Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
134


__ADS_3

"Kak Rafa...." teriak Amara.


Sejenak aksi perkelahian berhenti. Amara mendekat ke arah mobil, air matanya semakin berderai. Damar terkejut saat melihat mobil Rafa terus berguling dan berhenti di pinggiran trotoar.


"Rafa," lirihnya.


Damar bergetar, kakinya seakan goyah. Dia berlari ke arah mobil Rafa yang mengeluarkan asap dan tampak percikan api dari mesin.


"Berhenti," teriak Damar ketika melihat Amara yang semakin maju. Amara tak menggubris ucapan Damar dan terus mendekat. Dengan cepat Damar menyambar tubuh Amara dan membawanya menjauh.


"Damar, lepaskan aku!" berontak Amara di tengah isak tangisnya.


"Diam! Kau harus selamat, ini perintah Micho. Aku dan Rafa menjalankan perintah suaminmu, Nona Amara!" tegasnya.


Amara membelalakan matanya, Micho? Suaminya yang meminta? Lalu dimana dia? Damar membawa Amara menjauh.


Tiba-tiba beberapa tembakan mengarah kepada mereka membuat Amara berteriak histeris. Dengan membawa tubuh Amara, Damar mencoba menghindari tembakan.


Sedang, percikan api di mobil Rafa semakin besar. Rafa yang menggunakan perlindungan yang kuat di dalam mobil berusaha untuk keluar. Rasa panik memenuhi otaknya sehingga iya sempat salah mengambil langkah.


Roy, mengambil kembali senjata yang sempat jatuh dari tangannya. Ia mengarahkan kedua tangannya. Satu tangannya ke arah percikan api di mobil, dan satu lagi di arahkan ke arah Damar dan Amara.


"Satu, dua, ti..."


Dor,,,


A...


Semua mata tertuju pada sumber suara, Roy si tua itu tampak memegang dadanya dan bersimpuh dengan kedua lututnya. Netranya menatap ke arah asal tembakan, dan di sana ada Micho Aditia Pratama putranya.


"Micho," lirihnya. Air matanya mengalir deras di sela sakit yang dirasakan. Hatinya hancur berkeping menyaksikan darah dagingnya mencoba untuk menghabisinya.


Micho memejamkan matanya, air matanya juga mengalir deras. Dia mengangkat tangannya, memberikan isarat pada polisi yang di kirim Rafa untuk menangkap semua orang yang terlibat dalam rencana pembunuhan itu.

__ADS_1


Micho berjalan dan mendekat ke arah Roy yang kini tersenyum getir ke arahnya. Kedua orang itu saling menangis.


Roy memejamkan matanya, bahkan tembakan yang di berikan Micho sebenarnya tidak sesakit luka batinnya. Tembakan itu tidak mematikan.


"Ka-u me-nem-bak pa-pa, Nak?" tanya nya terbata. Micho meraih tangan kanan papanya. Mencium tangan papanya. Air mata papanya mengalir di tangan itu.


"Kita impas, pa... waktu itu papa menembakku dan menyelamatkanku. Kali ini aku yang menembakmu, dan aku pula yang akan membawamu ke Rumah sakit. Bersama dengan korban yang terluka karna kejahatanmu. Ada polisi yang akan mengawal papa, jangan khawatir," lirih Micho. Roy tampak hilang kesadaran dan memejamkan matanya setelah mendengar ucapan Micho.


Micho mengarahkan tangannya pada petugas kesehatan yang kemudian membawa papanya yang tak sadarkan diri ke ambulan.


Amara turun dari gendongan Damar dan berlari ke arah Micho. Damar segera mendekat ke arah mobil Rafa yang di evakuasi oleh petugas. Rafa, dia mengalami luka tak serius dan membuat Damar sedikit lega karna sahabatnya tidak begitu mengkhawatirkan meskipun kini tak sadarkan diri.


Damar juga melihat pasangan suami istri yang tadi semobil dengan Amara di bawa juga ke ambulan.


Sedang beberapa komplotan penjahat anak buah dari Roy di ringkus pihak berwajib.


Amara terus berjalan, Micho memutar langkahnya melihat ke arah istrinya yang menuju ke arahnya. Mereka saling menatap, hati Amara seakan meleleh. Berjuta rasa bahagia menyeruak dihatinya. Bahkan debaran jantungnya juga tidak Karuan.


Amara menyeret langkahnya, tubuhnya mendekat kearah lelaki tampan yang menyunggingkan senyuman yang selalu mendebarkan jantungnya. Micho merentangkan kedua tangannya.


Micho maju beberapa langkah karna Amara tampak terdiam dan menangis, Micho mengusap pelan pipi istrinya, menghapus air mata amara yang terus berjatuhan dan menyayat hatinya. Micho memiringkan wajahnya, mengamati wajah cantik yang selalu menghantui fikirannya.


"Apa kamu tidak merindukanku? Hey, aku bukan musuhmu. Aku tidak akan menembakmu," lirih Micho.


Amara menghapus air matanya dan tersenyum kemudian berhambur memeluk erat tubuh Micho, suami yang sangat ia rindukan. Micho membalas pelukan hangat istrinya, mengusap pelan pundak istrinya dengan sayang.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu," ucap Amara. Rasa yang berkecamuk membuatnya terharu hingga terisak dalam dekapan hangat yang begitu nyaman itu.


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang." lirih Micho.


Damar dan Zidan menoleh kearah Amara dan Micho. Keduanya tersenyum melihat kebahagiaan mereka, meskipun ada rasa sakit yang menyelinap di hati Zidan. Setidaknya dia menyaksikan betapa Micho sangat mencintai Amara. Dia rela menembak orang tuanya sendiri demi istrinya.


Amara melepas pelukannya, Micho mengusap airmata istrinya.

__ADS_1


"Dilanjutkan nanti malam, aku akan pelan menengok putra kita," bisik Micho sambil mengusap perut Amara. Micho bersimpuh du depan Amara, mencium perut datar Amara.


Amara memelototkan matanya, apa suaminya sudah tau tentang kehamilannya? pikirnya. Amara menarik tangan Micho sehingga Micho kembali berdiri, Amara mengalungkan tangannya di leher Micho. Menahan air mata yang memdesak untuk keluar.


Micho mengusap pelan pipi Amara, mengecup puncak kepala Amara beberapa kali dan melingkarkan tangannya ke pinggang Amara.


"Masih mau nasi goreng tanpa kecap?" tanya Micho, Amara melepas pelukan Micho dan menatap Micho. Amara menggeleng kuat, memegang kedua pipi Micho.


"Enggak, aku takut mas marah dan kita terpisah lagi. Aku tidak akan merepotkanmu, aku janji," ucap Amara. Air matanya berderai, Micho memejamkan matanya. Sakit sekali ketika mengingat waktu itu, dia belum menyadari semuanya dan membentak Amara.


Micho mengusap air mata Amara yang terus mengoceh itu. Micho mendekat ke arah Amara, menyambar bibir merah alami yang begitu memggiurkan itu. Mengecup lembut bibir itu sehingga membuat Amara berhenti berbicara.


Amara merasa tenang, berpisah beberapa malam membuat dirinya tak tenang dan sangat sedih. Dan saat ini dia merasakan kenyamanan dan kebahagiaan.


"Aku akan menuruti semua permintaanmu, maafkan aku yang terlambat menyadari ada buah cinta kita di sini," lirih Micho.


"Maafkan aku yang tidak bisa merasakan kehadiran buah cinta kita, sayang. Maafkan aku, aku mencintaimu. Bahkan jika kamu meminta nasi goreng tanpa bumbu sekalipun aku akan menuruti," ucap Micho.


Amara mendorong dada Micho dan menjauh karna sebal dengan jawaban Micho.


Micho tersenyum dan menahan tangan Amara, Amara mendorong dada Micho lagi.


"Aduh," lirih Micho saat luka tembaknya terasa nyeri.


"Kamu kenapa mas? Lukanya masih sakit?" Amara menarik Micho dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Micho dan tangan kirinya mengusap pelan dada Micho.


Micho tersenyum dan menggeleng, ia mengangkat tubuh mungil istrinya dan sepontan Amara melingkarkan tangannya di leher Micho.


"Sakit itu saat jauh darimu," ucap Micho dan menerbitkan senyuman di bibir Micho.


"Gombal," 😀😀😀 lirih Amara.


"Kita ke rumah sakit sekarang, kita melihat keluarga kita yang terluka karna mereka melundungimu. Sekalian kita cek kandungan," ucap Micho. Amara mengangguk pelan.

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗


__ADS_2