
Micho membawa beberapa berkas menuju ke mobilnya, Amara mencoba berlari dan mengejar Micho. Namun Micho melajukan mobilnya dengan cepat. Hingga Amara tak sanggup menahan laju mobil Micho. Amara hanya sanggup memandang suaminya yang menjauh, entah apa yang ada di pikiran Micho saat ini.
"Ra, mau kemana? Biarkan Micho menyelesaikan urusannya," Rafa datang dan mencoba berbicara pada adik tercintanya itu.
"Kak, apa yang terjadi? Aku mengkhawatirkan Mas Micho," Amara tampak memejamkan matanya. Rasa sakit masih terus menghujam hatinya. Rafa juga tak bisa memahami apa yang tengah ada di pikiran Micho yang jelas saat ini dirinya ingin adiknya itu tenang.
"Ra, aku rasa Micho tengah menemukan jalan untuk menangani permasalahannya. Kakak harap kamu bersabar," ucap Rafa sambil merengkuh adik kesayangannya itu dalam dekapannya. Pada akhirnya Amara mengangguk pelan.
"Aku tidak bisa membiarkan dia sendiri, dia tampak tidak baik-baik saja. Aku takut Micho celaka," Amara memandang kearah kakaknya. Rafa mengusap air mata Amara dan tersenyum.
"Kakak rasa kamu benar-benar sangat mencintai dia. Kakak harap kamu selalu bahagia," ucap Rafa.
"Aku harus mengikutinya," Amara mempercepat langkahnya dan menancapkan gas mobilnya. Rafa menghela napas panjang dan hanya bisa memandangi Amara yang semakin menjauh darinya.
***
Micho melaju menuju ke arah tahanan dimana papanya di tahan. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Micho memandang berkas yang kini ada di sampingnya. Kenyataan ini begitu menghujam hatinya. Apa yang sebenarnya ada di benak papanya? Bukankah dia telah melakukan apa yang dia mau?
Lantas kenapa semua tampak berkesinambungan? Apa yang disembunyikan papanya? Yang jelas saat ini dia ingin memastikan apa benar Sabrina, Khalista dan Taza orang yang sama?
Beberapa saat kemudian, sampailah Micho disana. Micho ingin segera bertemu dengan papanya dan meminta penjelasan, namun langkahnya terhenti saat dirinya menatap 2 sosok tampan yang baru saja keluar dari sana. Salah satu dari mereka menggunakan seragam sopir taxi, dan salah satunya lagi tampak memakai kemeja dan celana panjang.
Micho memejamkan matanya, perkataan Rafa beberapa saat yang lalu mengiang diotaknya. Apa Mereka Tuan Muda Alexander? Micho terdiam sambil melihat 2 orang yang saling bercengkerama dan pada akhirnya menaiki kendaraan masing-masing.
Kini bayang-bayang Sabrina ada dipelupuk matanya. Apa benar Khalista istri dari tuan muda Andika adalah Sabrinanya? Masa lalu yang belum terselesaikan mengubah haluannya, Micho mengikuti laju mobil Andika melaju.
Beberapa saat kemudian, Micho berhenti di salah satu rumah sakit. Ia memandang ke arah Andika yang dengan wajah datarnya menyusuri koridor. Micho mengikuti langkah orang yang dia pikir Andika itu. Kini tatapanya terfokus pada 2 insan yang tampak begitu bahagia dan sangat mesra itu.
__ADS_1
Micho mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya. Ya, Taza alexandra adalah Khalista, dan juga Sabrinanya. Ada rasa sesak yang menyeruak di dadanya, setelah sekian lama dan dia harus mengetahui kenyataan yang begitu memyesakan dadanya. Papa, apa ini karena aku?
Kenapa papa begitu tega padaku? batin Micho. Kini tatapan matanya mengarah pada sosok Sabrina yang menjauh dari suaminya. Micho mengikuti langkah Sabrina. Memandang wajah yang sampai saat ini masih tersisa di hatinya.
Beberapa saat kemudian Micho mendengar ponselnya berbunyi, Micho mengambil dan melihat nama Wanita murahan disana, melihat nama itu membuat rasa hangat muncul di hatinya. Micho hampir saja mengangkat ponselnya, namun diwaktu yang sama Michigan mendapati Sabrina yang tampak lemas dan memucat. Micho mengamati kanan dan kirinya dan tak ada yang ada disana. Micho kembali memasukan ponselnya dan menyambar tubuh Sabrina yang tengah tak sadarkan diri.
****
Amara yang tengah kehilangan jejak Michigan hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Nada.
"Halo Ra,"
"Nad, lagi dimana? Aku ingin bertemu denganmu." ucap Amara sambil memijit pelipisnya. Ada sesak yang menyeruak ketika panggilan pada Micho tak mendapat respon dari empunya, namun ia mencoba menahannya.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah sayang? Aku ada di taman, apa mau aku jemput?" tanya Nada.
"Aku akan menyusul, share lokasinya." ucap Amara.
"Amara?" tanya Radit pada Nada. Nada mengangguk, mereka tak sengaja bertemu disini. Nada yang merasa telah diselamatkan Radit dari cengkraman Micho waktu itu ingin berterimakasih dengan mentraktir Radit makan siang di restoran.
"Sejak kapan kamu mengenal Amara?" tanya Nada sambil menatap ke arah wajah tampan Radit.
"Sejak 4 tahun yang lalu," jawabnya.
"Serius?" tanya Nada. Radit tersenyum dan mengangguk.
"Ya, itu adalah awal jumpa dengannya dan membuat aku jatuh cinta," ucap Radit sambil tersenyum, namun senyum itu berangsur menghilang entah kemana.
__ADS_1
Nada mengernyitkan dahinya, bahkan dia juga bertemu dengan Radit 4 tahun yang lalu tetapi kenapa tak pernah mengetahui Radit sebelumnya?
"Kau jatuh cinta pada Amara?" tanya Nada ragu. Radit hanya tersenyum getir. Bahkan cinta itu masih ada, namun Amara telah menikah dengan kakak angkatnya.
"Jadi kau jatuh cinta pada kakak iparmu?" tanya Nada lagi dengan ragu. Radit memandang jauh, dan kembali memandang ke arah Nada yang tampak syok.
"Kenapa? Kau mengasihaniku?" tanya Radit. Nada memalingkan wajahnya.
"Bahkan aku seharusnya mengasihani diriku sendiri yang mencintai tapi juga tak tersambut. Dia masih mencintai orang lain, dan aku tidak berani untuk mengungkapkan nya," ucap Nada.
"Tampaknya kita mempunyai nasib yang sama, bahkan aku belum pernah mengungkapkan tapi dia telah dimiliki orang," ucap Radit prustasi.
"Kalian membicarakan apa?"
😊😊😊😊😊
Micho membaringkan Sabrina disebuah apartemen. Rasa sesak masih menyeruak dalam dadanya ketika melihat pesona wanita cantik yang pernah mengisi hatinya. Rasa penasaran yang menghantuinya waktu itu yang seakan memberi keyakinan bahwa Taza adalah Sabrina adalah hal yang nyata.
Micho mengamati wajah cantik itu, wajah cantik yang pernah memberikan kenyamanan dihatinya.
"Sabrina aku tau aku menciptakan luka dihatimu, aku akan memperbaikinya." ucap Micho sambil mengusap pelan puncak kepala Sabrina. Diwaktu yang sama, bayangan Amara muncul di benaknya. Micho memejamkan matanya. Hatinya seakan bimbang, apa yang diinginkannya sekarang?
"Kamu yakin akan membawanya pergi?" tanya Erik, salah satu teman dekat Micho yang telah menyuntikan obat tidur untuk Sabrina. Micho mengangguk pelan.
"Ini akan memberikan masalah dikemudian hari Micho. Pasti keluarganya akan mencarinya." ucap Erik. Micho tampak memijat pelipisnya, ia tidak menjawab ucapan Erik.
Deringan ponsel Micho membuat keduanya menoleh bersamaan, Micho mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari sebrang.
__ADS_1
"Okey, siapkan semuanya. Pastikan semua aman. Satu jam lagi kita akan pergi," ucap Micho kemudian meletakkan kembali ponselnya.
Micho melirik wajah cantik Sabrina, ia butuh waktu berdua untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dia ingin membantu Sabrina kembali mengingat dan sembuh dari amnesia, walau apa yang dilakukannya saat ini salah menurut kebanyakan orang. Dia merasa bertanggung jawab karna kondisi Sabrina yang seperti ini adalah karna ulah papanya.