Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
98


__ADS_3

Pagi hari yang hangat di tempat makan, keluarga Rusdiantoro tengah selesai makan. Mama Hana tampak bahagia melihat Amara dan Micho yang tampak bahagia. Mama Hana juga menatap Rafa yang tampak tenang.


"Mama senang sekali melihat anak mama bahagia, mama sangat berharap kalian selalu bahagia. Menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah." ucap mama Hana dan tersenyum. Papa Rusdi merangkul pundak istrinya dan mengangguk pelan.


"Kamu Rafa. Mama harap kamu segera menikah, apa kamu tidak ingin bahagia seperti Rara dan Micho. Mama sih berharap mereka segera memberikan cucu yang lucu seperti oliv," ucap Mama Hana sambil menatap Amara dan Micho.


"Uhuk ... uhuk..." ucapan mama malah tersambut dengan sedakan yang di dera oleh Amara dan Rafa. Membuat Mama Hana, Papa Rusdi dan Micho saling memandang.


"Kalian terlalu kompak," ucap Micho sambil menggelengkan kepalanya. Dia meraih gelas yang berisi air putih dan meneguknya. Amara dan Rafa membalas tatapan Micho dengan sorot mata tajam yang menciptakan sebuah keadaan yang sulit dijelaskan.


"Ma, Pa. Ada yang ingin Micho bicarakan," Micho berucap setelah mengelap mulutnya dengan tisue. Papa Rusdi dan Mama Hana antusias memandang ke arah Micho, begitu juga dengan Amara dan Rafa.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Micho?" Papa Rusdi bertanya sambil meletakkan kedua tangannya di meja.


"Begini, Pa. Saya izin untuk membawa Amara untuk pulang bersama saya ke rumah. Mengingat papa saya tengah berada dalam tahanan. Saya rasa dengan begitu akan mempermudah waktu saya," ucap Micho sambil melirik ke arah Amara yang sekarang juga mengarahkan pandangan kepadanya.


Mama Hana dan Papa Rusdi saling berpandangan, dan menatap Micho dengan intens.


"Apa yang terjadi? Apa kamu perlu bantuan? Papa akan menghubungi orang papa untuk menyelesaikan masalahmu," Papa Rusdi tampak khawatir dan menatap Micho dengan raut wajah kekhawatirannya.


"Tidak pa, saya rasa saya masih bisa untuk mengatasinya. Terimakasih atas perhatian papa," Micho menjawab dengan tenang meskipun sebenarnya hatinya merasakan kekhawatiran yang sama.


"Okey kalau memang kamu masih bisa mengatasi, papa berharap masalah kamu cepat selesai." ucap papa sambil tersenyum ke arah Micho. Amara melihat keresahan di hati manusia yang telah mengakui telah mencintainya itu. Disaat yang sama, Micho mengarahkan pandanganya ke arah Amara. Tatapan keduanya saling beradu dan saling mengunci.


"Micho, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa kau ada waktu?" Rafa menyela dan mengarahkan pandangannya ke arah Micho yang tampak gelisah. Micho menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Satu jam untukmu," sahut Micho. Rafa bangun dari duduknya dan melangkah pergi, Micho juga melakukan hal yang sama kemudian mengikuti langkah Rafa menuju ke ruang kerja. Amara, mama dan juga papa hanya bisa melihat keakraban yang tercipta antara kedua lelaki tampan itu.

__ADS_1


"Apa yang mau kamu sampaikan kakak ipar?" Micho bertanya dengan seulas senyum kemudian duduk di depan Rafa yang kini menatapnya dengan tajam. Lelaki tampan itu tampaknya tak suka dengan panggilan yang di lontarkan oleh Micho padanya.


Rafa melemparkan dikumen padanya, Micho membaca lembar demi lembar dokumen yang diberikan oleh Rafa. Micho memejamkan matanya dan tak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh papanya.


"Aku rasa papamu sangat keterlaluan," Rafa menyandarkan punggungnya di kursi putarnya. Netranya tampak melirik ke arah Micho yang masih berkutat dengan dokumen pemberiannya.


Micho mengepalkan tangannya, dia tak percaya papa yang dia sayangi melakukan hal serendah itu. Padahal dirinya juga memberi banyak materi yang lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhannya.


"Sebaiknya kita menemui Abimanyu dan juga Andika Alexander. Kita mencoba bernegosiasi untuk mengembalikan apa yang menjadi hak mereka dan meminta mereka membebaskan papamu," ucap Rafa. Micho memejamkan matanya.


Kenapa papanya sampai sebegitunya? Motif apa yang mendorong papanya untuk itu? Apa lagi yang dia mau? Harta? Bahkan Micho sudah memberikan lebih dari cukup? Micho tampak geram saat Dokumen itu menjelaskan bahwa papannya meminta bantuan seorang gadis untuk menjalani misinya. Gadis itu juga yang mencelakaan Khalista dan Juga Zahira istri dari Bima dan juga Andika sehingga mereka hampir saja kehilangan nyawa.


"Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanya Micho. Rafa menggeleng pelan, ia mengangkat bahunya.


"Yang aku tau, Bima enggan untuk mengambil hartanya kembali karna terlalu trauma dengan hal buruk yang menimpa istrinya. Andika? Asisten sekaligus kakak iparnya itu melakukan hal yang sama, dia juga tak memikirkan perusahaan yang berada dalam genggaman papamu, karna dalam kecelakaan yang terjadi istri Andika terluka parah dan mengakibatkan dirinya Amanesia. Aku rasa kedua Tuan Muda itu enggan untuk mengambil resiko, makanya ia menyerahkan segala urusannya pada pihak yang berwajib," tutur Rafa panjang lebar.


"Andika dan Bima? Aku rasa bukan mereka, jika mau mereka bisa melakukan hal itu jauh sebelumnya. Nyatanya Bima malah memilih kehidupan sederhana dan bekerja sebagai supir taksi." ucap Rafa. Micho menghela napas panjang,


"Apa yang sebenarnya terjadi?" pikir Micho.


Micho tampak bergetar mendengar cerita dari Rafa. Kenapa mendengar nama Bima, Andika, Zahira dan Khalista membuat hatinya berdesir. Micho memijat pelipisnya hingga ingatan tertuju pada ucapan papanya bahwa saudara dari papanya yang notabenenya adalah pemilik asli perusahaan itu memiliki keturunan. Lalu, dimana saudara sepupunya itu berada? Mungkin mereka bisa membantu, pikir Micho.


"Kalau bukan Bima ataupun Andika. Lalu siapa yang membuat kekacauan?" tanya Micho pelan. Rafa menghela napas panjang. Rafa mengambil kembali beberapa dokumen yang kedua, ia menyerahkan pada Micho. Micho meraih dokumen itu dan membukanya.


"Taza Star, bukankan mereka yang menyuntikkan dana padamu?" tanya Rafa.


Mengingat Taza star membuat dirinya mengingat pertemuan dirinya dengan Taza Alexandra. Micho menangkap benang ruwet disana. Taza Alexandra? Sabrina? Wajah yang tampak mirip itu membuat kepalanya berdenyut dengan cepat. Micho menangkap sebuah keganjilan yang sangat mencolok disini.

__ADS_1


"Apa maksudmu Rafa?" Micho tampak berfikir keras.


"Taza Star dahulunya Bernama Alfa Star, perusahaan yang didirikan oleh Nyonya Tania Alexander. Dan sekarang berganti nama dengan Taza Star. Perusahaan tersembunyi milik mereka. Dilihat dari namanya, aku rasa perusahaan itu dikendalikan oleh 2 menantu nyonya Tania. Khalista dan juga Zahira,"


Micho memejamkan matanya, ia begitu mengingat dengan jelas Taza Alexandra mengatakan padanya telah bersuami. Wajah itu benar-benar mirip dengan Sabrina. Lalu, bukankah menantu keluarga Alexander adalah Khalista? Micho masih berfikir hebat, bergulat dengan batinnya dan otaknya untuk menemukan hal yang mengganjal di pikirannya.


"Taza Alexandra? Sabrina? Khalista?" lirih Micho. Micho membuka matanya dengan lebar.


"Sabrina Khalista Bagaskara?" ucap Micho.


Deg!!!


Jantung Micho seakan mendapat hantaman batu besar yang membuatnya merasakan sesak yang menyeruak di dadanya. Micho menyambar dokumen itu dan berdiri. Rafa yang mendapati Micho tidak baik-baik saja tampak berdiri dan menatap Micho dengan khawatir.


"Micho, apa kau menemukan titik temu dari informasi yang aku ucapkan?" tanya Rafa. Micho terdiam dan melangkah pergi. Rafa memandang kepergian Micho yang terburu.


Amara yang dengan gelisah menunggu di depan pintu tampak tersenyum melihat kemunculan Micho.


"Mas, ada apa?" tanya Amara yang melihat Micho tampak dingin dan tidak baik-baik saja.


"Mas, ada apa?" tanya Amara lagi.


"Diam, jangan bertanya adapun saat ini," sentak Micho.


Micho berlalu begitu saja tanpa memperdulikan ucapan Amara.


Amara memejamkan matanya, rasa sesak menyeruak di dadanya. Bahkan baru tadi malam hubungan mereka membaik, dan kini dia harus kembali melihat dingin dan acuhnya seorang Micho Aditya pratama.

__ADS_1


😂😂😂😀


__ADS_2