
Amara berjalan keluar dari ruangan Micho, netranya mendapati dirinya sendiri yang tak membawa tas. Seketika Amara membalikan badannya.
Saat ini, Amara begitu dekat dengan seseorang, mereka saling berhadapan. Amara mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Radit berada di depannya. Amara menghela napas panjang dan mundur beberapa langkah.
"Kakak ipar, kau baik-baik saja?" tanya Radit yang khawatir pada keadaan Amara yang tampak sedih tadi pagi.
"Hai Dit, alkhamdulilah aku baik-baik saja." ucap Amara. Ada seulas senyum di bibir Radit, dia merasa lega, melihat Amara yang baik-baik saja memberikan kebahagiaan tersendiri baginya.
"Kakak mau kemana?" tanya Radit sambil tersenyum. Amara hanya diam sambil mengamati langkah seseorang yang mendekat ke arahnya.
"Kak Micho tidak menyakitimu?" tanya Radit lagi. Amara menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, dia istri ku. Aku tau bagaimana cara untuk menjaganya," Micho yang keluar karena ingin mengantar tas pada Amara melihat kedekatan Amara dan Radit. Ada hawa panas yang menyusup dihatinya. Dengan cepat dia mendekat ke arah Amara dan Radit berada. Merangkul pinggang Amara dengan posesif.
Radit tampak pias mendengar ucapan Micho. Mencintai Amara membuat dirinya berkali-kali harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Amara memandang ke arah Micho dan Radit bergantian. Amara menggelengkan kepalanya. Kenapa dirinya harus selalu di posisi yang tak mudah? Berada di antara Micho dan Rafa, dan sekarang pun harus mengalami hal yang sama di antara Micho dan Radit.
"Hai kak, selamat siang. Tampaknya kau begitu sinis denganku hari ini," ucap Radit sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana, Micho diam tak menanggapi ucapan adiknya itu.
Amara menatap ke arah Micho dan mengambil tas dari tangan Micho. Micho melirik istrinya itu. Hatinya berubah mood saat melihat pesan dari klien tadi. Dan melihat kedekatan Radit dan Amara membuat moodnya semakin jelek.
"Ada apa?" tanya Micho sambil menatap Radit dengan tatapan datarnya.
"Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan kak," ucap Radit.
"Masuklah, kau bisa membicarakan dengan Damar. Aku akan menyusul nanti," ucap Micho. Radit mengangguk dan melenggang pergi.
"Terimakasih mas, baru saja aku mau kembali untuk mengambil," Amara tersenyum sambil melirik ke arah Micho yang tampak diam.
__ADS_1
Amara memejamkan matanya. Tampaknya dia harus mencari cara untuk bisa menguasai Micho. Micho melangkah pergi, Amara yang merasa suaminya tidak baik-baik saja tampak memejamkan matanya.
Pada akhirnya, Amara mengejar langkah Micho dan berjalan di belakangnya. Amara mengikuti langkah Micho yang menuju ke ruang santai. Micho bersandar di sofa sambil memijit pelipisnya. Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya.
"Mas, minumlah. Sepertinya kamu butuh ini," Amara duduk disamping Micho sambil meletakan secangkir teh di depan Micho. Micho masih saja diam enggan untuk berbicara. Amara berdiri dan meraih tasnya, Micho tampak bereaksi.
"Mau kemana?" tanya Micho sedikit ketus.
"Okey Tuan Micho yang terhormat, Aku tau bagaimana menarik perhatianmu," ucap Amara dalam hati.
"Aku mau pulang, percuma juga Aku disini. Bukankah kamu tidak membutuhkanku?" tanya Amara sambil memakai tas di pundaknya.
"Kata siapa?" tanya Micho saat Amara hendak melangkah, pertanyaan Micho membuat Amara menghentikan langkahnya. Amara tersenyum dan bersorak dalam hati.
"Aku," Amara menghentikan ucapanya. jari telunjuk Micho mendarat di bibirnya.
"Apa kamu sakit, Mas? Tampaknya kamu tidak baik-baik saja," tanya Amara dengan senyum mengejeknya.
Micho menggelengkan kepalanya, meraih tangan Amara dan menggenggam tangan Amara dengan mesra,
keduanya terdiam menyelami samudra kecanggungan yang melanda.
"Aku," ucap keduanya bersamaan, setelah beberapa saat menikmati drama berpandangan dan saling diam. keduanya saling memandang dan tersenyum bersama.
"Sebaiknya kamu yang mengatakan terlebih dulu," Micho mempersilahkan Amara mengatakan apa yang akan dia katakan.
"Okey, aku mau bertanya. Kenapa kamu itu suka marah tak jelas dan suka sekali berubah baik lagi dalam sekejap? Apa otakmu sedikit bermasalah?" tanya Amara sambil menutup mulutnya yang tersenyum. Micho yang tadinya bahagia tampak membelalakkan matanya. Pertanyaan Amara membuatnya tampak berfikir. Micho melepaskan tangannya yang bertautan dengan Amara. Ia melangkah ke arah jendela, menatap gedung yang berjajar rapi.
__ADS_1
Amara melangkah dan mengikuti langkah Micho. Amara berjinjit dan mendaratkan satu kecupan lembut di pipi Micho.
"Kau cemburu pada Radit? Jangan mendiamkan aku karena itu, aku tidak ada apa-apa dengannya. Pikirkan perusahaan yang jauh lebih penting, aku akan selalu berdiri disampingmu sampai kapanpun kau mau." bisik Amara pelan kemudian melangkah pergi.
Hati Micho berdesir mendengar ucapan istrinya, sejujurnya mungkin benar hatinya telah berpaling dari Sabrina. Namun entah mengapa mulutnya sulit untuk mengakui nya. Micho memandang punggung Amara yang menjauh dari pandangannya. Damar tiba-tiba muncul dan tersenyum memandang bos nya.
"Kau melihat apa? Saat disini kau abaikan, ketika pergi kau lihat. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?"
mendengar ucapan Asisten pribadinya itu membuat darahnya mendidih, Micho melemparkan bantal sofa pada Damar. Damar tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan atasanya.
"Bos, masakan istrimu enak sekali, sayang sekali kau tidak memakannya, padahal dia memasakkan masakan favoritmu tadi," ucap Damar sambil tersenyum menggoda Micho,
Micho melirik asisten nya .
"Jangan menggodaku, sudah berapa kali aku bilang padamu, aku tidak tertarik membicarakan gadis itu," sanggahnya. Damar menggelengkan kepalanya, senyum tipis terbit dari mulutnya. Jikalau bos nya itu tidak cemburu, tidak akan mungkin Uring-uringan seperti ini.
"Pergilah, kau harus mengikuti meeting jam 2 siang nanti, mood ku lagi jelek, aku tidak bisa konsentrasi," ucap Micho sambil melirik ponselnya
"Baik Bos. Aku sarankan lebih baik anda pulang, temui istri anda tuan, mood anda jelek mungkin karna anda benar-benar merindukan nya. "
"Damar," teriak Micho.
Damar tertawa, masih saja dia menggoda bosnya yang emosinya ada di ubun-ubun itu. Micho menatap ke arah ponselnya dan menatap foto pernikahannya. Tampak Amara yang cantik meskipun dengan kesedihannya nya, juga dengan dirinya yang terlihat tampan berkarisma meskipun dengan wajah datarnya.
Hari ini adalah hari dimana dia berdamai dengan keadaan, Micho melirik foto wanita yang saat itu menggagalkan pernikahannya, wanita galak yang mengibarkan bendera perang padannya. Namun, kini wanita itu berubah menjadi wanita yang pandai menggoda dirinya dan wanita yang selalu mengusik hatinya. Wajah yang terlihat semakin cantik saat menggulung rambutnya itu benar-benar membuatnya gila.
"Amara, apa aku jatuh cinta padamu?" ucapnya lirih.
__ADS_1
😍😍😍😍😍