
"Begitukah seorang papa? Bahkan kau tidak pantas di panggil papa. Beruntung aku diangkat anak oleh papa Prayoga, tidak tau saja kau bahwa aku bukan hanya pelindung Amara. Aku adalah suaminya," batin Micho.
Milano dan Roy tampak mengamati Micho yang masih memejamkan mata. Mereka tampak berfikir dengan tenang, Milano menganggukan kepalanya. Berfikir tentang kedekatan Amara dan Micho yang memang tampak beberapa kali.
"Okey, kita bahas besok lagi. Sekarang aku harus pergi, yang terpenting adalah gadis itu segera menandatangani semua berkas ini, dan enyahkan dia," ucap Milano kumudian melangkah keluar diikuti oleh Roy beserta 2 orangnya.
Micho membuka matanya ketika semua orang telah keluar dari kamar yang kini dia tempati. Micho menggekengkan kepalanya dan mengamati 2 orang pemakai ikat kepala kuning itu. Jadi mereka adalah anak buah papanya? Jadi selama ini dia di jaga papanya? Dan mereka mereka menargetkan Amara? Kenzo, Melati? Siapa mereka?
"Amara, Aku bukan musuhmu. Aku suamimu, aku akan menjagamu walaupun dari orang tuaku sendiri," lirihnya.
Micho kembali duduk, ia mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya. Dengan pelan Micho mengirimkan pesan kepada Damar dan juga Rafa.
Micho melepas selang inpus yang berada dalam tangannya kemudian memakai jaket yang berada di sofa samping rangjangnya. Dia keluar dari kamar itu, menyelinap di pintu ruang tamu. Terdengar suara orang yang bernama Roy tengah berbicara pada orangnnya, Milano dan Rayen juga masih berdiri di sana.
"Sebaiknya kita siapkan pasukan sekarang. Zidan, guru karate itu menyembunyikan Amara dalam sebuah mansion besar. Kita jaga di dekat sana, jika nanti targer sudah keluar kita serang bersama dan kita habisi mereka," ucap Roy yang terdengar jelas di telinga Micho.
Micho sempat merekam percakapan itu dan mengirimkan pesan pada Damar dan Rafa.
"Okey, aku ikut semua rencanamu, sekarang kami harus pergi," ucap Milano kemudian melangkah pergi.
****
Amara bersama dengan kedua orang tuanya menuju ke arah parkiran. Beberapa pelayan tergopoh membuka pintu untuk Tuan dan Nyonya besar mereka.
Kenzo dan Melati berada di depan, sedang Amara berada di belakang. Mereka akan menuju ke rumah keluarga Rusdiantoro.
Dengan pengawalan yang ketat, mobil berwarna merah metalik itu berjalan dengan laju yang sedang.
Zidan mengikuti arah dimana bosnya itu melaju. Kedua mobil itu membelah jalanan menuju ke arah dimana rumah keluarga Rusdiantoro berada.
Seketika Amara dan juga Melati terkejut saat mobil mereka oling, terdengar suara tembakan yang mengakibatkan Kenzo terkejut sehingga membuat laju mobilnya sedikit tersendat.
__ADS_1
"Pa, ada apa?" tanya Melati. Kenzo menghela napas kasar dan mempercepat laju mobilnya.
"Tidak ada apa-apa, tenanglah!" jawabnya.
Amara memejamkan matanya dan menghela napas kasar. Ketika dalam perjalanan dan dalam bahaya bukan lagi hal yang baru untuk Amara. Sekarang dia benar-benar yakin jika Kenzo dan Melati adalah orang tuanya. Dia juga yakin bahwa Roy, adalah orang tua Micho karna sekarang dia bisa melihat dengan jelas orang berikat kepala kuning yang selalu mengganggunya kini ada di mobil belakangnya.
Meskipun semua yang dilakukan adalah atas perintah dari Milano saingan bisnis papanya. Namun, wajar saja jika papa dan mamanya tetap mengkhawatirkan dirinya.
Sedangkan Zidan segera bersiap melindungi bosnya dari bahaya. Zidan mencoba mencari asal tembakan itu dan meneliti mobil di belakangnya yang mengintainya.
***
Kak, aku menuju ke rumah. jangan mengkahatirkanku.
Rafa, Damar, Aku baik baik saja. Amara dalam bahaya. Siapkan segala sesuatu untuk menyelamatkannya.
Rafa mengepalkan tangannya, pesan dari 2 orang itu membuatnya bingung harus berbuat apa. Pada Akhirnya Rafa menghubungi Damar yang sudah dalam perjalanan menuju ke rumahnya.
"Bagaimana? Kau sudah menyiapkan rombongan?" tanya Rafa sambil memijit pelipisnya.
"Aku sudah mengaturnya," sahut Damar.
"Pastikan semua berada dalam pekerjaan masing-masing. Dan jangan sampai ada kesalahan. Bukankah kau sudah menerima pesan vidio dari Micho?" tanya Rafa.
"Ya, aku sudah meneruminya. Aku Harap Amara baik-baik saja," harap Damar. Rafa menghela napas panjang dan mengangguk.
"Aku juga berharap hal yang sama,"
"Kita bersiap sekarang, kita menuju ke titik lokasi. Kita akan bertemu di jalan," ucap Damar.
"Okey, aku bersiap,"
__ADS_1
Rafa menyambar jaketnya. Dia akan ke kantor polisi dan membuat laporan untuk Milano, Rayen dan Roy tentang pembunuhan berencana seperti apa yang di bicarakan Milano, Roy dan juga Rayen dalam vidio yang di kirimkan oleh Micho.
Dor
kembali terdengar tembakan yang mengakibatkan Amara dan Melani menjerit bersamaan. Kenzo panik dan mencoba untuk tetap tenang ketika tembakan itu berhasil membuat bannya kempes dan menabrak trotroar jalan. Mobil sedikit ringsek, sehingga Amara dan Melati juga kenzo tampak Syok.
"Mama," lirih Amara saat melihat Melati tak sadarkan diri.
"Sayang, keluarlah. Selamatkan dirimu!" lirih Kenzo sebelum pada akhirnya Kenzo juga tak sadarkan diri. Amara meneteskan air matanya tapi dia bingung harus berbuat apa.
"Pa, Ma, bangun," lirihnya dengan linangan air mata bahkan baru kali ini mulutnya mampu memanggil papa dan mama pada Melati dab Kenzo.
Zidan berhenti dan mencoba berlari, tapi serangan brutal lawan menghujam mereka sehingga tidak bisa berlari ke arah mobil Kenzo berada.
Dari arah yang berlawanan, Damar dan pasukannya yang sempat terkejut dengan kejadian ini tampak berlari ke arah mobil di mana Amara Kenzo dan Melati mencoba untuk keluar.
Dari arah yang lain tampak Roy berlari ke arah Amara yang baru saja keluar dari mobil dan memegang kepalanya yang tampak mengeluarkan darah.
Roy hampir saja meraih tubuh Amara. Namun, dengan cekatan Damar memberikan tendangan yang mengakibatkan Roy mundur beberapa langkah.
Amara terkejut, dia menatap manusia yang bernama Roy kemudian menatap ke arah Damar.
"Amara, selamatkan dirimu." teriak Damar, Roy memberikan tembakan dan mampu di hindari oleh Damar. Damar memainkan tangannya dan berhasil membuat senjata di tangan Roy terlempar jauh sehingga mereka beradu dengan tangan kosong.
Amara memegang kepalanya, melihat kesana kesini banyak perkelahian. Air matanya mengalir deras. Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Hingga mobil berwarna hitam muncul dari arah barat, salah satu anak buah Roy menembakan satu tembakan sehingga mobil itu oling dan menabrak trotoar dan berguling.
"Kak Rafa...." teriak Amara.
🤗🤗🤗
__ADS_1