Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Apa kamu mencintainya?


__ADS_3

"Aku akan melihat cinta atau tidak kamu pada Amara dari sini Micho. Mari kita bermain, sampai kapan gengsimu itu mampu mengalahkan dirimu," batin papa Rusdiantoro.


Amara menghapus air matanya dan mengikuti langkah papanya dengan tenang.


"Apa ada sesuatu? Kenapa kamu menangis? Ada hal yang mengganggu pikiranmu?" tanya papanya ketika menapaki tangga yang akan menuju ke pintu utama. Amara mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Percuma saja mengungkapkan isi hatinya dan memberontak, karna memang apa yang di katakan papanya benar adanya. Micho tidak pernah mengharapkan pernikahan ini.


"Tidak ada pa," jawab Amara.


"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya papanya. Amara terdiam saat mereka telah berada di depan pintu. Papa Rusdiantoro memandang Amara dan tersenyum.


"Papa adalah orangtuamu, apapun yang papa lakukan adalah usaha papa untuk membahagiakanmu," ucapnya.


Amara sedikit terusik dengan kalimat yang diucapkan papanya.


"Membahagiakan aku? Dengan cara seperti ini?" tanya Amara. Air mata Amara meleleh, Papa Rusdiantoro mengusap pelan pundak putrinya.


"Papa memaksa aku menikah dan papa akan memaksa aku berpisah, lalu menikah lagi begitu? papa macam apa yang tega memperlakukan putrinya seperti ini?" tanya Amara di tengah isak tangisnya. Papa Rusdiantoro tersenyum, kemudian meraih Amara dalam dekapan hanganya.


"Apa papa bilang begitu padamu? Hem?" tanya papanya. Amara sedikit tenang saat mendapat pelukan hangat dari papanya. Amara terdiam tak menjawab pertanyaan papanya, hanya saja isak tangisnya terdengar di telinga papanya.


"Papa hanya bilang Rayen datang untuk melamarmu, papa juga hanya memintamu untuk menemuinya. Lalu dimana salah papa? Apa papa memintamu untuk menerima pinangannya?" tanya papanya dengan lembut sambil mengusap pelan puncak kepala Amara.


Amara mendorong papanya dan menatap papanya dengan tajam. Amara menyunggingkan senyum dan mengusap air matanya.

__ADS_1


"Papa mengerjaiku? Papa suka melihat aku menangis?" tanya Amara dengan wajah sewotnya. Papanya tertawa.


"Apa wanita yang sudah menikah tidak boleh bertemu laki-laki lain? Mungkin jika niatnya selingkuh tidak boleh, ini papa hanya ingin meminta bantuanmu untuk memberi pengertian pada Tuan Milano dan Rayen kalau kamu sudah ada pilihan. Papa hanya mengajakmu saja karna papa tau bagaimana liciknya mereka, papa takut Micho dalam bahaya nantinya." ucap papanya panjang lebar sambil dan menepuk pundak putrinya pelan.


"Tapi papa seakan mempermainkannya," sanggah Amara.


"Apa kamu tidak terima? Apa kamu mencintainya?" tanya papanya tegas. Amara tersenyum dan berhambur ke pelukan papanya.


"Aku tidak tau, Pa." sahut Amara.


"Kalian terlalu kebesaran ego," sahut papanya. Amara tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Papa akan menjadi orang tua yang selalu di garda depan untuk melindungi anak-anaknya. Papa dan mama sangat menyayangi kalian," ucapnya.


Amara merasakan bahagia. Kini netranya beradu dengan Tatapan mata Micho yang memandang dari bawah, Amara memalingkan wajahnya dan menghindari Tatapan Micho.


Micho yang sempat melihat Amara menangis tampak khawatir, tapi saat melihat Amara tersenyum dia mulai gusar.


"Apa yang diucapkan papanya? Kenapa sekarang Amara masuk dengan senang hati? Apa artinya Amara mau menerima lamaran ini?" batin Micho.


"Micho, kau harus melakukan sesuatu." ucap Rafa yang kini ada di belakang Micho. Ini pertama kalinya Rafa bicara dengan tenang pada Micho.


"Apa kau pikir aku akan diam saja?" bentak Micho. Rafa mengeratkan tangannya, kenapa disaat dia baik-baik saja malah Micho seperti mengajak perangπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. pikirnya.

__ADS_1


Micho berlari hampir melangkahkan kakinya menaiki tangga.


"Tunggu, tetap berdiri di tempatmu," suara itu membuat Micho berhenti dan memutar tubuhnya.


"Mama," ucap Micho dan Rafa bersamaan.


"Ma, Micho harus mencegah Amara dan papa," ucap Rafa tampak khawatir.


"Tetap berdiri di tempatmu, atau kalian bisa meninggalkan rumah ini sementara waktu. Jangan mengganggu pertemuan mereka," ucap mama sambil membenarkan tas tangannya.


Micho memejamkan matanya, hatinya seakan tak terima dengan semua kenyataan yang ada.


"Tapi ma, Amara dilamar, aku tidak bisa membiarkan istriku di lamar," sanggah Micho.


"Jangan membantah, kalian menyingkirlah!" ucap Mama Hana. Micho dan Rafa tampak berpandangan. Dengan hati yang berkecamuk dan marah Micho melangkah pergi. Rafa mengikutinya.


Mama Hana tersenyum. Ia membuka ponselnya, dan membaca pesan dari papa saat pulang dari rumah sakit untuk cek kesehatan.


Mama, Tolong halangi Micho untukmu masuk rumah. Jangan sampai Tuan Milano mengenali wajah mantu kita. Aku takut Micho dalam bahaya,


Oh ya, mama Akan tersenyum melihat anak-anak yang tengah kasmaran itu. Tingkahnya benar-benar aneh. Rafa juga ikut baperπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Ya papa benar, apa Micho pikir Amara tidak bisa menolak?" batin mama Hana.

__ADS_1


"Rafa, kenapa kamu yang biasanya cerdas mendadak begini, apa adikmu yang mengendalikanmu lagi? Sampai kapan kamu selalu memanjakannya," gumam Mama Hana.


😁😁😁😁


__ADS_2