
"Biarkan mereka pergi," ucap Papa Rusdi pada Kenzo. Pada akhirnya Kenzo mengalah dan melangkah ke sofa. Melati dan Mama Hana menatap 2 orang yang kini duduk bersebelahan dan saling berdiam.
"Micho orang yang baik, tidak seperti papanya. Kau bisa mempercayai ucapanku karna aku sendiri yang menyelidiki tentangnya," celoteh Papa Rusdiantoro panjang lebar.
Kenzo yang tadinya memang meragukan kebaikan Micho kini mulai antusias mendengar ucapan Papa Rusdiantoro. Dia menatap ke arah di mana Papa Rusdiantoro berada.
"Apa yang bisa membuat keraguanku hilang, bahwa pada diri anak itu tidak ada kejahatan seperti papanya? Roy, dia pembunuh bayaran yang tega melakukan apapun untuk melenyapkan targetnya. Termasuk keluarga kami," ucap Kenzo. Keraguan masih saja menyelimuti hatinya.
"Micho lama berpisah dengan papanya, sedari kecil dia tinggal bersama orang tua angkatnya. Di kehidupannya bersama dengan orang tua angkatnya dia hidup sebagaimana mestinya, bahkan dia meniti karirnya sendiri hingga sukses seperti saat ini," Jelas papa Rusdiantoro.
"Hanya itu? Bukankah papa angkatnya juga masuk bui? Bukankah itu artinya dia sama bejatnya?" tanya Kenzo.
Papa Rusdi tersenyum dan memandang Kenzo.
"Prayoga orang baik, meskipun dia melakukan kekhilafan. Aku sudah bertemu dengan Alexander, temanku. Dia pemilik Alexander group, dan saat ini dia akan mencabut tuntutan pada Prayoga karna apa yang terjadi sebenarnya hanya kesalah pahaman dalam kekeluargaan,"
"Jadi?"
"Tidak ada keraguan apapun, Micho baik. Bahkan selama ini karna Micholah Amara bisa menjaga dirinya," ucap Papa Rusdiantoro lagi. Kenzo dan Melati Menatap ke arah Papa Risdiantoro. Mencoba mempercayai apa yang di ucapkannya.
"Bagaimana bisa?" tanya Melati. Papa Rusdi menerawang jauh sampai pada akhirnya merelakan Amara menikah dengan Micho.
Dengan panjang lebar Papa Rusdi menceritakan kejadian demi kejadian yang dialami putrinya. Mama Hana, bahkan Rafa yang tidak mengetahui kebenaran itu tercengang.
"Jadi Amara merusak pernikahan Micho? Karna dia pikir Micho menodainya?" tanya Melati.
"Ya, Amara memilih pergi dan dia menutup diri, dengan itu dia menjaga dirinya dari manusia yang bernama laki-laki. Sehingga takdir mempertemukan mereka kembali, aku yang menyelidiki sendiri tentang Micho. Kepribadian bahkan kehidupannya, sampai pada akhirnya aku yang meminta mereka untuk bersama," lirih papa Rusdi.
"Jadi semua itu salah paham? Dan bukan ide gila Milano atau Roy?" tanya Kenzo.
"Bukan, perampokan itu terjadi karna ulah Erika, teman Amara sendiri, Micho benar-benar tak memgetahui apapun. Bahkan Tuhan mengirimkan dia untuk menyelamatkan putri kita. Tapi, karna putri kita terlalu pandai menyimpulkan sesuatu, terjadilah pertikaian itu." ucap Papa Ruadi.
"Intinya Micho akan memperjuangkan cintanya pada orang yang yang sanggup memenangkan hatinya, yaitu adalah Amara. Dia akan melakukan apapun untuk membahagiakannya," sahut Rafa.
Rafa yang menyimak cerita papanya baru mengetahui kebenaran. Jadi papanya tau kebenaran ini? Kenapa dia dan Amara dulu menyimpannya? Sekarang terjawablah sudah pertanyaan di hatinya bahwa Amara memang benar-benar tidak di lecehkan oleh Micho.
Keempat orang itu menoleh ke arah Rafa, bahkan Papa Rusdi sampai lupa jika Rafa adalah sahabat dari Micho.
__ADS_1
"Serius?" tanya Melati.
"Iya tante, serius. Aku besahabat baik dengan Micho, Sabrina satu satunya wanita yang dekat dengan Micho sebelum pada akhirnya Micho jatuh ke pelukan Amara. Bahkan Micho rela melindungi Amara dari penembakan yang di luncurkan papanya sendiri, dia juga menembak papanya sendiri demi menyelamatkan Amara.
Kenzo dan Melati menghela napas panjang. Setidaknya dia yakin Amara berada dalam rengkuhan tangan yang tepat.
****
Amara berjalan di belakang Micho, Micho menggenggam erat tangan istri yang begitu dia cintai. Sampai pada akhirnya Micho melihay 2 polisi di depan pintu ruang rawat papanya. Ya, dia yang meminta polisi itu menjaga keamanan dirinya dan keluarganya.
"Maaf pak, saya ingin menjenguk papa saya sebentar," ucap Micho.
"Oh iya pak Micho, kami juga ingin melaporkan bahwa untuk Terlapor yang bernama Tuan Milano dan Rayen telah kami tangkap. Jadi, hanya Tuan Roy saja yang masih melakukan perawatan, jadi saya informasikan karna keadaan Tuan Roy sudah membaik kami akan membawanya segera ke tahanan," ucap polisi itu panjang lebar dan diangguki oleh Micho.
Micho dan Amara melangkah masuh, dilihatnya lelaki paruh baya yang memiliki wajah yang sedikit mirip denganya tampak memandang langit kamar. Ada sebuah kesedihan yang tersirat di matanya. Ada luka yang menganga, sampai pada akhirnya dia meneteskan air mata.
"Papa,"
Suara lirih Micho membuat Roy mengusap air mata yang membasahi pipinya. Dengan segera Roy duduk dan menatap Micho dengan binar kebahagiaan.
Seketika mata Roy membelalak dan menghentikan langkah Micho.
"Dia istriku, dia hamil cucu papa," lirih Micho.
Deg
Jantung Roy seperti di tusuk ribuan pisau, sakit dan sangat menusuk hati. Bayangan masalalu berputar hebat seperti filem di otaknya. Bagaimana dia melindungi istrinya yang hamil dulu, kesuksesan membuat dirinya mempunyai banyak musuh.
Keselamatan keluarganya sangat terancam, hingga pada akhirnya setelah istrinya melahirkan dia menghilang dan di temukan dengan keadaan yang tidak bernyawa.
Suatu hal yang menyakitkan baginya harus kehilangan seorang istri, dan pada akhirnya despresi melanda dan membuatnya seperti kesetanan sehingga terjerumus dalam lembah hitam yang menyesatkan.
Lelahan air mata membasahi pipinya, istri? Kata itu tak mampu dia pendam. Menyakiti istri dari anaknya tidak pernah dia rencanakan sebelumnya. Kenapa kenyataan begitu pahit jika memang benar targetnya adalah menantunya sendiri? Sakitnya kehilangan istri membuatnya salah. Lalu, apa yang telah dia lakukan? Hampir saja dia melenyapkan Amara, dan berhasil di hentikan oleh Micho.
Roy menatap Amara dengan sedikit tenang, Micho memggenggam tangan Amara dengan erat. Amara yang merasa sedikit takut mulai tenang, saat sorot mata tajam dan menakutkan dari Roy tampak berangsur menghilang.
"Jangan mencoba membohongi papa," ucap Roy. Micho maju beberapa langkah dan menatap ke arah papanya. Menatap wajah teduh yang masih saja tampak sembab karna lelehan tangisnya.
__ADS_1
Amara masih berada di samping Micho dan masih saja menggenggam erat tangan Micho. Merasakan dag dig dug tak karuan.
"Aku tau, bagaimana papa sebenarnya adalah orang baik. Papa, lupakan masa lalu. Mama sudah bahagia disana. Papa punya Micho dan Amara, papa juga punya cucu disini," ucap Micho sambil mengusap pelan perut datar Amara.
Sentuhan itu mampu membuat Amara berdesir ngilu. Tangisan tak mampu ia bendung. Melihat interaksi papa dan anak itu membuatnya terharu. Manusia sejatinya tak ada yang jahat. Mereka punya hati yang mungkin masih diselimuti prasangka yang salah sehingga membuat dirinya khilaf.
Air mata Micho melelleh, ia melepas genggaman tangan Amara kemudian mengambil tangan papanya. Menciumnya dengan takdzim air mata Micho mengalir deras diatas tangan itu.
"Papa, papa adalah papa Micho. Micho sangat menyayangi papa walau baru saja kita bertemu. Terimakasih telah menjaga Micho dari bahaya dengan mengirimkan orang papa, dari situ aku tau bagaimana papa sangat menyayangiku," lirih Micho.
Roy memejamkan matanya, lelehan tangis membasahi pipinya memdengar ucapan putra yang selama ini tak sanggup dia peluk. Sayang? Dia sangat memyayangi Micho. Mencintai Micho.
Diiringi deraian tangis di matanya, Roy mengulurkan tangan kirinya. Mengusap dengan sayang kepala Micho yang menunduk karnaencium tangannya. Deraian air mata semakin deras mengucur dari mata ketiganya. Sentuhan itu membuat Micho menatap papanya kemudian memeluk erat papa yang selama ini dia cari. Papa yang selama ini dia tanyakan pada Prayoga dan tak pernah mendapat jawaban.
"Maafkan papa, papa bukan orang baik. Papa telah membunuh banyak orang, dengan tangan papa sendiri. Micho, jaga istrimu. Maafkan papa yang tak pernah bisa menjaga mamamu," lirihnya.
Amara memejamkan matanya. Haru rasanya melihat pemandangan ini. Micho dan dirinya sama-sama teepisah dari orang tua kandungnya dan di pertemukan.
Roy melepas pelukan Micho kemudian menatap ke arah Amara. Menurunkan kakinya dari ranjang dan duduk menghadap Amara dengan kaki menggantung. Amara sedikit pias dan mundur beberapa langkah. Micho terdiam, dia juga tak tau apa yang akan dilakukan papanya.
"Kau takut?" tanya Roy. Amara terdiam dan menatap mertuanya itu. Roy tersenyum dan mengulurkan tanganya.
"Sini, papa tidak akan menyakitimu," ucapnya. Amara menatap Micho. Micho mengangguk. Pada akhirnya Amara maju. Roy mengambil tangan Amara, kemudian mengambil tangan Micho. Menyatukan kedua tangan itu di atas pangkuannya.
"Kalian berbahagialah, dan jaga cucu papa dengan baik. Papa akan menimang cucu papa setelah papa mendapat hukuman," ucap Roy. Amara dan Mihco melepas tangan mereka. Keduanya merangkul pundak Roy.
"Kami tunggu papa, kami juga akan sering menjenguk papa," ucap Micho.
Roy mengangguk. Tak ada lagi apapun yang mengganggu pikirannya. Bahkan putranya telah bahagia. Dengan mempertanggung jawabkan perbuatannya adalah konsekwensi yang harus dijalani karna ulahnya. Sudah saatnya dia bertobat dan memperbaiki diri setelah apa yang dia lakukan. Mempersiapkan kematian yang tak pernah tau kapan datangnya. Beruntung Tuhan masih memberikan kesempatan.
Ruang rawat terbuka dengan lebar, keluarga besar Amara sedari tadi berada di sana dan merasa lega melihat dan mendengar perbincangan itu. Mereka melangkah masuk dan saling meminta maaf.
Memperbaiki hubungan adalah hal terbaik. yang berlalu biarlah berlalu, kabahagiaan adalah hal yang tak tergantikan. Keluarga adalah segalanya.
Sampai pada akhirnya polisi datang dan membawa Roy untuk ikut bersama mereka.
******
__ADS_1