
"Aku menginginkanmu, Nyonya," lirih Micho, desakan hasrat aneh memenuhi jiwanya. Amara memejamkan matanya, ia juga merasakan hal yang sama.
"Uncle, aunty," suara itu membuyarkan fantasi g*i*ra* diantara keduanya. Micho mengepalkan tangannya, bagaimana bisa Olive mengganggu permainan panasnya yang hampir saja membara. Micho dan Amara segera berdiri tegak dan berbalik badan menatap ke arah Olive yang tampak menatap ke arah mereka.
"Sayang, ada apa?" tanya Amara sambil berjongkok menatap ke arah Olive.
"Aunty sakit? Kenapa uncle mendekat-dekat sepelti tadi? Apa pelut aunty sakit? Kenapa dipegang-pegang sama uncle?" tanya Olive tampak khawatir.
Micho mengusap wajahnya kasar, benar-benar hari yang sial. Nada, Olive, lalu siapa lagi yqng akan mengganggunya? Kepengen mengantarkan bocah itu kerumahnya lagi.
"No, aunty tidak sakit. Olive mau makan juga?" tanya Amara sambil tersenyum. Olive menggeleng pelan.
"Olive mau minum," jawabnya. Amara tersenyum dan mengambilkan segelas susu untuk Olive. Gadis kecil itu tersenyum dan menerimanya.
"Uncle, antar aunty ke kamal. Bial aunty istilahat," ucap Olive, Micho tampak berbinar dan menatap Amara dan mengedipkan matanya.
"Lalu, kamu bagaimana?" tanya Micho.
"Olive main, uncle jangan nakal ya," ucap Olive kemudian berlalu. Kini tinggal Amara dan Micho saling memandang. Micho mengangkat tubuh mungil Amara dan membawanya ke arah Kamar.
"Tolong dikondisikan tangan Anda, Tuan Micho," ucap Amara dengan sorot mata tajamnya. Micho yang sedikit terkejut hanya tersenyum saja. Tangan kirinya mengusap rambutnya yang tidak gatal. Menghilangkan rasa gugup yang menjelajahi hatinya setelah membaringkan Amara di ranjangnya.
"Maaf Nona Amara. Aku hanya berniat baik, aku rasa kamu sangat kecapekan. Makanya aku berbaik hati untuk mengangkatmu," ucap Micho sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Terima kasih, atas perhatian anda Tuan Micho yang terhormat," ucap Amara. Amara menghempaskan pelan tangan Micho, kemudian duduk disamping Micho.
"Apa aku mengganggu?" tanya Micho. Amara menoleh kearah Micho kemudian melirik jam dinding yang menunjukan pukul 14.00.
"Apa kamu tidak bisa berfikir sendiri? Kenapa masih bertanya," geram Amara. Sejujurnya bukan itu yang ingin dia ucapkan. Namun Amara seakan menahan gejolak rasa yang berkecamuk di hatinya.
"Jangan galak-galak kenapa? Aku takut," ucap Micho menggoda. Namun, Amara masih saja dengan wajah juteknya, mengabaikan lelucon yang dilontarkan Micho.
Amara menurunkan kedua kakinya, berdiri dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. Amara memandang ke arah jejeran bangunan yang menjulang tinggi.
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa malah kesini?" tanya Micho. Amara menghela napas panjang dan menatap kearah Micho. Tiba-tiba saja dia merasa takut. Bayangan beberapa preman, kekerasan, bayangan Rayen, Erika, Milano, semua berkumpul menjadi satu.
"Mas, apa kamu benar-benar tidak mengenal mereka?" tanya Amara. Micho menatap Amara dan mengusap pelan wajah yang tampak khawatir itu.
"Sayang, aku mohon. Percayalah padaku," pinta Micho. Micho menggenggam tangan Amara, memberikan ketenangan.
Lagi-lagi bayangan lekerasan 4 tahun yang lalu mengiang di pikirannya. Kekerasan beberapa hari yang lalu juga terekam jelas. Kejadian 2 malam yang lalu juga sangat menyita peehatiannya. Kejadian tadi, juga mulai mengusik otaknya.
Jika semua ini bukan ulah Micho, lalu siapa? Amara memejamkan matanya.
Papa dan mama tidak pernah menolak atau menerima karna kamu akan dalam bahaya, sedangkan kamu jauh disana. Sekarang, kamu sudah bersuami, jika papa lengah menjagamu ada suamimu yang akan selalu berdiri disini, sampingmu
Kata-kata papanya membuat Amara sedikit tersentak. Apa yang disembunyikan papa dan mamanya? Apa mereka tau tentang manusia jahat yang selalu menghantuinya? Amara menatap ke arah Micho.
__ADS_1
"Mas, aku rasa ada hal yang tidak beres. Kejadian yang menimpaku adalah suatu yang di rencanakan," ucap Amara lirih. Micho tersenyum dan menatap Amara lekat.
"Tenangkan dirimu, aku harus pergi. Jangan kemana-mana," ucap Micho sambil mengecup puncak kepala Amara, kemudian melangkah.
"Mas, mau kemana?" tanya Amara khawatir.
"Aku akan memberitahumu nanti, sekarang temani Olive. Biarkan malam ini dia disini, aku pulang larut malam," ucap Micho sambil mengusap pelan puncak kepala Amara.
"Hati-hati, Mas." ucap Amara.
****
"Bagaimana bisa kalian gagal? mencelakakan satu orang saja kenapa sulit?" bentak Roy pada Anak buahnya.
"Maaf bos, dia bukan wanita biasa. Dan Den Micho aku rasa juga mengenalnya," ucap salah satu dari mereka. Roy tampak pias dan menatap tajam ke arah anak buahnya.
"Kalian yakin?" tanya Roy sinis.
"Ya, kami yakin," ucap preman itu. Roy menghela napas panjang. Bagaimana bisa?
Roy mengeratkan rahangnya ketika ponselnya beebunyi dan menampakkan nama Tuan Milano di sana.
***
__ADS_1
Like komen dan jadiah jangan lupa...Love kalian semua