
"Kau miliknya Dear?" tanya Zidan lagi sambil mengedipkan sebelah matanya. Amara terdiam, dia rasa Zidan tengah mengintimidasi dan tidak lagi bergurau.
"Aku," Amara tampak terbata. Zidan menatap Micho dengan sinis. Ia berdiri tegak dan memasukan tangannya di saku celana.
"Kau lihat, bahkan dia tidak mampu menjawab pertanyaan dariku. Jangan besar kepala, Tuan. Yang kau bilang milikmu nyatanya tidak menganggapmu miliknya," ucap Zidan lagi dengan senyum sinisnya. Micho melepaskan pinggang Amara, membuat gadis itu tampak tersentak kaget.
Micho maju beberapa langkah dan mencengkam kerah baju Zidan. Wajahnya sudah merah padam di penuhi Amarah. Zidan tampak santai dan menepuk pundak Micho.
"Santai bro, aku hanya berkata apa adanya. Bukankah begitu Dear?" tanya Zidan lagi sambil melirik Amara. Amara menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
Micho bersiap memberikan pukulan pada Zidan. Namun, Amara menangkis tangan Micho. Dengan perasaan tegang Amara menatap ke arah Micho. Tatapan mata mereka saling bertemu, dan saling mengunci. Micho menurunkan tangannya, sedang Amara menatap ke arah Zidan.
"Sebaiknya Kakak pergi, terimakasih telah menolongku." ucap Amara sambil tersenyum. Zidan melirik ke arah Micho.
"Kau yakin? Apa kau bisa meyakinkan aku untuk meninggalkanmu dengan dia?" tanya Zidan.
"Kakak tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja." jawab Amara.
"Okey, aku akan memastikannya nanti. Siapkan ponselmu untuk mengangkat panggilan dariku nanti malam Dear," ucap Zidan sambil mengusap puncak kepala Amara dan melenggang pergi. Micho tampak menatap punggung Zidan yang tengah pergi. Ada rasa sebal dan dongkol menyeruak di hatinya.
Amara dan Micho saling memandang, saling menatap dalam. Amara mundur beberapa langkah dan memutar tubuhnya. Micho menarik tangan Amara hingga mereka kembali saling berhadapan. Tatapan Micho begitu teduh, sementara tatapan Amara tampak kecewa.
"Ra, aku perlu bicara." ucap Micho.
"Aku lelah, sebaiknya kau pulang. Aku juga akan pulang, lepaskan tanganku," suara Amara terdengar jelas di telinga Micho. Micho memejamkan matanya.
"Ra, tolong dengarkan aku," pinta Micho.
__ADS_1
"Jangan memaksaku untuk bisa percaya pada ucapan mu, kamu butuh waktu untuk menentukan Mas. Kurasa kamu masih meragukan perasaanmu, cintamu masih tersesat dan belum menemukan pelabuhan," ucap Amara. Cairan bening meluncur dari mata indah Amara. Micho meraih pinggang Amara, tangan kirinya mengusap pipi mulus istrinya.
"Jangan salah paham, apa kamu meragukanku?" tanya Micho dengan sorot mata yang teduh.
"Menurutmu?" tanya Amara sambil mendongak menatap wajah tampan Micho yang tampak menyesal.
"Kalau memang kita tidak di takdirkan untuk bersama, dan kamu juga tidak bisa meneruskan semua ini. Maka, aku ikhlas jika kita mengakhiri peenikahan ini," ucap Amara di tengah isak tangisnya.
Micho mengerutkan dahinya, dia bingung dengan ucaoan yang keluar dari bibir Amara. Rasa sesak menyeruak di dada Micho. Mana bisa dia melepas wanita yang kini tengah memiliki hati dan jiwanya?
"Apa maksudmu?" tanya Micho.
"Bukankah kamu masih mencintai Sabrina?"
Micho terhenyak saat mendengar pertanyaan Amara. Hati Amara semakin pilu, dia tak ingin menjadi duri di tengah kisah cinta Sabrina dan Micho. Micho terdiam, dan memandang Amara.
Amara mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Micho, namum Micho menahannya. Micho masih terdiam, mencoba berfikir dan bertanya pada dirinya sendiri. Apa rasa cinta pada Sabrina masih ada? Dirinya telah meyakinkan hatinya tadi, bahkan ketika mengucap cinta pada Sabrina tak ada sedikitpun getaran yang mengusik hatinya, yang ada hanya bayangan wajah cantik Amara yang menghantuinya.
Hati Amara semakin perih, saat melihat Micho tampak diam dan mengabaikan ucapannya.
"Okey, aku rasa kamu memang masih tersesat. Pikirkan kembali, dan aku akan segera pergi, Mas." Amara melepas pelukan Micho dengan paksa. Micho masih saja berdiam tanpa bereaksi. Amara menatap Micho dengan tatapan juga perasaan yang rumit.
"Apa kamu rela aku mengejar Sabrina? Apa kamu rela? " tanya Micho. Amara terdiam dan memalingkan wajahnya. Pertanyaan Micho begitu mengusik pikirannya, mana bisa dia membiarkan lelaki yang memiliki hatinya mengejar orang lain? Pertanyaan bodoh dari mana yang dilontarkan Micho? Amara tampak bimbang. Namun, Micho seakan menuntut jawaban darinya.
"Itu terserah padamu,"
Ucapan Amara tercekat di tenggorokan, Micho menatap Amara dengan tajam. Mengangkat wajah Amara untuk menatap dirinya. Pandangan mereka bertemu dan saling menyelami.
__ADS_1
"Bukan itu yang ingin aku dengar," ucap Micho lirih. Ia masih memegang dagu Amara sehingga keduanya masih saling menatap.
"Lalu apa yang ingin kamu dengar?" tanya Amara sedikit membentak.
"Rela atau tidak?" tatapan Micho semakin dalam. Amara menepis tangan Micho kemudian memalingkan wajahnya kembali.
"Kenapa meminta pendapat dariku? Bukannya itu wewenangmu? Kau bisa melakukan apapun dengan sesuka hatimu," bentak Amara. Micho mengusap kasar wajahnya.
"Aku perlu pendapatmu, Rela atau tidak? " bentak Micho lagi.
"Kenapa meminta pendapat ku? Kau bisa menentukan sendirikan?" ucap Amara tak kalah ketus.
"Okey, aku akan menentukan nya sendiri," ucap Micho. Amara mengangguk pelan.
"Ya, itu urusanmu." ucap Amara memejamkan matanya, sesuatu yang menyakitkan menyeruak di dadanya. Air mata membasahi pipinya. Apa yang membuat dirinya menangis? Apa dia tidak rela Micho kembali pada Sabrina?
Air mata Amara semakin deras, Micho menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia mengusap wajah Amara yang sudah banjir dengan air mata.
"Sudah berapa kali aku bilang jangan menagis? Kau tau kau semakin menggoda jika seperti ini," bisik Micho ditelinga Amara. Membuat Amara tersipu dan mengusap air matanya. Amara menatap ke arah Micho. Micho mengangkat tubuh Amara dan membopong menuju mobil. Amara terkejut dan melingkarkan tangannya di leher Micho.
Damar yang menyaksikan drama itu sedikit lega, pasalnya suasana sangat tegang tadinya. Dan Micho berhasil mencairkan suasana.
"Lepas," berontak Amara. Micho tak mendengar ucapan istrinya dan mendudukan Amara di samping kemudi.
"Kita ke apartemen saja. Aku sudah izin papa dan mama, jangan membantah Baby, aku akan membuktikan padamu jika cintaku tidak tersesat,"
ucap Micho dengan suara seraknya kemudian menancap gas mobilnya. Mendengar ucapan Micho, hati Amara terasa hangat. Amara menggigit bibir bawahnya, apa yang akan dilakukan Micho untuk membuktikan cintanya? Hatinya yang tadi merasa dongkol, kini malah merasa penasaran.
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣