Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Misteri


__ADS_3

Micho mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali dirinya menerobos lalu lintas, dan tak jarang dirinya di teriaki bahkan di umpati pengguna jalan lain. Namun, kondisinya yang memang sangat emosi tak menggubris ucapan orang lain.


Kini micho menepikan mobilnya di parkiran pratama yoga grup. Dengan langkah seribu ia bergegas menuju ke ruangannya. Beberapa kali dirinya menabrak karyawan sehingga berkas mereka berserakan. Beberapa kali juga menabrak OB hingga kopi yang di bawa jatuh ke lantai.


Micho membuka pintu ruangannya dengan keras. Amarahnya tak sanggup dia kuasai, tangannya mengepal kuat dan memukul dinding dengan keras.


"Arghhhh,,, wanita busuk, wanita bejat, wanita bangsat. Kau menghancurkan hidupku dan sekarang seenaknya menginjak harga diriku."


Arghhhh....Micho mengacak mejanya dengan sekali pukulan dan menimbulkan suara yang sangat keras. Suara itu terdengar dari ruangan Damar. Damar segera menghampiri atasannya itu.


"Micho, hentikan!" ucap Damar sambil menahan gerakan tangan Micho yang sedang kesetanan. Damar menahan tangan yang kini penuh dengan Darah segar.


"Hentikan, jangan gila kamu!" bentak Damar. Micho menghela napas panjang. Lagi-lagi ucapan Amara mengiang di telingannya.


"Kita lihat saja nanti, Anda atau Saya yang akan memenangkan permainan ini. Jika saya tidak dapat mengambil hati Anda, maka nikmati harta Anda. Jika saya menang, maka Anda harus rela menderita tanpa harta juga tanpa cinta. Tunggu aku bermain, aku akan menjadi wanita murahan di depan Anda!" ucap Amara.


Micho menarik paksa tangannya dari tangan Damar, lagi-lagi ia mengeratkan tangannya. Namun, Damar menahannya.


"Tenanglah, jangan gegabah. Ada apa? ceritakan padaku." ucap Damar.


"Awasi wanita itu, jangan sampai dia hidup bahagia." ucap Micho dengan sorot mata dingin yang kejam. Damar menatap ke arah Micho, tidak biasanya Micho seperti ini.


"Wanita?" tanya Damar.


"Amara, Sheyna Amara Risdiantoro." ucap Micho sambil menekankan ucapannya.


***


Di satu ruangan seseorang sedang memberi laporan pada atasannya.


"Dia mulai menampakkan sisi lainya, aku yakin dia adalah putra Enzo yang sengaja disembunyikan. Aku yakin, dia bisa memperkuat kekuatan kita hingga menguasai dunia bawah tanah," ucapnya sambil tertawa.


"Awasi dia, dan kita harus segera bertindak jika dia benar-benar Putra Enzo. Terus awasi dan kuak misteri asal-usulnya," ucap Atasannya.


"Baik Tuan," ucap orang itu sambil menutup ponselnya.


***

__ADS_1


Micho sedikit tenang sesudah melampiaskan kemarahannya. Kini dia ditangani dokter Arfan yang juga sahabatnya.


"Ada apa? Coba bicaralah, kali aja kami bisa membantu." ucapnya.


"Diamlah. Mau ku tonjok?" tanya Micho yang masih menampakkan aura dingin yang mematikan. Aura pembunuh tanpa belas kasih.


"Slow, kenapa seperti itu?" ucap Arfan.


"Minum, 3 kali sehari, jangan banyak gerak. Kau harus minum segera, biar di perjalanan menuju Negara I tidak mengantuk." ujar Dokter Arfan sambil menyodorkan beberapa obat pada Micho. Micho meraih obat itu dan mengambil segelas air.


"Micho, kamu tidak papa?" tanya Meta yang baru saja datang dari Meeting. Meta mendengar desas desus karyawan yang mengatakan Micho tengah tidak baik-baik saja. Meta meletakkan tas kemudian duduk di samping Micho.


"Apa yang membuatmu seperti ini? tidak biasanya kamu melakukan hal seperti ini, Micho." ucap Meta sambil menatap ke arah Micho.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya kesal saja," sahut Micho.


"Kesal?" tanya Meta memastikan dan diangguki oleh Micho.


"Micho, jangan seperti ini. jangan menyakiti dirimu." ucap Meta khawatir.


"Meta, ini bukan urusanmu. Urusanmu hanya bekerja dengan professional sebagai sekertarisku! Sekarang pergilah dan jangan menggangguku." ucap Micho pelan. Meta menghela napas panjang. Bayangan gadis semalam menghantui pikirannya. Meta menggelengkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Micho.


"Jangan membahasnya. pergilah!" ucap Micho, tetapi Meta masih saja diam di tempat.


"Pergilah kataku," bentak Micho lagi, Damar dan Arfan saling memandang. Tidak biasanya Micho kesetanan seperti ini. Mereka hanya dapat melihat dan terdiam menatap Meta yang tampak geram.


"Okey, Aku pergi. Tapi ingat Micho, Aku tidak akan membiarkan satu orangpun untuk mendekatimu." ucapnya.


"Diamlah, yang terpenting sekarang kau urus pekerjaan. Malam ini aku harus pergi aku harap kau menghendel pekerjaan untuk satu bulan lamanya." ucap Micho.


Meta melangkahkan kakinya keluar, ketika dia sampai di depan pintu. Meta berpapasan dengan Mela yang membawakan teh hang at untuk 3 orang yang berada di ruangan Micho. Mata Mela sedikit terkejut mendapati pemandangan di ruangan Micho yang sangat berantakan.


"Apa pak Micho ngamuk?" ucap Mela sontak menutup mulutnya. 3 orang di depannya saling memandang. Melihat tingkah Mela dan Lyly selalu saja membuat mood Micho berubah, kelakuan karyawan yang berusia 23 tahun itu selalu membuat kekonyolan yang menghiburnya.


"Mau sampai kapan berdiri disitu, Mela." ucap Damar sambil mengamati Mela yang tengah menutup mulutnya.


"Maaf pak, aku hanya terkejut. Jangan potong gani Saya ya," ucapnya sambil tersenyum dan berjalan ke arah meja.

__ADS_1


"Kenapa kamu yang mengantar? kemana OB?" tanya Damar. Damar paling tidak suka jika ada karyawan yang ongkang-ongkang saja.


"Maaf pak, salah satu Dari mereka tidak masuk. Makanya meminta Saya untuk mengantar, karyawan yang biasanya mengantar juga masih Ada job di bawah, karyawan lain takut diamuk sama pak Micho," ucap Mela panjang lebarπŸ˜….


Micho dan Damar saling berpandangan, Arfan hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Mela lagi-lagi menutup mulutnya karna keceplosan. Mela merutuki dirinya sendiri yang dari tadi keceplosan.


"Mamangnya Saya singa?" tanya Micho ketus.


"Sedikit mirip sih, pak." jawab Mela sambil nyengir kuda. Micho sontak mengambil teh hangatnya dan menyeruputnya.


"Kembali ke tempat, " ucap Micho.


"Siap, pak."


"Mela, satu lagi."


"Apa pak?" tanya Mela dan menatap ke arah Micho.


"Mungkin Satu bulan ke depan Saya dan Damar akan ke perusahaan cabang di negara I saya harap kamu melakukan apa yang biasanya kamu lakukan," perintah Micho.


"Siap pak." jawab Mela.


"Okey, kamu boleh meninggalkan tempat." ucap Micho. Mela mengangguk kemudian melangkah pergi.


"Mela," panggil Micho lagi.


"Ya,"


"Kalo kau takut sama singa, aku rasa kau akan suka dengan macan. Ada macan disampingku yang Dari tadi melirikmu," ucap Micho sambil melirik ke arah Damar.Mela memelototkan matanya, bosnya itu selalu saja membuatnya kesal. Mela hanya nyengir kemudian melenggang pergi.


"Mau ku tonjok?" tanya Damar sambil mengepalkan tangannya. Micho tertawa sedangkan Arfan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kalo begitu aku pamit, lekas sembuh. Jangan gila lagi Micho..." ucap Arfan.


"O iya, kalo tidak salah Meta tadi mengatakan ada sesuatu tadi malam. Apa kau telah jatuh cinta, atau patah hati?" goda Arfan sambil menenteng tasnya. Micho melirik Arfan dan melemparkan bantal sofa pada sahabatnya itu sehingga menimbulkan tawa.


πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya.. Tidak hentinya Other meminta dukunganya biar semangat up 😍😍😍


Like komen dan vote ya... sumbangkan vote untuk aku... sayangkan Dari pada hilang πŸ˜πŸ˜…πŸ˜… Senin berkah🀭🀭🀭🀭 Salam sayang Dari Author remahan rengginan...


__ADS_2