
Deg, hati Micho seakan terhantam batu besar. Panggilang dari sebrang tak di hiraukan. Betapa terkejutnya dia saat melihat panggilan dari Amara lebih dari 10 kali dia lewatkan.
"Ada apa Micho? Kau ada masalah?" tanya Bima. Micho menggeleng pelan.
"Maaf Bima, Andika, aku harus pergi. Ada hal penting yang harus aku lakukan," ucapnya kemudian menyambar kunci mobil dan melenggang pergi.
Micho menancap gas mobilnya. Dia melirik pesan dari Amara 3 jam lalu.
Aku ke rumah mama, Mas. Aku pengen banget makan nasi goreng.
"Astaga, apa yang aku lakukan? Bagaimana jika Amara benar-benar mengandung anakku?" lirihnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?
"****," Micho memukul setiran mobil, dadanya bergemuruh, rasa sesak, sedih, khawatir semua bercampur menjadi satu. Ia mencoba menghubungi Amara dan tak ada jawaban.
Micho membuka Aplikasi pada ponselnya dan mencari dimana letak ponsel Amara. Dia menemukan dimana ponsel Amara berada. Ada sedikit rasa lega, ia pun memanggil kontak Damar.
"Ada apa bos?"
"Kau temukan dimana mobilku berada, Amara menghilang. Aku takut dia dalam bahaya," ucapnya kemudian menutup ponselnya.
Micho menancap gas mobilnya menuju tempat dimana lokasi ponsel Amara berada. Beberapa saat kemudian sampailah dia di pinggiran jalan. Micho menghentikan mobilnya, keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil Amara. Micho memejamkan matanya, dia melihat ponsel amara tergeletak di jok mobil.
Micho mengulurkan tangannya mengambil ponsel Amara. Mengamati mobil yang telah hancur kacanya. Dia juga melihat balok kayu disana.
Micho mengepalkan tangannya, mengeratkan rahangnya. Apa yang terjadi? Batinya
"Bos, apa yang terjadi?" tanya Damar yang baru saja datang. Micho tak menanggapi pertanyaan Damar karna deringan ponselnya silih berganti dari papa, mama, Rafa, Raka, Anin. Semua orang khawatir pada Amara.
"Kau cari petunjuk keberadaan Amara, aku akan menemui mertuaku," ucapnya kemudian melenggang pergi dan menancap gas mobilnya.
Beberapa saat kemudian sampilah dia di kediaman mertuanya. Betapa sangat terkejut saat dirinya melihat isak tangis mama dan Anin, mereka tampak saling menguatkan.
__ADS_1
Micho mendekat kearah mereka, Papa Rusdi, Rafa dan juga Rafa tampak khawatir.
"Mama,"
Suara itu membuat mereka menoleh bersamaan. Dengan pelan Micho melangkah mendekati kerumunan itu. Detakan suara sepatu mahalnya terdengar nyaring ditelinga. pasalnya, suara tangis yang tadinya terdengar seolah menghilang begitu saja.
Tatapan mata yang seakan megintimidasi dirinya, ditampakkan oleh beberapa orang di depannya.
Rafa dengan penuh kemarahan mendekati Micho. Dia mengepalkan tangannya, memukul Micho tanpa Ampun. Micho diam, dia tau bagaimana Rafa menyayangi Amara. Tidak heran jika Rafa menghukumnya tanpa ampun karna memang Amara hilang karna keteledorannya.
"Ini untukmu dari Kakak ipar yang kecewa padamu," ucap Rafa setelah melemparkan satu pukulan di pipi kanan Micho. Micho terdiam, bahkan pukulan Rafa tak sesakit hatinya yang kini mengkhawatirkan Amara.
"Ini untukmu dari sahabatmu yang Begitu menyayangkan perbuatanmu," ucap Rafa lagi dengan mendaratkan bogem mentah di pipi kiri Micho.
Micho menyeka darah segar yang mengalir disudut Bibirnya. Teriakan Anin juga Mama Hana yang histeris karena kejadian ini tidak mereka hiraukan. Hingga pada akhirnya Micho melawan juga, setelah Rafa benar-benar hampir menghabisinya.
"Cukup, Hentikan!"
Papa Rusdi maju beberapa langkah, berdiri didepan Micho. Dia melemparkan satu tamparan keras dipipi Micho dan Rafa. Micho dan Rafa memegang pipi nya yang terasa panas itu.
"Percuma saja kalian berkelahi, tidak ada gunannya! Bukan hanya Kalian yang menghawatirkan Amara, kami juga. Pikirkan cafa untuk menemukan Amara, jangan lagi bertindak bodoh seperti apa yang kalian perlihatkan," ucap Papa Rusdi tegas. Perkataan Papanya membuat keduanya saling menatap.
tanpa aba-aba Rafa melangkah pergi, tampak mata memerah menahan sesak. Papa memandang punggung Rafa yang menjauh. Kemudian menatap ke arah Micho.
"Jangan gegabah, aku tau pasti siapa yang melakukan ini," ucap mertuanya.
Micho memejamkan matanya. Dia merasakan sesak ia mengusap kasar wajahnya. Beberapa jam yang lalu, dia masih merasakan sentuhan lembut tangan istrinya, dekapan hangat dari istrinya. Micho berjalan menuju ke arah mamanya.
"Maafkan aku yang ceroboh, Ma," lirihnya sambil memeluk mamanya. Mama Hana hanya bisa mengusap punggung Micho.
"Kita cari bersama, jangan menyalahkan dirimu," ucapnya. Micho mengangguk pelan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita segera berangkat," ucap Raka. Micho mengangguk pelan dan berjalan menuju mobilnya. Dia mendaratkan bokongnya dikursi, mengulurkan tanganya mengambil bingkai foto pernikahannya dengan Amara. Dia menitihkan air matanya, mendekap erat Bingkai foto tersebut. Rasanya ingin menghukum dirinya sendiri atas semua kesalahannya. Micho merasa menjadi manusia yang bodoh. Amara pergi karna dirinya, dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Namun penyesalannya tak pernah Bisa mengembalikan Amara untuk hadir di depannya. Yang terpenting sekarang dia harus menuju alamat yang di berikan Papa Rusdi.
***
Di sebuah gedung kosong. 2 orang lelaki paruh baya dan satu seorang pria seusia Amara dan satu orang wanita tengah tersenyum. Melihat wanita duduk di sebuah kursi, tangannya terikat, matanya tertutup dan kakipun terikat kuat adalah sebuah tontonan yang memuaskan bagi keduanya.
Amara yang sadar dari pingsannya merasakan sakit di sekujur tubuhnya, mencoba menetralkan pandangannya tetapi tetap saja gelap. Mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, namun tak bisa juga.
Ingatannya melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Amara tersadar, kini dia tau bahwa dia menjadi seorang tawanan. Apa salahnya? Kenapa dia disekap?
"Siapa disitu? Dimana ini?" ucap Amara yang mencoba melepas ikatan yang menjerat tangan dan kakinya.
"Sheyna Amara Rusdiantoro. Kau sudah siuman rupanya?" salah seorang bertanya padanya. Dia terdengar melangkah kearah Amara. Suara sepatu mahal terdengar nyaring berjalan mengelilingi Amara.
"Siapa kalian? Mau apa kalian? Lepaskan aku!"
ucap Amara. Lelaki disampingnya menyentuh pipi Amara dengan telunjuknya. Amara memalingkan wajahnya.
"Bahkan dalam keadaan tak berdaya kamupun masih sombong!" ucap lelaki itu, suara itu benar-benar meyakinkan hati Amara bahwa dia mengenalnya.
"Apa yang kamu inginkan, Tuan Milano?" teriak Amara. Tuan Milano tertawa.
"Oh, ternyata selain sombong kau juga pandai. Bagaimana bisa dalam mata tertutup kau mampu mengenaliku?" ucapnya.
Tuan Milano mengangkat dagu Amara, mencengkramnya dengan kuat. Amara merasakan sakit, bergerak kesana kemari mencoba melepas tangan Tuan Milano. Disaat yang seperti ini, hanya ada nama Micho di hatinya. Hanya ada Micho dalam pikirannya. Air mata mengalir deras.
"Lepaskan aku. Apa yang kau mau?" teriak Amara. Milano melepas dengan kuat penutup mata Amara sehingga kepala Amara membentur sudut sandaran kursi yang mengakibatkan pelipisnya mengeluarkan darah segar.
Arggghhh... Amara merintih sakit.
Pandangannya dengan jelas memandang orang-orang di depannya. Salah satunya adalah Erika, sahabatnya. Rayen, Tuan Milano dan Satu orang paruh baya yang sempat terdengar di telinga Amara ketika Rayen memanggilnya Om Roy.
__ADS_1
😢😢😢😢