
Micho memberhentikan mobilnya di depan taman kota. Micho menepikan mobilnya dan membuka kaca, melihat beberapa anak-anak disana bermain bersama dengan ibu dan ayahnya. Micho meraih ponselnya dan menatap foto imut Amara.
"Kenapa kamu menjengkelkan sekali pagi ini? Beberapa hari aku masih sabar, kenapa semakin kesini makin menjengkelkan? Apa seperti ini keaslian sifatmu? Semaunya sendiri dan sangat menyebalkan," ucapnya sambil mengusap wajah Amara.
Micho mengedarkan pandangannya, seorang perempuan tengah mengusap perut buncitnya. Sang lelaki datang sambil membawakan rujak ke hadapannya.
"Makan Sayang. Nanti jangan minta yang aneh lagi, takutnya aku nggak bisa memberikan. Coba minta sekarang, mumpung masih pagi. Apa yang kamu inginkan?" tanya lelaki itu.
Micho mengernyitkan dahinya. Menatap perempuan itu dari atas sampai bawah. Dia membayangkan jika Amara hamil dan mengidam. Apa dia akan seantusias itu?
"Uhuk, uhuk," Micho tersedak udara. Dia tampak berfikir sesuatu. Amara? Istrinya itu beberapa hari ini sangat menyebalkan dan sangat aneh. Apa karna dia mengandung? Micho mencoba mencari berbagai informasi di google tentang gejala kehamilan.
Apa yang di tampakkan Amara sama persis dengan apa yang di jelaskan di salah satu web yang dia baca. Micho menyunggingkan senyuman. Dia hendak kembali menjalankan mobilnya. Dilihatnya Andika dan Bima joging bersama. Pada akhirnya Micho meletakan ponselnya di mobil kemudian turun dan mendatangi kedua sepupunya itu.
****
Amara masih duduk didepan Apartemen. Dia mencoba menghubungi Micho tapi tak mendapat balasan. Amara yang merasa mual menginginkan makanan yang hangat. Tapi dirinya malas untuk memasak. Amara meraih ponselnya dan membuat panggilan untuk mamanya.
"Halo asalamualaikum sayang, apa kamu merindukan mama?" tanya Mama Hana.
"walaikumsalam ma. Iya, aku merindukan mama. Aku juga kepengen nasi goreng sepesial bikinan mama, tapi nggak pakai kecap ya ma," ucap Amara.
"Wah, kebetulan mama juga menginginkannya. Mama akan membuatkan untukmu, nanti mama datang ke sana ya. Kamu masih sakit?" tanya Mama Hana yang kemarin membatalkan makan malam karna Amara tak enak badan.
"Aku kesana aja ma, lgi pula Amara juga kangen papa sama kak Rafa." ucapnya.
"Bersama suami?" tanya Mama Hana. Amara menggeleng pelan.
"Mas Micho ada urusan, Ma. Aku sendiri," ucapnya.
"Ya sudah, kamu hati-hati." ucap Mamanya. Amara mengangguk pelan dan menutup ponselnya. Amara membuat pesan untuk Micho.
Aku ke rumah mama, Mas. Aku pengen banget makan nasi goreng. kirim.
Amara mengambil tasnya kemudian melangkah ke arah parkiran. Amara masuk ke dalam mobilnya ucapan Micho masih mengiang diotaknya.
__ADS_1
Aku sudah sabar menghadapimu sedari malam, harus bagaimana lagi aku bersikap? Hem? Jangan seperti anak kecil yang selalu minta di mengerti tetapi tidak mau mengerti perasaan orang lain.
Amara menghela napas panjang. Apa dia ketelaluan? Apa dia sangat menjengkelkan? Amara megusap air matanya dan menancap gas mobilnya.
"Kejar, dan kita bawa dia hidup atau mati. Jangan sampai kita kena marah sama Bos lagi," ucap salah satu penghuni mobil yang sejak tadi mengikuti jejak Amara. Mereka mengikuti laju mobil Amara. Salah satu dari mereka menelpon bosnya.
"Halo bos, target sudah di depan kita," lapornya.
"Awasi, jangan sampai lolos!" ucap Roy dengan lantang. 2 minggu ini Tuan Milano selalu menanyakan perkembangan misi untuk Amara, dan kali ini dia tidak mau gagal lagi.
"Tapi bagaimana kalo Tuan Mi..." tut tut tut
Sebelum menyelesaikan bicaranya. Roy telah menutup saluran ponselnya.
"Kita ikuti dia,"
"Tapi bagaimana kalau target kita memang kekasih Tuan Muda Micho? Apa kita tidak mencoba membicarakan dengan Bos Roy?" tanya salah satunya.
"Hais, yang penting kita dapat bayaran. Masa bodoh dengan semua itu," sahut yang lainya.
Amara mengamati kaca sepionnya. Ada mobil yang mengejarnya. Amara menambah kecepatannya. Kali ini dia melewati jalanan panjang yang begitu sepi. Yang benar saja, dia dihadang 2 orang laki-laki ditengah jalan.
Amara terpaksa menghentikan mobilnya. Salah satu dari mereka mengetok kaca mobil. Amara begitu ketakutan. Lagi-lagi dalam kondisi tubuh yang tidak memungkinkan saat dia mendapat kesulitan.
Amara mencoba menghubungi Micho. Namun, hanya berdering saja. Orang itu semakin memaksa membuka kaca mobil. Amara sudah tampak gelisah.
Dengan keberaniannya Amara menancap gas mobilnya mau tidak mau orang di depannya menghindari Amara. Tetapi tidak sampai disitu, kedua preman itu mengejar Amara dengan motornya.
Amara terus melaju melafalkan doa pada sangat pencipta. Hingga mobil putih yang tadi mengejarnya menghadangnya membuat Amara terpaksa menghentikan mobilnya. Amara melirik ponselnya. Micho benar-benar tak menghiraukan nya.
"YaTuhan tolong hambamu," lirihnya.
Kedua orang itu berada disisi kanan, dan kiri mobil Amara. Mereka memukul kaca berharap dibuka. Namun, Amara tak memperdulikan nya. salah satu dari mereka memecahkan kaca dengan balok kayu.
"Au..." Amara terkejut. Air matanya mengalir begitu saja. Dia memegang pelipis nya yang berdarah akibat terkena pecahan kaca.
__ADS_1
"Wahhh ada bidadari cantik ternyata. Keluar lah nona. Apa mau kami memaksamu keluar?" tanya orang itu. Amara terdiam. Namun, orang itu menarik tangan Amara,,
"Lepaskan,"
"Kau keluar atau aku memaksa mu!" mau tak mau Amara membuka kunci mobil kemudian keluar. Dilihatnya kedua preman itu secara detail. Lagi-lagi mereka yang punya simbol kuning, air matanya begitu saja lolos.
"Lihatlah, bidadari ini cantik sekali," mereka mengamati Amara dari atas sampai bawah.
"Apa yang kalian inginkan? Jangan sakiti aku, atau kalian mau uang, ambillah!" ketusnya.
Hahaha tawa mereka menggelegar. Amara berjalan mundur, menjauh dari 2 orang yang terus saja maju. Amara terus saja memberikan mereka penawaran agar mereka tak menyakitinya. Namun naas, seseorang dari belakang pohon membengkap mulutnya hingga Amara tak sadarkan diri.
Mereka membawa Amara ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
****
Waktu menunjukan pukul 11.00 Mama Hana tampak khawatir. Perjalanan dari apartemen Amara menuju ke rumah paling lama hanya 2 jam. Kini 3 jam telah berlalu, tapi Amara tak kunjung sampai. Nasi goreng pesanan Amara tampak dingin di atas meja.
"Mama, Rara belum sampai?" Papa mendekati mama dan duduk di sampingnya.
"Belum pa. Mama jadi khawatir," jawabnya.
Papa Rusdiantoro mengambil ponselnya dan memanggil Amara namun tak ada jawaban. Kini Papa Rusdi memanggil kontak Micho.
Micho yang baru saja berbincang dengan Bima dan Andika tampak mendengar ponselnya berbunyi. Mereka sangat serius membicarakan tentang Prayoga sehingga lupa waktu. Ada kabar baik yang nantinya bisa meringankan hukuman untuk prayoga.
"Maaf, aku ambil ponsel dulu." Micho mengambil ponselnya dan mengeryitkan dahinya.
"Papa?" lirihnya. Micho menggeser tombol hijau dan meletakan di telinganya.
"Amara bersamamu? Dia bilang akan kesini tapi tidak sampai juga dari tadi," ucap suara di sebrang.
Deg, hati Micho seakan terhantam batu besar. Panggilang dari sebrang tak di hiraukan. Betapa terkejutnya dia saat melihat panggilan dari Amara lebih dari 10 kali dia lewatkan.
😢😢😢😢
__ADS_1
Like komen vote ya