
"Kamu yakin?" tanya Nada seakan menjatuhkan angan Amara. Amara menatap Nada. Bahkan dia juga tak tau, yakin atau tidak untuk bisa mengambil hati manusia laknat itu. Senyuman Amara memudar dia memejamkan matanya.
"Entah, yang aku tau mengerjainya seperti ini membuat aku bahagia, jadi aku ikutin saja apa matanya hatiku." ucap Amara.
"Hati-hati lo, Ra." ucap Nada sambil memandang Amara.
"Kenapa?" tanya Amara.
"Kali aja dewi cinta berpihak padamu, kamu pernah terpesona dengannya. Kali aja kamu akan jatuh cinta padanya," goda Nada. Amara merasa kesal dan menghembuskan napas kasar.
"Udah ah, jangan merusak imajinasiku." ucap Amara sambil memoles wajahnya.
"Mau kemana?" tanya Nada.
"Mau ikut tidak? Aku akan menghibur diriku," ucap Amara sambil memoles blas on di pipinnya.
"Baru ya?" tanya Nada.
"Hemm,,, menor ya?" tanya Amara sambil mengusap wajahnya.
"Sedikit lebih tua, usia 25 tahunmu hilang di telan make up menormu kalo begini," ucap Nada sambil menghapus wajah Amara.
"Udah, kali ini saja. Ayo ikut aku, aku ingin jalan-jalan di sekitar bandara," ucap Amara sambil tersenyum.
"Kau merencanakan sesuatu?" tanya Nada yang mengetahui jika Micho harus pergi ke Negara I malam ini.
"Tidak, kamu tentang saja, aku tidak senekat itu. Aku hanya ingin jalan-jalan mencari angin segar," ucap Amara. Amara menyambar jacket hitam, mengikat rambut panjangnya.
"Kau benar-benar sudah sembuh?" Tanya Nada memastikan.
"Hem, Aku sudah sembuh. Jangan mengkhawatirkanku, Nona." ucap Amara kemudian melangkah pergi. Nada mau tidak mau mengikuti Amara yang melangkahkan kakinya dengan tenang, jarak bandara dengan Apartemennya tidak begitu jauh. Mereka memutuskan untuk berjalan bersama.
*****
Micho yang merasa bosan didalam memutuskan untuk keluar. Micho menikmati malam dengan indah. Memandang langit malam yang terang dengan kemerlip bintang yang bertebaran.
__ADS_1
Netranya menangkap bayangan beberapa orang yang mencurigakan di sudut bandara. Dengan mata tajamnya Micho mengawasi setiap gerak 2 orang itu. Mereka berdusel di kerumunan dan menghilang entah kemana. Micho yang merasa penasaran mengikuti jejak langkah lelaki bertubuh besar itu. Micho melirik jam tangan, Penerbangan masih satu jam lagi, itu artinya masih ada waktu untuk bermain-main. Micho memakai topi dan masker hitamnya. hanya sorot mata tajamnya saja yang tampak. Diapun mencoba menyusuri kerumunan.
"Dafa, Dafa. Kamu dimana nak?" seseorang histeris mencari anaknya.
Micho merasa ada sesuatu yang aneh. Dengan langkah kakinya yang cepat Micho mencari keberadaan 2 orang yang mencurigakan. Di sudut ruangan mata Micho mendapati orang itu.
Micho berlari, sebuah balok besar menjegal langkahnya tiba-tiba. Micho tersungkur di lantai, seseorang mencoba memukulnya, dengan cepat Micho berguling dan menghindar. Segera Micho bangkit dan berdiri. 2 orang didepannya terus menyerang tanpa ampun. Dengan sorot mata tajam Micho mencoba mencari titik lemah yang sanggup melumpuhkan mereka.
"Amankan anak itu," teriak orang tinggi besar dihadapan Micho. Anak kecil yang mulutnya disumpal dan tangannya di tali itu hanya tampak mengeluarkan air mata. 2 orang membawanya pergi dan entah kemana.
Entah kenapa Micho merasa kasihan, seakan dirinya pernah ada di posisi anak itu. 2 orang didepannya masih saja menyerangnya. Micho mencoba mengalihkan perhatian mereka dan benar saja Micho mengecoh mereka dan berlari sehingga 2 orang itu kehilangan jejaknya.
***
Nada dan Amara menikmati indah suasana malam, jarang sekali mereka bisa menikmati liburan ala anak muda dengan jalan kaki yang sederhana. Masa muda mereka harus habis untuk meniti karir dan kesuksesan.
"Aku kangen mama dan juga papa, kamu nggak pengen pulang Nad? menjenguk ayah dan bunda? " tanya Amara sambil melihat pemandangan yang jauh di sana.
"Aku kangen, kangen sekali malah. Tapi entah kenapa aku belum siap juga untuk pulang. Aku masih ingin disini bersamamu," ucap Nada. Amara tersenyum dan merangkul pundak Nada.
"Luangkan waktu 2 minggu kedepan, kita akan pulang bersama." ucap Amara sambil tersenyum.
"Bisa jadi, entah kenapa Aku pengen pulang." ucapnya sambil tertawa.
"Ada-ada saja, pasti karena Micho kan, Aku heran........." Nada berbicara panjang lebar sambil menatap ke arah depan, dia tidak menyadari Amara pergi entah kemana.
Amara yang melihat anak kecil diseret paksa dan digendong kemudian di masukkan ke dalam mobil.
Sangat jelas di penglihatannya 2 orang itu mempunyai simbol yang sama dengan orang yang telah merampoknya 4 tahun yang lalu. Amara merasakan sesak di dadanya. Bayangan kejadian malam itu benar-benar mengganggu pikirannya.
Amara wanita itu mempunyai kamu bela diri, namun malam itu seakan menjadi malam naas baginya. Kepalanya yang sangat pusing dan penglihatannya yang mulai kabur membuat dirinya tak sanggup melawan sehingga dia kehilangan kehormatannya. Itu yang membuat dirinya sangat menyesali takdirnya.
"Apa yang akan mereka lakukan?" batin Amara.
Amara memakai masker dan tutup kepala di jaketnya. Dengan gerakan cekatan Amara menendang bokong orang yang sedang mencoba masuk ke dalam mobil. Orang itu berbalik arah dan menyerang Amara. Satu orang lagi keluar dan mereka berdua bersamaan menyerang.
__ADS_1
"Argg.." keluh Amara saat ia berhasil di tumbangkan. Sorot mata tajamnya mengamati 2 orang yang maju mendekatkan padanya. Amara membuat satu gerakan yang sanggup membuat salah satu dari mereka tersungkur. dengan gerakan cepat Amara bangun dan disambut gerakan cepat dari lawan satunya.
Amara terkejut manakala netranya menangkap orang yang tumbang mengeluarkan pisau yang sangat tajam dari sakunya. Tampak orang itu tertatih bangun, Amara menepi dan mencoba mengecohnya. Dengan cekatan Amara berlari mendekat kearah dimana laki-laki itu berada.
Amara membagi gerakan menendang dan berputar sehingga pisau belati itu jatuh terpental. Sebuah kerikir membuat kakinya terpeleset, Amara memejamkan matanya. Entah kalah ataupun menang ia pasrah saja.
Dengan gerakan cepat seseorang menangkap pinggangnya. Amara membuka matanya, mereka saling menatap dengan tatapan yang tajam. Entah tatapan mata siapa seolah dirinya mengenali.
Micho, Micho menatap sorot mata orang bermasker di depannya sejenak Micho merasa mengenalnya.
Namun, netranya terkejut pada
seorang laki-laki yang masih saja fokus dengan lawan yang kini ada direngkuhannya.
Laki-laki yang membawa senjata menekan pelatuk untuk melakukan aksinya. Dekat dan semakin dekat. Dengan gerakan cepat Micho mengangkat tubuh orang yang ada direngkuhannya kemudian berlari menghindari peluru itu, laki-laki bersenjata itu tersungkur saat Micho mengayun orang yang ada di gendongannya, kaki orang itu bermain dan menendang kepala 2 orang bertubuh kekar.
Micho terkejut mendapati orang di gendongannya mengerang kesakitan. Micho yang mendengar suara itu terkejut.
"Wanita?" gumamnya. Micho menurunkan orang itu.
"Gadis, kenapa membahayakan nyawamu, pergilah."ucap Micho yang berteriak ditengah susah payahnya menyerang musuh.
Gadis itu tak mengindahkan omelan laki-laki itu, dengan sigap gadis itu membantu Micho. Keduanya berhasil melumpuhkan orang didepannya.
Tanpa sadar ditengah napas yang ngos-ngosan, dari arah belakang seseorang hampir saja menusuk Micho. Dengan insting yang begitu kuat, gadis itu membuat satu gerakan yang membuat pisau itu lepas dari genggaman pemiliknya, kini lengannya tergores dan mengakibatkan darah segar mengalir dari sana.
Gadis itu tetap menyerang meskipun dengan menahan sakit. Micho tak tingal diam dia juga menyerang 2 orang yang kembali bangun.
"Gadis, pergilah. Kau harus mengobati lukamu." teriak Micho. Gadis itu hanya diam dan masih saja menyerang hingga ia hampir tersungkur akibat serangan lelaki berbadan besar.
Micho dengan cekatan menangkap tubuh gadis itu dan membopongnya.
"Aku tidak papa, turunkan aku!" teriak gadis itu sambil memukul dada bidang Micho. Sejenak Micho merasakan detak jantung tak beraturan.
"Mata itu," gumamnya. Gadis itu memaksa turun dan berlari mendekati mobil dimana anak kecil yang diculik berada. Namun, beberapa orang yang menggunakan ikat kepala berwarna emas menyerang orang bertubuh besar yang tadi menyerangnya. Micho berhenti, netranya menatap ke arah orang-orang yang menggunakan ikat kepala itu.
__ADS_1
"Siapa mereka? Kenapa selalu ada saat aku membutuhkan bantuan?" batinnya. Amara memejamkan matanya. Lengannya Teresa sakit, ia memegang lengannya dan berlari entah kemana. Micho tersentak kaget ingin mengejar gadis bermasker itu tetapi jam terbang sudah Didepan mata.
😍😍😍😍😍