Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
137


__ADS_3

"Mbak, Mas. Saya Kenzo, dan dia Melati istri saya. Kami adalah..." ucapan Kenzo menggantung. Rasanya sangat tidak enak ketika akan mengatakan bila dia orang tua Amara sedangkan sedari kecil Amara berada dalam pengasuhan orang di depannya.


"Kalian orang tua kandung Amara?" tanya Papa Rusdi. Kenzo, lelaki itu hanya mampu mengangguk pelan. Papa Rusdi tersenyum dan mengulurkan tanganya.


"Kita sama-sama orang tua Amara, terimakasih telah menghadirkan putri secantik Amara di kehidupan kami," ucap Papa Rusdi. Kenzo menatap orang di depannya. Dia tersenyum dan membalas uluran tangan Papa Rusdi.


"Terimaksih kembali mas, mbak. Telah merawat Amara selama ini," ucap Kenzo.


"Sebaiknya kita duduk sambil menikmati camilan, masak nggak capek sih berdiri terus?" Mama Hana tersenyum sambil mendekat ke arah Melati.


Mama Hana menghampiri ibu kandung putrinya dan menarik tangannya.


"Kita duduk di sana, kamu pasti lelah kan?" tanya Mama Hana sambil mengajak Melati ke sofa. Papa Rusdi dan Papa Kenzo juga mengikuti. Sedang Micho dan Amara memilih mendekat ke arah Rafa.


Suasana tampak bahagia, keluarga besar itu tampak saling bercakap dan saling berkenalan. Saling mengisi dengan kebahagiaan hingga pada akhirnya seorang suster datang dan menghentikan obrolah mereka.


"Maaf mengganggu, tuan dan nyonya," ucapnya. Seketika semua orang menatap ke arah perawat itu.


"Ada apa sus?" tanya Kenzo.


"Ada yang namanya Pak Micho?" tanya perawat itu. Kenzo menatap suster itu. Micho? Bahkan nama iti tak ada di benaknya. Nama itu mengingatkanya pada manusia jahat bernama Roy. Jadi apa benar Micho ada disini? Kenapa dia tidak menyadari sejak tadi?


Kenzo melirik Micho, menantunya yang tampak merangkul pundak Amara, mereka tengah berbicang dengan Rafa dan amat sangat tampak bahagia.

__ADS_1


Micho yang mendengar namanya di panggil tampak antusias berjalan ke arah sester itu.


"Ada apa sus? Saya Micho," ucapnya.


"Saya tadi dari ruang rawat Pak Roy Pratama. Papa anda mencari anda, dia sudah sadar dari pingsannya," ucap suster itu.


Deg


Micho sedikit pias, dia melirik ke arah Kenzo yang menatapnya dengan tajam. Dia beralih menatap Papa Rusdi yang menatapnya dan mengangguk pelan.


Micho merasakan sesak di dadanya, dia tau posisi ini begitu rumit. Mertua dan orang tuanya bermasalah di masa lalu.


Amara mendekat ke arah Micho dan mengusap pundak suaminya. Dia tau keadaan ini membuat kecanggungan yang terjadi. Dia ingin menemani Micho dan berada di dekatnya. Dia tau papanya masih mengira Micho adalah alat Roy untuk membahayakan Amara.


Suster itu mengangguk dan berlalu. Kenzo tampak membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Amara.


"Sayang, kau mau menemui penjahat itu bersama dia?" tanya Kenzo sambil mendekat ke arah Amara. Telunjuknya menunjuk ke arah Micho dan membuat Micho memejamkan matanya.


"Dia? Dia suamiku, Pa!" jawab Amara.


"Bahaya jika kamu mendatangi kamar orang itu sayang," ucap Kenzo tegas.


Micho merasakan pergulatan panas di hatinya. Walau bagaimanapun Roy adalah orang tuanya. Dan walau bagaimanapun memang benar Kenzo pernah menjadi target papanya sehingga berpisah dengan putrinya. Wajar saja ketakutan seperti itu dia perlihatkan. Lalu sikap yang bagaimana yang sekarang harus dia ambil?

__ADS_1


"Suamiku akan menjagaku," ucap Amara tegas.


Kenzo tampak menghela napas kasar. Micho tersenyum, Amara selalu mampu membuatnya nyaman di setiap keadaan. Memberinya kekuatan dan pandai menempatkan posisi Micho di hadapan papanya sendiri.


"Kamu tetap disini," ucap Kenzo lagi. Amara menggeleng pelan, Micho menatap Amara dan mengusap pipinya.


"Kamu istirahat disini, aku akan kembali untukmu," ucap Micho. Amara menatap suaminya dan menggeleng.


"Aku ikut," ucapnya.


"Sayang, mengertilah. Papa benar, bahaya jika kamu ikut denganku," lirihnya. Micho menggenggam erat tangan Amara.


"Bukankah kamu akan melindungiku?" tanya Amara.


"Pasti," ucapnya.


"Tidak akan terjadi apapun jika kamu melakukannya," ucap Amara meyakinkan. Micho tersenyum dan menatap Kenzo.


Kenzo mengepalkan tangannya, rasa tak rela menggelayutinya memandang pemandangan ini.


"Pa kami pamit keluar sebentar," ucap Micho. Amara dan Micho berlalu. Kenzo hampir saja menahan, tapi Papa Rusdi mencegahnya.


"Biarkan mereka pergi,"

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2