. Salah satu dari mereka mengarahkan pukulan hingga Amara melepaskan cengkraman pada tawananya.
Amara menatap antusias pada 3 orang didepanya yang bersiap menyerangnya. Amara membagi pukulan dengan cekatan, ini adalah olah raga yang akan melegakan hatinya.
Micho dan Damar yang baru saja berhenti tampak membelalakkan matanya, Amara benar-benar menguasai beberapa jurus yang membuat mereka takjup.
Micho dan Damar masih terpukau, mereka segera keluar. Namun, langkahnya sedikit terhenti ketika di samping Amara berkelahi sebuah mobil sport berhenti dan menampakan seorang lelaki yang tampan dan mendekat ke arah Amara.
__ADS_1
"Aku akan membantumu, Dear." ucapnya. ucapan itu terdengar jelas di telinga Micho. Micho mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Amara tampak berbinar memandang ke arah lelaki itu.
"Kak Zidan,"😁😁