Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Mendung


__ADS_3

Micho memejamkan matanya, ia hanya ingin mengeluarkan jeritan hati yang selamat ini disimpannya sendiri. Tapi kenapa malah semakin membuat dirinya terluka ketika menyampaikan pada Amara?


Micho mengusap air mata Amara, Amara memandang Micho dengan deraian air mata.


"Maafkan aku," ucap Amara lagi.


"Ra, ini bukan salahmu. Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu, Ra. Aku hanya berbagi padamu, karna aku nyaman menceritakan semua ini padamu, bukankah kamu bilang kita berteman?" ucap Micho.


Amara berdiri dan menghapus air matanya, menyedekapkan tangannya dan memandang hamparan bunga yang tampak indah meski berada di bawah langit yang gelap. Micho berdiri dan menatap pemandangan yang sama.


"Kamu bilang ini bukan salahku? Aku yang menghancurkannya, aku yang menyakitimu aku yang menyakiti Sabrina. Aku pantas di salahkan karna aku hanya mementingkan kepentinganku sendiri. Aku yang terlalu takut mengecewakan papa, mengecewakan mama sehingga aku bertindak gegabah dan menyakiti Sabrina." ucap Amara lantang sambil menatap ke arah Micho.


Lagi-lagi air mata Amara berderai membasahi pipinya. Micho memejamkan matanya Merasakan pedih yang sama dengan yang di rasakan oleh Amara. Amara yang sampai sekarang tidak tau kebenaran malam itu masih saja menganggap dirinya telah ternodai.


Micho mengepalkan tangannya, semua ini salahnya sendiri karna membiarkan Amara salah paham waktu itu. Mungkin pernikahannya tidak akan gagal jika saat itu jika dia membantah ucapan Amara. Tapi nyatanya Micho diam, sehingga kesalahan pahaman terjadi dan takdir mempermainkan mereka.


"Ra, dengarkan aku! Itu bukan salahmu!" bentak Micho balik.


"Aku yang menggagalkan nya, Aku yang membuat ulah. Lalu, salah siapa jika bukan salahku, Hah? " timpal Amara lagi, pandangannya masih tertuju pada Micho di depannya.

__ADS_1


Micho menatap Amara dan maju beberapa langkah mendekat ke arah istrinya. Micho menyelipkan rambut Amara yang berterbangan dan menatap wajah cantik yang sembab karena air mata. Mungkin saat ini dia harus mengatakan kebenarannya, Micho benar-benar telah salah membiarkan Amara dalam kesalah pahaman hingga semua ini terjadi.


"Aku, ini salahku, Ra." ucap Micho sambil menggenggam erat tangan Amara. Amara menatap Micho penuh tanya, bagaimana bisa ini salah Micho?


"Apa maksudmu?" tanya Amara.


"Anggap saja kegagalan ini terjadi karna Tuhan tidak menjodohkan kami. Seharusnya Aku bisa membuka mataku dari dulu jika kami memang tidak berjodoh," ucap Micho.


Amara mengalihkan pandangannya dan tersenyum kecut. Jelas-jelas dirinya yang menggagalkan, lelucon macam apa yang diucapkan Micho jika sekarang dia tidak menyalahkan dirinya?


"Jangan mencoba menghiburku, Mas. Aku bersalah, katakan saja apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku, katakan saja, Mas!" bentak Amara.


"Cukup,Ra. Cukup!" bentak Micho. Micho meraih Amara dalam dekapanya. Mencoba memberikan Ketenangan pada istrinya. Amara merasa sedikit lebih baik dan tak lagi bicara.


"Semua ini salahku, andai saja aku tidak menyembunyikan kebenaran pasti kamu tidak akan melakukan hal itu." ucap Micho.


Amara masih diam mencoba mencerna ucapan Micho. Kebenaran apa yang Micho maksud? pertanyaan yang mengiang diotaknya. Tapi, untuk sekedar bertanya dan melepas pelukan dari Micho enggan dilakukannya, dia terlalu nyaman dalam dekapan suaminya.


"Jangan lagi menyalahkan dirimu, ini takdirku berjodoh denganmu, dan tidak berjodoh dengan Sabrina." ucap Micho, Amara tersenyum dalam isak tangisnya. Dia masih diam dan menikmati nyaman nya berada dalam dekapan Micho.

__ADS_1


"Kamu perlu tau, Amara. Bahwa sesengguhnya, kamu tidak pernah kehilangan ke-hor-ma-tanmu," ucap Micho. Amara yang semula tersenyum seketika terdiam. Senyum indah hilang entah kemana.


"Kamu tidak pernah kehilangan kehormatanmu, Sayang." ulang Micho.


Amara terkejut, tubuhnya melemas. Bayangan beberapa tahun lalu berputar di otaknya. Bagaimana bisa dia tidak kehilangan kehormatannya? Sedang jelas-jelas darah itu ada di tempatnya berbaring. Semua kesedihan yang selama ini dirasakannya juga karna itu. Menyebabkan mama sakit karna memimpikan putrinya menikah dan tak kunjung terwujut juga karena itu. Lalu, bagaimana bisa Micho mengatakan dia tidak pernah kehilangan kehormatan?


Amara mendorong tubuh Micho dan menatap tajam ke arah Micho.


"Apa maksudmu, Mas?" tanya Amara. Micho memejamkan matanya. Tak sanggup dia harus berulang kali melihat mata indah yang mampu membuatnya jatuh hati itu menangis.


"Apa maksudmu?" bentak Amara. Amara mengusap air matanya. Harus bahagia, bersedih, atau kecewa? Rasanya apa yang di katakan Micho benar-benar melukai hatinya.


"Jawab, Mas!" pinta Amara di tengah deraian air mata. Bahkan langit yang menyaksikan ikut bersedih menurunkan hujan lebat tak terkira.


"Kenapa setega itu? Kenapa kamu sejahat itu Mas?" tanya Amara.


Micho tak bisa menjawab apapun. Amara yang menamparnya seolah membuat dirinya murka. Wajah orang yang menamparnya itu juga yang membuat kerjasama dengannya beberapa perusahaan tak terlaksana karna gadis itu merusak berkasnya. Papan nama yang beridentitas Sheyna Amara itu membuatnya yakin jika itu orang yang sama. Pada akhirnya Micho ingin sedikit memberi pelajaran dengan membiarkan gadis itu dalam kesalahan pahaman, namun nyatanya malah menjadi senjata yang menghancurkannya sendiri.


"Maafkan aku, Ra. Micho mendekat, namun Amara mundur dan begitu beberapa kali.

__ADS_1


"Hentikan, jangan mendekat. Aku membencimu," ucap Amara. Amara berlari ke arah mobil Micho. menancap gas mobil dan meninggalkan Micho di taman itu.


😢😍😍😍


__ADS_2