Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Mas


__ADS_3

"Makan rujak," 😂😂😂. jawabnya.


Damar tampak bingung, tapi berusaha untuk tidak ambil pusing dengan ucapan Micho. Micho melangkah ke kursi putarnya sambil memandang ke arah pintu ruang pribadinya. Amara tak kunjung keluar dari sana.


"Memang kau makan rujak apa bos? Bukankah kau tadi tidak keluar? Nona Amara juga tidak membawa rujak, lalu kau dapat rujak dari mana?" tanya Damar sambil menyantap makanan yang di bawa Amara.


Micho tampak diam dan mengetukan tangannya di atas meja. Bibirnya menyunggingkan senyuman ketika mengingat kisahnya bertemu dengan Amara. Wanita yang keras kepala dengan pemikiran semaunya sendiri. Entah bagaimana, wanita yang pernah menjadi wanita yang paling dia benci itu kini menjadi wanita yang mampu membuatnya seperti orang gila.


"Bos," Damar kembali menyapa Micho yang tersenyum-senyum itu.


"Rujak apa?" tanya Damar lagi. Micho melirik Damar dengan mata lebarnya, dia merasa Damar telah merusak imajinasinya.


"Kenapa kau itu kepo sekali, makan saja makanan mu! Tak usaha meminta makananku," ucap Micho tampak menggebu.


"Bos sekali kapan kau itu suka rujak😂? Kau itu kan tidak suka buah," Damar masih saja berfikir rujak yang sebenarnya sedangkan Micho mulai diliputi emosi tingkat dewa. Micho mengepalkan tangannya dan menuju ke arah Damar yang masih saja mendesak Micho untuk menjawabnya.


"Apa kau tidak bisa diam? Kenapa kau itu suka banyak bicara akhir-akhir ini?" Micho menarik kerah Damar dan hampir saja melayangkan satu pukulan.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian bertengkar?" Amara yang baru saja keluar dari kamar mengamati Micho dan Damar bergantian. Micho mendorong Damar dan menatap Amara yang tampak sedikit panik.


"Ada apa?" tanya Amara lagi.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya padanya kenapa dia tidak makan, Nona." ucap Damar.


"Lalu?" Amara tampak menatap 2 orang di depannya dengan sorot mata kebingungan.


"Dia bilang sudah kenyang makan rujak, Aku rasa dia berbohong karna tidak ada rujak disini. Lalu, kenapa dia marah aku juga tak tau," ucap Damar.


Amara melirik ke arah Damar dan Micho bergantian. Pipi mulus Amara berubah kemerahan setelah mendengar penjelasan dari Damar. Amara melirik ke arah Micho yang tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hem, rujak bibir. Ku pikir kau harus banyak belajar lagi agar lebih lemas, bisa menikmati dan juga tidak kaku,"


Amara juga mengingat dengan jelas ucapan Micho malam tadi. Sekarang dirinya tau kenapa dia tidak bisa menjawab ucapan Damar. Bagaimana bisa dia mengatakan rujak yang dia maksud adalah ciuman. Amara mengambil tas diatas meja dan memakainya di pundak.


"Uhuk-uhuk," Damar tampak tersedak udara dan menatap ke arah pasangan muda yang menikah beberapa waktu yang lalu itu. Dia melihat jelas Micho tampak menahan emosi padanya. Damar berdiri dan mengelap mulutnya. Tampaknya dia sudah paham arah pembicaraan rujak yang dimaksud Micho.


"Sepertinya keberadaan saya disini bukan momen yang tepat," ucapnya sambil melirik ke arah Micho yang mengepalkan tangannya. Damar berjalan dan keluar dari ruangan Micho. Kini hanya tinggal Amara dan Micho yang saling berhadapan. Micho berjalan beberapa langkah hingga dia berhadapan dengan Amara lebih dekat.


Micho memiringkan wajahnya dan memasukan tangannya di saku celana, Micho mengamati wajah Amara yang masih tampak memerah karena malu.


"Sebaiknya aku pergi dulu mas, aku sekalian kerumah, dari semalam aku tidak pulang aku takut mama mengkhawatirkanku," ucap Amara sambil mengulurkan tangannya. Micho menatap Amara dan tangan Amara bergantian.


"Bolehkan aku mencoba menjadi istri yang baik mulai sekarang?" tanya Amara. Micho tersenyum dan mengulurkan tangannya. Amara mencium punggung telapak tangan Micho. Micho merasakan aliran darahnya seakan berhenti. Micho menatap Amara yang dengan takdim mencium punggung telapak tangannya.

__ADS_1


"Aku pulang, Mas." ucap Amara setelah selesai bersalaman. Micho maju beberapa langkah dan mencium puncak kepala Amara. Setelah beberapa waktu menikah, baru kali ini dia benar-benar merasakan menjadi lelaki yang dihormati. Sekarang dia benar-benar merasakan ketenangan yang mendera hatinya.


"Aku masih sibuk, tidak bisa mengantarmu. Nanti sore aku akan menyusulmu," ucap Micho.


"Iya, aku mengerti," ucap Amara santai.


"Hati-hati," ucap Micho hangat. Amara mengangguk kemudian melangkah pergi. Kini Micho hanya bisa menatap punggung Amara yang mulai menjauh darinya.


"Sheyna Amara," gumamnya. Micho melirik ponselnya dan membuka galeri di ponselnya. Sabrina, foto itu masih saja ada disana, mengingatkan pada sebuah luka yang menganga lebar.


Micho menatap ponselnya, ada beberapa pesan yang diterima dari beberapa Clien yang memberikan pesan padanya. Micho yang tadinya tampak semangatt kini mengepalkan tangannya. Dia ingin segera bertemu dengan papanya secepatnya.


****


Disebuah rumah Yang megah, Erika dan Rayen tengah menikmati beberapa botol Alkohol. Erika tampak tersenyum bahagia karna Rayen juga gagal bermalam dengan Amara. Dirinya yang menyukai Rayen tidak akan membiarkan Amara jatuh ke tangan Rayen, lelaki yang di cintainya.


"Rayen, kau sudah mabuk. Sebaiknya kita pulang," ucap Erika.


"Dasar wanita munafik, kau akan membayar ulahmu nanti, Amara. Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang," ucapnya di tengah ketidak sadarannya.


😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2