
Malam hari yang indah, Amara dan juga Papa Prayoga mengendarai mobil menuju ke arah dimana alamat yang tertera di undangan.
Papa Prayoga bebas dari tuntutan karena Tuan Alexander mencabut tuntutannya. Kebahagian benar-benar memihak pada Micho dan juga Amara. Tuhan memberikan kebahagiaan setelah semua yang terjadi.
Sampailah mereka di kediaman keluarga Alexander. Micho memarkirkan mobil di halaman mansion besar itu. Ketiganya menatap ke arah pintu rumah yang terbuka lebar.
"Ayo," ajak Micho saat meghampiri Amara yang tampak bingung dan gugup.
"Sebaiknya kamu dan papa kesana dulu mas, aku ingin disini dulu," ucap Amara.
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu disini?" tanya Micho.
"Aku tidak akan kenapa-kenapa, aku ingin menenangkan hati sebelum bertemu dengan Sabrina," ucapnya. Micho mengusap pelan puncak kepala Amara dan menciumnya.
"Okey, aku harap kamu jangan kemana-mana," ucap Micho. Micho dan Parayoga berjalan ke atas, melewati anak tangga yang menghubungkan dengan pintu masuk. Prayoga berhenti sejenak dan menatap putranya.
"Papa kenapa?" tanya Micho.
"Papa hanya malu bertemu dengan Andika dan Zahira," ucapnya.
"Papa, mereka orang yang baik. Pasti mereka akan memaafkan papa," ucap Micho. Prayoga menghela napas dan mengangguk, merekapun kembali berjalan ke arah ruangan dimana pesta berlangsung.
"Selamat malam," ucap Prayoga sambil berjalan kearah kerumunan dan diikuti oleh Micho.
Semua mata mengarah pada asal suara. Mereka saling memandang, seketika suasana sedikit tegang ketika menyadari kedatangan Prayoga dan Micho. Tuan Alex yang menyadari keadaan menyambut kedatangan Prayoga dan Micho.
"Selamat malam, Prayoga." sambut Tuan Alex.
__ADS_1
Semua mata terbelalak melihat kedatangan Prayoga dan Micho. Pasalnya Prayoga seharusnya masih merasakan panasnya jeruji besi.Tetapi, saat ini mereka melihat Prayoga di depan matanya.
"Bima, Andika, papa sengaja membebaskan Tuan Prayoga," ucap Tuan Alex. Andika dan Bima saling memandang.
Prayoga adalah dalang dari semua masalah yang menyebabkan penderitaan Zahira dan Sabrina dahulu, mengapa papannya membebaskan? Pertanyaan yang mengiang diotak Andika dan Bima. Meskipun mereka telah membicarakan ini dengan Micho sebelumnya, nyatanya melihat Prayoga bebas juga menyiskan sesak di dada mereka.
"Om Prayoga adalah saudara tiri dari Papa Davit, papa dari Andika dan Zahira. Ada suatu kesalah pahaman sehingga Om Prayoga melakukan hal yang keliru. Jadi papa memutuskan untuk mencabut tuntutan agar kita sama-sama bahagia. Kita saling memaafkan dan membuka lembaran baru. Lagi pula semuanya sudah berlalu, dan om Yoga sudah menjalani hukuman selama 10 bulan ini," ucap Tuan Alex panjang lebar. Micho yang sudah tau cerita itu hanya menunduk, berharap 2 saudaranya itu mau memaafkan papanya karna masa lalunya.
Suasana yang semula tegang berubah hangat kembali saat Andika dan Bima menganguk pelan. Mereka saling merangkul dan saling memaafkan.
Kini Prayoga dan Micho ada di depan Bima, Zahira, Sabrina dan Andika. Suasana sedikit canggung, Prayoga menatap kearah 2 keponakan yang berpisah dengannya sejak kecil, Andika dan Zahira. Bahkan pertemuan mereka baru kali ini, mengingat sebuah kesalahan pahaman yang membuat Prayoga gelap mata dan ingin menghancurkan mereka demi merebut harta yang di kelola oleh Tuan Alexander.
"Maafkan Om,"
Prayoga memeluk Andika dan Zahira. Prayoga berdiri diantara Zahira dan Andika. Air Matanya mengalir deras, dirinya yang merasa kasih sayang papanya lebih cenderung ke papa Zahira dan Andika membuatnya gelap mata. Namun, semua telah jelas ketika Tuan Alex menceritakan betapa sayang Davit pada saudaranya ini.
Sedangkan Micho hanya menghela nafas lega melihat kebahagiaan ini. Andika adalah suami dari Sabrina, orang yang pernah spesial dihatinya, dan mereka kini adalah saudara sepupu, walau sangat aneh nyatanya semua ini memang terjadi. Micho menatap kearah Andika, Bima, Zahira dan Sabrina.
"Lupakan masa lalu, kita saudara," ucap Micho sambil tersenyum tipis ia juga sedikit melirik kearah Sabrina.
Andika menatap kearah Micho dan menarik pinggang Sabrina. Sabrina tampak terkejut, wajah nya bersemu merah.
"Kita saudara, jadi jangan melirik istriku seperti itu!" ucap Andika tegas, Micho sedikit menyunggingkan senyumanya.
"Sabrina, Katakan pada suamimu itu jika aku bisa mendapatkan orang lain yang jauh lebih sempurna darimu," ucap Micho ketus.
"Tak ada yang lebih sempurna dari istriku," sanggah Andika sedikit emosi. Micho menatap tajam kearah Andika.
__ADS_1
"Sabrina sempurna dimatamu. Tapi,tidak dimataku. Karna yang paling sempurna adalah istriku. Bahkan hanya Zahira wanita sempurna bagi Bima, bukankah begitu Tuan Bima?" tanya Micho. Bima mengaguk pelan dan merangkul singkat pundak Micho. Andika menghela nafas panjang, ia tertawa dan merangkul sesaat sepupu yang baru diketahuinya beberapa minggu yang lalu itu.
"Kau benar, Micho. Berbahagialah dengan jodohmu, kau harus segera menyusul mempunyai malaikat kecil yang tampan seperti baby Ran, anakku," ucap Andika. Micho tertawa dan memandang kearah Andika.
"Tunggu tanggal mainya Tuan Andika. Aku akan memperkenalkan wanita istimewa itu," ucap Micho. Seketika Micho tampak terkejut, dia teringat Amara yang ada di bawah.
"Kau kenapa?" tanya Andika yang menyadari gelagat aneh Micho.
"Andika, aku boleh mengajak Sabrina ke bawah?" tanya Micho. Andika membelalakan matanya.
"Kau jangan bergurau, bukankah aku bilang jangan mengganggu istriku?" bentak Andika sambil mencengkram kerah baju Micho.
Micho memejamkan matanya, nyatanya sepupunya itu masih saja mempunyai dendam dengannya dan masih mencurigainya. Sabrina dan Zahira tampak gugup melihat kedua orang itu. Untung saja baby Ran tampak tenang dan masih tertidur pulas di keretanya.
Bima hanya bisa menahan napas, begitu juga Tuan Alex dan tamu yang ada.
"Bisakah kau tenang? Istriku ada di bawah, dia ingin bertemu dengan istrimu. Dia hamil, mungkin ini adalah salah satu bentuk ngidam istriku," ucap Micho. Andika tampak melepaskan cengkramannya. Bahkan dia lupa, bahwa beberapa hari yang lalu dia membantu pasukan Micho dari serangan penjahat karna istri Micho diculik.
Sabrina dan beberapa orang lainya tampak lega melihat Andika melepaskan cengkraman. Mereka menatap ke arah Micho. Sabrina merasa lega dan mendekat ke arah Micho dan Andika.
"Kau bersama istrimu? Lalu kenapa tidak mengajaknnya ke sini?" tanya Sabrina.
"Dia mempersiapkan diri bertemu denganmu," ucap Micho. Sabrina melangkah ke luar, dia melihat wanita cantik di bawah sana. Menikmati taman indah yang penuh bunga. Sabrina menuruni anak tangga, dan sampailah dia tepat di belakang wanita yang sekarang memunggunginya.
"Hai, selamat malam Nona,"
🤗🤗🤗🤗
__ADS_1